manajemenrumahsakit.net :: Bandarlampung
Komisi IX Pantau BPJS Ke RS Harapan Kita
manajemenrumahsakit.net :: Komisi IX, DPR RI mendungkung rencana kenaikan iuran bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan dengan catatan dibarengi dengan perbaikan dan peningkatan pelayanan kepada pasien.
Selama ini masih banyak klaim yang disampaikan peserta BPJS atas pelayanan yang kurang baik dan masih banyak penyakit yang belum tercover oleh BPJS.
Rumah Sakit Regional Perlu Ditambah
manajemenrumahsakit.net :: Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana membangun rumah sakit (RS) daerah menjadi RS regional. Pasalnya, banyak RS daerah yang bertipe C tak mampu melayani pasien dalam jumlah banyak. Kemenkes menggelontorkan anggaran Rp1,5 triliun dari APBN untuk rencana tersebut.
Anggota Komisi IX DPR RI Hamid Noor Yasin menyambut gembira rencana Kemenkes menambah pembangunan RS regional di daerah. Bahkan, ia berharap agar anggaran Kemenkes untuk pembangunan RS ditambah sesuai amant UU yang mengalokasikan anggaran 5 persen dari APBN dan 10 persen dari APBD provinsi/kabupaten.
Dinkes Jatim Gandeng RS Gresik Atasi Pelimpahan Pasien
manajemenrumahsakit.net :: Gresik – Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mengandeng Pemkab Gresik untuk penguatan Rumah Sakit Ibnu Sina sebagai pelimpahan pasien RS Dr Sutomo dari wilayah Pantura, seperti Lamongan, Bojonegoro dan Tuban.
Kepala Dinkes Jatim, Harsono, Senin mengatakan dengan kerja sama melalui RS Ibnu Sina yang merupakan milik Pemkab Gresik diharapkan dapat mengatasi membludaknya pasien di RSU Dr Sutomo Surabaya yang berasal dari wilayah Pantura.
“Sebagai wilayah yang paling dekat dengan Kota Surabaya, kami memandang Kabupaten Gresik merupakan daerah yang menjadi pilar penunjang kota metropolis,” ucapnya di Gresik.
Ia menyebutkan, terdapat tujuh kabupaten dan kota di wilayah Bakorwil IV yang akan dilakukan koordinasi oleh Dinkes Jatim, karena dianggap mampu dijadikan sebagai rumah sakit rujukan regional dengan membawahi daerah di wilayah Pantura.
Menanggapi kerja sama itu, Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto mengatakan RS Ibnu Sina sudah sangat layak dijadikan sebagai rumah sakit rujukan regional dari daerah sekitar.
Sebab, sudah mampu memenuhi standar dari sisi sarana dan prasarana kesehatan, karena mempunyai 32 jaringan Puskesmas serta 14 rumah sakit milik BUMN maupun swasta di wilayah Kabupaten Gresik.
“Apalagi sebentar lagi pembangunan RS Ibnu Sina yang berlantai V segera rampung. Tentu hal ini akan semakin memperkuat Gresik dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” katanya.
Sambari berharap, dengan dijadikannya RS Ibnu Sina sebagai rumah sakit pelimpahan RSU Dr Sutomo Surabaya dapat memberi kemudahan pelayanan kepada Masyarakat di wilayah Pantura.(*)
Sumber: antarajatim.com
Rumah Sakit Bangkrut Nasib Karyawan tak Jelas
manajemenrumahsakit.net :: MALANG — Puluhan karyawan Rumah Sakit Manu Husada berunjuk rasa di Balaikota Malang. Para karyawan RS yang kebayakan ibu-ibu itu mengadukan soal kejelasan nasib dan upah mereka ke Pemkot Malang setelah 38 karyawan RS ini dirumahkan.
RS Manu Husada berhenti beroperasi sejak 22 Januari 2015 karena bangkrut dan konflik internal antara pemodal. Sejak itu, RS ini merumahkan para karyawannya. Selama dirumahkan, pihak rumah sakit menjanjikan tetap akan membayar para karyawan. Tetapi, janji tersebut tidak terbukti. Pada Maret ini para karyawan tidak mendapatkan upah.
“Januari dan Februari kami masih menerima gaji. Tapi untuk Maret ini kami tidak mendapatkan gaji. Biasanya pemberian gaji tiap tanggal 25,” kata Mujiati, juru bicara aksi, Selasa (30/3).
Mujiati mengatakan, nasib para karyawan rumah sakit itu tidak jelas. Tidak pernah ada penjelasan dari rumah sakit. Para karyawan juga sudah mengadukan ke komisi D DPRD Kota Malang. Tetapi, tidak ada tindak lanjut.
“Janjinya kami dirumahkan selama enam bulan, kemudian akan ditempatkan di rumah sakit baru. Tapi belum ada kejelasan,” ujarnya.
Menurutnya, para karyawan ingin segera ada kejelasan. Jika dipindahkan ke rumah sakit lain harus dijelaskan masa kerja para karyawan mulai dari nol atau tetap dihitung saat mulai kerja. Sebab, rata-rata masa kerja karyawan di rumah sakit itu mulai 10 tahun sampai 15 tahun.
“Kalau kami di PHK berarti hak-hak kami harus diberikan. Sekarang nasib kami seperti digantung,” katanya.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Malang, Kusnadi menyatakan akan memanggil pemimpin Rumah Sakit (RS) Manu Husada. Ia berjanji akan memediasi pemimpin yayasan agar tidak sampai mengorbankan karyawan. Sebab, tidak jelasnya nasib karyawan akibat konflik internal antara pemimpin yayasan.
Jika kemungkinan terburuk rumah sakit itu tetap tidak bisa beroperasi, maka ia ingin pihak yayasan bertanggung jawab atas pesangon dan hak-hak karyawan. Pihak rumah sakit harus memberikan semua hak-hak karyawan.
“Secara lisan karyawan sudah mengadu. Tapi kami akan memediasi agar RS bisa beroperasi kembali. Kami tak ingin ada PHK,” kata Kusnadi.
Sumber: republika.co.id
Dinkes Sumenep Dukung Rumah Sakit Bebas Asap Rokok
manajemenrumahsakit.net :: Sumenep : Larangan merokok di kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moh Anwar Sumenep, untuk menjadikan rumah sakit (rs) bebas asap rokok mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumenep.
Ini Modus Kecurangan Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: JAKARTA – Kasus kecurangan (fraud) pengajuan klaim oleh rumah sakit selama 2014 tidak dibantah oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Meskipun begitu nilai kecurangan mereka anggap masih batas wajar. Belum masuk tahap yang bisa mengancam keuangan badan usaha milik publik itu.
Direktur Pelayanan BPJS Fajriadinur mengatakan mereka bisa melihat ada kecurangan itu, ketika nilai total klaim selama 2014 lebih tinggi dibanding proyeksi anggaran mereka. Data sepanjang 2014 lalu, total klaim yang dibayar BPJS mencapai sekitar Rp 42,6 triliun.
“Ada selisih 2 persen. Tetapi penyumbang terbanyak selisih itu karena jumlah peserta membludak,” jelas dia.
Terkait dengan kecurangan pengajuan klaim BPJS Kesehatan, Fajriadinur mengatakan mereka telah menjatuhkan sanksi kepada empat rumah sakit. Keempat rumah sakit itu diputus kontraknya karena dianggap melakukan kesalahan yang berulang-ulang.
Kesalahannya seperti masih mengutip uang dari peserta BPJS Kesehatan. Padahal semua biaya kesehatan peserta sudah ditanggung oleh BPJS. Kesalahan lainnya terkait dengan pengajuan klaim. Fajriadinur menuturkan sudah menegur keempat rumah sakit itu tetapi mereka masih membandel.
“Sesuai dengan kode etik, saya tidak bisa menyebutkan nama rumah sakit itu,” tegasnya. Dia hanya mengatakan dua diantara empat rumah sakit itu ada di pulau Jawa. Sedangkan dua lainnya ada di Kalimantan dan Sumatera.
Fajriadinur mengatakan sistem BPJS Kesehatan sudah mengantisipasi adanya kecurangan atau fraud. Antisipasi kecurangan yang bisa berujung dana BPJS untuk bancakan rumah sakit dan tenaga kesehatan itu dibuat dalam beberapa lapis.
Pertama adalah setiap rumah sakit yang berkongsi dengan BPJS Kesehatan diminta untuk membuat unit anti fraud. Unit ini akan melihat apakah klaim-klaim yang diajukan oleh rumah sakit sesuai dengan ketentuan atau tidak.
Lantas muncul pertanyaan, unit anti fraud itu akan bias pengawasannya karena mengawasi insitusi rumah sakitnya sendiri. “Kita sudah buatkan antisipasi dengan membentuk tim kendali mutu dan biaya,” jelas Fajridinur. Tim kendali mutu dan biaya ini terdiri dari unsur klinisi profesi (organisasi profesi) dan akademisi.
Tim itu akan mengaudit nominal klaim yang diajukan rumah sakit. Mereka akan mengetahui nominal klaim rumah sakit itu wajar atau tidak.
Fajriadinur menjelaskan wujud kecurangan dalam pengajuan klaim layanan medis BPJS Kesehatan banyak jenisnya. Diantaranya adalah klaim-klaim tindakan medis yang dipecah-pecah. Misalnya kwitansi untuk biaya kamar, tarif obat, hingga ongkos dokter.
Namun pemerintah sudah menjalankan sistem Indonesian Case Base Groups (Ina-CBG”s). Melalui sistem itu klaim yang diajukan rumah sakti wujudnya dalam satu paket. “Misalnya paket sakit tifus, paket operasi cesar, dan paket-paket lainnya,” ujar Fajriadinur.
Dengan sistem paket ini, pasien akan dirawat satu hari atau bahkan lima hari, nominal klaimnya akan sama. Termasuk juga dengan jenis obat-obatan yang dipakai, sudah disesuaikan dengan peket penyakitnya.
Potensi kecurangan lainnya adalah phantom billing. Kecurangan jenis ini dilakukan rumah sakit dengan membuat kasus perawatan siluman (awu-awu). Contohnya salah satu RS selama Januari 2014 aslinya hanya melayani satu pasien BPJS Kesehatan dengan keluhan penyakit tifus.
Tetapi dalam klaim yang diajukan ke BPJS Kesehatan, dibuat billing siluman seakan-akan ada lebih dari satu pasien penyakit tifus di bulan yang sama.
Fajriadinur juga menjelaskan wujud kecurangan lainnya adalah membuat diagnosis yang dibesar-besarkan atau diparah-parahkan. Dengan cara ini rumah sakit akan mendapatkan uang klaim dari BPJS Kesehatan sangat besar, karena penyakitnya masuk kategori parah.
Rumah sakit jelas mendapat untung, karena tindakan medis yang dia lakukan tidak berbiaya mahal. Sebab jenis penyakitnya bukan skala parah. “Kita minta para dokter atau rumah sakit jujur dalam membuat diagnosa di form pengajuan klaim,” tandasnya.
Potensi kecurangan klaim BPJS Kesehatan juga diakui unsur rumah sakit. Direktur Utama RS Pelni Jakarta Fathema Djan Rachmat mengatakan potensi kecurangan itu sekitar 5 persen hingga 10 persen.
“Jika total klaim BPJS Kesehatan dalam setahun sampai Rp 40 triluin, potensi fraud-nya antara Rp 2 triluin sampai Rp 4 triliun,” tandasnya saat menjadi pembicara seminar Dies Natalis Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia Selasa lalu (24/2).
Memang potensi kecurangan itu belum terbukti di Indonesia. Potensi kecurangan klaim asuransi nasional itu merupakan hasil penelitian di negara-negara yang menjalankan program asuransi nasional seperti BPJS Kesehatan. Untuk mencegah terjadinya kecurangan itu, Fathema mengatakan telah membentuk unit anti fraud di RS Pelni Jakarta. (wan)
Sumber: loveindonesia.com
6 Cara Melindungi Diri Anda Terhadap Infeksi di Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Sebuah berita mengejutkan datang dari sebuah rumah sakit di Los Angeles, Amerika di mana telah terjadi wabah infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi di dalam rumah sakit), yang menyebabkan tewasnya 2 orang pasien dari 7 orang pasien yang terkena. Wabah ini disebabkan oleh infeksi suatu jenis bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika, yang dikenal dengan nama CRE. CRE merupakan jenis bakteri yang dapat bertahan hidup pada berbagai jenis permukaan benda.
Walaupun terdapat 2 jenis bakteri nosokomial lainnya yang juga cukup mematikan seperti MRSA dan C.diff, akan tetapi CRE merupakan jenis bakteri nosokomial yang paling mematikan, di mana sekitar sebagian penderita yang terinfeksi oleh CRE ini (50%) mengalami kematian.
Pada kasus penyebaran CRE yang terjadi di UCLA Medical Center ini, penularan terjadi melalui alat endoskopi, yang banyak digunakan oleh dokter untuk melihat keadaan saluran pencernaan dan kandung empedu pasien. Alat endoskopi tersebut ditemukan telah terkontaminasi oleh CRE dan ternyata tidak dibersihkan dengan baik setelah penggunaan.
Untuk mencegah Anda dan orang-orang tercinta terinfeksi oleh salah satu jenis bakteri mematikan di atas, seorang ahli memberikan 6 tips mengenai bagaimana melindungi diri Anda dan orang-orang tercinta Anda dari infeksi nosokomial di rumah sakit seperti yang akan dibahas di bawah ini.
1. Cari Tahu
Jika Anda tahu Anda akan pergi ke suatu rumah sakit, maka bertanyalah pada dokter Anda apakah rumah sakit tersebut pernah mengalami infeksi CRE. Walaupun informasi ini merupakan hal yang sulit untuk diketahui, akan tetapi para dokter biasanya mengetahui apakah rumah sakit tempatnya bekerja pernah mengalami wabah CRE atau bakteri nosokomial lainnya.
2. Minta Petugas dan Keluarga Mencuci Tangan
Saat Anda dirawat di rumah sakit, pastikan Anda meminta petugas kesehatan dan keluarga Anda untuk mencuci tangan di depan Anda sebelum menyentuh Anda atau ruangan kamar Anda. Jangan tertipu oleh sarung tangan, bila orang yang mengenakan sarung tangan tidak mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum mengenakan sarung tangan, maka sarung tangannya pun sudah terkontaminasi.
3. Minta Dokter Membersihkan Stetoskopnya
Sebelum dokter Anda menggunakan stetoskopnya pada Anda, mintalah ia untuk membersihkan permukaan stetoskopnya tersebut dengan alkohol. Stetoskop seringkali terkontaminasi oleh kuman karena jarang sekali dibersihkan setelah penggunaan.
4. Gunakan Sabun Antibakteri Saat Mandi
Jika Anda akan melakukan tindakan pembedahan, maka mulailah mandi dengan menggunakan sabun yang mengandung klorheksidin selama 3-5 hari sebelum tindakan pembedahan. Hal ini dapat membantu menyingkirkan berbagai bakteri berbahaya yang terdapat pada permukaan kulit Anda. Selain itu, bagi para pria, pastikan Anda tidak bercukur sebelum masuk rumah sakit karena luka kecil pada kulit juga dapat memudahkan bakteri untuk masuk ke dalam tubuh.
5. Perhatikan Apa yang Anda Makan
Selain CRE, terdapat bakteri lainnya, yaitu C. diff yang juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit. Infeksi bakteri ini seringkali terjadi melalui makanan yang terkontaminasi. Oleh karena itu, pastikan Anda tidak meletakkan makanan Anda pada tempat lain selain daripada tempat makanan tersebut.
6. Bersihkan Daerah Sekitar Anda
Jika Anda akan dirawat di rumah sakit atau mengunjungi keluarga atau teman di rumah sakit, maka pastikan Anda membawa tisu basah antibakteri. Gunakanlah tisu basah tersebut untuk membersihkan berbagai permukaan benda di kamar inap Anda, termasuk tepi ranjang tidur, meja, remote televisi, gagang pintu, dan berbagai benda lainnya yang sering disentuh orang.
Sumber: pilihdokter.com
Saham RS Mitra Diborong Investor Singapura Hingga London
manajemenrumahsakit.net :: Jakarta. Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 10,3 kali untuk investor institusi dan 8,2 kali oleh investor ritel.
Saham-saham ini banyak diserap oleh investor asing sebanyak 53%. Investor tersebut berasal dari Singapura, Hong Kong, hingga negara Eropa seperti London. Sementara sisanya sebesar 47% diserap oleh investor lokal.
“Sekitar 53% asing, 47% lokal komposisinya. Antusiasme cukup baik, kita oversubscribed 10,3 kali institusi dan 8,2 kali ritel. Asing ada dari Singapura, Hong Kong, London, ada juga representasi fund manager AS yang ada di Asia,” ujar Direktur Utama PT Kreshna Securities Michael Steven usai pencatatan perdana saham MIKA di Gedung BEI, Jakarta, pekan lalu.
Pemilik merek Rumah Sakit Mitra Keluarga ini menawarkan saham perdana sebanyak-banyaknya 261.913.000 saham biasa atau sebanyak-banyaknya 18% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor penuh setelah penawaran umum dengan nilai nominal Rp 100 per saham dengan harga saham Rp 17.000 per saham.
Sebanyak 72.753.600 saham baru dan 189.159.400 saham biasa atas nama milik Lion Investment Partners B.V sebagai pemegang saham penjual (saham divestasi) yang ditawarkan kepada masyarakat. Menurut Michael, saham sektor health care masih akan diminati tahun ini. Pasalnya, kebutuhan masyarakat untuk pelayanan kesehatan terus tumbuh.Menurutnya, faktor global seperti perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) tidak akan banyak mempengaruhi kinerja saham-saham health care.
“Health care itu saham yang tahan cuaca karena kita tidak tahu kapan sakit, jadi pengaruhnya sedikit karena kalau sakit, mau inflasi atau nggak, mau ada faktor global kayak gimana, ya kita tetap butuh rumah sakit,” jelas dia.
Selain itu, Michael menambahkan, perlu dorongan dari pemerintah untuk turut membantu menarik minat investor asing masuk dalam negeri melalui pasar modal.
“Bagaimana caranya pemerintah banyak memberikan insentif agar banyak tumbuh untuk investasi asing. Kalau bursa bagus ini iklan buat FDI, beriklan bisa lewat bursa, itu akan kedengaran di seantero dunia,” tandasnya. (dtf)
Sumber: medanbisnisdaily.com







