| Edisi Minggu ke 40: Selasa 13 Oktober 2020
Tantangan Pelayanan Kesehatan HIV/AIDS bagi ODHA Selama Pandemi COVID-19 Community of Practice for Health Equity
Penderita HIV/AIDS, atau biasa disebut sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), adalah salah satu kelompok yang rentan terpapar berbagai penyakit. Human immunodeficiency virus bekerja dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh penderita sehingga penderita HIV dapat memiliki berbagai penyakit komorbiditas. Indonesia merupakan negara urutan ke – 5 paling berisiko HIV/AIDS di Asia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV dan AIDS terus meningkat sejak 2006. Menurut data laporan dari Ditjen P2P, pada 2017 terdapat 48,300 jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia. Selanjutnya, data pada 2019 menunjukkan jumlah orang dengan HIV/AIDS mencapai hampir 350 ribu orang dengan pertambahan kasus baru sekitar 49 ribu per tahun. Webinar Keadilan Sosial dalam Pemenuhan Akses dan Distribusi Vaksin COVID-19 di Indonesia CoP for Health Equity Selasa, 20 Oktober 2020 | 10.00 – 11.30 WIB Kemampuan melakukan deteksi dini dan merespon tantangan kesehatan global ke depan serta membangun sistem kesehatan nasional yang kuat dari setiap negara dibutuhkan agar pemenuhan dan pendistribusian vaksin dapat dilakukan secara setara dan adil. Pada pandemi COVID-19 ini, setidaknya ada 21 negara melaporkan bahwa mereka kekurangan stok vaksin rutin akibat dari pembatasan-pembatasan yang disebabkan oleh pandemi. Padahal, WHO telah menyatakan bahwa imunisasi rutin tetap harus dilakukan. Sangat penting untuk mempertahankan fokus global pada imunisasi rutin, baik untuk melindungi balita dan anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, maupun untuk mencegah wabah lain berkembang ditengah pandemi COVID-19. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Akses Kesehatan yang Ekuitabel bagi Kelompok Rentan Lainnya |
|
Universal Masking di Rumah Sakit di Era COVID-19 |
Tantangan Pelayanan Kesehatan HIV/AIDS bagi ODHA Selama Pandemi COVID-19
Community of Practice for Health Equity

https://www.freepik.com/free-photo
Penderita HIV/AIDS, atau biasa disebut sebagai Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), adalah salah satu kelompok yang rentan terpapar berbagai penyakit. Human immunodeficiency virus bekerja dengan cara merusak sistem kekebalan tubuh penderita sehingga penderita HIV dapat memiliki berbagai penyakit komorbiditas. Indonesia merupakan negara urutan ke – 5 paling berisiko HIV/AIDS di Asia. Di Indonesia, jumlah kasus HIV dan AIDS terus meningkat sejak 2006. Menurut data laporan dari Ditjen P2P, pada 2017 terdapat 48,300 jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia. Selanjutnya, data pada 2019 menunjukkan jumlah orang dengan HIV/AIDS mencapai hampir 350 ribu orang dengan pertambahan kasus baru sekitar 49 ribu per tahun.
Sebagian Pelayanan RSUD Kota Tasik Ditutup Sementara, Ini Sebabnya..
TASIK – Sebagian pelayanan kesehatan di RSUD dr Soekardjo terpaksa ditutup untuk sementara waktu. Hal itu sehubungan adanya tenaga medis yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Berdasarkan data Gugus Tugas, jumlah pasien Covid-19 di Kota Tasikmalaya masih terus mengalami penambahan. Sampai Minggu (11/10/2020 tercatat ada 291 orang dan 181 di antaranya masih dalam proses penanganan.
RSUD Embung Fatimah Belum Dapat Gunakan PCR Portabel, Ini Penyebabnya…
Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam di Batu Aji, telah menerima mesin PCR portabel bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Mesin ini diserahkan akhir pekan kemarin, namun belum bisa digunakan.
Dilansir dari Harian Batam Pos, Humas RSUD Embung Fatimah, Novi, menuturkan, untuk menggunakan mesin tersebut harus disandingkan dengan dua komponen alat lainnya yang belum tiba.
RSUD Depok Tambah Enam Ruang ICU
DEPOK – Pemkot Depok terus memperbarui data perkembangan kasus Covid-19. Berdasarkan data yang dirilis pada Minggu (11/10), jumlah pasien sembuh mencapai 3.843 orang atau 69,06 persen dari seluruh kasus konfirmasi positif.
Pasien sembuh bertambah 59 orang. Sedangkan kasus konfirmasi positif bertambah 73 orang, sehingga total 5.565 orang. Kemudian kasus konfirmasi aktif 1.564 orang atau 28,10 persen.
Edisi Minggu ke 39: Selasa 6 Oktober 2020
| Edisi Minggu ke 39: Selasa 6 Oktober 2020
Akses Kesehatan yang Ekuitabel bagi Kelompok Rentan Lainnya Community of Practice for Health Equity
Kelompok rentan seperti pekerja seks komersial (PSK) merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak pandemi COVID-19 sekaligus sangat terkucilkan dari respon COVID-19. Mereka mengalami diskriminasi berbasis gender, orientasi seksual, identitas gender, ras, kasta, etnis, dan lain -lain. Kapasitas PSK untuk melindungi diri dari COVID-19 dan penyakit lainnya bergantung pada perilaku individu dan interpersonal, lingkungan kerja, dukungan komunitas, akses ke pelayanan kesehatan layak, dan lingkungan sosioekonomi, serta norma atau hukum setempat. Para PSK yang tunawisma, pengguna narkoba, atau imigran gelap menghadapi tantangan lebih dalam mencari akses pelayanan kesehatan dan lebih terancam mengalami dampak ekonomi yang berkepanjangan. Universal Masking di Rumah Sakit di Era COVID-19
Kita tahu bahwa memakai masker di luar fasilitas perawatan kesehatan menawarkan sedikit, jika ada, perlindungan dari infeksi. Otoritas kesehatan masyarakat mendefinisikan exposure yang signifikan untuk COVID-19 sebagai kontak tatap muka dalam jarak 6 kaki dengan pasien dengan gejala COVID-19 yang bertahan setidaknya selama beberapa menit (dan beberapa mengatakan lebih dari 10 menit atau bahkan 30 menit). Oleh karena itu, peluang untuk tertular COVID-19 dari interaksi yang lewat di ruang publik menjadi minimal. Dalam banyak kasus, keinginan untuk menutupi secara luas merupakan reaksi refleksif terhadap kecemasan atas pandemi. Masker adalah pengingat yang terlihat dari patogen yang tidak terlihat namun tersebar luas dan dapat mengingatkan orang tentang pentingnya jarak sosial dan tindakan pengendalian infeksi lainnya. Jelas juga bahwa masker memiliki peran simbolis. Masker bukan hanya alat, tetapi juga benda yang dapat membantu meningkatkan rasa aman, kesejahteraan, dan kepercayaan petugas kesehatan di rumah sakit mereka. Meskipun reaksi semacam itu mungkin tidak sepenuhnya logis, kita semua tunduk pada ketakutan dan kecemasan, terutama selama masa krisis. Orang mungkin berpendapat bahwa ketakutan dan kecemasan lebih baik diatasi dengan data dan pendidikan daripada dengan masker yang sedikit menguntungkan, terutama mengingat kekurangan masker di seluruh dunia, tetapi sulit untuk membuat dokter mendengar pesan ini di tengah panasnya krisis saat ini. Kontribusi terbesar dari masking protocol yang diperluas mungkin adalah untuk mengurangi penularan kecemasan dan di atas peran apa pun yang mungkin mereka mainkan dalam mengurangi penularan COVID-19. Nilai potensial dari universal masking dalam memberikan kepercayaan kepada petugas kesehatan untuk menyerap dan menerapkan praktik pencegahan infeksi yang lebih mendasar yang dijelaskan di atas mungkin merupakan kontribusi terbesarnya. Artikel ini dipublikasikan pada Mei 2020 di jurnal The New England Journal of Medicine. Webinar Keadilan Sosial dalam Pemenuhan Akses dan Distribusi Vaksin COVID-19 di Indonesia CoP for Health Equity Selasa, 20 Oktober 2020 | 10.00 – 11.30 WIB Kemampuan melakukan deteksi dini dan merespon tantangan kesehatan global ke depan serta membangun sistem kesehatan nasional yang kuat dari setiap negara dibutuhkan agar pemenuhan dan pendistribusian vaksin dapat dilakukan secara setara dan adil. Pada pandemi COVID-19 ini, setidaknya ada 21 negara melaporkan bahwa mereka kekurangan stok vaksin rutin akibat dari pembatasan-pembatasan yang disebabkan oleh pandemi. Padahal, WHO telah menyatakan bahwa imunisasi rutin tetap harus dilakukan. Sangat penting untuk mempertahankan fokus global pada imunisasi rutin, baik untuk melindungi balita dan anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, maupun untuk mencegah wabah lain berkembang ditengah pandemi COVID-19. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Perlindungan Anak dari Kekerasan Selama COVID-19 |
|
Perawatan Kesehatan Mental Untuk Staf Medis Dan Petugas Kesehatan yang Berafiliasi Selama Pandemi COVID-19 |
Akses Kesehatan yang Ekuitabel bagi Kelompok Rentan Lainnya
Community of Practice for Health Equity

https://www.freepik.com/free-vector
Kelompok rentan seperti pekerja seks komersial (PSK) merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak pandemi COVID-19 sekaligus sangat terkucilkan dari respon COVID-19. Mereka mengalami diskriminasi berbasis gender, orientasi seksual, identitas gender, ras, kasta, etnis, dan lain -lain. Kapasitas PSK untuk melindungi diri dari COVID-19 dan penyakit lainnya bergantung pada perilaku individu dan interpersonal, lingkungan kerja, dukungan komunitas, akses ke pelayanan kesehatan layak, dan lingkungan sosioekonomi, serta norma atau hukum setempat. Para PSK yang tunawisma, pengguna narkoba, atau imigran gelap menghadapi tantangan lebih dalam mencari akses pelayanan kesehatan dan lebih terancam mengalami dampak ekonomi yang berkepanjangan.
Webinar Keadilan Sosial dalam Pemenuhan Akses dan Distribusi Vaksin COVID-19 di Indonesia
Kerangka Acuan Kegiatan
Webinar
Keadilan Sosial dalam Pemenuhan Akses dan Distribusi Vaksin
COVID-19 di Indonesia
CoP for Health Equity
Selasa, 20 Oktober 2020
10.00 – 11.30 WIB
Pengantar
Kemampuan melakukan deteksi dini dan merespon tantangan kesehatan global ke depan serta membangun sistem kesehatan nasional yang kuat dari setiap negara dibutuhkan agar pemenuhan dan pendistribusian vaksin dapat dilakukan secara setara dan adil. Pada pandemi COVID-19 ini, setidaknya ada 21 negara melaporkan bahwa mereka kekurangan stok vaksin rutin akibat dari pembatasan-pembatasan yang disebabkan oleh pandemi. Padahal, WHO telah menyatakan bahwa imunisasi rutin tetap harus dilakukan. Sangat penting untuk mempertahankan fokus global pada imunisasi rutin, baik untuk melindungi balita dan anak-anak dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, maupun untuk mencegah wabah lain berkembang ditengah pandemi COVID-19. Memiliki sistem imunisasi yang komprehensif juga akan membantu distribusi vaksin COVID-19, setelah tersedia kelak, kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama populasi prioritas yaitu penduduk rentan seperti petugas kesehatan, orang tua, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan kronis.
Tidak ada negara individual yang mampu memproduksi jumlah vaksin yang dibutuhkan sendiri, sedangkan penyediaan vaksin tidak akan mengakhiri pandemi dengan cepat kecuali jika didistribusikan secara adil. Beberapa negara telah mulai membuat kesepakatan dengan perusahaan farmasi untuk menyediakan stok vaksin jika pada akhirnya kandidat vaksin tersebut berhasil. Demikian pula dengan Indonesia yang sudah membuat kesepakatan kerja sama dengan beberapa negara untuk penyediaan vaksin. Uji klinis sedang dilaksanakan dan jika menunjukkan hasil yang menggembirakan maka Indonesia akan mendapatkan dosis tambahan sesuai dengan kapasitas produksi.
Jumlah vaksin COVID-19 dibandingkan dengan target penduduk Indonesia yang akan divaksinasi tentunya membutuhkan pendistribusian yang adil dan tepat sasaran agar tidak menumpuk pada kalangan tertentu saja. Webinar kali ini akan membahas bagaimana pemenuhan stok vaksin COVID-19 dan kebijakan pendistribusian secara adil dan merata. Selain itu bagaimana mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksin tersebut dan menumpas hoax yang ada di masyarakat mengenai vaksin COVID-19.
Tujuan
- Membahas pemenuhan vaksin COVID-19 secara ekuitabel.
- Membahas kebijakan pendistribusian vaksin COVID-19 secara adil dan merata.
- Membahas bagaimana mengedukasi masyarakat akan pentingnya vaksin COVID-19.
- Mempromosikan forum diskusi virtual bagi para praktisi health equity.
Waktu Pelaksanaan
Hari dan Tanggal : Selasa, 20 Oktober 2020
Waktu : 10.00 – 11.30 WIB
Link Webinar : http://bit.ly/equity-20-oct-2020
Zoom Meeting ID : 838 4342 4933
Passcode : 118468
Livestreaming : https://bit.ly/streamingPKMK
Target Peserta
- Kementerian Kesehatan.
- Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/ Kota.
- Rumah sakit.
- Puskesmas.
- Praktisi Kesehatan Masyarakat.
- Dosen.
- Mahasiswa.
- Peneliti.
Narasumber
Panelis

Prof. dr. Amin Soebandrio, Ph. D, Sp. MK (K)
Kepala LBM Eijkman

Dr. Nihayatul Wafiroh, MA
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI

Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA
Ketua Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, FK–KMK UGM
Moderator

dr. Tiara Marthias, MPH
Peneliti, FK-KMK UGM
Senior Fellow, The Equity Initiative
Agenda
| Waktu | Topik | Narasumber | |
| 10.00 – 10.05 | 5’ | Pembukaan | Moderator |
| 10.05 – 10.20 | 15’ | Pemenuhan vaksin COVID-19 secara ekuitabel |
Prof. dr. Amin Soebandrio, Ph. D, Sp. MK (K) |
| 10.20 – 10.40 | 15’ | Kebijakan pendistribusian vaksin COVID-19 secara adil dan merata | Dr. Nihayatul Wafiroh, MA |
| 10.40 – 10.55 | 15’ | Edukasi masyarakat akan pentingnya vaksin COVID-19 | Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA |
| 10.55 – 11.25 | 30’ | Diskusi | |
| 11.25 – 11.30 | 5’ | Penutup | Moderator |
Informasi
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK), FK-KMK UGM
Giovanna Renee Tan
+62 812-3271-8379
Belasan Nakes Positif Covid-19, Sejumlah Layanan di RSUD Jambi Ditutup
Sejumlah layanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher terpaksa ditutup sementara waktu setelah sejumlah tenaga kesehatan diketahui terpapar Covid-19.
“Tenaga kesehatan yang positif ada yang perawat, dokter, maupun petugas. Total 12 orang,” ujar Wakil Direktur Pelayanan RSUD Raden Mattaher Jambi, dr. Dewi Lestari seperti dilansir Metrojambi.com (jaringan Suara.com), Senin (28/9/2020).
Ruang Isolasi Rumah Sakit di Tasikmalaya Overload, Rusunawa Unsil Dikerahkan
Seluruh ruang isolasi gedung baru pasien corona Mitra Batik RSUD Soekardjo termasuk ruang isolasi beberapa rumah sakit swasta di Kota Tasikmalaya, telah terisi penuh alias overload, oleh pasien Covid-19 sampai Selasa, 29 September 2020.
Untuk itu Pemerintah Kota Tasikmalaya langsung mencari alternatif lain, salah satunya dengan mengoperasikan kembali bangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Universitas Negeri Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, sebagai pusat penampungan pasien corona yang tiap harinya semakin membludak.











