Clinical update of thalassemia patient management
Presenter: Dr. dr. Sri Mulatsih, MPH, Sp.A(K)
RSUP Dr Sardjito
21 Agustus 2017
Clinical update of thalassemia patient management
Presenter: Dr. dr. Sri Mulatsih, MPH, Sp.A(K)
RSUP Dr Sardjito
21 Agustus 2017
Surabaya – Menteri Kesehatan Nila Moeloek mencoba mengkolerasikan dua pihak, yakni akademisi dan perusahaan. Langkah ini sebagai upaya memeratakan kualitas serta harga dalam sistem pengobatan stem cell di Indonesia.
Dalam konsep yang dipaparkan dalam acara yang digelar oleh Unair dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bertajuk “National Symposium & Workshop Stem Cell” di hotel Bumi Surabaya, Minggu (13/8/2017) itu, Menteri Nila menginginkan para perusahaan dapat mendanai para peneliti agar tidak terjadi pembiaran percuma dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
“Kerja sama bisnis yang kita rancang ini, melibatkan para Akademisi, pebisnis (pemodal) dan pemerintah sebagai pengatur regulasi. Pentingnya strategi ini adalah untuk mendanai riset para peneliti. Karena selama ini yang terjadi adalah para peneliti yang gak punya modal, hanya akan disimpan di bawah laci dan tak bisa memberikan produknya,” kata Nila Moeloek.
Sementara dalam pemerataan dalam pelayanan stemcell di Indonesia, Menteri Nila telah menunjuk dua rumah sakit yakni Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) di Jakarta dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Soetomo Surabaya dan sembilan jejaring rumah pendidikan lainnya yang ada di Indonesia.
“Saat ini kami telah mengatur standar operasional prosedur (SOP) untuk stem cell dengan memperhatikan data internasional tahun 2012. Kenapa RSCM dan Soetomo karena disana terkenal dengan Stemcell tulang dan jantung, sedangkan di Soetomo stem cellnya dapat menangani diabetes dan Parkinson. Jadi para pakar yang ada di kedua rumah sakit itu bisa langsung melakukan fase pengobatan dan juga pembimbingan ke rumah sakit pendidikan jejaring,” tutur dia.
Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof M Nasih mengatakan saat ini pelayanan stemcell yang ada di RSUD Dr Soetomo hanya sekitar Rp 30 juta. Dan dirinya berupaya untuk menekan angka tersebut dengan cara mencari pemodal untuk pembiayaan dalam mengembangkan stem cell. “Ya kita berupaya mencari jalan tengahnya yakni dengan perusahaan obat, kenapa demikian secara tidak langsung akan memberikan dampak miring. Namun jika pengembangan ini sukses maka kita siap-siap sebagai negara rujukan sebagai Stem cell termurah,” ungkap Nasih.
Nasih mengungkapkan, pengobatan Stemcell di Amerika, kurang berkembang karena pemerintah setempat berkonsentrasinya tidak pada stemcell namun diluar itu. “Memang politik internasional termasuk politik kesehatan internasional harus menjadi perhatian semua pihak,” ujarnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unair Porf Dr Soetojo mengatakan, dalam pengembangan penelitian stemcell yang dilakukan di RSUD Dr Soetomo itu sudah dilakukan sejak tahun 2001 oleh mahasiswa S-3 dari Unair. Dan telah menangani berbagai kasus seperti stem cell diabetes, jantung, tulang dan kelainan darah.
“SOP antara keduanya sudah diatur oleh Kemenkes dengan kaidah nasional. Dan kami nyatakan siap karena SDM peneliti dan alat yang dapat digunakan di Soetomo sudah mencukupi,” tandas Soetojo. [ito/but]
Sumber: beritajatim.com
New Delhi: Sedikitnya 30 anak-anak yang menjadi pasien di rumah sakit pemerintah India meninggal dunia, akibat pasokan oksigen cair untuk perawatan mereka semua minim dan hampir habis.
Peristiwa terjadi di sebuah RS di negara bagian Uttar Pradesh. Satu per satu dari 30 anak meninggal dunia. Pasokan oksigen terputus karena pihak RS belum membayarkan tagihan bulanannya.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan kepada Press Trust of India, seperti dikutip The Washington Post, Sabtu 12 Agustus 2017, bahwa 21 kematian terkait dengan minimnya pasokan oksigen.
Sejumlah saksi mata mendeskripsikan kekacauan pada Kamis dan Jumat kemarin, sekitar pukul 23.00 hingga 02.00 dini hari.
Staf medis menggunakan alat manual untuk menyelamatkan sejumlah pasien anak setelah pasokan oksigennya habis. Namun sayang, banyak pasien yang tidak dapat bertahan.
“Kami melihat banyak anak meninggal di sekeliling kami,” kata ayah dari seorang korban, yang mengaku bernama Vijay.
“Sudah jelas ini adalah kesalahan rumah sakit. Banyak anak meninggal karena mereka. Anak saya baik-baik saja hingga tadi malam, tapi sesuatu yang buruk terjadi,” sambung dia.
Peristiwa serupa terjadi di rumah sakit Baba Raghav Das Medical College di Gorakhpur, salah satu negara bagian yang relatif miskin di India.
Menteri Kesehatan untuk Gorakhpur dan otoritas kesehatan membantah kematian sejumlah pasien diakibatkan belum dibayarnya tagihan tabung oksigen.
Diestimasi ada 60 pasien anak yang meninggal dunia di RS Baba Raghav Das Medical College sejak 7 Agustus.
Dalam sebuah konferensi pers, Kepala Menteri Yogi Adityanath menyebut kematian tersebut sebagai tragedi. Ia menjanjikan bahwa otoritas Gorakhpur sudah mendirikan sebuah komite untuk menyelidiki kasus terkait pasokan oksigen ini. (WIL)
Sumber: metrotvnews.com
Kementerian Kesehatan mencatat, sejak 2009, terjadi 9 juta kematian balita di Indonesia. 2 juta balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia.
Selain pnemonia, penyebab kematian bayi di Indonesia pada bayi usia 0-28 hari adalah prematur, diare dan infeksi.
Direktur PT Niaga Mutuprima Sejati Bernard Tjioe menjelaskan, pneumonia disebut sebagai forgetten killer atau pembunuh yang terlupakan.
Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, sekitar 5,9 juta kematian balita, sekitar 15 persennya setiap tahun diakibatkan pneumonia.
“Indonesia termasuk 10 besar, setidaknya ada dua sampai tiga anak meninggal dunia per jam karena pneumonia,” ujar Bernard dalam keterangannya, Senin (7/8).
Dia mengatakan, penyebab pneumonia adalah bakteri Streptococcus Pnemokokus atau bakteri Haemophilius dengan gejala sesak nafas dan batuk.
Karena itu, untuk meningkatkan keselamatan pasien terutama balita, PT Niaga Mutuprima Sejati mendukung upaya akreditasi rumah sakit. Di mana salah satu poin yang paling penting adalah keselamatan pasien.
Bernard memaparkan, terdapat enam sasaran keselamatan pasien, yakni ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang aktif, dan peningkatan keamanan obat. Kemudian kepastian tepat lokasi, prosedur dan operasi, penanganan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, serta penanganan pasien jatuh.
“PT Niaga Mutuprima Sejati selaku distributor produk safe to sleep mendukung rumah sakit di Indonesia dapat meningkatkan kinerja mengenai keselamatan pasien, khususnya bayi. Produk safe to sleep merupakan produk kesehatan yang berteknologi terkini, namun aman untuk kondisi bayi,” bebernya.
Lanjut Bernard, pada tahap awal diperkenalkan pada rumah sakit dan masyarakat dua produk matras untuk bayi. Yang pertama adalah Safe to Sleep Prosystem yang dapat digunakan sebagai alas pada tempat tidur bayi dan terhubung dengan sebuah sistem yang dapat dikontrol secara komputerisasi. Sehingga sangat memudahkan perawat untuk mengetahui kondisi bayi tanpa menunggu sang bayi menangis.
“Safe to Sleep juga memperkenalkan matras bayi tipe STS200. Produk ini dapat digunakan di rumah sebagai alas tidur bayi yang dapat dikontrol melalui piranti smartphone menggunakan teknologi Bluetooth,” demikian Bernard. [zul]
Sumber: baruaja.com
Batam – Rumah Sakit BP Batam diresmikan sebagai Call Center Indonesia ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) atau pusat rujukan penanganan jantung koroner akut di Provinsi Kepulauan Riau.
Peresmian dilakukan oleh Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro dan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardio Vaskular Indonesia, dr. Sunarya Soeryana SPJP (K) FIHA, dengan menekan tombol sirine di Best Western Premier Panbil Hotel, Sabtu (12/8/2017.
STEMI sendiri merupakan kondisi di mana terjadi kegawatan jantung manusia atau serangan jantung koroner akut. Keterlambatan pasien yang mengalami koroner jantung akan menimbulkan kematian dini dan kesakitan setelah mengalami serangan jantung.
Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit BP Batam, dr Afdhalun Hakim SPJP, memaparkan, ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG.
STEMI adalah cermin dari pembuluh darah koroner tertentu yang tersumbat total sehingga aliran darahnya benar-benar terhenti, otot jantung yang dialiri darah tidak dapat nutrisi-oksigen dan mati.
“Program ISTEMI pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 hingga sekarang, dimulai dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Balikpapan, dan kota besar lainnya, hingga hari ini diluncurkan di kota Batam,” kata Afdhalun.
Tercatat bahwa dari lebih dari 70% yang mengalami penyumbatan jantung total (ISTEMI) di Batam hanya 4 % yang menjalani program pemasangan ring atau tindakan balonisasi. Hal tersebut dikarenakan belum ada program ISTEMI di Kepri.
Pentingnya jejaring STEMI akan mempercepat penanganan yang terintegrasi dan tersistem dengan fasilitas kesehatan yang lebih mumpuni yang akan menjadi pilot project di Kepulauan Riau sebagai daerah percontohan untuk daerah lain.
“Hal ini dapat menjadi kebanggaan Batam yang bisa ditawarkan kepada Investor Asing yang notabene peduli pada kesehatan jantung,” ujarnya.
Jumlah penduduk yang mengalami penyakit jantung hingga mengalami kematian semakin meningkat, tentu diharapkan dengan Call Center ISTEMI dapat membantu penanganan cepat serangan jantung. Hatanto juga mengatakan dirinya berkeinginan untuk bisa membuat kapal ambulance bekerjasama dengan Walikota Batam sehingga Call Center ISTEMI dapat dinikmati masyarakat dipulau pulau diluar Batam.
“Rumah Sakit BP Batam telah dipercaya menjadi pusat penanganan ISTEMI, diimbau agar kepercayaan ini dapat diemban dengan baik oleh jajaran Rumah Sakit BP Batam, sehingga dapat selalu meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat ditambah dengan komitmen BP Batam yang melakukan penambahan gedung baru RS BP Batam diperkirakan mampu mengakomodir tambahan pasien hingga 350 orang,” tuturnya.
Sementara dr. Sunarya Soeryana SPJP (K) FIHA menambahkan bahwa Call Center ISTEMI akan semakin mudah dan teringrasi dimana masing-masing tingkat pelayanan kesehatan akan melayani data dalam bentuk online.
Pada kesempatan ini, Walikota Batam Muhamad Rudi juga hadir dan mengungkapkan dukungannya terhadap penetapan Rumah Sakit BP Batam sebagai Call Center BP Batam. Dirinya siap bersatu dengan BP Batam dan Pemrov serta menghimbau para dokter untuk kompak bersama agar Batam harus menjadi rujukan bukan hanya di wilayah Kepri tapi juga se Sumatera.
“Kami siap dukung Pak Tanto, agar Rumah Sakit BP Batam ini bisa menjadi rujukan bagi wilayah se Sumatera,” kata Rudi menutup sambutannya.
Peluncuran ini juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, Ketua IDI Provinsi Kepri dr. Ibrahim SH MSc Mkn MpdKed, dan perwakilan Gubernur Kepri yang berhalangan hadir Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri Tjejep Yudiana, Direktur Rumah Sakit BP Batam dr. Sigit Riyanto serta para dokter spesialis dan umum dari berbagai rumah sakit di Batam.
Sumber:
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) kembali mengingatkan perihal standar rumah sakit yang terakreditasi. Tujuannya, agar standar pelayanan rumah sakit di Indonesia semakin baik.
Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Rumah Sakit, dr.Sutoto mengatakan, pasien punya hak untuk dilayani oleh rumah sakit yang sudah terakreditasi. “Bila ada pasien diperlakukan tidak baik oleh layanan rumah sakit, bisa melaporkan ke bagian customer service rumah sakit tersebut. Pihak manajemen rumah sakit harus merespons setiap keluhan pasien,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu 13 Agustus 2017.
Sutoto menjelaskan, untuk mewujudkan hal tersebut, KARS menggelar Semiloka Akreditasi. Tujuannya, agar para direktur atau pengelola rumah sakit mendapatkan pemahaman yang mantap mengenai standar akreditasi rumah sakit yang baru (SNARS Ed 1).
“Juga agar mendapat pencerahan tentang cara – cara mempersiapkan proses akreditasi di rumah sakit masing masing. Sehingga diharapkan setelah mengikuti Semiloka ini rumah sakit tidak ragu lagi untuk mengajukan permintaan akreditasi rumah sakitnya pada KARS dengan standar yang baru,” ucap Sutoto.
Menurut Sutoto, kini, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No 34 tahun 2107 yang diberi kewenangan melakukan akreditasi adalah lembaga independen yang sudah terakreditasi ISQua. Dan lembaga KARS telah terakreditasi ISQua baik untuk organisasinya maupun sistem rekrutmen dan pelatihan calon surveyornya.
Sebelumnya digelar pertemuan ilmiah 1450 surveyor KARS. Pertemuan ini merupakan kegiatan reguler yang dilaksanakan setiap tahun bagi seluruh surveior dan tahun 2017 merupakan kegiatan tahun ke-3 yang dilaksanakan.
Tahun 2016 dan 2017 minat dan kesiapan rumah sakit untuk mengikuti akreditasi sudah meningkat secara signifikan. Dari catatan yang ada lebih dari 1.100 rumah sakit yang telah dilakukan akreditasi dengan standar versi 2012 baik melalui program akreditasi reguler maupun program khusus. (mus)
Sumber: viva.co.id
Mahulu– Peningkatan pelayanan medis di Kabupaten Mahulu diikuti dengan mempersiapkan tenaga-tenaga ahli. Hebatnya, tenaga ahli itu disiapkan sejak dini dari putra-putri asli kabupaten termuda di Kaltim tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DINKESPPKB) Mahulu Teguh Agustinus Santoso mengatakan, melalui program Beasiswa Pendidikan Kesehatan, saat ini, pihaknya tengah mencari pemuda berbakat Mahulu untuk disekolahkan ke perguruan tinggi di Indonesia.
Dia menjelaskan, beasiswa dari Pemkab Mahulu itu akan menanggung biaya peserta yang lulus selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Kalau kebutuhan akomodasi, tempat tinggal, makan-makannya, itu ditanggung mereka sendiri. Kami hanya membantu dalam pembayaran SPP-nya saja. Kalau sekolahnya, terserah mereka mau perguruan tinggi yang mana,” jelasnya kepada Ekspos Kaltim, Kamis (10/8).
Adapun tenaga ahli yang disiapkan, yakni Radiologi, Analis Laboratorium, Fisioterapis, Perawat Anastesi, Gizi Klinis, Farmasi serta Rekam Medis.
“Ini intruksi dari bupati. Melalui program beasiswa ini, kami sedang mencari tenaga ahli untuk disekolahkan lagi. Nantinya, tenaga ahli tersebut bakal bekerja di rumah sakit yang baru,” katanya.
Sebanyak 15 orang mengikuti rangkaian seleksi, seperti psikotes, tes tertulis dan interview. Namun pemerintah hanya menyediakan enam kursi bagi yang beruntung mendapatkan beasiswa tersebut.
“Kuotanya hanya ada enam. Jadi, saat ini kami lakukan tes seleksi. Tes-nya sudah berlangsung sejak Rabu, 9 Agustus sampai hari ini, Kamis 10 Agustus 2017,” tuturnya. (adv)
Sumber: eksposkaltim.com
Lagos, Nigeria – Nigeria meningkatkan kegiatan pengawasan dan pemantauan di Lagos University Teaching Hospital (LUTH), tempat dua pasien dicatat meninggal dan lebih dari 100 orang berada dalam pengawasan karena terjangkit Demam Lassa.
Sementara pasien diawasi oleh dokter dan perawat di Unit Darurat dan Kecelakaan, petugas kebersihan rumah sakit itu juga terlihat mengenakan masker dan sarung tangan saat mereka membersihkan lingkungan dan kamar rumah sakit.
Orang tak diperkenankan masuk atau mendekati Pusat Isolasi, tempat lebih dari 100 orang masih dirawat, sementara Association of Resident Doktors (ARD) juga mengkonfirmasi seorang anggota mereka telah diperiksa positif terserang Demam Lassa.
Presiden ARD, LUTH, Adebayo Sekunmade, sebagaimana dilaporkan Xinhuai, mengatakan managemen rumah sakit sedang menangani keadaan.
Perhimpunan Medis Nigeria (NMA) di Negara Bagian Lagos telah menyerukan lebih banyak pencerahan masyarakat dan kebersihan personal guna mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Olubunmi Omojowolo, Ketua NMA –yang bereaksi terhadap kematian dua pasien Demam Lassa pada Selasa, mengatakan yang paling penting sekarang ialah pendidikan dan kebersihan.
“Saya kira di Nigeria, kita menangani masalah Demam Lassa secara sembrono tidak seperti cara kita menangani Virus Ebola,” ia menambahkan.
“Salah satu masalah ialah Demam Lassa telah ada di antara kita dan telah muncul lagi, jadi rakyat sudah terbiasa dengan itu; tapi itu bukan sesuatu yang mesti membuat kita terbiasa,” katanya.
Menurut dia, Ebola dan Demam Lassa adalah penyakit yang sangat dekat dan mematikan dan apa yang mesti dilakukan ialah rakyat mesti dididik.
Dokter tersebut menyatakan tantangan utama dengan penyakit tersebut ialah ketidak-mampuan untuk mendiasnosis secara dini karena keanehan gejalanya, yang serupa dengan malaria termasuk demam.
Ia menambahkan hanya ada sedikit pusat diagnosis buat penyakit tersebut dan itu adalah salah satu masalah untuk mendiagnosisnya.
Pada Selasa pagi, Kepala Direktur Medis LUTH Chris Bode mengatakan tidak kurang dari 100 pekerja kesehatan yang terpajan kasus indeks saat ini sedang dipantau.
“Masing-masing dari kedua pasien menghubungi rumah sakit saat sudah sangat terlambat dan meninggal meskipun berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan mereka,” ia menambahkan.
“Yang pertama adalah perempuan hamil yang berusia 39 tahun, dengan gangguan pendarahan dan ia meninggal setelah melahirkan bayi dalam keadaan meninggal,” katanya.
Bode mengatakan pemeriksaan otopsi telah dilakukan sebelum status Demam Lassanya akhirnya dikonfirmasi.
Ia juga mengkonfirmasi bahwa seorang dokter yang menetap di rumah sakit dari Department of Anatomic and Molecular Pathology, yang ikut dalam otopsi itu, belakangan dikonfirmasi terserang penyakit tersebut.
Bode mengatakan dokter itu saat ini dirawat dan menanggapi dengan baik pada pengobatan di Ruang Isolasi LUTH.
Demam Lassa adalah penyakit demam akut, dengan pendarahan dan kematian dalam kasus parah, dan disebabkan oleh Virus Demam Lassa dengan masa inkubasi enam-21 hari.
Virus itu, anggota keluarga virus Arenaviridae, ditularkan oleh binatang. Sebanyak 80 persen penularan pada manusia tanpa gejala, sedangkan kasus yang ada memiliki banyak penyakit organ parah, tempat virus tersebut mempengaruhi beberapa organ tubuh, seperti liver, limpa dan ginjal.
Demam Lassa adalah menyebabkan penyakit parah dan kematian.
Sumber: antaranews.com
JAKARTA — Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Rumah Sakit Seluruh Indonesia (KARS) Sutoto mengatakan, akreditasi rumah sakit tak sama dengan akreditasi hotel. Bukan fasilitas dan mewahnya yang dimiliki rumah sakit yang dinilai.
Kalau akreditadi rumah sakit itu yang dinilai bagaimama dokter memeriksa pasien sesuai standar atau tidak. Pasien masuk kamar operasi, standar anestesinya bagiamana, bukan semata-mata gedung yang dinilai,” katanya dalam siaran persnya, Kamis, (10/8).
Pesawatnya juga dinilai, apakah dalam merawat pasien sudah memenuhi standar. “Bisa jadi rumah sakit gedungnya mewah tapi dokter memeriksa tak sesuai standar, ya tidak memenuhi syarat akreditasi kalau seperti itu.”
Meskipun rumah sakit gedungnya sederhana namun memenuhi standar bangunan rumah sakit. Dokter dan perawat merawat pasien sesuai standar maka rumah sakit itu walau sederhana bisa memenuhi syarat akreditasi.
“Jadi akreditasi rumah sakit itu tidak seperti akreditasi hotel yang dilihat kemewahan dan kenyamanan gedungnya.”
Menurut Sutoto, dari 2.700 rumah sakit di Indonesia sebanyak 1.032 terakreditasi saat ini. Akreditasi itu ada tingkat perdana, dasar, madya, utama, paripurna, internasional.
Kalau internasional memenuhi 95 persen syarat akreditasi terpenuhi.Kalau paripurna memenuhi 85 persen syarat akreditasi.
“Rumah sakit di Indonesia kebanyakan akreditasinya, 41 persen paripurna. Sisanya akreditasi utama, madya, dasar, perdana.”
Salah satu yang diuji juga kemampuan staf rumah sakit memadamkan kebakaran. Makanya para staf rumah sakit harus dilatih memadamkan kebakaran.
Nanti akan ada tes bagi para staf apa yang harus dilakukan jika terjadi kebakaran. Misalnya di mana alat pemadam kebakaran ditemukan.
Sumber: republika.co.id
Pekalongan – Sebuah ruangan di Rumah Sakit Bedah Aro yang berada di Jalan Dr Soetomo, Kota Pekalongan, terbakar pagi ini. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Maulana Ahmadi (30), salah satu petugas di rumah sakit setempat, menjelaskan bahwa kali pertama kebakaran ini diketahui justru dari warga yang berada di luar rumah sakit setempat. Sumber api diketahui sekitar Pukul 06.30 WIB, Kamis (10/8/2017).
Mendapat laporan adanya kepulan asap, petugas rumah sakit langsung mencari sumber asap. Kepulan asap didapati bersumber di salah satu ruangan mess tempat istirahat pekerja kantin di lantai 3.
“Kami langsung berupaya memadamkan api dan menghubungi petugas kepolisian dan petugas pemadam kebakaran,” katanya.
Sebanyak 3 mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakan api. Api sendiri bisa dipadamkan petugas sekitar pukul 07.30 WIB.
“Api dari tempat tidur mess petugas di lantai 3. Saya dengar karena gara-gara obat nyamuk yang terbakar merembet ke kasur. Tapi belum tau persisnya,” ujar Mudjoko, salah satu petugas di Rumah Sakit Aro.
Akibat terbakarnya salah satu ruangan ini beberapa pasien dievakuasi keluar, baik oleh petugas maupun pihak keluarga. Hingga kini petugas masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, penyebab pastinya terbakarnya salah satu ruangan di lantai 3 tersebut. (sip/sip)
Sumber: detik.com