|
Laporan 1: Pembukaan Pada Rabu dan Kamis, 7 – 8 September 2016 telah diselenggarakan Pertemuan Tahunan Hospital Management Asia di Hotel Sheraton, Ho Chi Minh (d/h Saigon) Vietnam. Kegiatan pertemuan ilmiah dan expo manajemen rumah sakit terbesar di Asia ini dihadiri oleh sekitar 1000 peserta dengan 120-an pembicara. Dalam kegiatan ini diselenggarakan pula pemberian Award untuk RS-RS di Asia yang prestasinya menonjol. Dari UGM hadir Prof. Laksono Trisnantoro sebagai salah satu Jury Award dan pembicara mengenai transisi sistem manajemen RS pemerintah di Indonesia. Kegiatan HMA ini bersifat tahunan dan telah berlangsung lebih dari 15 tahun. Vietnam sudah 3 kali menjadi tuan rumah. Sementara Negara tetangga, yaitu Bangkok telah berkali-kali sudah menjadi tuan rumah. Selanjutnya, pada tahun berikutnya (2017) akan diselenggarakan di Manila. Sementara, Indonesia belum pernah menjadi tuan rumah kegiatan ini. Laporan mengenai isu-isu kunci dapat diikuti di web ini. Pembukaan dilakukan pukul 09.00 waktu setempat oleh Richard Ireland sebagai managing director EO, Clarion Events. kemudian, acara dilanjutkan dengan pidato pembukaan oleh Dirjen Pelayanan Medik Kemenkes Vietnam. Sementara, pembukaan resmi dilakukan oleh Menkes Vietnam. Silahkan klik tombol di bawah untuk mengikuti laporan selanjutnya:
JANGAN LEWATKAN PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN KE-3 HIMPUNAN PERAWAT MANAJER INDONESIA Perawat merupakan kekuatan untuk perubahan demi sebuah ketahanan sistem kesehatan. Selain itu, perawat juga menjadi role model dalam mempertahankan sistem suatu bangsa yang masyarakatnya memahami arti kesehatan. Maka, sangat dibutuhkan manajer keperawatan. Dalam mengembangkan pelayanan keperawatan di rumah sakit, seorang manajer keperawatan mempunyai peran antara lain: 1) Menyelenggarakan pelayanan keperawatan prima yang terjangkau bagi masyarakat; 2) Memberikan asuhan keperawatan berdasarkan proses keperawatan untuk memenuhi kebutuhan bio, psiko, sosio, dan spiritual pasien; 3) Melaksanakan pengembangan SDM keperawatan; 4) Merencanakan dan menyediakan fasilitas keperawatan; dan 5) Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelayanan keperawatan. Tujuan akhir dari peran tersebut di atas adalah masyarakat memperoleh pelayanan keperawatan yang berkualitas, efektif dan efisien untuk menjamin keselamatan pasien. Perawat manajer Indonesia melalui Himpunan Perawat Manajer Indonesia (HPMI) akan mengadakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Ke-3 dengan tema “Penguatan Manajer Keperawatan Dalam memberikan Pelayanan Berkualitas di Rumah Sakit”. Pertemuan Ilmiah Tahunan Perawat Manajer ini akan berisi kegiatan seminar dan workshop untuk memperkuat fungsi dan peran perawat manajer di pelayanan keperawatan. Melalui pertemuan ini, diharapkan para perawat manajer dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan manajerialnya dalam mengelola pelayanan keperawatan yang kompetitif, berkualitas, sesuai perkembangan trend globalisasi. PIT HPMI ke-3 ini akan berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 21 sampai 23 Sepetember 2016 dan untuk mencermati lebih lanjut klik di sini. Pembukaan Konferensi Health Promoting Hospital “Penyediaan fasilitas kesehatan merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Tujuan dari pembangunan nasional adalah tercapainya hidup sehat dan pencapaian derajat kesehatan yang optimal. Healthy hospital adalah RS yang berwawasan lingkungan dan berusaha mewujudkan kenyamanan pasien dan masyarakat sekitarnya”. Demikian kutipan sambutan gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang dibacakan oleh Wakil Gubernur KGPAA Paku Alam X pada pembukaan Health Promotion Hospital Conference yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 3-5 Agustus 2016. Konferensi ini diikuti oleh peserta dari beberapa negara anggota Global Green and Healthy Hospital (GGHH), antara lain Filipina, Taiwan dan Korea Selatan. Selengkapnya silakan simak di sini. Harapan Hidup Meningkat 5 Tahun Sejak Tahun 2000, Tetapi Masih Tidak Merata (Laporan Monitoring SDG oleh WHO, 2016)
Selama empat hari (12 – 15 April 2016) ARSADA menyelenggarakan musyawarah nasional yang merupakan mekanisme transisi kepemimpinan dan kepengurusan ARSADA. Sebagai tradisi, acara Munas selalu dibarengi dengan aktivitas updating pengetahuan dan informasi terbaru sesuai dengan isu yang berkembang. Munas kali ini mengambil tema “Bila RSD Menjadi UPTD, Dapatkah Mempertahankan dan Meningkatkan Mutu Pelayanan di Era JKN dan MEA?” yang dibuka dengan seminar Pra-Munas pada 12 April dengan tema “Perubahan Organisasi Perangkat Daerah: Gonjang Ganjing Komunitas RSD dan Pengaruhnya pada Mutu Layanan”. Informasi seputar pelaksanaan seminar akan disajikan setiap hari di website ini, di hari berikutnya. Silakan simak laporan selengkapnya. ASM Series Bidang Leadership: Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional
Bagaimana Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan menyusun sistem rujukan agar dapat mengalirkan beban penyakit sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing tingkat pelayanan. Apakah konteks geografis dan sebaran institusi pelayanan kesehatan telah dipertimbangkan? Menyadari pentingnya mekanisme rujukan dalam sistem kesehatan di Indonesia serta fakta yang menunjukkan masih banyak isu di lapangan terkait dengan sistem rujukan tersebut, maka Annual Scientific Meeting (ASM) Kelompok Kerja Leadership FK UGM tahun 2016 bermaksud menggali lebih dalam isu sistem rujukan dan menggambarkan situasi di lapangan secara lebih nyata. Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi pembahasan atas berbagai alternatif solusi atas masalah rujukan yang terjadi sehinga dapat direkomendasikan kepada pengambil kebijakan. ASM Pokja Leadership kali ini mengambil tema Penguatan Sistem Rujukan di Era Jaminan Kesehatan Nasional yang dikemas dalam kegiatan lokakarya satu hari pada Kamis, 24 Maret 2016. Selengkapnya: |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Pengantar Perpres Nomor 77 tahun 2015 |
|
LEAN HOSPITAL – Bagian 2 |
RS Awal Bros Pekanbaru Promo Diskon MCU dan Radiologi hingga 50 Persen
PEKANBARU – Rumah Sakit (RS) Awal Bros Pekanbaru menggelar promo diskon untuk medical check up (MCU) dan radiologi hingga 50 persen bagi pelanggan setia.
Hal ini dilakukan dalam rangka peringatan Hari Pelanggan Nasional yang diperingati 4 September setiap tahunnya. Promo ini hanya berlaku selama tiga hari saja yaitu mulai 3,4 dan 5 September 2016.
Caranya adalah dengan membeli voucher yang telah disediakan di RS Awal Bros Pekanbaru, Mal Ciputra dan Mal SKA pada tanggal tersebut, masa berlaku voucher hingga 31 Desember 2016.
“Promo spesial ini sengaja kami rancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan medical check up, mencegah lebih baik dari pada mengobati,” kata Manajer Pengembangan dan Pemasaran sekaligus Manajer Penunjang Medis, dr Hanny Merliana MARS kepada Riau Pos, Ahad (4/9).
Disebutkanya juga, promo ini digelar tidak hanya peringatan Hari Pelanggan saja, akan tetapi bukan sekedar dalam rangka dalam rangkaian HUT ke-18 RS Awal Bros Pekanbaru yang baru saja berlalu pada 29 Agustus kemarin.
Dilanjutkan Hanny, promo MCU dan radiologi ini juga dilaksanakan sebagai langkah pencegahan penyakit. Medical check-up dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan, sekaligus mendeteksi suatu penyakit sejak dini.
“Artinya, makin dini suatu penyakit terdeteksi, maka makin cepat pertolongan yang dapat diberikan. Dengan begini, penyakit tidak berlanjut ke tahap yang lebih serius, sekaligus mencegah pertolongan yang lebih rumit,” tambah Hanny.(gus)
Sumber: riaupos.co
204 RS di Sumut Belum Terakreditasi
MEDAN – Sebanyak 204 rumah sakit di Sumatera Utara belum terakreditasi dengan Standar Akreditasi. Dari total 220 rumah sakit yang ada, baru 16 rumah sakit saja yang sudah terakreditasi.
Informasi yang diterima, ke-16 rumah sakit yang sudah terakreditasi itu antara lain, RSUP H Adam Malik, RS Murni Teguh Memorial Hospital, Rumkit Tk II Putri Hijau Medan, RSU Royal Prima, RSIA Stella Maris, RSU Martha Friska Multatuli, RS Sari Mutiara, RS Deli, RS Harapan, RSU Grand Madica, Rumkit Tk IV 01.07.02 Binjai, RSU Methodis Susanna Wesley, RSU Melati, RS Materna, Rumkit Tk IV Pematang Siantar, dan RS Metta Medica Sibolga.
Ketua Persi Sumut dr Azwan Hakmi Lubis, menyatakan, masih banyak rumah sakit yang belum terakreditasi. Oleh karena itu, Azwan menilai, seyogyanya pemerintah daerah mendorong rumah sakit yang ada di wilayahnya, khususnya RSUD milik pemerintah daerah. “Proses akreditasi itu sebenarnya tidak susah, apalagi kita sudah memberikan edukasi kepada para pihak rumah sakit terkait akreditasi. Tinggal kemauan dari rumah sakit itu, ada atau tidak,” ujar Azwan belum lama ini.
Azwan menegaskan, tahun 2017 mendatang, rumah sakit yang melayani pasien BPJS Kesehatan harus terakreditasi. Jika tidak, BPJS Kesehatan akan memutus kerja sama dengan rumah sakit tersebut. Selain itu, katanya, tujuan dari akreditasi ini sangat bagus guna meningkatkan mutu pelayanan, dan jikalau sudah terakreditasi, tentu pelayanan tidak perlu diragukan lagi.
Terpisah, Direktur RSUD dr Pirngadi Medan, dr Edwin Effendi, mengatakan, rumah sakit yang dipimpinnya sedang mengurus akreditasi tersebut. Bahkan, rumah sakit milik Pemko Medan itu baru saja menerima masukan dari Tim Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) untuk melengkapi kekurangan dari poin-poin yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.
“Dalam bulan ini, kita harus melengkapi poin-poin yang diminta Tim KARS. Setelah selesai, kita akan undang kembali Tim KARS untuk melakukan penilaian. Mudah-mudahan Oktober ini kita sudah mendapatkan akreditasi paripurna dari Tim KARS,” harapnya.
Sumber: gosumut.com
RS PKU Muhammadiyah Solo Gelar Simulasi Penanganan Kecelakaan Massal
SURAKARTA — Kecelakaan lalu lintas terjadi di Jalan Ronggowarsito, Surakarta pada Ahad (4/9) sore. Insiden tersebut berawal setelah sebuah mini bus hitam dari arah Selatan yang melaju kencang hilang kendali. Di saat bersamaan sebuah bus pariwisata berpenumpang 40 orang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan. Diikuti sebuah sepeda motor yang mencoba menyalip dari arah sebelah kiri. Tabrakan pun tak terelakan. Sopir dan penumpang tak sadarkan diri. Sebagian mengalami luka parah dibagian kepala dan tangan. Sementara pengendara sepeda motor tergeletak tak sadarkan diri di jalan.
Sesaat kemudian tim tanggap darurat kecelakaan yang mendapat laporan dari warga pun mulai berdatangan. Mereka segera melakukan evakuasi dan penanganan terhadap korban kecelakaan. Setelah mendapat penanganan darurat sejumlah korban yang mengalami luka serius segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Saat bersamaan aparat kepolisian dan pemadam kebakaran dengan sigap memadamkan kobaran api yang muncul dari kabin mini bus tersebut.
Insiden kecelakaan lalu lintas tersebut bukanlah kejadian sebenarnya. Melainkan sebuah simulasi penanganan kecelakaan lalu lintas massal yang digelar oleh Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta beserta instasi terkait seperti Dinas Kesehatan, Pemadam Kebakaran, Kepolisian, Palang Merah Indonesia, hingga tim SAR BPBD.
“Ini merupakan simulasi agar tim siaga kecelakaan ini sudah siap begitu ada insiden kecelakaan masal terjadi. Mereka harus terlatih bagaimana tindakan cepat dan tepat sehingga korban bisa ditangani dengan baik,” tutur Ketua Panitia simulasi penanganan kecelakaan lalu lintas masal, Dien Kalbuadin.
Ia menjelaskan tim penanganan kecelakaan masal dilatih menghadapi kepanikan lantaran banyaknya jumlah korban dengan kondisi luka yang beragam. Sebab itu tim pun harus berkoordinasi dengan baik satu sama lain dan dengan cepat mengambil keputusan. Peserta yang dilibatkan dalam simulasi tersebut sebanyak 81 orang. Selain dari petugas darurat keselakaan RS PKU Muhammadiyah, juga dilibatkan sejumlah peserta dari rumah sakit lainnya seperti RS PKU Muhammadiyah Cepu, Klinik Aisiyah Sragen, RS PKU Delanggu Klaten, RS Nirmalasuri Sukoharjo, RS Jati Husada Karanganyar, RS Islam Kustati Solo.
“Dengan integrasi penanganan seperti ini diharapkan lebih cepat korban bisa dibawa ke rumah sakit terdekat,” tuturnya.
Sumber: republika.co.id
Rumah Sakit Unair Jadi Percontohan RS PTN Se-Indonesia
Rumah Sakit Universitas Airlangga dijadikan model sebagai rumah sakit pendidikan bagi perguruan tinggi negeri lainnya di Indonesia. Hal ini diungkapkan Prof. Nasronuddin, Sp.PD., K-PTI, FINASIM, oleh Direktur RS Unair di sela-sela acara bertajuk “Forum Group Discussion: Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit Pendidikan dalam Menyongsong MEA” di hall lantai delapan, RS Unair, Senin (5/9/2016).
Acara FGD tersebut diselenggarakan oleh Komite Bersama Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Pendidikan yang merupakan gabungan dari pihak Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, dan pihak-pihak perguruan tinggi negeri yang memiliki rumah sakit akademik.
Acara ini dihadiri oleh Rektor Unair Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, perwakilan Kemenkes Dr. Ina Rosalina, dr., Sp.A (K)., M.Kes, MH.Kes., perwakilan Kemenristekdikti Ulfiandri, S.H., M.H., dan sejumlah pihak.
“Acara ini diselenggarakan oleh Komite Bersama dari Dikti dan Kemenkes untuk mendiskusikan pengelolaan rumah sakit PTN itu. Jadi, kita menentukan pola dan model pengelolaannya itu bagaimana. Jadi, RS Unair dijadikan pilot project. Kalau hasilnya bisa disepakati bersama, bisa diaplikasikan ke RS PTN yang lain,” kata Prof. Nasron.
Sebagai bagian dari perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, maka rumah sakit pendidikan juga menyelenggarakan tiga fungsi utama, yakni penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. Demi menjalankan fungsi dan tugas rumah sakit pendidikan, manajemen dari rumah sakit pendidikan tersebut perlu menyediakan dosen yang melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap mahasiswa. Oleh karena itu, salah satu hal yang dibahas dalam forum diskusi adalah perihal mengenai status kepegawaian.
Menurut Prof. Nasron, sumber daya manusia yang bekerja di RS PTN Pendidikan berasal dari Kemenkes dan Kemenristekdikti. Oleh karena itu, harus ada persamaan persepsi mengenai status kepegawaian. Di RS Unair sendiri, profesi dokter merangkap menjadi dosen.
Di bidang penelitian, RS Unair sendiri telah menyelenggarakan beberapa kali riset di Surabaya. Pada tahun 2013, tim peneliti mengadakan survey kasus demam berdarah di Surabaya. Pada tahun 2014 dan 2015, tim peneliti melakukan deteksi MERS pada jemaah haji embarkasi Juanda, Surabaya. Pada tahun 2016, tim peneliti melakukan penelitian infeksi virus Zika terhadap seratus penderita demam berdarah di Surabaya.
“Dari hasil penelitian, maka tidak ditemukan virus Zika pada seratus penderita DB itu. Seandainya ditemukan, maka kami (RS Unair) sudah siap untuk merawat,” ujar Prof. Nasron.
Diakui, RS PTN Pendidikan memang masih banyak mengalami keterbatasan. Di RS Unair sendiri, Prof. Nasron mengakui masih membutuhkan dukungan anggaran dari universitas. Karena ada banyak anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan fisik maupun pengajuan akreditasi. Terbukti, pada 2 September 2016 lalu, status RS Unair naik dari rumah sakit tipe C menjadi tipe B.
Ina perwakilan Kemenkes mengatakan, dengan adanya sederet prestasi maupun kemajuan yang telah dilakukan oleh manajemen RS Unair, maka diharapkan RS Unair bisa menjadi contoh bagi RS PTN Pendidikan yang lain. Ina menuturkan, pihak Kemenkes nantinya akan melihat rasio jumlah dosen dengan mahasiswa, dan jumlah variasi dan jenis kasus penyakit. Hal itu tertulis dalam Permenkes nomor 93 tahun 2015 tentang Rumah Sakit Pendidikan.
Selain masalah rasio, ada beberapa poin lain yang perlu diperhatikan, yakni perjanjian kerjasama antara rumah sakit pendidikan dengan fakultas kedokteran, maupun dengan afiliasi, serta keberadaan komite koordinasi pendidikan.
Prof. Nasih Rektor Unair dalam sambutannya mengatakan ada tiga hal yang perlu diperbaiki dalam manajemen pelayanan RS PTN Pendidikan. Pertama, adalah mendorong kemandirian. Kedua, optimalisasi sumber daya. Ketiga, menjaga serta membangun jejaring yang harmonis terutama dengan rumah sakit pendidikan jenis utama.(iss/ipg)
Sumber: suarasurabaya.net
Gedung Instalasi Kanker RSUP dr. Sardjito Diresmikan
Yogyakarta – Gedung Instalasi Kanker Terpadu Tulip Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Sardjito Yogyakarta diresmikan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Rabu (3/8K). Instalasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meyediakan sarana penanganan dan penatalaksanaan penderita kanker, berupa pusat-pusat pelayanan radioterapi di 15 RS pemerintah baik pusat maupun daerah, yaitu 10 di RS rujukan nasional, 2 RS provinsi, dan 3 RS regional.
Sebanyak 10 RS rujukan nasional adalah RSUP Adam Malik, RSUP M Djamil, RSUP M. Hoesin Palembang, RSUPN Ciptomangunkusumo, RSUP Hasan Sadikin, RSUP dr. Kariadi, RSUP dr. Sardjito, RSUP dr.Soetomo, RSUP Sanglah serta RSUP Wahidin Sudirohusodo. Sedangkan untuk 2 RS rujukan provinsi terdapat di RSUD Arifin Achmad dan RSUD Ulin Banjarmasin. Sementara 3 RS Rujukan Regional terdapat di RSUD dr Moewardi, RSUD Margono, dan RSUD dr. Saiful Anwar.
“Semoga keberadaan gedung ini dapat melengkapi dan memperkuat pelayanan RSUP dr. Sardjito. Ini merupakan bentuk perhatian pemerintah melayani masyarakat agar mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pelayanan atau pengobatan kanker,” kata Nila dalam acara yang juga dihadiri perwakilan WHO Indonesia, direktur RS vertikal, RSUD dan swasta, delegasi internasional Regional Asia-Pasifik, serta LSM.
Nila menjelaskan, kanker merupakan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang meningkat seiring peningkatan angka harapan hidup dan tingkat kesejahteraan. “Untuk itu, diperlukan adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau di seluruh Indonesia. Salah satu upaya pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan adalah dengan menyediakan sarana tingkat primary health care maupun spesialistik/rujukan,” ujar Nila.
Penyakit kanker, lanjut Nila, adalah salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Laporan International Agency for Research on Cancer (IARC) pada 2012 menunjukkan, terdapat 14 juta kasus baru kanker terjadi. Kasus tertinggi, 13% kanker paru-paru, 11,9% kanker payudara, dan 9% kanker usus. Kanker paru-paru merupakan penyebab terbanyak kematian dengan perkiraan 8,2 juta kematian, kemudian diikuti oleh kanker lambung, kanker hati, kolon dan kanker payudara. (IZN – pdpersi.co.id)
Sumber: pdpersi.co.id
60 Petugas Medis RSUD Kuala Kapuas Dilatih Padamkan Api
Kapuas – Antisipasi, dan upaya pemadaman api bila terjadi di lingkungan RSUD dr Soemarno Sosro Admojho, Kuala Kapuas, sebanyak 60 Petugas medis dan Karyawan mendapat pelatihan menanggulangi kebenaran. Pelatihan ini penting, agar pasien tidak panik, karena tim medis lebih tenang dan percaya diri untuk memadamkan api.
“Kalau situasi di RSUD kebakaran, mereka para petugas harus lebih tenang dan percaya diri, jangan sampai membuat suasana tambah gaduh, apalagi situasinya banyak pasien rawat nginap,” kata Rahmat M Noor, Sekretaris Balakar 545 Kapuas, Minggu (4/9/2016).
Pelatihan secara singkat lanjut Rahamat melibatkan instruktur dari pengurus Balakar 545 Kapuas, Sabtu (3/9/2016). Sebelum demo bagaimana caranya mengatasi kebakaran dengan skala kecil di semua ruangan, dilaksanakan semacam teori maupun masukan bagi karyawan oleh Direktur RSUD dr H Soemarno S, dr H Bawa Budi Raharja.
“Pelatihan singkat disebut untuk penanggulangan bencana kebakaran dan penetapan jalur evakuasi. Semua peserta diberikan cara penanggulangan secara dini melakukan pemadaman, sehingga tidak melebar ke tempat lain,” ungkapnya
Menurut Rahmat, tujuan dari pelatihan ini untuk akreditasi kelas RSUD mencapak K3RS. Disampaikan juga, hal itu sebagai contoh saat muncul api di salah satu ruangan
Rumah sakit, petugas medis maupun karyawan rumah sakit jangan panik. Lakukan dengan baik dan percaya diri untuk meraih tabung pemadam yang terdapat di semua ruangan atau sudut ruma sakit.
Materi diberikan oleh Balakar 545 Kapuas mengenai pengenalan jenis alat pemadam kebakaran alat pemadam api ringan (APAR).”Kami melatih mereka tentang penggunaan tabung pemadam yang ada di rumah sakit, yang mana mereka juga dilatih melakukan pemadaman secara dini pada saat api mulai muncul dengan skala kecil,”kata Rahmat.
Pantauan di lapangan, media yang digunakan munculnya api, seperti karung yang disiram bensin dengan dimasukkan ke dalam potongan drum bekas. Pada saat karung dibakar, maka muncul kepulas asap hitam dengan cahaya api yang cukup besar.
Di sini digambarkan seolah-olah terjadi kebakaran di salah satu ruangan rumah sakit. Maka diperlihatkan dengan cepat petugas rumah sakit mengambil tabung pemadam mini dan langsung dilakukan pemadaman. Dalam pelatihan diberikan cara membuka tombol alat atau tabung pemadam dengan cepat. Pelatihan ini mendapat respon yang luar biasa dari peserta. (DJEMMY NAPOLEON/N).
Sumber: borneonews.co.id
Sebagai Awal Menjadi RS Pendidikan FK Unaya, RSUD Meuraxa Terima 34 Dokter Muda
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Banda Aceh resmi menjadi rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh (FK Unaya). Penyerahan 34 mahasiswa co-assistant (co-ast) Unaya itu dilakukan Wakil Rektor II Unaya, Drs Saifuddin MPd kepada Direktur RSUD Meuraxa, Dr dr Syahrul SpS (K), Kamis (1/9) di rumah sakit tersebut.
Direktur RSUD Meuraxa, Dr dr Syahrul SpS(K) kepada Serambi mengatakan, para dokter muda (co-ast) Unaya akan memulai pendidikan profesi di rumah sakit Pemko Banda Aceh itu pada Senin (5/9) besok.
“Penyerahan 34 co-ast ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara Unaya dan RSUD Meuraxa, yang disepakati beberapa bulan lalu. Co-ast Unaya akan dilatih kemampuan mendiagnosis penyakit, keterampilan, komunikasi dokter, dalam variasi kasus,” kata Syahrul, seraya menjelaskan bahwa co-ast akan mengikuti pendidikan di RS Meuraxa selama dua tahun.
Dia berharap, kerja sama itu akan berdampak positif bagi RS Meuraxa sebagai wahana pendidikan, serta meningkatkan skill dokter yang dihasilkan Unaya. “Pasien di poli dapat digunakan untuk pendidikan kedokteran. Artinya, di samping fungsi pelayanan, RS Meuraxa juga menjalankan fungsi pendidikan,” jelasnya.
Syahrul menyebutkan, saat ini RSUD Meuraxa yang memiliki 18 poliklinik dikunjungi 800 hingga 1.000 pasien setiap harinya. “Jumlah itu cukup baik bagi pendidikan kedokteran. Kami memiliki 50 dokter spesialis yang siap mendidik mahasiswa co-ast,” kata dia, dan menganalogikan jika 1 dokter spesialis dapat mendidik 4 mahasiswa, artinya ada 200 mahasiswa FK yang bisa dididik di RS Meuraxa.
Ditambahkan, para co-ast tersebut nantinya akan disebar ke beberapa bagian (stase) besar seperti Bedah, Obgin, Anak, dan Penyakit Dalam. Mahasiswa FK Unaya juga dididik di bagian kecil seperti Saraf, THT, Mata, Kulit, dan Paru. “Co-ast Unaya akan menjadi prioritas kami, di samping juga ada beberapa co-ast Unsyiah dan Unimal yang belajar di sini,” ujarnya.
Sumber: abulyatama.ac.id
RS Bunda Klarifikasi Soal Keluhan Pasien BPJS
Besar keinginan Rumah Sakit Bunda untuk selalu memberi pelayanan yang maksimal terhadap setiap pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Dan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, juga sudah menjadi komitmen pihak RS Bunda.
“Kami juga punya komitmen yang besar untuk selalu mendukung program pembangunan pemerintah, terutama di bidang kesehatan. Dan tentu saja, komunikasi antara kami dengan pemerintah, sangatlah dibutuhkan. Dan kalau seandainya ada sedikit persoalan menyangkut pelayanan, setidaknya itu bisa kita komunikasikan bersama, lalu kemudian mencari solusinya,” ungkap Daniel Ranti, manajemen RS Bunda yang ditemui Radar Gorontalo, jumat (02/09).
Daniel kemudian memberi penjelasan detail sebagai bentuk klarifikasi atas keluhan pasien BPJS (pasien yang menggunakan fasilitas pelayanan BPJS Kesehatan, red) tentang pelayanan di rumah sakit tersebut. “Kita akan memberi penjelasan terkait dengan berita yang ada di koran. Menyangkut pasien yang mengeluhkan soal pembayaran Rp. 4 Juta lebih, kita sudah mengeceknya langsung ke BPJS. Dan pihak BPJS belum menerima laporan atas keluhan tersebut. Dan kita pihak rumah sakit pun, juga tidak menerima keluhan tersebut. Makanya, saya kaget ketika apa yang dikeluhkan pasien ini, sudah muncul di koran,” kata Daniel.
Untuk lebih memperjelas duduk persoalan atas apa yang dikeluhkan pasien, Daniel sedikit menceritakan kronologisnya. “Sesuai ketentuan dari BPJS, kalau pasien mendapatkan pelayanan sebagaimana yang menjadi haknya, maka tak ada biaya yang dikenakan dan tidak ada iur biaya. Dan kita tentu, tidak berani melanggar itu. Pasien yang bersangkutan, mendapatkan haknya di kelas 2. Tapi karena pada saat pasien itu masuk di RS Bunda saat semua ruangan kelas 2 penuh dan sudah terisi semua, maka kami pun menawarkan kepada pasien tersebut untuk memilih, apakah di ruang kelas 3 atau VIP atau VIP Utama. Pasien diberikan keleluasaan untuk memilih. Bahkan kami menyampaikan kalau pun tidak memilih ruangan yang ada, pasien boleh memilih rumah sakit lain dan pihak rumah sakit mengarahkannya untuk dirujuk. Dan kita akan membuat rujukkanya. Mekanisme ini, sesuai dengan apa yang diatur dalam regulasi BPJS Kesehatan,” jelas Daniel.
Karena ruangan kelas 2 sudah penuh, lanjut Daniel, tanpa ada unsur paksaan dari pihak rumah sakit, pasien melalui istrinya akhirnya memilih untuk menempati ruang VIP Utama di hari pertama. Dan itu, ada surat pernyataannya. “Besoknya, pasien meminta turun ke ruang VIP. Dan sampai keluar rumah sakit, pasien tersebut, tidak mendapatkan haknya di kelas 2. Karena ruang kelas 2 sampai dengan saat pasien keluar, masih penuh,” kata Daniel.
Kepada pihak pasien, juga diberikan penjelasan secara gamblang dan jelas tentang adanya konsekuensi pembayaran selisih klaim, dan bukan selisih dari tarif ruang kelas ke VIP. “Untuk biayanya, sebagaimana aturan BPJS, harus sesuai dengan diagnosa penyakit yang diderita. Hitungan di BPJS, adalah total rumah sakit keseluruhan, dikurangi dengan paket. Kalau sistem paket, walaupun dirawat sehari atau seminggu, tetap itu paketnya. Karena yang dilihat bukan hitungan hari. Dan aturan itu berlaku untuk semua RS Tipe D,” jelas salah satu karyawan RS Bunda yang menangani administrasi pelayanan BPJS Kesehatan.
Pada bagian lain dari wawacara tersebut, Daniel Ranti juga menjelaskan tentang adanya kebijakan-kebijakan yang bisa dilakukan pihak RS Bunda, terkait dengan upaya mencarikan solusi terhadap masalah pembiayaan yang dihadapi pasien. “Sejak awal didirikan rumah sakit ini, sampai pada adanya kerjasama dengan BPJS yang sudah berjalan 2 tahun 8 bulan, ada niat yang tulus untuk membantu masyarakat. Karena memang disadari, rumah sakit juga harus punya fungsi sosial, dan rumah sakit mengemban misi kemanusiaan. Jadi, tak ada niat kita untuk menyusahkan masyarakat. Masih ada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bisa kita berikan selama ada komunikasi antara pihak rumah sakit dan pasien atau keluarga pasien,” kata Daniel. Dan mengenai selisih Rp. 1 Juta untuk pasien lainnya yang juga sempat dikeluhkan, Daniel mengatakan, bahwa itu sudah terselesaikan. (rg-40)
Sumber: radargorontalo.com
Semua Rumah Sakit Indonesia Bisa Menangani Zika
JAKARTA — Semua fasilitas kesehatan di Indonesia diminta bersiaga menangani pasien yang diduga terserang virus zika menyusul merebaknya infeksi virus itu di Singapura. Itu karena penanganan zikatak perlu kompetensi khusus dan sama dengan penanganan demam berdarah dengue.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh, Jumat (2/9), di Jakarta, mengatakan, semua fasilitas kesehatan, khususnya rumah sakit yang bisa menangani demam berdarah, juga menangani penyakit zika. ”Tak perlu kompetensi khusus,” ujarnya.
Untuk menangkal penyebaran zika dari Singapura, Kemenkes mengandalkan pemberian kartu peringatan kesehatan yang diberikan kepada penumpang yang datang dari Singapura dan memfungsikan pemindai suhu tubuh. Selain efektif mendeteksi penyebaran zika, penggunaan pemindai tubuh dinilai praktis.
Seseorang yang tertapis di pintu masuk Indonesia lewat jalur laut dan udara dengan gejala seperti zika diobservasi. Sampel darahnya diperiksa demi memastikan orang itu terinfeksi zika atau tidak. Jika positif, orang itu dirujuk ke rumah sakit terdekat.
Tidak seperti demam berdarah yang menyebabkan kegawatan serius seperti perdarahan, infeksi zika memiliki tingkat kesakitan rendah. Belum ada laporan pasien meninggal karena zika. Dampak kesehatan paling berbahaya dari zika ialah mikrosefali dan sindrom Guillian-Barre.
Virus zika akan mati jika saat ada di tubuh manusia lebih dari masa inkubasinya (7-10 hari) tidak ada vektor yang menyebarkannya ke tubuh manusia lain. ”Pemberantasan sarang nyamuk efektif mengendalikan penyakit yang ditularkan nyamuk,” ujar Subuh.
Di sejumlah daerah, pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan penyebaran zika. Dinas Kesehatan Provinsi Banten, misalnya, mengeluarkan edaran bagi pemerintah kabupaten atau kota, termasuk pengelola puskesmas, agar mewaspadai zika, termasuk menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk.
Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Banten Didin Aliyudin, pihaknya meminta dinkes kabupaten atau kota di Banten berkoordinasi lintas sektor.
Sumber: kompas.com















