manajemenrumahsakit.net :: BANJARSARI—Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Surakarta dan Majelis Pelayanan Kesehatan Umum dan Pelayanan Sosial Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surakarta menyelenggarakan pengajian akbar bersama karyawan, keluarga karyawan, pengurus pimpinan ranting, pimpinan cabang dan PDM Kota Surakarta di Aula Baitul Hikmah RS setempat, Minggu (13/12). Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut diselenggarakan dalam rangka Milad ke-88 RS PKU Muhammadiyah Surakarta dengan menghadirkan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Selain materi pengajian sebagai acara inti, Direktur RS PKU Muhammadiyah Surakarta menyampaikan branding RS tersebut. Dalam sambutannya, Mardiatmo menyampaikan bahwa Milad ke-88, RS PKU Muhammadiyah Surakarta melakukan rebranding RS dengan perubahan logo, identitas warna, penyebutan nama RS dan launching Mars PKU Muhammadiyah Surakarta.
Sementara Haedar Nashir mengucapkan selamat atas kemajuan rumah sakit dan menyambut positif dengan rebranding RS. Haedar berpesan, bahwa orang yang datang ke RS PKU Muhammadiyah Solo karena sakit dan perlu perhatian dengan welas asih. Senyum salam dan sapa kepada pasien harus dari jiwa yang bersih, ikhlas, berjuang dan mengabdi.
Semua karyawan sebagai warga Muhammadiyah hendaknya selalu mendukung dan membesarkan nama Muhammadiyah dan RS PKU Muhammadiyah Surakarta.
“Jadi semuanya harus bergerak, beribadah dan beramal soleh, selalu peduli dengan lingkungan sekitar serta berdakwah,” kata Haedar.
Dan acara pengajian yang dihadiri oleh sejumlah pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, PWM, PDM dan Rektor UMS ini sebagai penutup rangkaian kegiatan milad ke-88 RS PKU Muhammadiyah Surakarta dan Milad Muhammadiyah ke-106.
Sumber: joglosemar.co


Setelah pada 24 Oktober lalu di Jakarta kongres PERSI memilih dr. Kuntjoro A. Purjanto, MKes sebagai ketua menggantikan Dr. dr. Sutoto, MKes. Pada 8 Desember 2015 sebanyak 124 orang pengurus PERSI periode 2015-2018 dilantik. Periode ini, Ketua Umum PERSI Pusat menantang para pengurusnya, apakah PERSI saat ini telah menemukan jati dirinya?, apakah pengurus PERSI periode ini siap dan tetap dapat menjunjung tujuan organisasi? Pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana beyond 2019 (setelah seluruh masyarakat Indonesia ter-cover JKN)? 








