Kesehatan Mental Tenaga Medis Selama Covid-19 :
Menuju New Normal
Community of Practice for Health Equity

https://www.freepik.com/
Lima bulan telah berlalu sejak awal merebaknya pandemi COVID-19. Meskipun upaya preventif dan promotif COVID-19 dan budaya hidup sehat dalam masyarakat telah digencarkan, pada Juli – Agustus 2020 tetap terdapat sekitar dua ribu kasus terkonfirmasi baru di Indonesia setiap harinya dan per 22 Agustus 2020, terdapat 39.706 pasien dalam perawatan.1 Para tenaga medis harus bekerja keras demi menyelamatkan pasien, baik pasien COVID-19 maupun pasien umum. Selama lima bulan lamanya, para tenaga medis yang senantiasa terletak di garda depan penanganan COVID-19 terpapar stressor yang konstan dan sangat tinggi. Selama pandemi ini, tidak ada tenaga medis yang tidak pernah mengalami gangguan psikologis, tapi hanyalah ada tenaga medis yang takut untuk mengakui bahwa mereka membutuhkan dukungan kesehatan mental.



Kurangnya kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor kesenjangan pelayanan kesehatan selama COVID-19. Menurut data dari International Labour Organization, banyak negara telah mengalami kekurangan tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 karena jam kerja panjang, upah yang rendah, dan kendala keselamatan kerja dan risiko yang tinggi di lapangan.1 Terlebih lagi, faktor – faktor tersebut memiliki dampak yang lebih besar bagi wanita. Secara global, wanita menempati 70% dari tenaga kesehatan profesional.2 Adapun di Indonesia, daerah – daerah pedesaan dan pelosok sangat bergantung pada pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para bidan. Seorang bidan di daerah rural umumnya sangat dipercayai oleh masyarakat dan seringkali memberikan pemeriksaan dasar dan konseling kesehatan sebelum masyarakat pergi ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.3 Wanita juga seringkali terlibat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebagai sukarelawan dan pekerja sosial. Lantas, apa yang membedakan besarnya beban dan risiko yang dihadapi tenaga kesehatan wanita dan pria, terutama selama pandemi COVID-19?











