|
Peran Manajer Keuangan Rumah Sakit Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN
Masyarakat Ekonomi Asean dan Pengaruhnya dalam Industri Rumah Sakit Negara-negara ASEAN telah bersepakat untuk melakukan integrasi ekonomi dengan tujuan menciptakan stabilitas ekonomi dan kemakmuran yang merata di seluruh ASEAN dalam rangka menghadapi persaingan ekonomi global. Pengintegrasian ekonomi negara-negara ASEAN tersebut dikenal dengan ASEAN Economic Community atau masyarakat ekonomi asean (MEA). MEA membentuk ASEAN menuju pasar bebas. Karakteristiknya dengan menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif dan memberi peluang pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta infrastruktur secara merata di kawasan ASEAN. Reportase: 7th APETNA CONFERENCE Asia Pacific Enterostomal Therapy Nursing Association
Pada 14 – 16 April 2017 di Bogor-Indonesia tepatnya di Institut Pertanian Bogor International Convention Center telah berlangsung pertemuan ke-7 perawat luka, ostoma dan inkontinensia se-Asia Pasifik. Sejak konferensi APETNA pertama pada tahun 2003 di Kuala Lumpur Malaysia, praktik perawatan luka, stoma, dan kontinensia di kawasan Asia Pasifik telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah World Council of Enterostomal Therapy (WCET) dan diakuinya program pendidikan perawat terapi enterostomal berkualitas (ETN) di beberapa wilayah. Pertemuan Pemantapan Pengembangan RS Rujukan Nasional Dan RS Vertikal Dalam Layanan Rujukan Nasional
Silakan klik disini untuk melihat susunan acara dan mengunduh materi. Website untuk Mendukung Unit Rujukan di Rumah Sakit
Pengguna internet di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2014 sebesar 88 Juta pengguna. Pengguna pada 2016 sebesar 132,7 juta, jumlah ini lebih dari 50% dari populasi penduduk di Indonesia. Dari data tersebut mengindikasikan bahwa penyebaran informasi melalui internet sangat penting. Agar lebih fokus dan sesuai dengan pengguna internet yang ingin dituju, informasi tersebut dapat dikemas dalam media website. Tema Hari Kesehatan Dunia 2017 : Depresi
Pada tahun ini (2017) WHO dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia mengusung tema khusus yaitu depresi (depressive disorder/clinical depression) suatu penyakit psikis yang ditandai dengan rasa sedih dan putus asa yang dialami di waktu-waktu tertentu, yang merupakan reaksi normal dalam menghadapi masalah, namun perasaaan ini akan menjadi sangat berbahaya pada tingkat akut jika berlangsung selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Reportase: Workshop Metode Baru Perencanaan SDM Rumah Sakit |
|
RS Rujukan Nasional |
Peran Manajer Keuangan Rumah Sakit Di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh: Anastasia Susty Ambarriani
Masyarakat Ekonomi Asean dan Pengaruhnya dalam Industri Rumah Sakit
Negara-negara ASEAN telah bersepakat untuk melakukan integrasi ekonomi dengan tujuan menciptakan stabilitas ekonomi dan kemakmuran yang merata di seluruh ASEAN dalam rangka menghadapi persaingan ekonomi global. Pengintegrasian ekonomi negara-negara ASEAN tersebut dikenal dengan ASEAN Economic Community atau masyarakat ekonomi asean (MEA). MEA membentuk ASEAN menuju pasar bebas. Karakteristiknya dengan menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif dan memberi peluang pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta infrastruktur secara merata di kawasan ASEAN.
MEA memberi peluang kerjasama antara negara-negara ASEAN untuk bekerjasama dalam peningkatan kapasitas ekonomi. Kerjasama tersebut dapat berupa pertukaran tenaga kerja, pengakuan profesional dan bantuan modal. Meskipun demikian, MEA juga menghadirkan tantangan yang besar bagi negara-negara di kawasan ASEAN, yaitu terciptanya persaingan bebas di kawasan ASEAN. Dengan adanya MEA, maka barang dan jasa bebas untuk diperdagangkan di kawasan ASEAN, selain itu tenaga kerja profesional juga mendapat pengakuan yang sama, dengan demikian tenaga profesional mempunyai kebebasan untuk bekerja di seluruh kawasan ASEAN. Demikian pula pemilik modal juga lebih bebas untuk menanamkan modalnya di kawasan ASEAN. Di satu sisi, MEA memberikan peluang kerjasama untuk peningkatan kapaitas ekonom, di sisi lain, jika tidak siap, maka MEA dapat menjadi ancaman bagi suatu negara di kawasan ASEAN karena hanya akan menjadi penonton kemajuan ekonomi di kawasan ASEAN.
MEA memberi dampak yang signifikan terhadap banyak sektor, termasuk industri rumah sakit. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN memberi dampak pada kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang semakin sejahtera akan menuntut pelayanan kesehatan yang lebih baik, dan mereka dapat memilih pelayanan terbaik di seluruh kawasan ASEAN, canggihnya teknologi akan mendekatkan jarak dan memudahkan masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan yang prima dari manapun, hal ini berdampak pada meningkatnya persaingan dalam industri pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Hal ini berarti akses jasa pelayanan kesehatan semakin mudah terjangkau dan berdampak semakin ketatnya persaingan di bidang pelayanan kesehatan.
Di era MEA, dimungkinkan tenaga professional seperti dokter dan perawat perofesional untuk bekerja di seluruh kawasan ASEAN. Hal ini memberikan peluang bagi rumah sakit untuk mendapatkan tenaga profesional terbaik untuk mendukung pelayanan kesehatan yang terbaik pula. Di sisi lain, bagi tenaga profesional dimungkinkan untuk memilih bekerja di seluruh kawasan ASEAN. Hal ini dapat menjadi peluang peningkatan pendapatan bagi tenaga profesional yang kompeten sekaligus menjadi tantangan bagi tenaga profesional untuk meningkatkan kompetensinya sehingga mampu bersaing di era MEA.
Peran Manajemen Rumah Sakit dalam Era MEA
Era MEA yang mengarah pada perdagangan bebas, juga berimbas pada industri rumah sakit. Persaingan dalam industri rumah sakit akan semakin meningkat. Meningkatnya persaingan harus diantisipasi oleh manajemen rumah sakit dengan menyusun strategi untuk dapat bertahan dan menang dalam persaingan. Meskipun rumah sakit tidak bertujuan utama mencari keuntungan seperti pada umumnya perusahaan, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa rumah sakit perlu dikelola secara efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan rumah sakit hanya bisa dilakukan jika manajemen rumah sakit melakukan proses manajemen dengan baik. Proses manajemen merupakan rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Proses manajemen terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengendalian dan evaluasi kinerja serta pengambilan keputusan.
Perencanaan merupakan aktivitas manajerial untuk menentukan tujuan dan mengidentifikasi aktivitas yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Proses perencanaan dilakukan pada level strategis, jangka panjang dan jangka pendek. Pada level strategis, proses perencanaan disebut dengan perencanaan strategis, pada level ini manajemen puncak rumah sakit, seperti jajaran direksi harus mengidentifikasi visi dan misi rumah sakit, dan dengan melakukan analisis lingkungan internal dan eksternal berusaha untuk menentukan strategi-strategi yang akan dilakukan untuk mencapai visi dan misi tersebut. Manajemen rumah sakit yang berwawasan visioner akan mempertimbangkan impelementasi MEA dalam penentuan tujuan organisasi dan penentuan strategi serta menyatakannya secara jelas dalam Rencana Bisnis Strategi organisasi
Pengorganisasian merupakan aktivitas manajerial untuk menempatkan orang yang tepat dalam suatu posisi, pengalokasian sumber dana dan sarana dalam rangka mencapai tujuan. Jajaran manajemen rumah sakit harus memahami dengan baik, kompetensi setiap orang di dalam organisasinya dan memahami kebutuhan setiap elemen organisasi. Penempatan orang yang tidak sesuai dengan kompetensinya akan menghasilkan kinerja yang tidak baik dan menghambat pencapaian tujuan. Pengalokasian sumber dana dan sarana yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya inefisiensi. Inefeisiensi menyebabkan suatu organisasi menjadi sulit untuk bersaing. Manajemen rumah sakit perlu memahami tentang manajemen biaya strategis dan manajemen risiko, sehingga dapat melakukan upaya-upaya pengurangan pemborosan dan meningkatkan efisiensi.
Pengendalian merupakan aktivitas manajerial untuk memonitor rencana telah diimplementasikan dengan baik. Pengendalian dilakukan melalui pembandingan implementasi dan rencana. Melalui pembandingan antara rencana dan implementasi manajemen dapat melakukan evaluasi kinerja dan dapat melakukan perbaikan secara terus menerus. Perbaikan terus-menerus atau dalam ilmu manajemen sering disebut sebagai continuous improvement merupakan roh dalam proses manajemen dalam lingkungan persaingan yang ketat. Manajemen rumah sakit di era MEA harus memahami alat ukur kinerja yang mengarah pada perbaikan secara terus menerus. Sebagai contoh penggunaan standar kaizen (standar yang dinamis dan mendukung perbaikan secara terus-menerus) dan sistem balanced scorecard dapat membantu manajemen rumah sakit untuk melihat kinerja rumah sakit secara lebih komprehensif.
Pengambilan keputusan merupakan pemilihan dari berbagai alternatif pengambilan keputusan. Tugas manajemen rumah sakit sehari-hari adalah membuat keputusan, baik yang bersifat taktis maupun yang bersifat strategis. Pengambilan keputusan yang keliru dapat berakibat pada menurunnya kesehatan organisasi. Dalam melakukan pengambilan keputusan, manajemen rumah sakit harus mempertimbangkan banyak faktor, baik yang bersifat keuangan maupun non keuangan. Manajemen rumah sakit harus mampu memilih informasi yang relevan dalam suatu kasus pengambilan keputusan. Pemahaman tentang relevansi informasi biaya akan sangat menentukan ketepatan pengambilan keputusan.
Tugas manajemen rumah sakit di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi semakin berat. Untuk rumah sakit swasta yang harus menghidupi diri sendiri jelas ini kompetensi manajer dalam melakukan proses manajemen sudah menjadi suatu kebutuhan. Persaingan tidak lagi hanya bersifat lokal, tetapi bersifat regional dan bahkan global. Perdagangan bebas yang memungkinkan rumah sakit asing untuk menanamkan modal di Indonesia menjadi suatu tantangan bahwa rumah sakit rumah sakit swasta di Indonesia harus melakukan terobosan strategi pelayanan dengan kualitas tinggi dan biaya yang efisien. Meskipun rumah sakit pemerintah bisa dikatakan lebih aman dalam masalah pendanaan rumah sakit, namun demikian tuntutan terhadap kinerja rumah sakit yang baik juga membutuhkan kompetensi yang tinggi dalam bidang manajemen. Diberlakukannya BLU dan BLUD di rumah sakit pemerintah merupakan bukti bahwa rumah sakit pemerintah pun harus dikelola dengan menggunakan proses manajemen yang baik. Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yang memberlakukan sistem paket untuk pelayanan kesehatan memaksa rumah sakit pemerintah pun harus dikelola secara efisien.
Manajemen rumah sakit dituntut tidak hanya harus menguasai dengan baik bidang pelayanan kesehatan, tetapi juga harus mempunyai kompetensi yang tinggi dalam bidang manajemen. Kompetensi para manajer rumah sakit dalam melakukan proses manajemen menentukan keunggulan bersaing dalam era MEA.
Peran Manajer Keuangan Rumah Sakit dalam Era MEA
Rumah sakit bukanlah organisasi yang semata-mata mencari keuntungan. Tujuan utama rumah sakit adalah memberikan pelayanan kesehatan dengan tingkat patient safety yang tinggi. Namun demikian, kesehatan keuangan rumah sakit berperan sangat penting dalam menciptakan patient safety. Tanpa kesehatan keuangan yang baik, rumah sakit akan kesulitan untuk melakukan pemeliharaan peralatan, memilih tenaga professional yang baik dan melakukan inovasi-inovasi.
Untuk menciptakan kesehatan keuangan yang baik, rumah sakit membutuhkan manajer keuangan atau chief financial officer (CFO) yang kompeten. CFO ini bertanggung jawab terhadap fungsi keuangan dan akuntansi rumah sakit. CFO seharusnya bertanggung jawab secara langsung pada direktur dan dalam garis organisasi, menjalankan fungsi staf. CFO membawahi fungsi akuntansi dan keuangan. Tugas CFO adalah mengkoordinasikan fungsi akuntansi dan keuangan.
Dalam era MEA, peran manajer keuangan tidak hanya melakukan penyusunan laporan keuangan, tetapi ikut serta dalam penentuan strategi penciptaan keunggulan kompetitif rumah sakit. Tugas manajer keuangan sangat luas dan terlibat dalam setiap proses manajemen. Dalam proses perencanaan, manajer keuangan bertanggung jawab terhadap desain sistem penyusunan anggaran dan sekaligus harus berperan sebagai ketua komisi anggaran. Manajer keuangan harus mampu mengantisipasi dampak perilaku dari sistem penyusunan anggaran yang dimiliki oleh rumah sakit sekaligus mampu menciptakan sistem untuk mencegah perilaku negatif dari sistem anggaran yang digunakan. Manajer keuangan juga bertanggung jawab terhadap penyusunan prosedur penganggaran.
Dalam proses pengendalian dan evaluasi kinerja, manajer keuangan bertanggung jawab terhadap penyusunan desain pengukuran kinerja dan sistem penghargaan (reward system) yang mengarah pada perbaikan secara terus menerus (continuous improvement) dan penciptaan customer value. Untuk itu manajer keuangan harus mampu menciptakan format laporan kinerja yang mampu mengungkapkan perbaikan secara terus menerus dan penciptaan customer value. Misalnya format kinerja yang mampu menunjukkan adanya pemborosan dan aktivitas serta biaya yang tidak bernilai tambah.
Dalam proses pengambilan keputusan, manajer keuangan harus mampu menyediakan informasi yang relevan tentang berbagai alternatif pengambilan keputusan. Untuk dapat menyediakan informasi yang relevan dalam pengambilan keputusan, manajer keuangan harus memahami dengan baik konsep biaya relevan. Kekeliruan dalam mengidentifikasi informasi yang relevan dapat berakibat fatal dalam pengambilan keputusan. Dalam proses penentuan biaya produk, manajer keuangan harus memahami dengan baik konsep different cost for different purpose. Bahwa untuk menentukan besarnya biaya produk, harus diketahui terlebih dahulu tujuannya. Dalam hal ini, manajer keuangan rumah sakit harus mempunyai pemahaman yang baik terhadap akuntansi biaya dan pembebanan biaya.
Dalam mengahadapi MEA, perlu disiapkan manajer-manajer keuangan rumah sakit yang kompeten dalam menjalankan peran strategis organisasi. Peningkatan kompetensi manajer keuangan rumah sakit dapat dilakukan melalui program pendidikan berkelanjutan atau melalui lokakarya peningkatan kompetensi. Untuk mengurangi kesenjangan kompetensi manajer keuangan rumah sakit di berbagai daerah dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, program sertifikasi profesi manajer keuangan mungkin dapat dilakukan sebagai solusi alternatif. Program sertifikasi dapat dilaksakan oleh organisasi yang bergerak dalam bidang perumahsakitan bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi.
dr Rynna Dyana : Direktur Termuda “Gila” Kerja, Sulap Rumah Sakit Cuma 13 Bulan
BUKAN hanya cantik tapi usianya masih tergolong muda. Meski demikian, jabatan dengan tugas super berat sudah diembannya hampir dua tahun ini, sebagai seorang direktur rumah sakit. Umurnya kini 34 tahun. Artinya saat usia 32 tahun dia sudah mengemban tugas nahkoda rumah sakit.
Pejabat usia muda yang belum pernah terjadi dalam catatan sejarah berdirinya rumah sakit ini. Bahkan umur rumah sakit lebih tua darinya. Berdiri sejak 1936 silam.
Dr Rynna Dyana, biasa dipanggil stafnya Ibu Rynna, atau sesuai gelar akademik dan profesinya, lebih umum disapa Dokter Rynna. Itulah nama yang kini tertulis paling atas pada struktur organisasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ibnu Sutowo Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Rynna adalah wanita kedua yang menjabat Direktur RSUD Ibnu Sutowo. Seorang wanita lainnya pernah menjabat posisi tersebut adalah dr Herawaty. Tapi, melihat dari usia, Dokter Hera kala menjabat sudah cukup tua.
Demikian juga direktur-direktur lainnya, atau kepala rumah sakit sebelum berubah menjadi direktur, semuanya dijabat kaum adam dengan usia yang tak muda lagi. Jadi, bisa dibilang, Dokter Rynna adalah satu-satunya Pemimpin RSUD Ibnu Sutowo termuda sejak berdiri.
Tugas berat bulan-bulan pertama menjabat tentu saja menjadi tantangan wanita ini. Namun berhasil dilaluinya bahkan mampu memperlihatkan kinerja yang “memikat” orang nomor satu di Kabupaten OKU, Bupati Drs H Kuryana Aziz. Terutama penerapan disiplin kerja dan peraturan rumah sakit.
“Saat pertama kali menjabat direktur rumah sakit ini beban pasti ada dan itu besar. Yang pertama saya belum punya pengalaman untuk mengelola sebuah rumah sakit. Yang kedua dengan jumlah staf yang banyak sekitar 740 orang saya harus merangkulnya semua untuk menjalankan operasional rumah sakit dengan baik,” kata Dokter Rynna.
Sebagai dokter berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), Rynna sadar betul posisi dirinya yang harus patuh dengan atasan. Dia mengibaratkan laksana seorang prajurit, demikian pula penempatan dirinya untuk “bertempur” di medan perang bernama rumah sakit.
“Secara pribadi saya hanya berusaha karena tahu sebagai pelayan masyarakat. Ibarat seorang prajurit yang apabila disuruh bertempur oleh atasanya atau panglimanya, maka saya akan berperang,” Rynna.
“Bisa atau tidak bisa yang penting saya sudah berusaha maksimal dengan kemampuan yang ada,” imbuhnya.
Tantangan berat pertama yang dilakukan Dokter Rynna yakni menciptakan rumah sakit bagaimana menjadi sarana pelayanan masyarakat yang bersih dan nyaman. Makanya dia pun memulai menata kembali lingkungan rumah sakit. Selama ini rumah sakit pemerintah tersebut acapkali dicap rumah sakit jorok.
Sampah-sampah di saluran air, di taman yang tak tertata, dan di permukaan lahan kosong menjadi pemandangan yang cukup mengganggu mata. Belum lagi di ruangan-ruangan, kamar mandi umum dan pasien, perparkiran, termasuk tempat ibadah (mushola), semuanya tidak memiliki ciri sebagai tempat yang seyogyanya dapat dicontoh untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Meski ada jam besuk, tapi itu tidak berlaku. Pengunjung dan keluarga pasien bisa bebas keluar masuk. Banyak jalur-jalur “tikus” untuk bisa hilir mudik di rumah sakit ini. Sangat terbuka dan bebas. Pasien yang sejatinya harus mendapatkan pelayanan untuk beristirahat di sini pun tak nyaman dalam perawatan inap.
Tantangan kedua bagi Rynna, banyaknya pegawai rumah sakit mencapai 740 orang dari berbagai usia kerja dan karakter manusianya, membuat dirinya harus memutar otak bagaimana bisa merangkul semuanya dalam teamwork solid dan kompak.
“Saya harus merangkul pegawai yang jumlahnya 740 orang agar bisa menjalankan operasional rumah sakit dengan baik,” kenangnya.
Rutinitas melemburkan diri pun menjadi menu kesehariannya di tahun pertama memimpin. Tanpa pengalaman memimpin dan mengelola rumah sakit, melecut keinginan kuat dia untuk memberikan yang terbaik. Dokter Rynna pun mengajak teamwork-nya meningkatkan standar pelayanan rumah sakit, dengan memburu akreditasi versi 2012.
Pagi hingga sore melayani masyarakat. Kemudian sore hingga malam mereka bahu-membahu mempersiapkan diri untuk penilaian akreditasi. “Saya dan unsur manajemen lainnya serta para staf pun kadang harus melanjutkan kerja di rumah hingga larut malam untuk persiapan akreditasi.”
“Kami bergotong royong agar akreditasi bisa mendapat nilai memuaskan. Hampir setahun kami melaksanakan persyaratan-persyaratan akreditas. Karena dengan akreditasi inilah kami yakin mampu merubah secara langsung identitas rumah sakit menjadi lebih baik,” beber dia
Dokter Rynna tidak jumawa dengan apa yang telah dicapai rumah sakit saat ini. Menurut dia, semua memiliki peran menciptakan perubahan rumah sakit. “Kadang saya sedikit cerewet. Tapi saya tidak ambil pusing apa kata orang. Bagaimana pun caranya memimpin selama menerapkan peraturan maka saya tidak tebang pilih,” cetus dia.
Bagaimana tidak, prestasi harus dicapai dengan menunjukan kinerja dan disiplin yang tinggi. Kalau sudah berusaha maksimal, berjuang keras tapi pada akhrinya capain prestasi tidak sesuai harapan, maka itu kata Dokter Rynna sudah takdir.
Namun, bila kerja tidak sesuai standar dan aturan yang ada kemudian berharap hasilnya memuaskan, itu disebut dia malas-malasan. “Yang punya peranan adalah staf, pimpinan hanya mengarahkan tapi pimpinan punya peranan besar untuk membuat segala sesuatu berjalan dengan baik,” kata dia lagi.
Patut dicatat. Apa yang sudah diperjuangkan para pegawai RSUD Ibnu Sutowo dipimpin Dokter Rynna ini akhirnya berbuah manis. Hanya dalam waktu 13 bulan saja mempersiapkan semua persyaratan akreditasi, hasilnya mengejutkan. RSUD Ibnu Sutowo mendapat bintang empat atau terakreditasi UTAMA. Padahal, untuk mendapat prestasi tersebut dibutuhkan waktu minimal lima tahun.
Nilai tersebut mencatatkan rumah sakit ini sebagai satu-satunya rumah sakit pemerintahan Tipe C di Provinsi Sumatera Selatan berpredikat Akreditasi UTAMA. Praktis, persiapan-persiapan menuju capaian prestasi tersebut seiring sejalan sudah mengubah “wajah” rumah sakit yang tadinya dicap “jorok” kini sudah bersih dan indah. Yang tadinya tidak disiplin kini tingkat disiplinnya sulit ditawar bahkan tidak bisa ditawar.
“Saya sangat mengapresiasi dengan apa yang terjadi di rumah sakit ini. Disiplinnya tinggi, banyak terobosan kegiatan positif yang dimotori Ibu Direktur Dokter Rynna. Ini patut dicontoh dinas-dinas lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten OKU,” kata Bupati OKU Drs H Kuryana Azis dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu.
Kini, RSUD Ibnu Sutowo pun tengah menatap peningkatan status. Dari yang sekarang Tipe C menuju Tipe B. Ada belasan rumah sakit pemerintahan Tipe C di kabupaten / kota yang tersebar di Provinsi Sumsel, tapi cuma empat rumah sakit saja yang akan ditingkatkan menjadi Tipe B. RSUD Ibnu Sutowo masuk salah satunya dari empat rumah sakit yang akan ditingkatkan menjadi Tipe B.
Semoga saja ini bisa cepat terwujud dan pelayanan rumah sakit dengan naik kelas / tipe makin sesuai harapan masyarakat luas. Setidaknya bisa bersaing dengan pelayanan rumah sakit swasta yang dibangga-banggakan masyarakat. (diJee)
Sumber: beritatotal.com
Cuma di Rumah Sakit Ini Operasi Sambil Mainkan Gadget
Sebuah rumah sakit di China Timur menerapkan aturan yang unik bagi pasiennya yang sedang dioperasi.
Keunikan aturan ini adalah setiap pasien diizinkan membawa gadgetnya saat sedang dioperasi.
Hal ini dilakukan seorang pasien bernama Zhu (69).
Ia diizinkan untuk membawa telepon genggamnya ke dalam ruang operasi di sebuah rumah sakit di provinsi Hangzhou, Zhejiang.
Terlihat Zhu santai memegang gadget miliknya.
Sambil memakai baju dan penutup kepala khusus operasi, ia sempat memfoto dokter dan perawat yang sedang mengoperasi kakinya.
Dilansir dari Stomp.com, dokternya menginginkan agar pasiennya merasa lebih santai saat menjalani prosedur operasi.
Bahkan Zhu juga sempat melihat-lihat posting teman-temannya di sosial media selama berlangsungnya operasi.
“Rasanya cukup santai, sama sekali tak gugup,” katanya.
Zhu menderita varises di kakinya selama lebih dari satu dekade.
Dimana sebelum pensiun, Zhu diharuskan untuk berdiri ketika ia bekerja.
Dokter mengatakan, bahwa pasien biasanya tidak diizinkan membawa perangkat mobile mereka ke ruang operasi.
Namun, Zhu merasa sangat cemas sebelum dioperasi sehingga mereka melonggarkan aturan untuk membantunya merasa lebih nyaman.
“Operasi itu hanya membutuhkan anestesi lokal, sehingga Zhu masih sadar sepanjang waktu,” kata dokter.
Dia juga mengatakan bahwa gadget Zhu telah disterilkan sebelum dia bawa masuk ke ruang operasi.
Asik juga ya, sambil operasi bisa sambil selfie.(*)
Sumber: bogor.tribunnews.com
Pasien RSUD Jayapura keluhkan ketiadaan air bersih di UGD
Jayapura – Pasien dan pengunjung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, Papua, mengeluhkan tidak tersedianya air bersih pada toilet unit gawat darurat (UGD) rumah sakit itu.
Pada Senin pagi, di bagian UGD RSUD Dok II Jayapura yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Papua itu, dua bilik ruangan kamar mandi untuk pasien pria dan wanita tidak ada air dalam bak penampungannya.
Bahkan, dalam pot toilet terlihat kotoran yang tidak disiram, lalu banyak bertebaran tisu bekas pakai berserakan di lantai. Aroma tidak sedap tercium hingga ke ruangan UGD.
“Tidak ada air di dalam bak kamar mandi,” kata Dericha, salah satu pasien UGD RSUD Dok II Jayapura itu pula.
Berdasarkan keterangan para dokter dan perawat jaga, air di dalam toilet atau kamar mandi tersebut tidak tersedia sejak Minggu (23/4) hingga Senin pagi.
“Tadi, perawat sampaikan kamar mandi tidak ada air, jadi saya diminta buang air di pispot atau pakai kateter saja,” kata pasien itu, didampingi dua orang anaknya.
Selain, tidak ada air bersih di toilet, ternyata di bagian UGD juga nampak sejumlah pendingin ruangan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sejumlah saklar atau colokan listrik juga ada beberapa yang rusak.
“Saya tempati tempat tidur yang rusak. Tadi perawat bilang mau dipindahkan,” kata Dericha, pasien yang mengeluhkan sakit jantung itu lagi.
Secara terpisah, dokter Dorry, salah satu petugas jaga di UGD yang coba dikonfirmasi terkait hal itu mengakui bahwa ada sejumlah fasilitas yang kurang maksimal dan perlu perbaikan.
“Pendinginnya sejak saya bertugas sebelum terakhir kurang memperhatikannya,” kata Dorry sambil berlalu.
Terkait tidak tersedia air bersih di toilet, petugas kebersihan yang ditemui mengaku bahwa hal itu sering terjadi dan merupakan masalah lama yang sering dikeluhkan oleh pasien atau pengunjung di RSUD Dok II Jayapura.
“Kalau soal air, ini masalah klasik. Biasanya pihak rumah sakit beli dari luar kemudian dipindahkan ke bak penampungan baru dialirkan ke sejumlah ruangan,” kata petugas kebersihan itu pula.
Dia menambahkan bahwa sejumlah fasilitas umum seperti toilet di beberapa titik dan ruangan di rumah sakit rujukan itu, banyak yang perlu perbaikan, karena ada beberapa bagian yang rusak dan perlu diganti. (*)
Sumber: antarapapua.com
RSUI Siap Kerja Sama Dengan Pemkot Depok
Depok – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) siap bekerja sama dengan Pemkot Depok dalam program Smart Healthy City, untuk meningkatkan kesehatan bagi warga Depok.
“RSUI mempunyai tanggung jawab menurunkan angka terbanyak penyebab kematian dan penderitaan masyarakat akibat penyakit yang dideritanya,” kata Direktur RS UI Julianto Witjaksono di kampus UI Depok, Senin.
Permasalahan kesehatan tersebut di antaranya penyakit kardiovaskuler, ginjal, kematian anak dan lanjut usia. “Kita akan bahas bagaimana sistem rujukan itu tedeteksi lebih awal, preferensinya bagaimana orang sakit,” kata Julianto.
Konsep RSUI sebagai rumah sakit pendidikan profesional mahasiswa, dibangun melalui pengembangan Jejaring Akademik Layanan Kesehatan Depok (Depok Academic Health-care Network/DAHCN) yang melibatkan rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kota Depok dan sekitarnya.
RSUI akan berperan sebagai pengampu bagi rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kota Depok dan sekitarnya untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terintegrasi.
Kualitas pelayanan kesehatan bagi warga Depok dan sekitarnya akan jauh meningkat sejalan dengan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan, termasuk pengetahuan, keterampilan serta kompetensi tenaga kesehatan yang tergabung dalam DAHCN.
Dana pembangunan dan pengadaan alat kesehatan mencapai Rp900 miliar yang berasal dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Biaya tersebut tak termasuk dana pendamping dari pemerintah.
Rumah sakit pendidikan tersebut akan mulai beroperasi pada Januari2018. Pembangunan fisiknya sudah selesai 92 persen, setelah selesai kami baru melengkapi dengan alat-alat kesehatan.
Ia mengatakan pemesanan alat-alat kesehatan baru dilakukan setelah pembangunan fisik selesai dilaksanakan, agar alat-alat kesehatan bisa langsung ditempatkan pada tempatnya masing-masing.
Pada pengoperasian perdananya, lanjut Julianto, rumah sakit tersebut akan didukung oleh 120 dokter yang siap melayani masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan dengan baik.
Untuk mendukung pelayanan rumah sakit ini kepada masyarakat juga disediakan akses pintu masuk dari selatan yaitu melalui jalan tol Juanda Depok dan kami sudah berbicara dengan Wali Kota Depok Muhammad Idris, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Bappenas dan juga dari pihak Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
Sumber: antaranews.com
Kemendagri Targetkan e-KTP Terkoneksi dengan Seluruh Rumah Sakit
JAKARTA – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) saat ini tengah melakukan pengkoneksian e-KTP dengan rumah sakit di seluruh Indonesia.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, mengatakan, pengkoneksian data pemegang e-KTP itu dimaksudkan agar, jika yang bersangkutan mendapatkan pertolongan medis di luar daerah domisili, secara otomatis rekam medisnya dapat diketahui oleh petugas.
“Data ini kami sudah kerjasama sampai pertengahan tahun ini mudah-mudahan semua selesai. Sudah ada lembaga-lembaga perbankan, asuransi dan semuanya. Tinggal tahun ini kami mengakses ke seluruh rumah sakit,” ujar Tjahjo Kumolo di Jakarta, Minggu (23/4/2017).
Menurut Mendagri, nantinya perekaman data terkait kesehatan pemegang e-KTP itu akan termuat secara detail, termasuk jenis golongan darah yang bersangkutan.
“Jadi, kalau saya sakit di Malinau sana, tinggal NIK-nya dilihat di komputer, oh ini pernah sakit ini dan minum obat ini. Tidak usah ambil darah lagi,” tegas Tjahjo Kumolo.
Sementara pada tahun ini pula, Kemendagri mulai bekerja sama dengan pihak perbankan, asuransi serta lainnya untuk mengkoneksikan penggunaan e-KTP.
Pada bagian lain, Tjahjo Kumolo mengatakan, terhitung tahun ini pula penggunaan e-KTP dipastikan hanya berlaku pada satu pemegang, termasuk seluruh data diri yang ada tidak dapat diubah.
Selain itu, pemerintah juga menargetkan pencetakan blanko 7 juta e-KTP akan rampung pada pertengahan tahun 2017. Mendagri menjelaskan, proses pencetakan 7 juta blanko e-KTP juga turut dilakukan pengecekan ulang data sekitar 3,2 juta pemegang yang tergolong bukan merupakan pemilik data tunggal.
Pproyek pencetakan e-KTP sempat terkendala hingga dua tahun lamanya.
Sumber: senayanpost.com
HANYA 900 RUMAH SAKIT YANG TERAKREDITASI
SURABAYA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Menggelar Pameran kesehatan di Grand City Convex Surabaya Rabo (19/4) dan akan terus mendorong Rumah Sakit pemerintah dan swasta segera melakukan akreditasi, sebab baru 900 rumah sakit yang terakreditasi dari 2600 rumah sakit di Indonesia.
Bambang Wibowo, Dirjen pelayanan kesehatan Kementerian Kesehatan mengatakan, rumah sakit membutuhkan waktu dan persiapan lebih untuk menuju akreditasi. “Ini wajib, tapi mereka butuh waktu untuk mempersiapkannya, kami dorong agar segera akreditasi,” ujarnya. di sela pameran rumah sakit tersebut.
Menurut Bambang, dalam sistem akreditasi, Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) Kementerian kesehatan Republik Indonesia, turut memeriksa dokumen yang diserahkan rumah sakit, juga terjun langsung ke lapangan untuk memastikan realisasinya. Apakah benar dilaksanakan sesuai dengan standar ataukah tidak. Karena itu, rumah sakit tidak bisa berbohong.
Saat ini juga bermunculan berbagai rumah sakit baru yang didirikan, sehingga rumah sakit bersangkutan belum bisa mengikuti penilaian akreditasi.
Ditempat yang sama, Ketua umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Kuntjoro menambahkan, kalangan dokter rumah sakit juga didorong terus mengikuti seminar serta pendidikan yang bias meningkatkan kompetensinya. Ini untuk menunjang nilai akreditasi rumah sakit.ucapnya. (Nwi)
Sumber: sinarpos.co.id
Rumah Sakit Pendidikan Wajib Utamakan Layanan Primer
Demi meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, Rumah Sakit Pendidikan Perguruan Tinggi Negeri bakal menyediakan layanan primer kepada pasiennya. Layanan itu akan ditanggung biayanya oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Upaya pemberian tugas layanan primer ini seiring dengan kerjasama antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang akan mengembangkan RS Pendidikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Hal itu juga untuk mengimplementasikan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 93/2015 pasal 12 yang menyatakan RS Pendidikan Utama harus melaksanakan pelayanan primer, sekunder dan tersier.
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti mengatakan, tugas ini tentunya bakal menjadi tantangan di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan. Hal itu terkait dengan model pelayanan kesehatan tingkat lanjut di RS Pendidikan, model layanan primer, tatalaksana, hingga pembiayaan JKN.
Ia menjelaskan, RS Pendidikan harus membuka keran bagi layanan primer. Akan tetapi tantangannya BPJS harus menyetujui berbagai sistem pembiayaan di RS Pendidikan.
“Saya yakin teman-teman di BPJS belum mengizinkan RS ada pelayanan primer. Kenapa? Karena tekatnya JKN agar tidak banyak orang datang ke RS, agar pembiayaan tak bengkak. Tetapi ini justru di RS Pendidikan yang memberikan layanan primer. Artinya sebentar-sebentar, masyarakat ke situ (RS Pendidikan),” tegas Ghufron dalam sambutannya pada Seminar dan Lokakarya Nasional “Pelayanan Kesehatan Primer di RS Pendidikan Utama: Implementasi PP 93 tahun 2015” di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis (20/4/2017).
Ghufron menambahkan sedikitnya harus ada 150 jenis penyakit yang harus selesai di layanan primer. Artinya ratusan penyakit itu harus selesai ditangani di fasilitas kesehatan pertama seperti puskesmas dan klinik.
“Tak boleh dirujuk. Kalau dirujuk bisa tak dibayar. Tetapi RS Pendidikan ini bikin layanan primer dirujuk di RS rujukan. Tentu ini bisa membuat BPJS tak sepakat. Karena itu butuh komitmen antara BPJS, Kemenristek Dikti dan Kemenkes,” katanya.
PTN tentu tak bisa berdiri sendiri tetapi menerima bantuan dari Kemenristek Dikti maksimal Rp20 miliar untuk pengembangan RS Pendidikan. Salah satunya saat ini yang siap mengoperasikan RS Pendidikan adalah UI.
Sementara, Direktur Rumah Sakit UI, Julianto Witjaksono menjelaskan, saat ini pembangunan RS UI sedang dalam tahap penyelesaian. Pihaknya menerapkan sistem rancang bangun sebagai pelayanan kesehatan satu atap mulai dari pelayanan primer, sekunder, tersier atau unggulan.
“Kami mengakomodasi konsep patient safety atau keselamatan pasien berakreditasi internasional, akan berperan sebagai pengampu bagi RS dan puskesmas di wilayah Depok dan sekitarnya untuk membangun pelayanan kesehatan yang terintegrasi. Kami rencanakan beroperasi 2018,” ungkap Julianto. (rri)
Sumber: jpp.go.id
Kemudahan Akses Pelayanan Jamkesus Terpadu
Yogyakarta, 19 April 2017. Bapel Jamkesos DIY menyelenggarakan Pelayanan Jamkesus Terpadu Penyandang Disabilitas dan Pelayanan Preventif TORCH terpadu di Rumah Sakit UGM, Jl.Kabupaten (Lingkar Utara), Kronggahan, Trihanggo, Sleman.
“Rumah Sakit UGM sebagai RS PTN mempunyai komitmen menyelenggarakan pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi termasuk bagi penyandang disabilitas. Sebagian besar kejadian disabilitas tidak dikarenakan kelainan kongenital tetapi dikarenakan oleh penyakit TORCH, melalui kegiatan ini menjadi salah satu tindakan preventif untuk pencegahan penyakit tersebut. Hal ini sejalan dengan himbauan Presiden RI bahwa dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak hanya tindakan kuratif saja tetapi juga promotif preventif” ujar dr. Arief Budiyanto, Sp.KK(K)., Ph.D, Direktur SDM dan Akademik RS UGM.
“Acara dilaksanakan dalam rangka mencanangkan UU No. 8 tahun 2016 tentang disabilitas serta Perda DIY No. 4 tahun 2012 tentang pemenuhan hak-hak dasar penyandang disabilitas. Kegiatan mengundang 150 peserta dari wilayah Kabupaten Sleman di 6 kecamatan sasaran yaitu Tempel, Turi, Sleman, Seyegan, Mlati dan Gamping”, ujar Sri Murni Rahayu, SH., MM, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman saat meresmikan acara.
Acara yang digelar meliputi 2 kegiatan yaitu 1) Pelayanan Jaminan Terpadu Penyandang Disabilitasi pada tanggal 19 April 2017 mulai pkl. 08.00 dan 2) Pelayanan preventif TORCH terpadu pada tanggal 20 April 2017 mulai pkl. 08.30 bertempat di Gedung Kresna Lantai 2 RS UGM.
Pelayanan dilakukan secara terpadu, mulai dari pelayanan assessment sosial, pelayanan medis PPK I, pelayanan medis PPK II (spesialis), pelayanan pemeriksaan laboratorium, dan pelayanan komunikasi informasi dan edukasi kepada ibu-ibu resiko tinggi TORCH. Melalui program TORCH ini Pemda DIY memberikan pelayanan jaminan kesehatan preventif TORCH sejak 2016, khususnya bagi ibu-ibu resiko tinggi dikarenakan faktor akses serta keterbatasan ekonomi, serta stigma di masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan secara mobile di lokasi-lokasi tertentu guna mendekatkan akses pelayanan, Wilayah Kabupaten Sleman yang telah dicakup meliputi Sleman bagian barat, timur, utara dan selatan. Harapannya melalui kemudahan akses layanan, mampu menyediakan fasilitas, infrastruktur dan SDM kesehatan agar disabilitas dapat mengakses layanan kesehatan dengan aman, mudah dan nyaman. (Humas RS UGM/Teti).
Sumber: rsa.ugm.ac.id












