JAKARTA – Karena honor tak kunjung turun, sejumlah perawat yang menangani pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda di Kabupaten Nagan Raya, Aceh menggelar aksi protes. Aksi protes tersebut membuat para perawat meninggalkan pasien Covid-19 yang sedang diisolasi.
Direktur RSUD Nagan Raya, Doni Asirin membenarkan aksi protes tersebut. Para perawat meminta bertemu dengan dirinya. Namun dia membantah jika tindakan perawat meninggalkan pasien Covid-19 sebagai tindakan mogok kerja.


Kurangnya kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor kesenjangan pelayanan kesehatan selama COVID-19. Menurut data dari International Labour Organization, banyak negara telah mengalami kekurangan tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 karena jam kerja panjang, upah yang rendah, dan kendala keselamatan kerja dan risiko yang tinggi di lapangan.1 Terlebih lagi, faktor – faktor tersebut memiliki dampak yang lebih besar bagi wanita. Secara global, wanita menempati 70% dari tenaga kesehatan profesional.2 Adapun di Indonesia, daerah – daerah pedesaan dan pelosok sangat bergantung pada pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para bidan. Seorang bidan di daerah rural umumnya sangat dipercayai oleh masyarakat dan seringkali memberikan pemeriksaan dasar dan konseling kesehatan sebelum masyarakat pergi ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.3 Wanita juga seringkali terlibat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebagai sukarelawan dan pekerja sosial. Lantas, apa yang membedakan besarnya beban dan risiko yang dihadapi tenaga kesehatan wanita dan pria, terutama selama pandemi COVID-19?






