TANJUNG REDEB – Penandatanganan kerja sama sudah dilakukan. Perayaan Hari Jadi ke-64 Kabupaten Berau dan ke-207 Kota Tanjung Redeb, beberapa waktu lalu, menjadi hari penting dalam program Berau Sehat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Berau.
Pada upacara puncak peringatan di Lapangan Pemuda Jumat (15/9) lalu, Bupati Berau Muharram, Direktur Operasional PT Berau Coal Arief Wiedhartono, Wakil Ketua II Baznas Kaltim Fariddhotul Islam, Komisoner Baznas RI Nana Mintarti, dan Ketua Baznas Berau Radjudin Abdurachman, bubuhkan tanda tangan untuk pembangunan Rumah Sehat Baznas.
“Alhamdulillah, Rumah Sehat tanpa kasir yang kami canangkan dua tahun terakhir ini sudah terlihat progresnya. Lokasi pembangunannya di samping Klinik Baitul Hikmah,” kata Radjudin.
Ditarget akan selesai pembangunannya pada perayaan HUT Berau dan Tanjung Redeb tahun mendatang, pembangunan fisik dan alat kesehatan disanggupi PT Berau Coal melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya. Sedangkan untuk operasional nantinya, disokong oleh Baznas RI, Baznas Berau dan Baznas Provinsi.
“Keikutsertaan Baznas Kaltim dalam operasional Rumah Sehat kita, berdasarkan hasil Rakor (rapat koordinasi) sebelumnya,” sambung dia.
Penetapan di Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau – dikarenakan baru ada satu rumah sakit pelat merah dr Abdul Rivai. Pasien juga sering kali membludak. Tidak seperti di lokasi lain, Samarinda misalnya. Sudah ada beberapa rumah sakit yang dapat melayani pasien secara maksimal.
Seperti tagline-nya, Rumah Sehat Baznas nantinya akan melayani para mustahik zakat secara cuma-cuma. Sehingga, masyarakat tidak mampu pun akan merasakan pelayanan kesehatan yang terbaik. Sebab kesehatan punya nilai investasi yang sangat implikatif, karena akan bermuara pada kebangkitan produktivitas masyarakat dalam memperbaiki kualitas hidupnya.
Untuk diketahui, Rumah Sehat Baznas adalah salah satu program unggulan Baznas sebagai lembaga pemerintah non struktural yang salah satu tugasnya adalah memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. Guna memeratakan akses kesehatan dan pengobatan bagi warga tak mampu.
Di samping itu, pendiriannya juga sejalan dengan upaya perwujudan sila kelima Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (humasbaznas/app)
Sumber: prokal.co




Badan Kesehatan dunia (WHO) baru saja menerbitkan buku pedoman Pelayanan Terintegrasi untuk Orang Lanjut Usia yang memberikan berbagai panduan penyediaan layanan kesehatan terintegrasi yang dapat mencegah, memperlambat atau memperbaiki penurunan kapasitas fisik dan mental pada orang lansia. Dalam buku pedoman ini, disarankan penyedia layanan kesehatan dan layanan sosial untuk orang lansia supaya selalu mengkoordinasikan pelayanannya dengan berfokus pada kebutuhan orang lansia, melalui berbagai pendekatan, seperti penilaian yang komprehensif dan penyusunan rencana layanan kesehatan yang terintegrasi dengan menggunakan clinical pathway. Sehingga petugas kesehatan tidak hanya berfokus pada penyakit atau keluhan yang disampaikan oleh pasien lansia, tetapi juga dapat menilai kebutuhan lansia secara komprehensif dan menempatkannya sebagai tujuan utama pelayanan kesehatan pada orang lansia.





