|
Pengunjung web yang budiman,
17 Feb2015
Kanker Anak dan Kesiapan RS di IndonesiaKanker Anak dan Kesiapan RS di Indonesia Menurut Convention on the Right of the Child, anak adalah seseorang yang berusia kurang dari 18 tahun. Hampir seluruh UU di Indonesia yang mengatur masalah hukum juga mendefinisikan anak pada batas usia dii bawah 18 tahun. Pada usia ini, anak rentan terhadap berbagai masalah fisik yang disebabkan oleh penyakit. Banyak diantara penyakit ini yang bisa dicegah, antara lain dengan memberikan gizi yang cukup dan penanganan terhadap masalah kesehatan secara adekuat. Anak merupakan representasi dari masa depan. Penanganan yang baik pada anak harus menjadi perhatian bagi semua orang.
Salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh anak adalah risiko terkena kanker. Meskipun berbagai produk hukum mendefinisikan anak sebagai indivdu yang berusia kurang dari 1 tahun, namun kanker anak didefinisikan sebagai kanker yang umumnya menyerang anak pada usia 0-14 tahun. Jenis kanker pada anak:
Di seluruh dunia, kasus kanker anak cukup tinggi. Pada setiap 1 juta anak, ada 110-130 kasus kanker, atau 1 dari setiap 600 anak di dunia (kurang dari 16 tahun) menderita kanker . Sektar 80% anak terdiagnosa kanker ada di negara berkembang. Per tahun 100.000 anak meninggal karena kanker, atau 250 anak per hari, atau 10 anak per jam. Sekitar 13% kematian terjadi di RS. Dalam 10 tahun kedepan diperkirakan ada 9 juta kematian akibat kanker per tahun. Di AS, jumlah kasus naik 0,5% dalam 35 tahun terakhir. Tahun 2014 ada 10.450 kasus baru. Kasus terbanyak (lebih dari 50% dari total kasus) adalah leukemia (acute lymphocytic leukemia), brain & central nervous system, dan Neuroblastoma. Namun meskipun jumlah kasusnya meningkat, angka kematian pada anak akibat kanker turun sebesar 50% pada 35 tahun terakhir. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi dalam penanganan kanker. Terapi untuk kanker anak (tergantung jenis kankernya) antara lain operasi, kemoterapi, cerebrospinal fluid diversion, terapi radiasi, watchful waiting, kemoterapi dengan transplantasi stem cell, terapi biological, atau targeted therapy. Di Indonesia ada 100.000 kasus kanker anak/tahun di Jakarta dan 650 diantaranya adalah kasus kanker anak. Rata-rata anak yang terkena kanker berasal dari keluarga kurang mampu. Kanker anak yang paling banyak ditemui pada anak-anak Indonesia adalah leukemia dan retinoblastoma. Di AS ada RS swasta yang menangani pasien kanker anak tanpa memandang kemampuan finansial pasien, yaitu St. Jude Children’s Hospital. Ini adalah satu-satunya RS Khusus Kanker Anak di AS yang sifatnya nonprofit. Setidaknya ada dua pusat penanganan khusus kanker di Indonesia, yaitu RS Dharmais (RS Khusus kanker) dan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC). Selain itu, ada pula RS umum yang memiliki fasilitas penanganan kanker secara cukup memadai, antara lain RSPAD, RSCM dan RSUD Dr. Sardjito di Yogyakarta. Bahkan sejak April 201, RSU Zainoel Abidin di Banda Aceh juga telah membuka layanan untuk kanker anak. Jika melihat peta fasilitas kesehatan yang mampu menangani kasus kanker pada anak, penyebarannya masih terpusat di Jawa. Padahal anak di seluruh Indonesia mempunyai resiko menderita kanker. Data banyaknya jumlah anak penderita kanker terdeteksi di Jawa khususnya Jakarta, kebanyakan berasal dari cancer registry pada RS maupun yayasan yang bergerak di bidang ini. Tidak mudah untuk membangun fasilitas penanganan kanker anak di RS. Selain membutuhkan peralatan yang canggih, tim kanker yang diperlukan juga memiliki kualifikasi khusus yang di Indonesia jumlahnya masih sangat terbatas. Penanganan kanker anak perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari penanganan klinis (kuratif hingga rehabilitatif), sampai ke penanganan sosial, pendidikan dan peran krusial orang tua. Untuk membentuk fasilitas pelayanan yang komprehensif tersebut dibutuhkan biaya investasi dan operasional yang sangat tinggi. Namun, bukan tidak mungkin akan muncul provider asing untuk kasus ini, dengan dibukanya AFTA. (pea) Sumber dan referensi:
16 Feb2015
RSUD Mayjen HA Thalib Kerinci Banjir Lagimanajemenrumahsakit.net :: KERINCI – Hujan deras yang melanda wilayah Kota Sungai Penuh dan sekitarnya kembali mengakibatkan air parit yang berada di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mayjen HA Thalib Kota Sungai Penuh terendam dan mengganggu kenyamanan para pasien, Sabtu (14/02). Petugas RSUD pun kembali panik melihat kondisi rumah sakit yang saat ini sudah menjadi langganan banjir kala hujan melanda. Kebanjiran kali ini bukan kali pertama. Beberapa hari sebelumnya juga pernah terjadi. Namun sayang belum ada sikap serius pemerintah daerah dalam penanganan banjir di RSUD. Menurut petugas jaga kepada SR28 ketika dikonfirmasi mengatakan, akibat banjir ini lagi-lagi disebabkan meluapnya air parit yang berada di depan rumah sakit tersebut. ” Parit ini yang harus dibenahi terlebih dahulu. Bila tidak, akan ada banjir susulan. Musim hujan juga membuat keresahan buat kita,” ujar salah seorang petugas jaga RSUD yang enggan namanya ditulis. Sementara itu, dengan belum tuntasnya pemecahan soal aset di RSUD tersebut, bisa jadi sebagai faktor penyebab belum adanya penanganan dari pemerintah daerah. Apakah masalah itu ditangani pihak Kabupaten Kerinci atau Pemerintah Kota Sungai Penuh. Banjir yang terjadi di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD masih menjadi tontonan warga setempat. Penanganannya hanya dilakukan sejumlah petugas RS dibantu oleh petugas jaga untuk membuang air yang masuk ke dalam ruangan itu. Sumber: kerincinews.com
16 Feb2015
RSAM Bukittinggi Kekurangan Peralatan Kedokteran Spesialismanajemenrumahsakit.net :: Bukittinggi : Direktur Rumah Sakit Achmad Mochtar (RSAM) Bukittinggi, Ermawati mengungkapkan, saat ini RSAM Bukittinggi masih kekurangan peralatan kedokteran untuk tenaga dokter spesialis yang sudah tersedia RSAM. Kekurangan itu di antaranya untuk dokter spesialis Urologi yang meliputi ESWL, PcN, Laser unit dual function as stone disintegration, ultrasound litotriptor unit, pediatric lower urinal tract set serta flesible uretrorenoscopy set, yang total harganya mencapai Rp 18 miliar.
16 Feb2015
Rumah Sakit di Morotai Krisis Dokter Spesialismanajemenrumahsakit.net :: MOROTAI – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Rumah Sakit Bergerak (RSB) Kabupaten Pulau Morotai dalam satu bulan terakhir tak maksimal melayani masyarakat, karena masih mengalami kekurangan tenaga dokter spesialis. Pasien terpaksa dirujuk ke RSUD Tobelo karena kekurangan dokter spesialis maupun dokter umum. Direktur RSUD Morotai, Enos Minthia di Morotai, Sabtu (14/2) kemarin mengaku, tenaga dokter spesialis yang ditempatkan di RSUD dan RSB sudah habis masa kontraknya, sedangkan yang ada saat ini hanya spesialis anastesi. Dokter spesialis penyakit bedah, penyakit kandungan, penyakit dalam, dan penyakit anak saat ini masih kosong, lantaran masa kontrak dokter spesialis sudah selesai. “Dokter spesialis masa kontraknya sudah habis, yang ada hanya bagian anastesi yang kontraknya berakhir Februari ini,” ungkap Enos. Menurutnya, kekosongan tenaga dokter spesialis berpengaruh terhadap pelayanan kesehatan. Pasien harus dirujuk ke Tobelo, jika tidak bisa ditangani di RSUD Morotai. Selain dokter spesialis, dokter umum juga masih kekurangan. Sementara dokter spesialis saat ini hanya anastesi, itu pun masa kontraknya segera berakhir Februari. Enos mengaku, pada dua bulan terakhir sejak Januari hingga Februari sudah 4 pasien yang dirujuk ke Tobelo karena tidak bisa ditangani oleh bagian anastesi, karena tidak ada operator, sehingga pasien yang butuh penanganan seperti penyakit bedah, penyakit kandungan, penyakit dalam, dan penyakit anak harus dirujuk ke Tobelo. Enos mengaku kesulitan mencari dokter spesialis meski sebelumnya ada kerjasama dengan UGM. Hanya saja kerjasama tersebut sudah berakhir pada 2014. Sementara dokter umum yang ada di RSUD dan RSB saat ini sebanyak 10 orang. Jumlah itu lima diantaranya ditugaskan ke RSB. “Sekarang cari dokter spesialis susah, sedangkan kontrak dengan UGM juga sudah habis tahun 2014. Kita rencana tahun 2015 akan bekerjasama dengan RS Prof Kandow Manado, dan fakultas kedokteran Unsrat untuk kebutuhan dokter spesialis di Morotai,” ungkapnya. (SM/YUDHA) Sumber: medialiputanindonesia.com
16 Feb2015
RSUD Kota Semarang Tetap Tampung Pasien penderita Demam Berdarahmanajemenrumahsakit.net :: SEMARANG – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Semarang, tetap memberikan pelayanan dan penanganan terhadap pasien penderita demam berdarah yang jumlahnya meningkat tajam, seiring masuknya musim penghujan tahun ini, Direktur RSUD Semarang, Susi Herawati mengatakan, penanganan terhadap penderita demam berdarah harus segera dilakukan, karena jika tidak akan berakibat fatal. ” walaupun ditempatkan ditempat tidur selasar, akibat ruangan penuh, pihaknya tetap melakukan penanganan pasien, langkah ini sengaja dilakukan, karena penderita demam berdarah harus mendapatkan penangan cepat, karena jika tidak akan sangat berakibat fatal” ungkap Susi Herawati usai melakukan pertemuan di Balai Kota semarang (13/2). Susi Herawati mengatakan, sekarang ini ada 11 penderita demam berdarah yang dapat ditampung di ruangan, Semantara enam pasien ditempatkan di tempat-tempat tidur tambahan di selasar. ” Dibandingkan tahun kemarin kasus demam berdarah di Semarang bertambah sekitar 80 persen, Untuk tahun 2014 bulan Januari, rumah sakit ini merawat 82 pasien, sedangkan di bualan Januari 2015 mencapai 133 pasien” tambahnya. Meningkatnya jumlah pasien penderita demam berdarah yang menjalani perawatan di RS, selain faktor cuaca, juga karena kesadaran masyarakat dalam memperoleh pelayanann kesehatan melalui BPJS. Sebagai langkah antisipasi, pihak RSUD Kota Semarang telah menyiapkan peralatan dan tempat tidur tambahan, serta menyiagakan tenaga dokter dan perawat di UGD. Sumber: semarangkota.go.id
16 Feb2015
Rumah Sakit Jiwa Solo buka bangsal khusus narkobamanajemenrumahsakit.net :: Mengantisipasi banyaknya pengguna narkoba, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Kota Solo membuka bangsal khusus pecandu narkoba, Selasa (3/6). Bangsal khusus narkoba tersebut difasilitasi dengan ruang rehabilitasi, ruang diskusi, ruang makan, bermain, dan lainnya. Selain itu juga ada pelayanan pemeriksaan dokter, psikiater, konsultasi psikolog, psikoterapi, bimbingan keperawatan, pemeriksaan penunjang, bimbingan rohani dan keterampilan. Kepala Instalasi GMO dan Napza RSJD Solo, dr Wahyu Nur Ambarwati Sp Kj mengatakan, jumlah pecandu narkoba di Indonesia saat ini mencapai 4,5 juta orang. Kondisi tersebut mendorong RSJD Solo membuka bangsal khusus. Pembukaan bangsal khusus tersebut juga sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No 46 Tahun 2012 tentang Rehabilitasi Medik Putusan Pengadilan. “Dalam rangka terapi dan rehabilitasi narkoba pemerintah menganjurkan RSJD Solo untuk menyediakan 10 persennya sebagai sarana untuk pelayanan pada kasus-kasus narkoba. Ini juga atas dasar surat keputusan (SK) Mahkamah Agung,” ujar Ambar kepada wartawan, di Solo, Selasa (3/6). Lebih lanjut Ambar menerangkan, bangsal khusus narkoba ini terdapat 18 unit tempat tidur terdiri dua tempat tidur kelas I dan 16 tempat tidur kelas III. Pembangunan bangsal ini menghabiskan dana anggaran senilai Rp 1,06 miliar. Pembukaan bangsal khusus narkoba ini, lanjut Ambar, juga untuk mendukung kebijakan pemerintah yang mencanangkan Indonesia bebas narkoba pada 2015. “Pasien yang kami rawat di sini adalah mereka yang diputus pengadilan dan IPWL (Institusi Penerima Wajib Lapor),” terangnya. Sebelum dilakukan pembukaan bangsal khusus narkoba, kata Ambar korban penyalahgunaan narkoba dirawat di ruang Wisanggeni. Terdapat 45 korban penyalahgunaan narkoba, yang terdiri dari 25 IPWL dan 20 putusan pengadilan yang dirawat di RSJD Solo. Direktur RSJD Solo, Endro Suprayitno menambahkan, lama tidaknya proses rehabilitasi medik dan sosial bagi korban penyalahgunaan narkoba tidak terbatas, tergantung kondisi korban. Artinya, kesembuhan pasien narkoba sangat ditentukan pada tingkat ketergantungannya pada narkoba. “Kalau sudah mengalami ketergantungan, pasti ini sulit disembuhkan,” ucapnya. Sumber: merdeka.com
13 Feb2015
Pemprov Sumsel Akan Bangun Rumah Sakit Moderen Dukung Asian Games 2018manajemenrumahsakit.net ::
13 Feb2015
Rumah Sakit Warga Miskin Dibangun di Balikpapanmanajemenrumahsakit.net :: Balikpapan :Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur meresmikan berdiri rumah sakit untuk melayani warga miskin. Pembangunan rumah sakit itu menghabiskan anggaran sebesar Rp 98 miliar. Rumah sakit itu berkapasitas 186 tempat tidur. “Menjadi kado terindah bersamaan hari ulang tahun Balikpapan,” kata Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendy, Selasa, 10 Februari 2015. Rizal mengatakan pembangunan rumah sakit ini dimulai sejak tahun 2012. Pemerintah daerah berupaya keras mewujudkan pembangunan rumah sakit dalam proses pembebasan lahannya. “Kami istilahnya harus berdarah darah dalam membebaskan tanah masyarakat ini,” ujarnya. Pemkot Balikpapan, kata Rizal, sudah bertekat menjadikan rumah sakit tipe C menjadi kebanggaan warga setempat. Pemkot juga berjanji untuk terus meningkatkan profesionalisme tenaga medis maupun penambahan berbagai alat kesehatannya. Direktur Rumah Sakit Balikpapan, Dyah Muryani mengatakan prioritas layanan rumah sakit ini adalah bagi warga miskin setempat. Sebanyak 60 persen tempat tidur diperuntukan bagi pasien Kelas C. “Mayoritas adalah untuk pasien Kelas C. Sisanya untuk kelas B sebanyak 30 persen dan A sebanyak 10 persen,” kata Dyah. Tarif rawat inap rumah sakit ini, kata Dyah, lebih murah dibandingkan rumah sakit lain sejenisnya di Balikpapan. Dia membeberkan tarif termahal ditawarkan untuk pasien Kelas A atau VIP seharga Rp 350 ribu per harinya. “Adapun ruang Kelas B seharga Rp 175 ribu per hari sedangkan Kelas C seharga Rp 90 ribu per hari,” jelasnya. Dyah yakin tarif rumah sakit Balikpapan ini mampu dijangkau warga miskin setempat. Apalagi sudah adanya program kesehatan BPJS dan Kartu Indonesia Sehat yang seluruhnya diterima di rumah sakit ini. Rumah sakit Balikpapan sudah memiliki fasilitas radiologi, laboratorium, ruang operasi hingga ICU gawat darurat. Rumah sakit ini masih membutuhkan fasilitas alat kesehatan kulit, KIA, gigi hingga penambahan ruang rawat inap. “Kajiannya setidaknya butuh dana Rp 50 miliar untuk pengadaan berbagai alat kesehatan tersebut,” kata Dyah. Saat ini pihak rumah sakit memfokuskan penambahan fasilitas layanan ruang tidur maupun perlengkapan laboratorium medis. Pengadaanya mempergunakan alokasi dana sebesar Rp 20 miliar. Rumah sakit Balikpapan untuk warga miskin berlokasi di kawasan Gunung Malang. Fisik rumah sakit ini berskala C sesuai kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan yang sudah tersedia. Pemerintah daerah juga mempersiapkan staf, tenaga dokter ahli, bidan, dan perawat yang mampu menangani penyakit tertentu. Sebelumnya, Pemkot Balikpapan menyebutkan alokasi pembangunan rumah sakit ini sebesar Rp 78 miliar dalam 425 hari waktu pengerjaan. Pembangunan rumah sakit tersebut dilaksanakan dengan sistim multy years hingga akhir 2013. Rencana awal Dinas Kesehatan Kota Balikpapan adalah pembangunan rumah sakit keluarga miskin ini diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp 150 miliar. Rinciannya, Rp 75 miliar diperuntukan bagi fisik bangunan dan sisanya untuk pengadaan peralatan medis rumah sakit. Sumber: tempo.co |
17 Feb2015

Memastikan tumbuh kembang





