Jakarta – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin berpesan kepada Lembaga Pengkajian Makanan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM MUI) supaya tidak berpuas diri atas capaian yang telah diraih selama 27 tahun berdiri dan melaksanakan sertifikasi halal.
Pelayanan Rumah Sakit Swasta di Kota Bekasi Belum Maksimal
BEKASI – Rumah sakit swasta di Kota Bekasi diminta untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah. Karena selama ini masih ada pasien yang merupakan peserta BPJS tidak mendapatkan pelayanan maksimal bahkan ditolak oleh rumah sakit swasta.
Anggota Komisi D DPRD Kota Bekasi, Syaherallayali, mengaku memiliki pengalaman kurang baik ketika membutuhkan pelayanan kesehatan meski sudah menjadi peserta BPJS. Saat itu ketika anaknya sakit, pihak rumah sakit tak merespon dengan baik.
“Kebetulan saya dari komisi D yang membidangi kesehatan, jadi saat itu saya coba pake jalur prosedur. Nyatanya saya tidak diberikan pelayanan maksimal oleh rumah sakit swasta yang bekerjasama dengan BPJS. Namun setelah saya mengeluarkan identitas kalau saya anggota dewan baru mendapatkan service lebih,” katanya.
Ia menduga kalau selama ini rumah sakit swasta hanya sekedar memasang tanda kerjasama dengan BPJS tanpa disertai pelayanan yang baik. Padahal, BPJS merupakan program pemerintahn pusat yang harus dijalankan dengan maksimal.
“Program ini merupakan dari pusat, sudah seharusnya di daerah untuk mensukseskan demi masyarakat, jadi pengontrolan serta pembinaan dari Dinas Kesehatan juga harus lebih maksimal,” tuturnya.
“Masyarakat Kota Bekasi begitu banyak mencapai 2,5 juta penduduk. Dan menjadi salah satu faktor apa bila ada 30 persen masyarakat yang sakit, menjadi penyebab rumah sakit yang bekerjasama BPJS penuh. Oleh sebab itu hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, selain fasilitas juga disediakan dan kualitas pelayanan juga ditingkatkan,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Anne Nurchandrani, menjelaskan kalau saat ini pihaknya terus melakukan sosialisasi ke rumah sakit swasta yang belum bekerjasama dengan BPJS.
“Dari 38 rumah sakit swasta di kota baru 18 yang bekerjasama. Namun saat ini ada enam rumah sakit yang sudah dalam proses administrasi,” katanya.
Di antaranya , lanjut Anne, RS Kartika Husada, RS Cikunir, RS THB, RSB THB, RS Juwita, dan RS Citra Harapan. “Proses sudah dijadwalkan untuk divisitasi,” imbuhnya.
Terkait masih adanya keluhan dari pasien BPJS, Anne justru menganggapnya sebagai masukan dan laporan. Nantinya, seluruh laporan itu akan ditindaklanjuti untuk memperbaiki pelayanan di rumah sakit swasta.
“Kita bekerjasama dengan pihak BPJS Kesehatan untuk menindak yang kurang memberikan pelayanan. Namun saat ini yang sering menjadi laporan seringnya kamar penuh sehingga peserta BPJS tidak bisa terlayani,” paparnya. (and)
Sumber: pojoksatu.id
Bangunan Rumah Sakit Terindah di Dunia, Salah Satu di Indonesia
Jakarta Sebuah situs kesehatan masyarakat merilis 30 bangunan rumah sakit terindah di seluruh dunia. Yang menarik, sebuah rumah sakit di Jakarta, Indonesia termasuk di dalamnya.
Seperti dilansir onlinemastersinpublichealth, Kamis (11/2/2016) berikut beberapa rumah sakit dengan bangunan unik:
1. Children’s Hospital in Orange County – California
Tak seperti rumah sakit pada umumnya, bangunan Children’s Hospital di Orange County ini memiliki desain yang menyolok. Bangunan delapan lantai ini memiliki warna-warna lampu yang melambangkan semangat hidup, visi progresif dan gaya kelas dunia.
Rumah sakit ini baru dibuka pada Maret 2013, dibangun dengan menggunakan bahan daur ulang.
2. Kaiser Foundation Hospital – Fontana, California
Dari luar, Kaiser Foundation Hospital seperti rumah sakit pada umumnya. Tapi untuk Anda tahu, rumah sakit ini telah berdiri sejak 1943, dan setiap sepuluh tahun tempat ini selalu mengalami renovasi.
Tidak hanya fasilitas yang menawarkan lingkungan berteknologi canggih, tetapi juga memenuhi standar keamanan gempa yang aman bagi pasien. Rumah sakit ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas ramah lingkungan dan didesain dengan bahan daur ulang konstruksi.
3. Harlem Hospital – New York, New York
Tak ada alasan untuk menikmati keindahan bangunan rumah sakit Harlem di New York. Bangunanya tak ubahnya seperti karya seni menakjubkan. Perancangnya seorang arsitek luar biasa. Dia mengubah panelkaca raksasa menjadi sebuah lukisan mural. Bila malam tiba, kaca ini akan mengeluarkan cahaya lukisan Martin Luther King, Jr. dan Ronald H. Brown yang menghubungkan antarpaviliun.
4. Uppsala University Hospital Psychiatric Building – Uppsala, Swedia
Uppsala University Hospital campus memiliki bangunan yang didominasi kaca yang sangat indah. Desain bangunanini memenangkan kompetisi Nordic Architectural Firm Tengbom pada 2007. Dibuka pada 2012, rumah sakit ini juga menyediakan fasilitas pemandangan atap yang sangat indah.
5. Rey Juan Carlos Hospital – Madrid, Spanyol
Rumah sakit Rey Juan ini dibuka pada Maret 2012 hasil tangan arsitek Rafael de la-Hoz. Bentuk bangunannya sangat unik, seperti dua buah stadion sepakbola dengan lapangan di tengahnya. Untuk urusan pencahayaan, rumah sakit ini juaranya. Dan rumah sakit ini dilengkapi dengan taman atap hijau dan dapat dilihat dari setiap kamar.
6. Henry Ford West Bloomfield Hospital – West Bloomfield, Michigan
Rumah sakit ini dikenal dengan “Cirque du Soleil of health care” yang menawarkan pelayanan kesehatan dengan nuansa taman hijau menakjubkan di dalamnya. Karya arsitektur Albert Kahn Associates ini dibangun dengan dua atap hijau, menampilkan 20.000 tanaman, dan dilengkapi atrium dengan lebih 2.500 tanaman.
7. Einstein Medical Center Montgomery – East Norriton, Pennsylvania
Rumah sakit non-profit ini terletak di East Norriton, Pennsylvania. Dibangun di atas lapangan golf tua, arsitekberhasil mempertahankan 30 hektare ruang hijau, dengan jendela besar dan pemandangan yang menyegarkan mata. Bangunan ini selesai pada September 2012 dan banyak menggunakan bahan konstruksi daur ulang.
8. Richard Desmond Children’s Eye Center – London, Inggris
Menurut arsitek di London Penoyre & Prasad, desain rumah sakit ini terisnpirasi dari lingkungan yang ramah anakdan meminimalkan pemanasan matahari. Di malam hari bangunan ini bisa lebih memikat. Rumah sakit ini selesai dan dibuka pada 2007, melayani kesehatan anak-anak sejak lahir sampai 16 tahun.
9. Rumah Sakit Anak Kemang – Jakarta, Indonesia
Warna-warna cerah memberikan tampilan yang berbeda di Rumah Sakit Kemang Anak di Jakarta, Indonesia. Cahaya di bagian atas jendela seolah menggenangi interior kamar dalam warna yang berbeda. Sang desainer Aboday dari Jakarta harus berpikir keras karena keterbatasan anggaran. Tapi, ternyata, desainnya cukup banyak dipuji.
10. Benjamin Russell Hospital for Children – Birmingham, Alabama
Benjamin Russell Hospital for Children merupakan rumah sakit ketiga terbesar di Amerika. Desainernya sengaja membuat desaindengan banyak warna dan taman yang indah untuk membuat kesan tidak menakutkan bagi anak-anak.
Sumber: liputan6.com
Mayapada Siap Investasi Besar Dalam Bisnis Rumah Sakit
JAKARTA – PT Sejahteraraya Anugerahjaya Tbk., pengelola bisnis rumah sakit Mayapada Group berencana melanjutkan ekspansinya pada tahun ini dengan membangun dua rumah sakit baru di Cakung, Jakarta Timur dan di Surabaya, Jawa Timur.
Deputy Chairman Mayapada Group sekaligus Presiden Komisaris Sejahteraraya Anugrahjaya Jonathan Tahir mengatakan investasi yang disiapkan untuk kedua proyek tersebut masing-masing di kisaran Rp400 miliar.
“Selain membangun dua rumah sakit baru, kami pun akan mengembangkan new wing pada dua rumah sakit yang pertama karena masih ada space di dekatnya,” katanya saat melakukan kunjungan ke kantor redaksi Harian Bisnis Indonesia di Jakarta, Rabu (10/2/2016).
Rencananya, perseroan bakal melanjutkan proses penawaran umum terbatas atau right issue yang sempat tertunda pada tahun lalu. Jonathan menegaskan right issue perseroan dilakukan setidaknya pada semester I/2016.
Nilai yang dihimpun berkisar Rp1 triliun – Rp1,5 triliun. Jumlah itu tak jauh berbeda dengan rencana sebelumnya. Awalnya, perseroan dengan kode emiten SRAJ itu akan menerbitkan 5,35 miliar unit saham baru dengan target perolehan dana Rp1,07 triliun.
Saat ini, Mayapada Healthcare Group memiliki beberapa fasilitas kesehatan, yakni dua klinik serta dua rumah sakit. Rumah sakit pertama terletak di Tangerang. Adapun rumah sakit yang terbaru diresmikan berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang dibangun dengan investasi Rp1 triliun.
Jonathan mengatakan, secara perlahan pihaknya akan membangun beberapa rumah sakit di sejumlah kota di Indonesia di waktu yang akan datang.
Menurutnya, banyak kelompok bisnis besar yang tertarik untuk melengkapi portofolio dengan masuk ke ranah bisnis healthcare. Apalagi saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih berobat ke negara tetangga.
“Ada orang Singapura yang pernah ngomong sama saya, nilai bisnis mencapai Rp10 triliun – Rp15 triliun,” tuturnya.
Direktur Grup Komersial Mayapada Healthcare Group Arif Mualim menambahkan, visi misi yang ingin diwujudkan Mayapada Healthcare Group yakni menjadi pusat pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan inovatif.
Teknologi dan pelayanan yang ada juga lebih diarahkan untuk memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, cepat, akurat dan efisien.
“Kami terpanggil untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk menyadarkan pentingnya kesehatan dengan melakukan deteksi dini. Jadi sebelum sakit mereka sudah bisa mengantisipasi,” katanya.
Bisnis di bidang kesehatan merupakan salah satu industri jasa yang akan terpengaruh dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean. Pertukaran tenaga kerja kesehatan menjadi kian terbuka dalam pasar tunggal Asean tersebut.
Arif Mualim menjelaskan MEA tidak perlu dipandang secara berlebihan. Menurutnya banyak rumah sakit Indonesia, termasuk dua rumah sakit di bawah Mayapada Healthcare Group, sudah siap bersaing dengan negara tetangga seperti Singapura.
Begitu pula dengan kualitas dan kemampuan dokter yang tersedia di Tanah Air sudah terbilang mumpuni.
“Sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan kesehatan berkualitas, kami memiliki 11 center of excellence yang dilengkapi teknologi mutakhir serta dokter spesialis dari beragam bidang,” katanya.
Adapun, poin yang dianggapnya menjadi kelemahan daya saing tenaga kesehatan Indonesia secara umum adalah kemampuan perawat. Salah satu kendalanya terletak pada masalah bahasa. Akan tetapi, menurutnya hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
“Adanya MEA justru akan bagus karena standar kualitas justru akan meningkat,” ucapnya.
Sumber: bisnis.com
Bayi Tertukar, Rumah Sakit di AS Salah Operasi
LEBANON – Seorang ibu di Amerika Serikat (AS) terkejut bukan kepalang ketika bayinya yang sehat mendadak dioperasi akibat rumah sakit mengiranya sebagai bayi yang sakit.
Dilaporkan, Jennifer Melton langsung menangis histeris ketika perawat memberi tahunya bahwa putranya yang bernama Nate telah melalui operasi frenulectomy.
Melton menyampaikan bahwa ia dan putranya pergi ke rumah sakit University Medical Center di Lebanon, Tennessee, AS untuk melakukan check-up rutin.
Frenulectomi adalah prosedur di mana lipatan pada jaringan kulit yang menyambungkan lidah dengan bagian bawah mulut dipotong. Dikabarkan, prosedur ini biasanya dilakukan karena lapisan kulit area mulut terlalu tebal yang dapat menyebabkan permasalahan bicara dan makan ke depannya.
Sebagaimana yang diwartakan kantor berita WTVF, dokter langsung melakukan tindakan operasi tersebut tanpa persetujuan dari orangtua terlebih dahulu (penandatanganan persetujuan menjalani prosedur operasi).
“Pokoknya, ia mengambil anak kami yang sehat dari ruangan dan memotong mulutnya. Pada saat itu, saya langsung menangis dengan histeris,” sebagaimana dilansir dari Asia News Network, Kamis (11/2/2016).
Dokter yang tidak disebutkan namanya mengakui pada laporan dari rumah sakit ia telah ‘meminta bayi yang salah (tertukar)’ dan meminta maaf atas kesalahannya. Namun, permintaan maaf itu ditolak oleh pihak keluarga.
“Ini sebuah kesalahan, tidak ada alasan untuk mengoperasi anak yang sehat. Tidak ada alasan rumah sakit mengatakan ini karena tertukar,” kata pengacara sang ibu bayi, Clint Kelly.
“Kami tidak tahu apakah bayi ini akan memiliki permasalahan dalam bicaranya atau permasalahan makan. Permasalahan utama di sini adalah ia bayi yang sehat, namun justru pihak rumah sakit menyakitinya,” tambah Kelly.
(emj)
Sumber: okezone.com
TOR ASM 2016: Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional
Kelompok Kerja Leadership Annual Scientific Meeting 2016
Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional
PENDAHULUAN
Salah satu isu yang sering muncul dalam sistem pelayanan kesehatan di era Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia adalah sistem rujukan. Sistem rujukan yang berjalan saat ini belum dapat memenuhi harapan karena dianggap tidak dapat menyaring kasus sehingga beban penyakit diberbagai tingkatan pelayanan menjadi tidak merata. Isu lainnya adalah motivasi dalam melakukan rujuk kasus. Merujuk kasus ditengarai sebagai upaya institusi pelayanan kesehatan untuk melepaskan kasus yang sulit dan berbiaya mahal agar ditangani di institusi pelayanan yang lebih tinggi.
However, studies from other countries have reported that most patients are referred to palliative care services late in the course of their terminal illness (Baek et al., 2011).
Selain itu, efektifitas sistem rujukan yang berlaku saat ini juga tidak berjalan seimbang antara rujukan ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi dengan rujukan balik. Rujukan balik sering menimbulkan masalah oleh karena ketidaksiapan pelayanan di tingkat yang lebih rendah menerima rujuk balik dari tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Beberapa faktor yang diidentifikasi menjadi penyebab timbulnya isu dalam sistem rujukan adalah komunikasi lintas tingkat pelayanan dan kapasitas serta kapabilitas institusi pelayanan kesehatan dalam menjalankan sistem rujukan. Kedua faktor tersebut sangat berperan pada timbulnya isu dalam sistem rujukan di Indonesia.
Komunikasi antar-institusi sering tidak berjalan lancar oleh karena tingginya beban pelayanan di berbagai tingkat pelayanan serta tidak tersedianya media atau forum untuk memfasilitasi komunikasi tersebut. Komunikasi antar-institusi diberbagai tingkat pelayanan sangat penting dilakukan karena pada kenyataannya setiap kali melakukan rujukan terjadi komunikasi formal melalui berbagai materi administrasi[1]. Namun demikian, kesempatan untuk melakukan komunikasi organisasi secara umum jarang dilakukan. Beberapa penyebabnya adalah perbedaan kelas institusi pelayanan, perbedaan status kepemilikan institusi (swasta dan pemerintah), serta letak geografis yang memperlebar kesenjangan (jarak dan batas wilayah administrasi).
Selain itu, kapasitas dan kapabilitas institusi pelayanan kesehatan dalam menjalankan sistem rujukan kurang memadai[2].
“The current referral environment in pediatric care is characterized by greater numbers of children seeking subspecialty care, inadequate numbers of subspecialists capable of providing care, and poorly structured communication between referring providers and subspecialists” (Cornell et al. 2015)
Di Indonesia sering ditengarai kegiatan merujuk pasien hanya bertujuan untuk “membebaskan” institusi dari beban pelayanan dengan memindahkan kasus yang berat ke institusi yang lebih tinggi. Kasus yang memerlukan biaya tinggi dan lama rawat yang panjang adalah tipe kasus yang paling sering dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi. Dalam hal ini, kapasitas institusi pelayanan yang merujuk tidak memadai untuk menciptakan efisiensi dalam pelayanan di era JKN. Rujuk balik dari insitusi pelayanan yang lebih tinggi ke institusi pelayanan yang lebih rendah juga menimbulkan masalah. Kasus-kasus yang dirujuk balik tidak ditangani dengan baik oleh karena kurangnya kapasitas klinis institusi pelayanan yang menerima rujukan balik.
Sistem rujukan digerakkan oleh banyak aktor dalam sistem kesehatan di Indonesia. Aktor-aktor tersebut diantaranya: Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan sebagai regulator sistem rujukan, Institusi Pelayanan Kesehatan diberbagai tingkat pelayanan, BPJS selaku pembayar biaya pelayanan kesehatan, serta provider pelayanan kesehatan, yaitu dokter. Kepemimpinan dari masing-masing aktor sangat diperlukan untuk meningkatkan efektifitas serta menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dalam sistem rujukan di Indonesia.
Beberapa pertanyaan dapat dimunculkan sebagai upaya untuk menilai peran dan fungsi berbagai aktor tersebut. Pertanyaan tersebut diantaranya:
- Apakah dampak yang dirasakan oleh rumah sakit tersier dengan diterapkannya sistem rujukan saat ini?
- Bagaimana strategi rujukan rumah sakit swasta yang berbentuk jaringan serta konektivitasnya dengan sistem rujukan nasional?
- Apakah kapasitas dan kapabilitas pelayanan tingkat primer berhubungan dengan besarnya beban rujukan di tingkat pelayanan yang lebih tinggi?
- Bagaimana Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan menyusun sistem rujukan agar dapat mengalirkan beban penyakit sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing tingkat pelayanan. Apakah konteks geografis dan sebaran institusi pelayanan kesehatan telah dipertimbangkan?
- Apakah BPJS dapat mempengaruhi tendensi pola rujukan, sehingga kegiatan merujuk dan merujuk balik hanya berdasarkan pertimbangan biaya?
Menyadari pentingnya mekanisme rujukan dalam sistem kesehatan di Indonesia serta fakta yang menunjukkan masih banyak isu di lapangan terkait dengan sistem rujukan tersebut, maka Annual Scientific Meeting Kelompok Kerja Leadership FK UGM tahun 2016 bermaksud menggali lebih dalam isu sistem rujukan dan menggambarkan situasi di lapangan secara lebih nyata. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi pembahasan atas berbagai alternatif solusi atas masalah rujukan yang terjadi sehinga dapat direkomendasikan kepada pengambil kebijakan. ASM Pokja Leadership kali ini mengambil tema Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional yang dikemas dalam kegiatan lokakaryar satu hari.
[1] Baek et al. 2011. Late Referral to Palliative Care Services in Korea. Journal of Pain and Symptom Management Vol. 41 No. 4 April 2011
[2] Cornell, E., Chandok, L., Rubin, K. 2015. Implementation of referral guidelines at the interface between pediatric primary and subspecialty care. Healthcare 3 (2015) 74–79
TUJUAN
Tujuan dari seminar ini adalah:
- Menggambarkan dinamika sistem rujukan yang terjadi saat ini serta tantangan yang dihadapi di lapangan.
- Mendiskusikan model sistem rujukan masa depan yang dapat meningkatkan efektifitas sistem rujukan, sesuai dengan regulasi serta konsep kendali mutu serta kendali biaya di era JKN.
- Menyepakati berbagai alternatif solusi yang kontekstual sebagai rekomendasi kepada para pengambil kebijakan di tingkat pusat dan daerah.
AGENDA KEGIATAN SEMINAR
| JAM | MATERI | NARSUM/FASILITATOR |
| 08.00-09.00 | Pendaftaran peserta + Coffee break pagi | Panitia |
| 09.00-09.10 | Pembukaan dan PengantarMateri | Prof. dr.Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D, |
| Sesi IA:Moderator Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes., MAS. | ||
| 09.10-09.40 | Pembicara: Dinamika jumlah pasien dan tipe kasus (severity dan kompleksitas) RSUP dr. Sardjito Yogyakarta di era JKN: Data, Dampak, dan Strategi AntisipasiMateri | dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., Sp.OG(K). (Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr. Sardjito) |
| 09.40-10.05 | Pembahas 1: Strategi rumah sakit swasta dalam sistem rujukan sertakontribusi rumah sakit swasta dalam penguatan sistem rujukan di Indonesia.Materi | dr. Grace Frelita Indrajaja, M.M. (Siloam Group Hospital) |
| 10.05-10.25 | Pembahas 2: peran dan fungsi dokter layanan primer dalam sistem rujukan serta kontribusinya dalam sistem rujukan | Prof. dr. Hari Kusnanto, Dr.PH. |
| Sesi IB:Moderator Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., MAS. | ||
| 10.25-12.00 | Pembahas: Konsep pengembangan profesi spesialis dan sub spesialis di rumah sakit rujukan tertinggi dalam menyikapi tingginya dinamika jumlah pasien dan tipe kasusMateri |
|
| 12.00-13.00 | Istirahat dan Makan Siang | |
| Sesi II: Moderator Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., MAS. | ||
| 13.00-13.30 | Pembicara 1: Visi Sistem Rujukan di Indonesia | Prof. dr.Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D |
| 13.30-14.00 | Pembicara 2: Konsep sistem rujukan nasional di Indonesia, pelaksanaannya, serta tantangan yang dihadapi.Materi | Dr. dr. Youth Savithri, MARS. (Kasie Pengelolaan Pelayanan Rujukan, Ditjen PKM, Kemenkes) |
| 14.00-14.15 | Pembahas 1: Pengembangan dan tantangan sistem rujukan dalam perspektif rumah sakit pendidikan | dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., SpOG(K). (Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr. Sardjito) |
| 14.15-14.30 | Pembahas 2: Pengembangan sistem rujukan dalam perspektif regulasi, kebijakan, dan stategi BPJS Kesehatan | dr. Upik Handayani, AAK. (Kepala BPJS Kesehatan KCU Yogyakarta) |
| 14.30-14.45 | Pembahas 3: Konsep pengembangan sistem rujukan di DKI Jakarta | dr. R. Koesmedi Priharto, Sp.OT.(Kadinkes DKI Jakarta) |
| 14.45-15.30 | Diskusi | |
| 15.30-16.00 | Kesimpulan & Penutup | Prof. dr.Laksono Trisnantoro, MSc, Ph.D |
| 16.00 | Coffee Break sore | Panitia |
WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan seminar ini diselenggarakan pada tanggal 24 Maret 2016 di Ruang Rapat Senat Fakultas Kedokteran UGM, Gedung KPTU Lt. 2, Jl. Farmako Sekip Utara, Yogyakarta 55281.
KONTAK & KOMUNIKASI
Informasi lebih lanjut terkait dengan kegiatan Seminar Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional ini dapat menghubungi:
Sekretariat Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
Gedung IKM Sayap Utara Lantai 2
Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta 55281
Sdri. Ega
No. Telp./Fax. : (0274) 549425 – hunting
Email : [email protected]
HP : 0818996974
Sdri. Menik
No.Telf/Fax. : (0274) 581679
Email : [email protected]
HP : 0818269560
Biaya Pendaftaran:
- Umum : Rp. 500.000,-/orang
- Alumni FK UGM : Rp. 300.000,-/orang
- Mahasiswa S2/S3 : Rp. 150.000,-/orang
Rp. 100.000,-/orang (grup minimal 5 orang)
- Webinar : Rp. 200.000,-/orang
Rp. 500.000,-/instansi (untuk 10 orang)
Biaya pendaftaran dapat ditransfer melalui rekening :
Bank BNI
Nomor Rekening : 0203024192
a/n. Pusat Kebijakan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran UGM
Fasilitas:
- Konsumsi (Makan Siang dan Coffee Break) – on site
- Sertifikat 16 SKP IDI
Komite akreditasi evaluasi manajemen RSMM Timika
Timika – Komite Akreditasi Rumah Sakit tingkat nasional tengah mengevaluasi atau menilai kualitas pelayanan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, Papua.
Direktur RSMM Timika Bernadus Freddy Suharto, Rabu, mengatakan, tim KARS akan melakukan penilaian akreditasi RSMM Timika selama tiga hari terhitung tanggal 9-11 Februari 2015. RSMM Timika merupakan rumah sakit pertama di Papua yang dikunjungi tim KARS tahun ini.
“Akreditasi ini sangat menentukan apakah RSMM Timika memenuhi standar keselamatan pasien atau tidak. Jika kami tidak memenuhi standar yang ditetapkan maka kami tidak boleh lagi melaksanakan operasional sebagai rumah sakit,” jelas Bernadus.
Dalam tahap penilaian nanti, tim KARS akan mengevaluasi sejauhmana RSMM Timika telah memenuhi standar-standar yang ditetapkan pada 12 bidang tugasnya.
Beberapa hal yang akan dievaluasi antara lain menyangkut infrastruktur, sumber daya manusia, pelayanan pasien sejak masuk hingga pulang, sikap tenaga kesehatan terhadap pasien, bagaimana melaksanakan hak-hak pasien, dan lainnya.
Sebelumnya, rumah sakit yang sudah 16 tahun beroperasi itu telah mengantongi akreditasi tingkat dasar dan madya dari Komite Akreditasi Rumah Sakit tingkat nasional.
RSMM Timika merupakan rumah sakit tipe C milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) yang dikelola oleh Yayasan Caritas Timika-Papua (YCTP) di bawah naungan Keuskupan Timika.
Kini rumah sakit tersebut memiliki kapasitas tempat tidur pasien sebanyak 134 unit, termasuk fasilitas privat wing untuk tempat rawat inap pasien kelas II, pasien kelas I dan pasien kelas VIP.
RSMM Timika juga dilengkapi dengan tenaga dokter spesialis penyakit dalam, spesialis obgyn, spesialis bedah, spesialis mata, spesialis anastesi dan spesialis radiologi yang merupakan satu-satunya di Mimika. (*)
Sumber: radarsorong.com
Gandeng LIPPO Group Hadirkan 2 Rumah Sakit Siloam
PEMBANGUNAN gedung berlantai 7 di Kota Sorong yang akan dilengkapi dengan fasilitas umum bagi masyarakat seperti Rumah Sakit Siloam, Hypermart dan sebagainya tak lepas dari peran Sekda Kabupaten Tolikara, Dance Y Flassy. Ia memperjuangkan hadirnya gedung dengan fasilitas umum di Kota Sorong dan Kabupaten Tolikara.
Diakui Dance Y Flassy, tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dalam pembangunan yang dimaksudkan demi peningkatan pelayanan masyarakat. Segala upayanya dilakukan untuk membangun Papua. Menggalang perusahaan swasta dan perusahaan nasional.
Untungnya, ia kenal baik dengan pemilik LIPPO Group Muchtar Riyadi. Memprakarsasi tujuan itu, ia lalu menemuinya dan meyakinkan serta konsultasi bagaimana memberikan pelayanan bagi masyarakat di Papua dan Papua Barat.
“Hasilnya setelah pertemuan itu, beliau setuju dan membangun gedung dengan pelayanan Rumah Sakit Siloam juga Hypermart dan sebagainya itu, jadi satu di Kota Sorong dan satu lagi di Tolikara,”katanya.
Dalam pertemuan pada Agustus 2013 itu, ditindaklanjuti oleh Muchtar Riyadi, terbukti dua gedung LIPPO Group dibangun. Rencananya, Agustus tahun ini, gedung dengan Rumah Sakit Siloam di Kota Sorong akan diresmikan oleh presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
“Targetnya Agustus tahun ini diresmikan, rencananya pak presiden yang nanti akan meresmikan,”kata Dance Y Flassy, seraya menambahkan, saat ini proses pengerjaanya dalam tahap penyelesaian.
Ia juga harus keluar masuk perkantoran di kementrian dalam memperjuangkan pembangunan bagi masyarakat di Papua dan Papua Barat. Pernah berkecimpung di Wakil Presiden, Dance Y Flassy berharap adanya kemajuan di Tanah Papua.
Pentingnya koordinasi dengan semua pihak, terutama penentu kebijakan di pusat, membuatnya harus sering ke Jakarta. Segudang pengalaman yang dimilikinya menjadi bekal. Banyak hasil yang akhirnya bisa diterapkan dan dinikmati masyarakat secara umum.
Tanggal 8 Februari lalu, ia juga mendapat kunjungan dari Kepala BPK RI, Kepala BPK RI perwakilan Papua, Direksi Utama Bank Papua, Jayapura. Dalam kunjungan tersebut banyak hal dibicarakan, termasuk pembangunan di Tolikara dan pembangunan di Papua serta Papua Barat.
Bagi Dance hadirnya 2 Rumah Sakit Siloam yakni di Kota Sorong dan Tolikara yang berstandar internasional akan berdampak positif bagi masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Tidak hanya hadir melayani kesehatan di daerah keberadaanya, juga sebagai rujukan bagi masyarakat luas.
Saat ini, ia juga sedang mengajukan program pembangunan insfrastruktut jalan yang diharapkan mampu memecah kebuntuan akses masyarakat. “Karena banyak daerah terpencil yang aksesnya sulit, daerah masih sulit dijangkau, terisolir, sehingga insfrastruktur ini juga penting,”katanya.
Untuk jangka panjang, lanjut Dance, akan dibangun Jalan Jalur Darat yang melintasi kali Mambaremo Raya. Sebagai akses bagi warga di Tolikara, Mamberamo Raya dan Sarmi. Tujuannya, untuk membuka isolasi wilayah di Pegunungan Tengah. Juga sebagai pembuka distribusi. Dampak positifnya akan mempermudah transportasi bagi warga dalam memenuhi kebutuhannya.
Perjuangan Dance Y Flassy dalam membangun Kabupaten Tolikara dibuktikan dengan melakukan pertemuan. Diantaranya dengan Presiden Joko Widodo yang juga bersama Kepala-kepala Suku. Bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menkopolhukam dalam kunjungan dan peninajuan Sekolah Unggulan dan Institut Teknologi Del Belige Medan.
Ia berpendapat kemajuan di Papua dan Papua Barat perlu menggandeng atau melibatkan perusahaan multi Nasional seperti LIPPO Group. Namun juga harus melibatkan semua pihak, termasuk elemen penting dalam daerah yakni masyarakat.
Dibidang lain, ia juga bergerak dalam menciptakan stabilitas keamanan atau kamtibmas. Belum lama ini, ia bersama tokoh masyarakat dan tokoh lainnya bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Tujuannya membahas berbagai persoalan yang terjadi dan langkah menyikapinya.
Menurut Dance Y Flassy, perjuangannya itu tidak sia-sia, pemilik Lippo Group M Riyadi akhirnya bersedia untuk bekerjasama membangun Kabupaten Tolikara. Dari pemerintah siap untuk membebaskan lahan yang dibutuhkan Lippo Group. Kehadiran Lippo Group yang memberikan pelayanan kepada masyarakat membawa angin segar bagi warga. Hal itu tak lepas dari perjuangan Sekda yang gigih membangun Tolikara atas nama pemerintah.
Lippo Group sudah menggagas akan membangun Hypermart, Matahari, Rumah Sakit Siloam, Sekolah Papua Harapan. “Untuk Sekolah Papua Harapan sudah difungsikan, yang sekolah tidak hanya putra daerah tapi pendatang juga,”kata Sekda Tolikara Dance Y Flassy.
Sedangkan untuk Hypermart dan Matahari, saat ini dalam tahap pembebasan lahan oleh pemerintah dengan masyarakat adat. Lahan yang akan dibangun itu, dibebaskan, selanjutnya dikerjakan oleh Lippo Group. Luasnya, akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
Hypermart, Matahari dan RS Siloam dan logistic akan dibangun di ibukota Tolikara, targetnya dapat difungsikan pada tahuan 2018. Perkembangan ini bertujuan untuk memberikan pelayanan demi kemajuan pembangunan di Kabupaten tersebut.(**)
Sumber: radarsorong.com
Dewan Kecewa Masih Ada Rumah Sakit Menunda Pelayanan Pasien BPJS
METRO — DPRD Metro kembali menyoroti pelayanan BPJS di rumah sakit. Dewan mendesak agar tidak ada lagi pemberlakukan pelayanan kesehatan BPJS berjenjang.
“Kita sudah melihat contoh di Semarang, warga bisa bebas memilih rumah sakit yang ditunjuk, dan tidak perlu harus ada persyaratan rujukan lagi,” ucap Alizar, Politisi Partai NaDdem yang juga anggota Komisi II DPRD di ruang kerjanya di gedung Dewan, Rabu (10/2/2016).
Dikatakannya, banyak keluhan yang melapor kepada Dewan, seperti pelayanan kesehatan BPJS di Rumah Sakit Mardiwaluyo. Seorang pasien yang mengunakan BPJS diminta memilih oleh dokter keluarga yang ditunjuk sebagai persyaratan wajib rujukan saat akan mengobati mata.
Pasien itu memilih Mardiwaluyo sebagai rumah sakit yang ditunjuk melayani BPJS. Tiba di sana, pihak Mardi memproses BPJS nya untuk mendaftar. Setelah selesai, tiba-tiba pihak RS Mardiwaluyo menunda, meminta akan dilayani berobatnya pada esok harinya.
Padahal ia merasakan sakit matanya agar segera bisa diperiksa saat itu. Ironis alasan klasik yang disampikan pihak petugas pelayanan Mardi, dokternya tidak ada karena hari ini jadwal operasi. Akibatnya banyak pasien yang mestinya dilayani hari itu ditunda esoknya, namun BPJS-nya diproses. Para pasien itu tidak bisa lagi pindah ke rumah sakit alasan BPJS sudah diproses di sana harus di rumah sakit itu pelayananya.
Kekecewaan itu terjadi pada Selasa (9/2/2016). Dan itu tidak hanya satu pasien yang merasakan diperlakukan, tetapi puluhan pasien yang harus merelakan esoknya baru dilayani BPJS-nya di Rumah Sakit Mardiwaluyo.
Kondisi itu juga bahkan pernah dialami seorang anggota Dewan dari Komisi II, saat akan berobat mengunakan kartu BPJS. “Ini semestinya tidak boleh terjadi karena penguna kartu BPJS juga bayar. BPJS juga tak boleh dibedakan, ia sama dengan pasien umum,” tambahnya.
Hal senda juga disampaikan politisi PKS Nasrianto. Keluhan seperti itu harus disikapi kantor BPJS dan Dinas Kesehatan. “Kalau tidak ada dokternya, jangan diarahkan ke rumah sakit itu oleh dokter rujukannya karena masih ada rumah sakit lainnya yang ditunjuk melayani BPJS. Ini bukti tidak adanya kotdinasi dilakukan antara dokter yang merujuknya dengan pihak rumah sakit rujukan,”tambahnya.
Ketua Komisi A Basuki juga merespon agar puskes maupun dokter keluarga rujukan memiliki jadwal rumah sakit agar pelayanan BPJS bisa berjalan prima. “Jangan arahkan pasien ke rumah sakit yang tidak siap melayani,” ucapnya.
Dewan meminta kasus tersebut menjadi perhatian Pj Wali Kota Chrisna agar tak sampai warga BPJS menjadi korban ulah rumah sakit. Dewan meminta Pj Wali Kota melalaui Dinas Kesehatan menegur rumah sakit yang seperti itu. Dewan juga meminta pihak BPJS jangan hanya menerima bayaran, tetapi harus bisa melayani kesehatan masyarakat dengan baik dan prima.
Sumber: lampost.co
Retribusi Parkir BLUD Rumah Sakit Konsel Dikeluhkan Warga
ANDOOLO– Pemberlakuan tarif retribusi parkir oleh Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapat penilaian negatif oleh sejumlah warga yang hendak menjenguk keluarganya di rumah sakit tersebut.
Pasalnya, tarif itu dinilai baru dilakukan sementara kebiasaan warga tidak pernah mendapatkan hal semacam itu sejak BLUD Konsel itu didirikan dan diberlakukannya pelayanan kesehatan.
Hirma (31), salah seorang warga Kecamatan Buke mengeluhkan adanya retribusi parkir itu yang membuatnya harus berurusan dulu dengan petugas parkir yang melakukan pemalangan jalan sebelum menyetorkan uang Rp.2.000 untuk kendaraan roda dua. Padahal harus sesegera mungkin mengantarkan makanan pada keluargannya yang sedang berada di rumah sakit itu.
Sementara itu, salah seorang petugas parkir, Erfin (21) mengatakan memang hal ini baru diberlakukan retribusi setelah pihak BLUD Konsel bekerja sama (mempihak ketigakan) kepada karang taruna Kelurahan Alangga, Kecamatan Andoolo.
“Banyak memang masyarakat suka tanya, bukan pungutan liarji ini? Makanya kita jelaskan juga sama mereka kalau ini masuk ke kas BLUD,” katanya, Rabu (10/2/2016).
Terkiat hal itu, dibenarkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Penunjang Pelayanan Medik BLUD Konsel, M. Syihab DJ. Dikatakannya, sejak 1 Januari 2016 pihaknya telah menjalankan retribusi tersebut dengan didasarkan pada Peraturan Bupati (Perbup) nomor 11 tahun 2015 dengan mengadakan kontrak pada pihak ketiga
“Jadi untuk setorannya itu Rp.12 juta untuk setahun. Kemudian untuk yang lainnya itu tergantung pihak ketiga, yang jelas mereka menyetor kepada BLUD. Pengelolanya juga disiapkan karang taruna,” jelasnya.
Karena rumah sakit tersebut telah beralih pada BLUD maka sudah selayaknya melihat potensi pendapatan lainnya yang itu bisa menunjang dari pemasukkan ditempat tersebut.
“Memang orientasi bisnis jadi kayak swasta. Sama seperti RS Bahteramas Sultra, dan memang aturannya begitu semua rumah sakit,” ujarnya.
Kepala Dinas Penggelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD), Sahlul mengatakan dengan sistem itu, maka bisa melihat dan mengarap potensi apa yang ada di dalam. Bahkan hasil pendapatan itu langsung dimanfaatkan oleh rumah sakit.
Namun demikian, pihak rumah sakit harus memberitahukan hasil pendapatan kepada pihak dinas terkait agar diketahui jumlah pendapatan setiap tahunnya.
Menurutnya, itu dilakukan agar terjadi fleksibilitas, sehingga pihak BLUD tidak lagi menunggu pengadaaan obat-obatan atau sejenisnya.
“Kalau mau mengikuti pola APBD itu sulit. Orang sudah mau mati, obat baru ditender. Tetapi dengan sistem BLUD itu langsung dibelanjakan untuk mendukung pelayanan,” ujarnya.
Sumber: zonasultra.com







