|
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan rujukan pada era JKN ini maka diperlukan penguatan rumah sakit rujukan lintas propinsi yang dapat mengampu dari berbagai kawasan yang didukung dengan akses untuk dapat mencapainya. Selain itu, rumah sakit tersebut memiliki layanan unggulan dan sumber daya manusia yang berkompeten. Glaukoma Bahaya Si Pencuri Penglihatan
Salah satu panca indera kita yaitu mata penting peranannya bagi kehidupan manusia. Jika mata bermasalah, bahkan sampai mengalami kebutaan, tentu dapat menghambat produktivitas seseorang dalam bekerja dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Pada acara Bakti Sosial Operasi Katarak beberapa waktu lalu di Depok, Jawa Barat, Menkes Nila F. Moeloek mengatakan, “Diperkirakan setiap tahun kasus baru buta katarak akan selalu bertambah sebesar 0,1% dari jumlah penduduk atau kira-kira 250.000 orang/tahun. Sementara itu kemampuan kita untuk melakukan operasi katarak setiap tahun diperkirakan baru mencapai 180.000/tahun sehingga setiap tahun selalu bertambah backlog katarak sebesar lebih kurang 70.000. Jika kita tidak segera mengatasi backlog katarak ini maka angka kebutaan di Indonesia semakin lama akan semakin tinggi
Manajer keuangan rumah sakit saat ini memiliki peran yang sangat strategis. Peran tersebut tidak hanya dalam aktifitas pencatatan dan pelaporan keuangan (internal), namun juga dalam aktifitas komunikasi keuangan dengan pihak pembayar (BPJS dan asuransi lainnya). Mengingat peran yang strategis tersebut, maka sangat penting bagi manajer keuangan rumah sakit untuk memiliki kompetensi yang terstandarisasi. Dunia rumah sakit di Indonesia di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus berkompetisi untuk meningkatkan mutu pelayanan dalam konteks pelayanan yang membutuhkan sistem manajemen yang efisien. Salah satu fungsi manajemen yang sangat strategis untuk meningkatkan efisiensi pelayanan rumah sakit adalah manajemen keuangan. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) sebagai “pembayar” telah menetapkan kebutuhan akan kuantitas dan kualitas pelayanan kesehatan yang terstandarisasi dengan biaya yang terkendali. Sistem manajemen keuangan sangat berperan untuk menciptakan pelayanan yang bermutu dengan biaya yang efisien tersebut. Oleh sebab itu pengelolaannya membutuhkan manajer yang kompeten dan kredibel. Menyikapi hal tersebut Kelompok Kerja Leadership Fakultas Kedokteran UGM bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan dan Perhimpunan Rumah sakit Seluruh Indonesia (PERSI) akan mengadakan Seminar tentang Kepemimpinan Manajer Keuangan dalam Mengendalikan Biaya Pelayanan Rumah Sakit. Seminar ini dilaksanakan pada Selasa, 7 Maret 2017 pukul 08.00 – 15.00 WIB. Kunci Sukses Implementasi Lean Management di Rumah Sakit
Lean Management atau manajemen Lean adalah suatu pendekatan operasional dalam manajemen organisasi. Lean Management digerakkan oleh filosofi respect to people dan continuous improvement (upaya peningkatan atau perbaikan yang berkesinambungan). Upaya ini dilakukan secara sistematis dengan sumber daya yang ada, berfokus pada nilai (value) pelanggan dan membuang pemborosan (waste) yang ada. Tujuan akhirnya untuk mendapatkan kecepatan proses, peningkatan kualitas dan efisiensi. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Potensi Kecurangan di Rumah Sakit |
|
Pengakuan Pendapatan di Rumah Sakit |
RS Rujukan Nasional

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan rujukan pada era JKN ini maka diperlukan penguatan rumah sakit rujukan lintas propinsi yang dapat mengampu dari berbagai kawasan yang didukung dengan akses untuk dapat mencapainya. Selain itu, rumah sakit tersebut memiliki layanan unggulan dan sumber daya manusia yang berkompeten.
Dengan terbitnya Kepmenkes 390/2014 maka ditetapkan 14 rumah sakit untuk menjadi rumah sakit rujukan nasional dengan memenuhi kriteria seperti dalam tabel berikut:
Tabel : Kriteria Rumah sakit Rujukan Nasional
| No | Keterangan |
| 1 | Ditetapkan oleh Menteri Kesehatan |
| 2 | Menjadi rujukan lintas provinsi yang dapat mengampu pasien sekurangnya dari 4 (empat) provinsi |
| 3 | Berada di wilayah provinsi dengan kategori penduduk terpadat |
| 4 | Ditetapkan sebagai rumah sakit kelas A dan rumah sakit pendidikan sesuai standar dan ketentuan berlaku |
| 5 | Akreditasi rumah sakit berstandar nasional (sertifikasi akreditasi paripurna) dan internasional (sertifikasi akreditasi Joint Commission International/JCI) |
| 6 | Melaksanakan sistem remunerasi |
| 7 | Memiliki akses jalur transportasi yang dapat dijangkau melalui udara, darat dan air ke atau se kurangnya 4 (empat) provinsi |
| 8 | Memiliki layanan unggulan subspesialistik sekurangnya 2 (dua) layanan |
| 9 | Menjadi rumah sakit rujukan nasional pengampu rumah sakit regional di wilayahnya |
| 10 | Menjalin kerja sama (sister hospital) dengan rumah sakit bersertifikasi akreditasi nasional dan atau internasional di luar negeri |
Sumber : Kepmenkes nomor HK.02.02/MENKES/390/2014
Melalui Kepmenkes 390/2014 tersebut rumah sakit rujukan nasional memiliki tugas antara lain :
- Menjadi rumah sakit rujukan nasional sebagai pengampu rujukan medik dari rumah sakit regional sesuai ketentuan yang berlaku
- Melakukan rujuk balik sesuai indikasi dan ketentuan yang berlaku
- Mengembangkan layanan unggulan subspesialistik sesuai klasifikasi dan jenis rumah sakit
- Menyusun standar prosedur operasional rumah sakit dengan sistem rujukan dari rumah sakit regional jejaringnya
- Menyiapkan sumber daya manusia,sarana, prasarana, alat, bahan, fasilitas dan sistem informasi yang mendukung pelayanan sebagai rumah sakit rujukan nasional sesuai dengan standar
- Mengembangkan Health Technology Assesment/HTA khususnya penapisan teknologi tepat guna secara aktif di wilayah sekitarnya dengan mengutamakan produk dalam negeri termasuk menggunakan riset berbasis pelayanan
- Penguatan penerapan hospital bylaws/peraturan internal rumah sakit yang menjadi landasan transparansi, akuntabilitas, etika dan hukum kesehatan di rumah sakit
Sebanyak 14 RS rujukan nasional itu terletak di 13 provinsi, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Provinsi lain adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua.
Saat ini yang sudah ditetapkan Kemenkes menjadi rumah sakit rujukan nasional adalah :
- RSUP H. Adam Malik – Medan
- RSUP dr. Djamil – Padang
- RSUP dr. Hoesin – Palembang
- RSUP dr. Cipto Mangunkusumo – Jakarta
- RSUP dr. Hasan Sadikin – Bandung
- RSUP dr. Sarjito – Yogyakarta
- RSUP dr. Kariadi – Semarang
- RSUD dr. Soetomo – Surabaya
- RSUP Sanglah Denpasar – Denpasar
- RSUD dr. Soedarso – Pontianak
- RSUD Abdul Wahab Sjahranie – Samarinda
- RSUP dr. Wahidin Sudiro Husodo – Makassar
- RSUP Prof. R. D.Kandou – Manado
- RSUD Dok II Jayapura – Jayapura
Penyiapan RS rujukan nasional yang menyebar itu merupakan bagian dari membangun sistem rujukan nasional, agar pelayanan kesehatan tidak menumpuk di satu rumah sakit tertentu saja, karena itu maksud dan tujuannya untuk memperkuat layanan kesehatan tingkat primer dan meningkatkan layanan kesehatan tingkat lanjutan sehingga rujukan berjenjang berjalan. Dengan diberlakukannya sistem rujukan nasional ini, tidak berarti semua pasien bisa dirujuk begitu saja. Penanganan penyakit yang bisa selesai di tingkat primer tak perlu dirujuk ke tingkat lanjutan. Jika diperlukan, menurut Permenkes 391/2014 pasien bisa dirujuk ke RS rujukan regional sebelum ke RS rujukan nasional (SW).
UIM Akan Melaksanakan Pelatihan Proseptor Perawat
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Makassar (UIM) akan menggelar pelatihan proseptor bagi perawat di Aula KH. Muhiddin Zein UIM, Jalan Perintis Kemerdekan, tanggal 23 hingga 24 Maret 2017.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan Ketua Asosiasi Institute Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI), Dr. Muhammad Hadi, SKM., M.Kep.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIM, dr. Muhammad Rifai Pakki, DPDK mengungkapkan, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas dan kualitas Perawat di Sulawesi Selatan.
“Kegiatan ini pertama kami lakukan, ini menjadi komitmen kami sebagai lembaga pendidikan, khususnya Fakultas Ilmu Kesehatan untuk bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Rumah Sakit yang ada di Sulawesi Selatan”, ujarnya.
“Kita berharap lulusan pelatihan tersebut menjadi tenaga perawat yang profesional dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya di rumah sakit masing-masing”,jelas Rifai.(Kiki)
Sumber: kabarmaspul.com
RSUD Dr Pratomo Bagan Siapiapi Minim Fasilitas Kebakaran
BAGAN SIAPIAPI – RSUD Dr. Pratomo merupakan salah satu RSUD yang cukup besar di Bagan Siapiapi. Dengan jumlah pengunjung yang cukup padat setiap harinya beraktivitas di rumah sakit ini.
Namun, sayangnya RSUD yang terbilang cukup besar ini minim dalam hal penyediaan fasilitas kebakaran, baik dalam sistem proteksi aktif maupun pasifnya.
Terlihat seperti di lobi rumah sakit yang tidak adanya tersedia APAR (Alat Pemadam Api Ringan), sprinkle serta beberapa rambu keselamatan lainnya yang mana ini seharusnya tersedia di tempat fasilitas umum yang ramai dikunjungi masyarakat.
Padahal dalam Permenaker No 4 Tahun 1980 telah diatur tentang salah satunya adalah bagaimana peletakan APAR di suatu lokasi kerja.
Saat tim bertuahpos.com hendak mengonfirmasi kepada pihak rumah sakit mengenai hal tersebut, tidak ditemukan direktur maupun pihak rumah sakit yang bersedia untuk di wawancara.
“Direktur baru keluar dia pergi ke Pekanbaru, sedangkan wakilnya umrah,” ujar Asisten Dirut Dr. R. M. Pratomo, Senin (20/3/2017).
Sumber: bertuahpos.com
Re-Akreditasi JCI Cerminan Kualitas Layanan Eka Hospital
PEKANBARU (RPZ) – Memasuki usia yang ke 9 tahun, Eka Hospital BSD dan Eka Hospital Pekanbaru kembali berhasil mendapatkan Akreditasi Internasional dari Joint Commission Interna!onal (JCI). Bagi Eka Hospital BSD, tahun ini adalah yang ketiga kalinya akreditasi internasional diraih, sementara bagi Eka Hospital Pekanbaru menjadi kali kedua.
‘’Eka Hospital BSD merupakan rumah sakit termuda di Indonesia yang berhasil meraih akreditasi bergengsi JCI di periode 2 tahun pertama beroperasinya rumah sakit ini. Sementara itu, Eka Hospital Pekanbaru adalah rumah sakit pertama di Sumatera yang berhasil meraih akreditasi JCI,’’ ujar Dr Hermanto Nurya, MM selaku direktur Humas Pemasaran dan Layanan Pelanggan Korporat Eka Hospital, kemarin.
Ia mengatakan, akreditasi internasional bertujuan untuk menstandardisasi layanan rumah sakit di tanah air sesuai dengan standar baku keselamatan layanan kesehatan tingkat internasional. Adapun yang menjadi fokus dari penilaian akreditasi ini adalah standar pelayanan berfokus pada pasien (patient centered standards) yang termasuk di dalamnya adalah sasaran keselamatan pasien rumah sakit (international patient safety goals) serta standar manajemen rumah sakit (health care organization management standards).
‘’Pencapaian akreditasi JCI ini merupakan bukti komitmen Eka Hospital untuk selalu memberikan layanan kesehatan yang terbaik bagi pasien dengan mengedepankan mutu, keamanan, kenyamanan dan keselamatan pasien (quality and patient safety),’’ sebutnya.
Hal ini kata Hermanto, membuat pasien dapat merasakan manfaat dari setiap layanan Eka Hospital. Dengan terpenuhinya standar akreditasi internasional ini diharapkan tumbuh kepercayaan dan pengakuan masyarakat terhadap mutu rumah sakit di Indonesia, sehingga tidak perlu jauh-jauh berobat ke luar negeri.PPG
Sumber: riaupotenza.com
Keluarga Pasien RS Bengkulu Dapat Makan Gratis
Bengkulu – Wali Kota Helmi Hasan mencanangkan bantuan makan gratis bagi keluarga pasien rawat inap yang berobat di Rumah Sakit Kota Bengkulu.
“Kita merasakan mereka harus berjuang mengupayakan kesembuhan keluarganya yang dirawat, di saat yang sama juga repot untuk mengurus diri sendiri termasuk masalah asupan makan, ini yang menjadi dasar pemikiran kita,” kata Helmi di Bengkulu, Senin.
Rencananya, keluarga pasien akan mendapatkan makan gratis setiap Jumat.
Makanan akan disediakan langsung dari rumah sakit kota.
“Kita berharap walau tidak seberapa tetapi cukup membantu, sebab keluarga yang menunggu pasien harus tetap terjaga staminanya, jangan ujung-ujungnya mereka ikut dirawat,” kata dia lagi.
Selain makan gratis, Rumah Sakit Kota Bengkulu juga segera dipasang instalasi air keran langsung minum yang akan disediakan oleh PDAM.
“Rumah sakit menjadi prioritas lebih dulu dibanding yang lain sebab kita melihat banyak keluarga pasien yang berasal dari kampung harus bolak-balik hanya untuk mengambil persediaan air minum,” ucap Helmi.
Jika harus membeli air minum kemasan yang dijual di sekitar rumah sakit, lanjut dia, keluarga pasien terpaksa harus mengeluarkan biaya lebih besar lagi selain biaya pengobatan.
“Ke depannya kita terus menargetkan Rumah Sakit Kota Bengkulu menelurkan inovasi-inovasi baru dalam meningkatkan pelayanan bagi masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Bengkulu juga menyiapkan tokoh agama untuk memberikan semangat dan motivasi bagi pasien.
Hal itu diharapkan mampu mempercepat kesembuhan.***4***
Sumber: antaranews.com
Menjaga Mutu Pelayanan Rumah Sakit Muhammadiyah
Saat ini Muhammadiyah telah memiliki amal usaha dibidang kesehatan yang sangat banyak jumlahnya terutama rumah sakit. Berdirinya rumah sakit tersebut salah satunya bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia. Keberadaan rumah sakit milik Muhammadiyah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat ditengah keterbatasan pemerintah dalam menyediakan fasilitas kesehatan. Banyak masyarakat yang percaya terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh amal usaha Muhammadiyah tersebut sehingga menggunakan jasa pelayanan kesehatan tersebut. Kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat tersebut tentu harus dijaga. Tidak mudah bagi rumah sakit untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat ditengah kemajuan teknologi dan kompetisi yang semakin ketat. Salah satu cara untuk menjaga kepercayaan masyarakat tersebut yaitu dengan menjaga kualitas jasa pelayanan serta secara terus menerus meningkatkan kualitas tersebut sehingga tingkat kepercayaan masyarakat semakin tinggi.
Mutu pelayanan kesehatan secara umum memiliki pengertian yaitu realisasi pelayanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kriteria atau standar profesi yang telah ditetapkan sehingga mampu memenuhi bahkan melebihi kebutuhan para pelanggan dan dapat memberikan kepuasan dengan tingkat efisiensi yang optimal (Mukti, 2007). Maka dari itu rumah sakit dituntut untuk merealisasikan sebaik mungkin standar-standar yang telah ditetapkan. Standar-standar pelayanan tersebut bisa berasal dari pemerintah, yayasan, profesi, dan rumah sakit itu sendiri. Tantangan yang cukup berat bagi rumah sakit Muhammadiyah mengingat tuntutan masyarakat yang cukup tinggi dalam kualitas pelayanan. Rumah sakit Muhammadiyah harus bisa menjawab tantangan tersebut mengingat tingginya kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada salah satu amal usaha Muhammadiyah tersebut.
Banyak hal yang harus dilakukan untuk merealisasikan standar-standar tersebut. Di antaranya harus mempersiapkan sumber daya manusia, sumber daya finansial, fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk sarana dan prasarana rumah sakit. Selain mempersiapkan hal-hal tersebut juga perlu diperhatikan beberapa dimensi mutu dalam pelayanan kesehatan. Dimensi inilah yang menjadi penilaian dalam menerapkan mutu pelayanan kesehatan. Dimensi mutu menurut Parasuraman, dkk (1985) terdiri dari reliabilitas (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (emphaty), bukti fisik. (tangibles). Kelima dimensi ini harus dijalankan oleh rumah sakit sehingga mutu pelayanan pun akan dapat dirasakan oleh pelanggan.
Pertama, reliabilitas yaitu kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan secara akurat. Pelayanan yang akurat diantaranya tepat diagnosa penyakit, tepat waktu dalam memberikan pelayanan. Maka dari itu seluruh petugas medis harus bekerja secara profesional. Pekerjaan yang professional dapat menghindarkan dari kesalahan dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. Masih adanya kasus dugan malpraktik di Indonesia menunjukkan bahwa profesionalitas seorang petugas medis harus benar-benar dijunjung sehingga petugas medis tidak sewenang-wenang didalam menjalankan kewajibannya. Begitu juga petugas medis yang ada dirumah sakit Muhammadiyah juga harus menjaga serta terus meningkatkan profesionalitasnya dalam melayani masyarakat. Selain itu, ketepatan waktu juga sangat diperlukan. Beberapa keluhan yang sering disampaikan oleh pasien rumah sakit terkait ketidak tepatan jam praktik poliklinik. Hal ini tidak boleh terjadi dirumah sakit Muhammadiyah, sehingga manajemen harus menegakkan kedisiplinan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kedua, daya tanggap merupakan kemampuan petugas rumah sakit dalam memberikan respon untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan para pelanggan. Setiap petugas rumah sakit harus cepat tanggap dalam memenuhi kebutuhan pelanggan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Kecepatan dalam melakukan pelayanan saat ini sangat diperlukan, hal ini dikarenakan merupakan kebutuhan para pelanggan yang menginginkan pelayanan yang cepat. Keterlambatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dapat menurunkan penilaian mutu yang dilakukan oleh pelanggan rumah sakit. Maka dari itu petugas rumah sakit Muhammadiyah juga harus memperhatikan dimensi tersebut. Salah satu alasan masyarakat mempercayai rumah sakit milik Muhammadiyah karena cepat dalam merespon kebutuhan para pelanggan termasuk dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu. Hal ini harus dipertahankan dan perlu ditingkatkan untuk terus membantu masyarakat kurang mampu dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Ketiga, jaminan merupakan sikap dan perilaku yang ditunjukkan petugas rumah sakit dalam memberikan rasa aman dan nyaman dalam melayani pelanggan. Setiap orang yang hendak memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan tentu menginginkan pelayanan yang aman dan nyaman. Aman dalam arti setiap tindakan yang dilakukan oleh petugas kesehatan harus sesuai dengan prosedur dan standar yang berlaku. Rasa aman menjadi poin penting untuk menumbuhkan rasa percaya. Pelayanan aman dapat mencegah dari insiden yang dapat membahayakan keselamatan pasien. Selain itu, petugas rumah sakit juga harus memberikan kenyamanan kepada pelanggan seperti bersikap sopan, murah senyum, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik. Setiap rumah sakit Muhammadiyah harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang hendak memanfaatkan pelayanan kesehatan disana. Rasa aman dan nyaman bisa didapat dengan meningkatkan profesionalitas petugasnya serta kepatuhan terhadap prosedur atau standar yang ada.
Keempat, empati merupakan sikap memahami yang ditunjukkan oleh pihak rumah sakit kepada pelanggan. Pihak rumah sakit, baik manajemen maupun petugas kesehatan harus bisa memahami apa yang diinginkan dan dirasakan oleh para pelanggan. Selain itu, juga harus mampu memahami permasalahan yang sedang dihadapi oleh para pelanggannya. Rasa empati harus selalu ditunjukkan oleh petugas rumah sakit, termasuk petugas rumah sakit Muhammadiyah. Adanya rasa empati yang ditunjukkan dapat memberikan kenyamanan pada pelanggan atau pasien yang sedang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Perasaan nyaman yang muncul dapat menumbuhkan kepercayaan. Rasa empati yang ditunjukkan tetap harus berada pada batas hubungan antara petugas rumah sakit dengan pasien sehingga tidak melebihi batas kewajaran yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan.
Kelima, bukti fisik berkaitan dengan kualitas fasilitas yang disediakan oleh rumah sakit. Fasilitas tersebut terdiri dari fasilitas utama rumah sakit, fasilitas penunjang maupun kelengkapan sarana dan prasarana yang ada dirumah sakit tersbut. Termasuk penampilan para petugas rumah sakit ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat. Banyak rumah sakit Muhammadiyah yang memiliki kualitas fisik yang baik seperti peralatan medis, gedung, maupun sarana yang lain. Kualitas fisik ini harus tetap dijaga dengan terus melakukan kegiatan pemeliharaan terhadap peralatan daupun sarana yang dimiliki. Pemeliharaan dilakukan selain untuk melakukan efisiensi juga untuk mencegah dari insiden yang dapat membahayakan keselamatan pasien.
Kelima dimensi mutu ini harus tetap dilakukan dan ditingkatkan oleh semua rumah sakit Muhammadiyah. Maka kepercayaan masyarakat tidak akan pernah hilang dan justru akan semakin meningkat. Di tengah kempetisi antar rumah sakit yang semakin ketat, maka rumah sakit Muhammadiyah harus tetap mampu menjaga mutu pelayanannya sehingga bisa berkompetisi dengan rumah sakit lain. Dan dengan kepercayaan masyarakat yang tinggi, rumah sakit Muhammadiyah bisa berkontribusi dalam mensejahterakan masyarakat. Tanpa adanya rasa percaya dari masyarakat tentu amal usaha Muhammadiyah dibidang kesehatan ini tidak akan bisa berkembang dan tidak bisa berkontribusi kepada masyarakat, bangsa dan Negara.
Sumber: pdmjogja.org
Laporkan Kalau Pelayanan Rumah Sakit Tidak Baik
Mengawali agenda kunjungan kerja hari ketiga di Provinsi Kalimantan Barat, Presiden Joko Widodo Sabtu, 18 Maret 2017 kembali membagikan sejumlah bantuan sosial nontunai kepada masyarakat. Pantai Kijing di Desa Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat menjadi lokasi yang dikunjungi Presiden Joko Widodo untuk menyerahkan sejumlah bantuan sosial nontunai berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Program Keluarga Harapan (PKH) serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Sebanyak 500 pelajar dari tingkatan SD hingga SMA/SMK dari sembilan kecamatan yang tersebar di Kabupaten Mempawah menerima langsung bantuan KIP dari pemerintah. “Dipakai hanya untuk keperluan pendidikan, sekolah, beli buku, beli sepatu, beli tas, beli seragam sekolah, untuk bayar sesuatu yang berhubungan dengan sekolah,” ujar Presiden Joko Widodo.
Kepala Negara juga menyerahkan sebanyak 98 KIS kepada warga dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Mempawah Hilir dan Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Mempawah. Bahkan, Presiden berpesan agar masyarakat ikut berperan aktif melaporkan jika mendapatkan pelayanan yang tidak baik dari petugas fasilitas kesehatan. Memang masyarakat yang memanfaatkan KIS untuk berobat di rumah sakit tidak dikenakan biaya, namun pemerintahlah yang menanggung biayanya.
Tak hanya itu, para ibu hamil dan balita juga tak lepas dari bantuan pemerintah. Roti biskuit kaya gizi diberikan pemerintah kepada 450 ibu hamil dan balita sebagai makanan tambahan sehari-hari. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengurangi jumlah penderita gizi buruk di Tanah Air. “Ibu hamil harus makan bergizi supaya anak kita pintar, cerdas, pandai. Kita ingin ke depan bangsa kita kuat karena anak kita pandai bisa bersaing dengan negara lain,” ucap Presiden.
Keluarga yang dipandang sangat memerlukan bantuan dan perlindungan sosial juga diberikan kartu yang berisi saldo sebesar dua juta rupiah yang dapat diambil setiap tiga bulan. Kartu tersebut diberikan kepada 150 keluarga dari tiga kecamatan di Kabupaten Mempawah.
Selain pemberian bantuan sosial, Kepala Negara juga memberikan bantuan langsung berupa peralatan sekolah bagi para pelajar penerima KIP yang hadir di tempat acara. Sedangkan untuk para penerima KIS, PKH dan PMT, sejumlah kebutuhan pokok rumah tangga seperti beras, minyak, susu, telur dan kacang hijau turut diserahkan oleh Presiden Joko Widodo.
Tak lupa sejumlah sepeda diberikan kepada masyarakat yang yang berhasil menjawab pertanyaan dari Kepala Negara. Sebelum berpisah, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri menghampiri masyarakat yang hadir di acara dan juga di sekitar lokasi acara.
Sumber: lensa.id
Asosiasi Rumah Sakit AS Tolak RUU Kesehatan Trump
Jakarta – Asosiasi Rumah Sakit Amerika Serikat (AHA) menentang rancangan undang-undang (RUU) yang diajukan Partai Republik dan didukung oleh Presiden AS Donald Trump karena adanya kekhawatiran kaum miskin dapat kehilangan asuransi.
Ketua AHA Rick Pollack yang asosiasinya mewakili 5.000 rumah sakit menyatakan dalam surat ke Kongres AS bahwa upaya mengkaji isi RUU Layanan Kesehatan Amerika itu “sangat terhambat” oleh tidak adanya perkiraan yang jelas dari Badan Anggaran Kongres.
“Rencana itu akan mengakibatkan pengurangan besar-besaran program-program yang menyediakan layanan untuk kalangan penduduk paling rentan. Akibatnya, kelompok masyarakat lemah akan semakin terpuruk karena tak mendapat layanan kesehatan,” kata Rick Pollack seperti dikutip dari laman BBC di Jakarta, Minggu (19/3/2017).
Partai Republik akhirnya merampungkan rancangan undang-undang kesehatan dengan menyebutnya American Health Care Act. RUU tersebut selesai dirumuskan setelah Presiden Trump bertemu para anggota parlemen. Namun hingga kini perkiraan berapa besar biaya yang harus ditanggung warga AS untuk layanan kesehatan menurut RUU itu belum dirilis.
RUU Layanan Kesehatan AS akan menggantikan Undang-Undang Kesehatan atau biasa disebut Obamacare karena ditandatangani Barack Obama saat dia menjabat sebagai presiden. Di surat terpisah, kelompok asosiasi dokter AS atau American Medical Association juga mendesak Kongres mempertimbangkan ulang langkah pengurangan asuransi bagi kaum miskin.
Sementara itu, asosiasi kaum pensiunan AS (AARP), sebuah kelompok lobi untuk kalangan manula menyatakan program asuransi Medicare yang diajukan Partai Republik akan memangkas anggaran kesehatan untuk kaum lansia.
Beberapa rencana dalam RUU Layanan Kesehatan mencakup pembatasan anggaran federal untuk layanan kesehatan bagi kalangan berpendapatan rendah, menghapuskan persyaratan yang mewajibkan semua orang harus memiliki asuransi, dan menghapus subsidi dengan kredit pajak.
Ketua DPR AS Paul Ryan menyanjung RUU tersebut dan menyebutnya sebagai “daftar keinginan kalangan konservatif” dan “reformasi konservatif yang menarik dan monumental”.
“Inilah yang selama ini kami impikan,” kata Ryan.
Saat berkampanye, Presiden Trump berjanji akan menghapus Obamacare karena, menurutnya, tarif premi terus naik dan kurang variatif.
Sumber: wartaekonomi.co.id
Rumah Sakit ST Elisabeth, Kebersihan Paling Utama
SEMARANG – Rumah Sakit (RS) ST Elisabeth yang terletak di Jalan Kawi Raya selama ini tak hanya memberikan pelayanan baik dan profesional. Namun masalah kebersihan juga utama dalam segala hal selain melayani para pasiennya.
“Memberikan contoh kebersihan sudah jaman dahulu diawali dengan pemberikan kepada perawatnya hingga menular ke para pasiennya. Memang rumah sakit jangan hanya menyajikan pelayanan yang baik saja, namun kesehatan di ruangan dan pasien juga perlu karena ini juga diperhatikan dari keluarga pasien,” terang Humas RS ST Elisabeth Probowati Tjondronegoro kepada Jateng Pos di sela acara HUT Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Ke-43, kemarin.
Probowati mengatakan, kemarin HUT PPNI pihaknya memang mengadakan kegiatan edukasi cuci tangan yang benar ke pasien, dan itu bagian dari wujud yang selama ini terus dilakukan pihak rumah sakit betapa pentingnya kebersihan dan kesehatan. Selama ini para perawat RS Elisabeth memang bekerja sangat profesional, cepat dan tanggap. “Sehingga jika memberikan contoh kebersihan soal cuci tangan ke pasien mereka sudah sangat menguasainya,” urainya.
Ketika ditanya apakah pentingnya cuci tangan harus diajarkan ke pasien? Probowati menegaskan, sosialisasi cuci tangan selalu diajarkan karena kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan selama ini masih rendah. Padahal dengan cuci tangan hingga bersih bisa mencegah penyakit infeksi. “Jadi mengedukasi untuk gerakan bersih mencegah infeksi adalah salah satunya hal yang harus diketahui banyak orang,” terangnya.
Dikatakan, pihaknya di bagian humas rumah sakit juga bagian dari manajemen memang sangat membudayakan lingkungan yang bersih dan sehat di tempatnya. Banyak masyarakat yang menilai bahwa RS ST Elisabeth selama ini dikenal dengan tempat rawat inap bagi pasien yang lokasinya snagat bersih. “Sudah banyak pihak luar juga menilai rumah sakit ini bersih dan mendapat apresiasi setiap tahunnya. Kami berharap rumah sakit ini terus mendapat kepercayaan terutama dalam hal pelayanan dan kebersihan,” pungkasnya. (gus/mg1)
Sumber: jatengpos.co.id













