manajemenrumahsakit.net :: Jakarta
Rumah Sakit Jogya Makin Diminati Masyarakat
manajemenrumahsakit.net :: KBRN, Yogyakarta : Semakin diminatinya Rumah Sakit Jogya oleh masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya menurut Direktur Rumah Sakit Yogya, Drg.Tuty Setyowati karena poli pelayanan kesehatan yang ada sudah komplit dan ditangani oleh tenaga Dokter yang kompeten.
Terlebih lagi dengan adanya program Jaminan Kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), kunjungan Rumah Sakit setiap harinya terus bertambah dan saat ini rata-rata setiap harinya antara 600 orang hingga 700 orang.
“Dari berbagai Poli yang ada yang paling banyak pengunjungnya untuk memeriksakan kesehatannya adalah Poli Penyakit Dalam dan Poli lainnya,” ungkap Drg.Tuty Setyowati, Jum’at (26/9/2014).
“Sebagai Rumah Sakit rujukan, juga telah ditunjuk sebagai Rumah Sakit Pendidikan bagi calon Dokter,” jelasnya. (Isgiyanto Hadinegoro/HE)
Sumber: rri.co.id
Bandung Kekurangan Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Bandung – Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menargetkan pembangunan tiga sampai empat rumah sakit di Kota Bandung. Pada tahun ini, Pemkot Bandung telah membeli dua tanah untuk dibangun Rumah Sakit Ibu Anak dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
“Kita kekurangan banyak rumah sakit, baik kelas A dan B. Minimalnya bisa membangun tiga sampai empat rumah sakit baru,” kata Ridwan usai Ground Breaking Siloam Hospital di Jalan Aceh Kota Bandung, Sabtu (27/9/2014).
Ridwan menyebut keterbatasan anggaran Pemkot Bandung yang menyebabkan belum bisa memenuhi target membangun rumah sakit.
“Saya prihatin pada layanan kesehatan. Orang miskin sering dapat pelayanan diskriminatif. Kita juga tidak perlu sedikit-sedikit ke Singapura kalau pelayanan dan teknologinya sama bahkan bagus,” ujarnya. [ito]
Sumber: inilahkoran.com
Rumah Sakit Rembang Konsolidasi Jelang Akreditasi Standar Baru
manajemenrumahsakit.net :: Rembang, Pihak Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetrasno Rembang, Jumat (26/9) malam menggelar pertemuan konsolidasi bersama masyarakat dan pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan. Pertemuan ini dilakukan menjelang akreditasi atau penilaian standar baru pada 15 Oktober nanti.
Direktur RSUD dr Soetrasno Rembang Agus Setiyo Hadi Purwanto mengatakan, penilaian standar rumah sakit plat merah ini akan dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Akreditasi standar baru ini mengacu pada standar internasional yang diterapkan Joint Commission International (JSI).
Menurutnya, ada sekitar 1.000 item standar pelayanan dalam akreditasi rumah sakit versi tahun 2012. Karena penilaian yang ketat, sejauh ini baru 37 dari sekitar 2.000 rumah sakit di Indonesia, yang dinyatakan terakreditasi standar baru ini.
Di Jawa Tengah, menurut Agus, baru RSUP Karyadi, Rumah Sakit Tlogorejo, dan Rumah Sakit Elizabeth yang telah mengantongi akreditasi terbaru. Pihak rumah sakit daerah ini mengklaim telah bersiap dinilai. Sebagai salah satu buktinya, digelar konsolidasi malam itu.
Ketua Dewan Pengawas RSUD dr Soetrasno Rembang Hamzah Fatoni mengaku sudah menggelar pertemuan internal dengan Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, untuk menyambut penilaian atau akreditasi kali ini.
Menurutnya, Dewan Pengawas akan dinilai dari sisi pengawasan terhadap manajemen dan pelayanan rumah sakit. Hamzah mengaku berusaha menyusun instrumen penilaian dalam struktur yang lebih sederhana, berupa saran perbaikan rumah sakit.
Frida Iriyani, seorang sukarelawan kesehatan di rumah sakit umum daerah ini mengkritik pelayanan yang masih dianggap kurang. Menurutnya, meski angka tingkat kepuasan pelayanan diklaim mencapai 75 persen, namun pihak rumah sakit perlu memperbaiki pendampingan pasien.
Belum semua pasien merasa terlayani secara maksimal. Secara kelengkapan layanan pun masih butuh peningkatan. Sebut saja fasilitas kemoterapi dan jiwa, yang semestinya sudah dimiliki. Menurutnya, banyak pengidap kanker payudara dan gangguan jiwa yang selama ini dirawat di Semarang. (Pujianto)
Sumber: mataairradio.net
RS Berharap Tarif JKN Tak Tergerus Inflasi
manajemenrumahsakit.net :: Direktur Utama RSUP Sanglah Bali, Anak Ayu Sri Saraswati, mengusulkan agar tarif program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diatur dalam INA-CBG’s dievaluasi berkala. Menurut dia, penyesuaian itu penting agar besaran tarif dapat mengikuti laju inflasi. Jika harga obat-obatan naik, misalnya, tarif JKN harus disesuaikan dengan kenaikan tersebut. “Agar tarif JKN tidak tergerus inflasi,” katanya dalam diskusi di kantor BPJS Kesehatan, Kamis (18/9).
RSUP Sanglah, kata Saraswati, tidak mengalami kendala mengimplementasikan program JKN. Perihal klaim, misalnya, RSUP Sanglah melaksanakan aturan yang ketat. Dokter wajib membuat rekam medik, gejala pasien dan tindakan yang dilakukan. Data itu lantas dimasukkan ke dalam coding INA-CBGs untuk mengetahui berapa klaim yang bakal dibayar BPJS Kesehatan.
Guna mencegah defisit, Saraswati melanjutkan, RSUP Sanglah menerapkan panduan klinis (clinical pathway) yang wajib dipatuhi dokter. Sehingga, tindakan yang dilakukan terhadap peserta BPJS Kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Jika peserta mengalami demam, dokter hanya perlu memberikan obat penurun demam. Peserta tidak perlu diberikan vitamin dan tindakan lain yang tidak sesuai dengan penanganan terhadap penderita demam.
Sejak melayani peserta BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014, jelas Saraswati, keluhan dari peserta di RS Sanglah tidak ada yang signifikan. Bahkan, dibandingkan program jaminan kesehatan sebelumnya, jumlah keluhan peserta cenderung menurun. Program JKN yang dilaksanakan lewat BPJS Kesehatan jaminannya komprehensif. Sedangkan program jaminan kesehatan sebelumnya, manfaat yang diterima peserta terbatas. Sehingga, peserta kerap mengeluhkan manfaat yang diterima.
Saraswati menegaskan RSUP Sanglah tidak diskriminatif dalam melayani pasien. Semua pasien akan dilayani dengan baik, tak terkecuali peserta BPJS Kesehatan. Sekalipun ruang perawatan penuh, ia menegaskan RSUP Sanglah tidak menolak pasien. Jika peserta BPJS Kesehatan yang mendapat ruang perawatan kelas 3 belum mendapat tempat, untuk sementara akan dititipkan ke ruang perawatan yang kosong baik itu kelas 2, 1 atau VIP. Jika sudah tidak sanggup menampung pasien, RSUP Sanglah biasanya merujuk ke RS lain yang sejenis.
Kepala Departemen Humas BPJS Kesehatan, Irfan Humaidi, mengatakan ada sanksi yang dapat dijatuhkan kepada fasilitas kesehatan yang menolak melayani peserta. Sanksinya berbeda beda, tergantung kesepakatan yang tertuang dalam kontrak kerjasama antara cabang BPJS Kesehatan dengan fasilitas kesehatan yang ada di wilayah tersebut.
Obat-obatan di RSUD Gratis
manajemenrumahsakit.net :: DUMAI- Terkait adanya keluhan dari masyarakat Dumai terkait pelayanan RSUD Dumai terutama soal obat-obatan yang harus beli. Langsung disikapo oleh Wakil Walikota Dumai H Agus Widayat dengan langsung turun ke rumah sakit kemarin.
Dalam kunjungan yang dilakukan tersebut wawako diterima oleh Direktur RSUD Dumai H Syaiful beserta sejumlah dokter dan staf. Pertemuan yang berlangsung di aula RSUD tersebut berlangsung penuh keakraban dan penegasan bahwasannya obat-obatan untuk kelas III gratis nota bene tak ada yang dibeli sebab semuanya telah dianggarkan di APBD Dumai.
Peninjauan ke lapangan tersebut dilakukan Wawako menindaklanjuti keluhan yang disampaikan masyarakat tentang pelayanan rumah sakit .
“Janji saya yang akan mengadakan pertemuan dengan manajemen rumah sakit sudah kita lakukan. Dan insyaallah sistim pelayanan dan informasiakan kita benahi ,dan keramahan kita tinggkatkan,”tutur Wawako.
Sedangkan untuk tenaga medis tidak boleh membedakan kaya miskin,etnis dan lainnya. Karena semua adalah sama kemudian kusus untuk rawatan kelas tiga semuanya gratis untuk masyarakat Dumai,baik kamar maupun konsul dokter ,serta obatan-obatan.
Apabila masih ada yang membeli obat tolong lapor saya ,sebab obat-obatan sudah di anggarkan dalam APBD Dumai setiap tahun.”Saya harap masyarakat dapat menikmati pelayanan yang baik kendati di kelas III, sehingga program pemerintah dalam pengobatan gratis dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan,”jelasnya.(ws)
Sumber: wasiatnews.com
Ratumbuysang, Rumah Sakit Pelayanan Publik Terbaik di Sulut
manajemenrumahsakit.net :: MANADO
Bebas Takut di Rumah Sakit “Perahu”
manajemenrumahsakit.net – Berbentuk perahu, “bangunan” ini akan dirancang sebagai pusat medis dan klinik internasional bagi pasien. Aura yang untuk adalah kedamaian, bukannya rasa takut akan putih dan kakunya sebuah rumah sakit.
Dirancang oleh arsitek Vasily Klyukin, White Sails Hospital & Spa tersebut disiapkan sebagai sebuah proyek untuk menyambut Kota Ekonomi Tunisia (TEC/Tunisa Economic City). Klyukin menghadirkannya sebagai mega proyek di kota tepi pantai Tunisia.
Struktur “rumah sakit” tersebut berbentuk membentang dengan empat layar yang tinggi menjulang. Di dalamnya akan ada laboratorium, pusat perawatan, serta spa kesehatan.
“Kami ingin membangun rumah sakit pertama di dunia, yang tak akan membuat takut pengunjungnya,” kata Klyukin.
“Kondisi kesehatan harus diperiksa setiap enam bulan. Itu sebabnya, saya tahu perasaan itu dengan sangat baik. Maka, setiap kali saya mendekati gedung klinik berwarna putih, saya tidak merasa sukacita apapun, tapi saya ingin menunjukkan sebuah rumah sakit di mana tidak ada ruang untuk takut sedikit pun,” tambahnya.
Dengan busur meluas ke arah langit, Klyukin merancang bentukan tersebut untuk memberikan keteduhan bagi pengunjung yang duduk di bawah kanopinya yang luas. Teras dan balkon dibuat menghadap pemandangan kolam dan laut biru di sekitarnya.
Klyukin mengaku benar-benar ingin menjadikan semua fasilitas di “perahu” itu nyaman bagi pasien dan tamu-tamu mereka. Lampu berwarna-warni menerangi gedung tersebut pada malam hari, yang akan selalu memberi nuansa baru penambah ketenangan.
Sumber: tribunnews.com
Pentingnya Perpustakaan Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: PERPUSTAKAAN rumah sakit merupakan salah satu contoh jenis perpustakaan khusus, koleksinya sebagian besar berhubungan dengan kesehatan, kedokteran dan sejenisnya. Pemakai juga khusus, mulai dari pasien, keluarga yang sedang menunggu pasien hingga tenaga kesehatan.
Sayangnya, belum semua rumah sakit memberikan perhatian terhadap masalah ini. Namun bagi rumah sakit besar, terlebih rumah sakit akademis, umumnya sudah mempunyai perpustakaan ini. Peran perpustakaan rumah sakit sebenarnya sangat penting, tidak hanya bagi petugas kesehatan yang bekerja di tempat tersebut , namun juga bagi seluruh pengelola, karyawan dan stakeholder yang berhubungan.
Tetapi sebagian besar perpustakaan rumah sakit baru menyentuh kalangan petugas kesehatan. Pasien dan keluarga pasien yang merupakan konsumen utama belum mendapat layanan maksimal. Dilihat dari lokasinya, umumnya perpustakaan rumah sakit jauh dari jangkauan pasien dan keluarganya.
Sebaliknya perputakaan lebih dekat dan terjangkau oleh pengelola dan petugas kesehatan saja. Keberadaan perpustakaan rumah sakit juga sangat berguna bagi pengelola dan petugas kesehatan yang ada, termasuk bagi para profesi yang sedang menjalankan praktik lapangan. Koleksi terbaru, seperti jurnal yang memuat informasi terkini sangat penting bagi mereka. Ganti Televisi Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan perpustakaan rumah sakit bagi stakeholder.
Pemandangan yang tidak asing ketika terjadi antrian panjang pasien yang sedang berobat, ditambah keluarga yang mengantarnya membuat kerumunan makin padat. Hiburan utama yang disuguhkan selama ini televisi. Nah sebenarnya perpustakaan dapat disajikan di ruang antrian untuk mengganti minat menonton menjadi minat membaca. Bagi pasien yang sedang menjalani rawat inap, juga membutuhkan layanan ini.
Bukanlah suatu rahasia, ketika pasien menjalani rawat inap, keluarga harus selalu aktif berkomunikasi dengan dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya. Karena keterbatasan waktu dan banyaknya pasien yang harus dilayani, perpustakaan dapat mengambil peran di sini. Layanan bisa dilakukan oleh petugas khusus perpustakaan yang melayani di setiap bangsal atau dengan cara berkeliling antar bangsal dengan pembagian jadwal. Selain itu, layanan bisa dilakukan oleh petugas yang ada, seperti perawat, bagian gizi, atau rohaniawan yang selalu melakukan tugas rutin sesuai jadwal masing-masing.
Di satu sisi, layanan ini akan lebih mendekatkan petugas dengan pasien dan keluarganya. Pada sisi lain, bacaan yang diberikan akan menambah wawasan, pengetahuan dan hiburan, terlebih yang sedang berkaitan dengan penyakit, pengobatan dan perawatan bagi pasien yang sedang opname. Jenis bacaan disesuaikan dengan jenis pasien dan jenis penyakitnya, sehingga akan menjadi motivasi untuk sehat kembali. Bacaan ringan, seperti doa-doa, cara menjaga kesehatan dasar, juga bisa diberikan sebagai paket fasilitas baik bagi pasien rawat jalan dan rawat inap, yang diberikan di bagian pemeriksaan. Dengan berbagai cara tersebut, akan meningkatkan layanan perpustakaan rumah sakit bagi stakeholder. (11)
Sumber: suaramerdeka.com







