manajemenrumahsakit.net :: BANTUL
PERSI Award Ajang Rumah Sakit Tingkatkan Mutu
manajemenrumahsakit.net :: Senin (29/09/2014) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depok kedatangan tim penilai dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) guna mendapat penilaian lapangan dalam rangka penganugerahan PERSI Award.
Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) sendiri
Tahun Depan Siloam Bakal Bangun Rumah Sakit Baru 120 Juta Dollar AS
manajemenrumahsakit.net :: JAKARTA. PT Siloam International Hospitals Tbk tengah fokus ekspansi penambahan rumahsakit. Perusahaan penyedia jasa layanan kesehatan itu memasang target bisa membuka enam hingga delapan rumahsakit per tahun mulai tahun depan hingga tahun 2017 mendatang.
Perusahaan berkode SILO di Bursa Efek Indonesia itumemiliki 29 proyek rumahsakit baru yang akan mulai dikerjakan pada 2015. “Alokasi capex tahun depan jika kami ingin bangun delapan rumah sakit artinya kami butuh US$ 120 juta,” ujar Presiden Direktur Siloam International Hospitals Romeo Fernandez Lledo kepada KONTAN pekan lalu.
Target pembukaan rumahsakit per tahun tersebut lebih banyak dibandingkan dengan realisasi tahun ini. Meski tahun 2014 belum juga berakhir, Siloam memastikan jika tahun ini hanya menambah tiga rumahsakit. Siloam telah mengucurkan investasi US$ 75 juta atau sekitar Rp 900 miliar.
Siloam sudah membuka satu rumahsakit pada semester I kemarin. Dua rumahsakit lain baru akan dibuka pada kuartal IV nanti. Pada Oktober, perusahaan itu akan membuka rumahsakit di Medan, Sumatra Utara. Lantas, pada November giliran rumahsakit di Kupang, Nusa Tenggara Timur yang dibuka.
Asal tahu saja, Siloam senantiasa melibatkan sang induk usaha yakni PT Lippo Karawaci Tbk dalam ketika membangun rumahsakit. Untuk setiap pembangunan rumahsakit yang menelan dana US$ 25 juta, Siloam hanya mengucurkan US$ 15 juta untuk pembelian peralatan kesehatan.
Sementara Lippo Karawaci menanggung US$ 10 juta untuk investasi lahan. “Rumahsakit yang kami dirikan biasanya berada di lahan Lippo Karawaci. Jadi lahan yang kami tempati tetap milik Lippo Karawaci,” beber Romeo.
Selain membangun rumahsakit anyar, Siloam juga menambah rumahsakit dengan cara mengakuisisi. Pada semester I kemarin, perusahaan itu mengakuisisi satu rumahsakit.
Namun, berbeda dengan target pembangunan rumahsakit baru yang bisa ditargetkan, Siloam tak bisa memastikan target rumahsakit yang akan dia akuisisi. Sebab, aksi akuisisi berkaitan dengan peluang yang muncul dan kemampuan perusahaan memanfaatkan peluang itu.
Dengan memasukkan dua rumahsakit anyar di Medan dan Kupang, hingga akhir 2014 nanti, Siloam bakal mengoperasikan 20 rumahsakit. Delapan diantaranya adalah rumahsakit hasil akuisisi. Sisanya, barulah rumahsakit yang merupakan hasil pembangunan sendiri.
Pada semester I tahun ini, pendapatan Siloam naik 30,83% menjadi Rp 1,57 triliun. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tumbuh dari Rp 21,98 miliar pada semester I-2013, menjadi Rp 44,14 miliar pada semester I-2014.
Berdasar catatan KONTAN, pada periode semester I-2014 itu, kontribusi pendapatan Siloam dari rumahsakit lama adalah 69% terhadap total pendapatan. Sisanya, barulah kontribusi pendapatan dari rumahsakit anyar, yakni sebesar Rp 472 miliar.(KONTAN/ Merlinda Riska -)
Sumber: tribunnews.com
RS Columbia Asia Medan Edukasi Ibu Hamil
manajemenrumahsakit.net – Medan. Manajemen Rumah Sakit Columbia Asia Medan mengedukasi ibu hamil dan calon ibu di Kota Medan secara khusus dan Sumut umumnya melalui seminar kesehatan, Sabtu (27/9) di RS Columbia Asia. Seminar dengan tema “mitos kehamilan” itu menghadirkan dr JS Khoman SpOG(K) dan dr Christoffel L Tobing SpOG(K).
Kepada para ibu muda yang sedang hamil kedua dokter tersebut mengedukasi tentang kehamilan, menjaga kehamilan, kecukupan gizi dan berbagai masalah terkait kehamilan. Usai menyampaikan materi tentang mitos kehamilan, JS Khoman dan Christoffel L Tobing menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan para ibu hamil.
Dr JS Koman dengan gamblang dan mudah dicerna peserta seminar soal berbagai pertanyaan yang diutarakan para ibu hamil. Pertanyaan diantaranya seputar gatal di perut ibu hamil, JS Koman menjelaskan hal itu terjadi salah satu faktornya karena daya tahan tubuh menurun dan diminta agar tidak menggaruk serta memakan obat, karena rasa gatal itu akan hilang usai kehamilan.
Menjawab pertanyaan peserta lainnya terkait hamil kosong dan berapa jarak untuk kehamilan berikutnya, JS Koman mengatakan tidak ada hubungan hamil kosong dengan hamil berikutnya. Diminta kepada para ibu yang mengalami hamil kosong agar tidak menunda kehamilan. “Hamil kosong terjadi karena tidak terpenuhinya makanan dan akhirnya janin habis,” jelasnya.
Narasumber lainnya dr Christoffer L Tobing juga menyampaikan dan menjawab berbagai pertanyaan peserta. Soal berat badan janin normal, Christoffer mengatakan berat badan janin umur 32 minggu 1.750 gram, umur 36 minggu 2.420 gram, 40 minggu 3.250 gram. “Kalau lebih dari 4 kg, maka wajib operasi caesar,” jelasnya.
Saat ditanya MedanBisnis apa kendala dan masalah yang dihadapi ibu hamil, Christoffer mengakui berbagai masalah muncul karena kurangnya komunikasi antara ibu hamil dengan dokter. Dia mengatakan kehamilan itu harus diharapkan, sehingga ada persiapan kehamilan. Maka untuk mendeteksi adanya bahaya kehamilan, maka perlu komunikasi yang intens dengan dokter.
“Dengan adanya komunikai dengan dokter, terus ditangani dokter yang profesional, disiplin ibu hamil, maka masalah kehamilan akan teratasi. Bila ada pemeriksaan yang baik, maka akan diketahui berbagai masalah pada ibu hamil dan janinnya. Begitu juga dengan penyakit yang menyertai seperti tekanan darah tinggi, diabetes, maka masalah itu bisa segera diatasi,” kata Christoffer L Tobing.
Mewakili dari manajemen Chip Medical Coordinator RS Columbia Asia Medan dr Erlinda Yani mengatakan seminar itu digelar RS Columbia Asia untuk memberikan edukasi bagi calon ibu hamil dan mau hamil atau yang hendak memiliki anak.
Selama ini, katanya, sudah banyak disampaikan berbagai pengetahuan tentang kesehatan kepada warga Medan. “Saat ini edukasi yang disampaikan seputar tentang kehamilan,” kata Erlinda.(mulyadi hutahaean)
Sumber: medanbisnisdaily.com
Edisi Minggu ini: 30 September – 6 Oktober 2014
|
Dear Pengunjung Website,
Yodi Mahendradhata, Aur
30 Sep2014
Rumah Sakit Palu Rawat Banyak Pasien DBDmanajemenrumahsakit.net :: Palu – Rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Palu saat ini banyak merawat pasien yang menderita penyakit deman berdarah dengue (DBD). Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Emma Sukmawati di Palu, Minggu, membenarkan dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi peningkatan jumlah pasien DBD yang dirawat di rumah sakit. Selain penyakit DBD, katanya, juda banyak penderita diare. Ia mengaku bahwa kedua penyakit itu merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat di ibu kota Provinsi Sulteng itu, namun yang paling banyak penderita DBD. Mengingat jumlah penderita DBD cenderung meningkat akhir-akhir ini, Sukmawati mengimbau masyarakat untuk lebih mewaspadainya. Ia mengatakan apabila ada anggota keluarga yang demam tingi lebih baik segera dibawa berobat ke dokter praktek, puskesmas, atau langsung dilarikan ke rumah sakit. Apalagi, jika panasnya sudah tiga hari tidak turun, kemungkinan yang bersangkutan terinveksi virus nyamuk aedes aegypti. Ciri-ciri seseorang menderita DBD antara lain suhu badan meningkat, pusing, sakit kepala dan mual. Ia juga mengimbau warga untuk memperhatikan kebersihan lingkungan, terutama saluran air yang menjadi tempat bertelur, dan berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti. Jangan sampai ada air tergenang, karena di situlah biasanya nyamuk aedes aegypti bertelur dan berkembangbiak. Usahakan agar saluran air tetap bersih dan air mengalir dengan lancar. Hingga kini belum diketahui jumlah kasus DBD di Palu. Sementara Ny Maria, salah seorang ibu rumah tangga di Palu mengatakan Arnol, putra keduanya, sudah beberapa hari ini menjalani perawatan di Rumah Sakit Bala Keselamatan (BK) Palu. Hasil pemeriksaan di laboratorium, anaknya positif menderita DBD. Di rumah sakit itu ada banyak pasien DBD. (skd) Sumber: antaranews.com
30 Sep2014
RS Siloam Internasional Bandung Akan Layani Pasien BPJSmanajemenrumahsakit.net :: Bandung – Pendiri Rumah Sakit Siloam James T Riady menyatakan, Siloam Internasional Hospital yang didirikan di Kota Bandung, Jabar, dapat melayani kesehatan masyarakat peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). “Nanti akan diberikan pelayanan total, bukan menengah ke atas, tetapi ke bawah, dengan menghadirkan BPJS,” kata James T Riady usai peresmian pembangunan awal Rumah Sakit Internasional Siloam di Jalan Aceh, Kota Bandung, Sabtu (27/9). Ia menuturkan, Rumah Sakit bertaraf internasional yang dibangunnya itu akan mengikuti segala program BPJS berbagai tingkat fasilitas termasuk pelayanan kelas tiga. “Akan dihadirkan BPJS untuk kelas tiga, mengikuti tarif BPJS kelas tiga, dananya akan memadukan subsidi silang,” katanya. Ia menegaskan, pelayanan bagi masyarakat peserta BPJS itu sebagai upaya pihak Rumah Sakit swasta membantu atau mendukung program pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menegaskan, Group Lippo yang membangun rumah sakit internasional itu siap menjadi bagian membangun masyarakat. “Lippo tidak pernah membantu atau memberi hadiah tapi ambil bagian membangun masyarakat kita,” katanya. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang hadir dalam acara pembangunan awal itu mengucapkan terima kasih karena keberadaan Rumah Sakit swasta tersebut mendukung program BPJS. “Rumah Sakit Siloam untuk masyarakat miskin juga bisa dilayani, Siloam akan membantu pelayanan BPJS,” kata Ridwan. Sementara itu, Rumah Sakit Siloam yang dibangun dekat pusat Kota Bandung, Jalan Aceh ditargetkan proses pembangunannya selama 16 bulan. Sumber: beritasatu.com
30 Sep2014
RSUD Cianjur Kekurangan Dokter Spesialismanajemenrumahsakit.net :: Cianjur – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur masih kekurangan sejumlah dokter spesialis. Akibatnya, jika tak mampu tertangani di RSUD, maka pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain di Bandung atau di Sukabumi. Wakil Direktur Bidang Pelayanan Toton Surotono mengatakan, yang dibutuhkan RSUD Cianjur saat ini di antaranya dokter spesialis bedah dan dokter spesialis penyakit jantung. Jika ada pasien yang berobat, maka untuk sementara ditangani semampunya. “Tapi jika sudah tak mampu, biasanya kita akan rujuk ke rumah sakit di Bandung,” kata Toton. Toton mengaku, RSUD Cianjur tak tinggal diam dengan belum memilikinya dokter spesialis tersebut. Hanya saja sampai saat ini belum ada dokter spesialis yang mau bekerja di RSUD Cianjur. “Kita selalu berupaya agar kekurangan dokter spesialis itu bisa segera terpenuhi,” ujarnya. Meskipun kekurangan dokter spesialis, namun kata Toton, RSUD Cianjur selalu memberikan pelayanan kesehatan maksimal. Tidak hanya dari segi pelayanan kesehatan, tapi juga dari sarana dan prasarana. “Saat ini kita sedang membangun beberapa ruangan. Salah satunya di ruang IGD. Ini semata-mata untuk memberikan pelayanan maksimal. Sering membeludaknya pasien selama ini lantaran tempat tidur yang tersedia masih kurang dibandingkan jumlah pasien,” terang Toton. Karena itu, Toton setuju jika sudah saatnya di Cianjur membuka ruang bagi rumah sakit swasta. Tidak hanya sebagai kompetitor RSUD Cianjur, tapi lebih kepada bentuk pelayanan kepada masyarakat. “Saya setuju sekali jika ada rumah sakit swasta di Cianjur,” tegasnya. Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Yadi Mulyadi mengatakan, memang harus sudah ada rumah sakit lain untuk menampung jumlah pasien di Cianjur. Menurutnya, pembangunan Rumah Sakit Pagelaran bisa menjadi solusi agar RSUD Cianjur tidak menjadi sentra setiap pasien dari berbagai daerah. “Di wilayah utara kan sekarang sudah ada RSU Cimacan untuk menampung para pasien di wilayah itu. Untuk wilayah selatan, RS Pagelaran bisa menjadi tempat pelayanan kesehatan bagi masyarakat di sana,” kata Yadi, Minggu (28/9/2014). Menurut Yadi, pembangunan RS Pagelaran masih terus berjalan. Tahun ini dana pembangunannya dialokasikan sekitar Rp20 miliar, termasuk bantuan dari provinsi. “Mudah-mudahan RS Pagelaran bisa segera rampung,” pungkasnya. [hus] Sumber: inilahkoran.com |

Perhelatan nasional Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia telah sukses dilaksanakan di Bandung oleh Universitas Padjajaran sebagai tuan rumah. Para peserta dan pembicara datang dari berbagai komunitas kebijakan kesehatan, antara lain pengambil kebijakan, peneliti, dosen, mahasiswa hingga pelaksana kebijakan. Ada berbagai point penting yang berhasil disepakati pada forum ini, antara lain bahwa tiap kelompok kerja yang terbentuk akan menghasilkan setidaknya satu dokumen ringkasan kebijakan sebagai rekomendasi yang akan disampaikan kepada pemerintah dan legislatif. Silakan ikuti reportase selengkapnya
Selain kegiatan yang berlevel nasional, juga ada kegiatan berlevel internasional yang diikuti oleh sejumlah dosen dan peneliti dari PKMK FK UGM. Kegiatan tersebut adalah Global Health Symposium ketiga yang diselenggarakan di Cape Town Afrika Selatan. Sebagai ajang pertemuan para peneliti kebijakan dari seluruh dunia, simposium ini diharapkan dapat meningkatkan awareness para peneliti untuk menjembatani antara riset dengan pembuatan kebijakan. Meskipun temanya adalah kebijakan yang sifatnya makro bagi manajemen RS, namun ada beberapa sesi yang relevan bagi Anda pengunjung website ini. Untuk itu, silakan simak reportase lengkapnya
Di dalam negeri, upaya untuk meningkatkan kapasitas RS terus dilakukan. Salah satu yang dapat kami laporkan adalah upaya implementasi program billing system di NTT yang sudah memasuki tahap pelatihan bagi para user di RSUD Waingapu. Hal ini agar RSUD yang berada di daerah dengan sumber daya serba terbatas pun dapat melakukan pelayanan secara lebih profesional karena ditunjang oleh sistem yang baik. Silakan ikuti reportase kegiatannya 






