Berdasarkan prediksi yang cukup memprihatinkan serta tingginya masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri, pemerintah pun saat ini tak tinggal diam dan tengah gencar menggaungkan program Medical Tourism yang merangsang Rumah Sakit di Indonesia untuk berbenah dan meningkatkan pelayanan dan fasilitas kesehatan setara dengan Rumah Sakit yang ada di luar negeri.
Selain itu pemerintah pun berupaya untuk terus menambah kapasitas tempat tidur yang ada di Rumah Sakit, menurut data Departemen Kesehatan tahun 2008 pemerintah telah menyediakan sekitar 143 ribu tempat tidur di Rumah Sakit guna memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi penduduk Indonesia yang saat itu telah mencapai sekitar 226 juta jiwa yang rasanya jumlah itu masih sangat jauh dan kurang memadai di mana idealnya adalah 1 Bed : 500 penduduk.
Melihat data penderita penyakit Jantung yang begitu besar serta masih minimnya fasilitas kesehatan yang diperuntukkan khusus bagi penderita penyakit Jantung inilah yang kemudian mendasari sekelompok dokter Bedah Jantung, dokter Kardiologi dan dokter Anestesi Jantung bergabung untuk mendirikan Rumah Sakit Jantung Jakarta (Jakarta Heart Center) sebagai pelayanan jantung dan pembuluh darah terlengkap dan terpadu di area City of Healthcare, Matraman, Jakarta Timur.
Mengemban visi untuk menjadikan Rumah Sakit Jantung Jakarta (Jakarta Heart Center) sebagai solusi tepat dalam penanganan kasus Jantung dan pembuluh darah bagi masyarakat Indonesia sekaligus memiliki idealisme untuk memberikan pelayanan jantung dan pembuluh darah yang profesional, ramah, lingkungan yang nyaman dan modern serta ditunjang dengan peralatan medis yang modern dan berbasis teknologi.
Kehadiran Rumah Sakit Jantung Jakarta yang berlokasi di jalan Matraman Raya, Jakarta Timur ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan melalui kemudahan akses pelayanan Jantung bagi pasien dengan konsep Kecepatan, Ketepatan, Keramahan, kelengkapan fasilitas dan harga yang terjangkau ini merupakan komitmen yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti diutarakan oleh DR. dr. Jusuf Rachmat, SpBTKV, MARS,selaku Dokter Spesialis Jantung dan Bedah Thoraks Kardiovaskular, Rumah Sakit Jantung Jakarta, “Berbekal pengalaman sebagai dokter profesional, dalam menjalankan pekerjaan kami selalu mengusung moto bahwa kenyamanan dan keselamatan pasien adalah prioritas utama kami. Moto ini pun akan kami terapkan dalam menjalankan operasional Rumah Sakit Jantung Jakarta sehingga kehadiran Rumah Sakit Swasta Jantung termodern, terlengkap di Indonesia ini turut membantu mengurangi angka kematian pasien penyakit Jantung dan Kardiovaskuler di Indonesia”.
Ditambahkan oleh DR. dr. Fathema Djan, SpBTKV selaku Komisaris Utama sekaligus Dokter Bedah Thoraks Kardiovaskular, Rumah Sakit Jantung Jakarta, “Pasien penyakit Jantung adalah penyakit yang sangat mematikan dan memiliki masa kritis atau dikenal sebagai Golden Time sekitar 2 jam yaitu waktu yang sangat berharga untuk penanganan penderita penyakit Jantung dan bila terlewat masa itu maka pasien biasanya tidak dapat tertolong.
Berdasarkan kritikal penanganan kasus-kasus pasien penyakit Jantung ini lah maka kami mendesain Rumah Sakit dengan arsitektur yang dapat mengakomodir kebutuhan serta membantu mempertahankan Golden Time pasien dimana penanganan pasien yang terkena serangan Jantung menjadi efektif, efisien dan tepat guna yaitu melalui konsep ’90 Minutes Door to Baloon’ yaitu pelayanan kegawat daruratan yang dimiliki Rumah Sakit Jantung Jakarta di mana berbagai fasilitas kedokteran yang dibutuhkan seperti Cathlab, MSCT dan X-Ray terintegrasi pada ruang IGD yang berada di lantai 1 yang mudah di akses dari jalan raya Matraman”.
Selain memiliki ruang IGD yang sangat efektif dalam mempertahankan Golden Time pasien penyakit Jantung, Rumah Sakit Jantung Jakarta juga dilengkapi dengan fasilitas kedokteran berbasis teknologi tinggi atau dikenal dengan istilah ‘When Technology Meet Hospitalitty’ di mana Rumah Sakit Jantung Jakarta akan memberikan pelayanan dengan hati tulus dan ramah ditunjang dengan teknologi kesehatan yang canggih dan aman bagi pasien. Rumah Sakit Jantung Jakarta saat ini memiliki 2 (dua) kamar operasi, 2 (dua) ruangan Cathlab dan 1 (satu) Hybrid Cathlab Bi Plane. Fasilitas kedokteran Hybrid Cathlab Bi Plane merupakan fasilitas berteknologi tinggi satu-satunya di Indonesia yang dimiliki hanya di Rumah Sakit Jantung Jakarta.
Dari sisi bangunan, Rumah Sakit Jantung Jakarta yang berada dibawah manajemen PT. Satya Dharma Kardia ini memiliki luas bangunan sebesar 10,000 m2 dengan 8 lantai di mana memiliki 74 kamar rawat inap yang terdiri dari 30 bed ekonomi (15 kamar dewasa dan 16 kamar anak), 10 bed VIP, 3 bed VVIP, 10 bed Cluster dan 8 bed ICU.
Selain pelayanan ruang perawatan inap (in-patient ward), Rumah Sakit Jantung Jakarta juga memiliki pelayanan poliklinik (out-patient ward) dengan memberikan waktu konsultasi minimal 15 menit kepada dokter dan pasien sehingga pasien mendapatkan informasi yang detail mengenai penyakit yang diderita serta memberi empati kepada pasien sebagai wujud ‘Memanusiakan pasien’ yang saat ini menjadi isu sensitif pada industri kesehatan di Indonesia. Rumah Sakit Jantung Jakarta juga menjunjung tinggi hak dan kewajiban pasien dengan mengutamakan pelayanan yang terbaik.
Tak hanya mencari keuntungan bisnis semata, sesuai dengan misi untuk menjadikan Rumah Sakit Jantung Jakarta sebagai solusi tepat bagi penanganan penyakit Jantung dan pembuluh darah, Rumah Sakit Jantung Jakarta juga menjalankan konsep sosial Rumah Sakit dan hal tersebut dapat dilihat dari kapasitas kamar ekonomi kami yang berjumlah 30 bed dari total 74 bed yang tersedia. Dalam strategi pemasaran dan komunikasi kami menggunakan konsep Fellowship of Society, Relationship Marketing dan memaksimalkan Program CSR , guna mengeksplorasi dalam memberikan fasilitas pelayanan kesehatan terbaik agar terjangkau oleh masyarakat luas serta memenuhi target yang dicanangkan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Sehat tahun 2015 mendatang.
Sumber: vemale.com

JAKARTA – Keluhan beberapa rumah sakit peserta Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang menilai tarif sistem Indonesia Case Based Groups (INA CBG`s) tergolong masih rendah direspons Pemprov DKI Jakarta. Karena itu, Pemprov DKI berencana menaikkan tarif INA CBG`s untuk rumah sakit tipe C dan tipe D.
Jakarta – Dalam waktu dekat, Jakarta akan memiliki dua rumah sakit (RS) serta dua klinik kesehatan. Kebutuhan sarana dan prasana kesehatan di DKI, dinilai sangat besar dan mendesak seiring berjalannya program Kartu Jakarta Sehat (KJS). Salah satu rumah sakit ini akan dibangun Pemprov DKI Jakarta di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sedangkan RS yang lainnya akan dibangun di Jalan Ir. H. Juanda, Jakarta Pusat oleh pihak swasta.
Jakarta – Peralatan canggih dan dokter yang mumpuni, merupakan harga mati bagi sebuah rumah sakit berkualitas dalam melakukan pelayanan kesehatan terhadap semua orang yang sakit. Begitupula dengan pelayanan yang penuh kasih.
Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menanggung seluruh klaim Kartu Jakarta Sehat yang diajukan rumah sakit kelas C dan D. Kebijakan ini sedang dalam proses perundingan, dan dalam waktu dekat akan diperkuat peraturan gubernur.
Jakarta – Pemda DKI akan menaikkan tarif sistem Indonesia Case Based Groups (INA CBGs) oleh National Case-mix Centre (NCC) untuk rumah sakit-rumah sakit tipe C dan D. Keputusan ini Hal terkait keluhan beberapa rumah sakit peserta Kartu Jakarta Sehat (KJS) di Jakarta yang menilai tarif tersebut tergolong masih rendah.
Kulonprogo – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates mengklaim pengadaan alat pada akhir 2012 sudah sesuai prosedur. Sementara, pihak Jogja Corruption Watch (JCW) meminta agar Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ memeriksa RSUD Wates terkait pengadaan tersebut karena dinilai rawan penyimpangan.
Wali kota Batam Ahmad Dahlan meresmikan penetapan kenaikan kelas rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam dari tipe C menjadi tipe B di halaman aula RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji, Jumat (5/7) siang. Hadir dalam acara peresmian itu, Menteri kesehatan RI yang diwakili oleh Direktur Bina Upaya Kesehatan Jiwa Diana Utami, ketua DPRD kota Batam Surya Sardi, Sekdako Batam Agus Sahiman, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Chandra Rizal dan sejumlah pejabat pemko dan SKPD lainnya.
Rumah sakit Pondok Indah (RSPI) Puri Indah di usianya yang kelima berhasil meraih prestasi yang cukup membanggakan. Selain menjadi rumah sakit swasta pertama yang berhasil melakukan transplantasi hati di Indonesia, ada lagi prestasi lainnya.






