| Rumah Sakit Syariah di Indonesia
Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk mayoritas muslim. Hal ini berpengaruh dengan kebutuhan akan pelayanan yang sesuai dengan ajaran Islam, khususnya dalam pelayanan kesehatan. Seorang muslim melaksanakan ajaran Islam tidak hanya yang berhubungan dengan Tuhannya atau sering disebut ibadah mahdhoh, namun seorang muslim juga tidak boleh melupakan ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia atau sering disebut ibadah mu’amalah. Dalam bermu’amalah juga harus sesuai dengan syariat Islam, karena seorang muslim harus memeluk Islam secara menyeluruh (kaffah). Hal ini termasuk dalam akses layanan kesehatan. Sehingga fasilitas kesehatan sangat dibutuhkan oleh masyarakat muslim, namun apakah pelayanan kesehatan di Indonesia sudah sesuai dengan syariat Islam? Pertanyaan tersebut mungkin pernah terlintas dibenak kita sebagai seorang muslim. Online Single Submission (OSS) untuk Perizinan Rumah Sakit
Sumber: http://oss.ekon.go.id/web Presiden RI telah menandatangani Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik. Izin mendirikan Rumah Sakit dan Izin Operasional Rumah Sakit termasuk dalam perizinan yang prosesnya dilaksanakan melalui layanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission (OSS). Baca secara lengkap dalam salinan PP ini mengenai berbagai perizinan di sektor kesehatan yang melalui prosedur OSS. Reportase Kuba (2): Upaya Kemajuan Layanan Kesehatan Kuba
Masih berkaitan dengan Kuba, minggu lalu telah digambarkan kondisi umum Kuba dan pada tulisan kali ini lebih membahas pada layanan kesehatan di Kuba. Pada pertengahan 1970-an, indikator kesehatan di Kuba terlihat sudah mulai membaik setelah embargo 5 dekade. Kuba hanya menghabiskan kurang dari $ 2.000 per orang untuk kesehatan, namun harapan hidup penduduknya sebanding dengan Amerika Serikat yang menghabiskan sekitar $ 9.000 per kapita untuk kesehatan. (harapan hidup Kuba : 79.54 tahun, Amerika Serikat : 78.74 tahun, 2015). Sistem kesehatan di Kuba juga jauh lebih adil karena setiap orang dijamin akses ke layanan kesehatan yang berkualitas sama oleh pemerintah. Kuba mulai memberi prioritas lebih tinggi terhadap pusat penelitian kesehatan, fasilitas kesehatan tersier dan diperluas dengan akreditasi spesialisasi medik untuk 55 bidang, dan mendirikan institut nasional sebagai center of excellence. Namun, Kuba masih harus menghadapi tantangan utama yaitu bagaimana berupaya lebih dengan keterbatasan sumber daya setelah adanya resesi global dan embargo, selain itu penduduk menua dengan proporsi 17.4% yang tentu saja berkaitan dengan penyakit kronik. Reportase Kuba (1): Kuba, Keunikan dan Tantangannya Global Learning 2018, The Equity Initiative 26 Mei – 2 Juni 2018
Mengunjungi Kuba merupakan suatu hal yang menarik untuk belajar mengenai ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kesehatan. Kuba merupakan negara yang menarik dari sisi sejarah dan politik yang dampaknya mempengaruhi kondisi kesehatan Kuba. Selama 5 dekade, Kuba bergumul dengan dominasi Spanyol, Amerika Serikat, dan Uni Soviet, berusaha untuk tidak tergantung secara politik dan ekonomi. Kuba telah memulai reformasi ekonomi dan sektor privat semakin bertumbuh. Transisi ekonomi semestinya mempengaruhi perbaikan sistem kesehatan di Kuba. Namun sampai saat ini Kuba masih menghadapi berbagai tantangan terkait ekonomi domestik, regional dan global, kebijakan bilateral antara Kuba dan Amerika Serikat, remunerasi dan migrasi SDM kesehatan, kebijakan kesehatan, urbanisasi, ketahanan pangan, tanggung jawab individu dan keluarga untuk kesehatan sendiri, populasi lansia, penyakit kronik, ancaman bencana, maupun penyakit endemik. Webinar Keunggulan smart hospital salah satunya adalah adanya integrasi dari berbagai lini baik internal rumah sakit maupun ekosistem yang mendukung smart hospital, serta berkolaborasi secara efektif untuk menghasilkan pelayanan yang optimal. Integrasi yang baik perlu didukung adanya konektifitas antara hardware dan software. Di dalam industri rumah sakit banyak pengembangan teknologi dengan berbagai macam jenis software serta dengan berbagai macam bahasa pemrograman. Hal ini yang menjadi tantangan sekaligus hambatan bagi pengembangan smart hospital apabila tidak dikelola secara baik. Webinar ini akan akan diselenggarakan pada hari Jumat, 6 Juli 2018, pukul 09.00-11.00 WIB. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Jurnal: Analisa Segmentasi Pasar Rumah Sakit X |
|
Permasalahan Limbah Rumah Sakit di Indonesia |
Reportase Kuba (2): Upaya Kemajuan Layanan Kesehatan Kuba
Masih berkaitan dengan Kuba, minggu lalu telah digambarkan kondisi umum Kuba dan pada tulisan kali ini lebih membahas pada layanan kesehatan di Kuba. Pada pertengahan 1970-an, indikator kesehatan di Kuba terlihat sudah mulai membaik setelah embargo 5 dekade. Namun yang masih menjadi permasalahan adalah waktu tunggu pasien yang lama dan waktu konsultasi yang terlalu pendek dengan dokter. Layanan preventif dan kuratif tidak terintegrasi dengan baik, koordinasi dan kontinuitas perawatan medis tidak memadai, sistem masih terlalu berorientasi pada rumah sakit, dan dokter lebih memilih spesialisasi daripada layanan primer. Kemudian pada 1974, pemerintah Kuba membuat model baru berbasis poliklinik masyarakat yang menempatkan spesialis kandungan kebidanan, spesialis anak, dan spesialis penyakit dalam, serta dokter gigi di setiap poliklinik tersebut.
Memasuki tahun 1980-an, Kuba mulai memberi prioritas lebih tinggi terhadap pusat penelitian kesehatan, fasilitas kesehatan tersier dan diperluas dengan akreditasi spesialisasi medik untuk 55 bidang, dan mendirikan institut nasional sebagai center of excellence. Kesemuanya itu dipercepat dengan investasi di bidang bioteknologi, mengembangkan program skrining prenatal, transplantasi organ, dan menyediakan layanan MRI yang pertama di Amerika Latin. Bersamaan dengan hal tersebut, diterapkan jaminan kesehatan nasional untuk meningkatkan kapasitas teknis dan layanan kesehatan secara lebih efisien sehingga dapat meningkatkan status kesehatan.
Di Kuba terdapat 12 institut riset, 265 rumah sakit, 488 poliklinik, yang didukung oleh dokter keluarga dan perawat seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Piramida Kesehatan Kuba

Sumber : C. William Keck, MD, MPH, and Gail A. Reed, MS, The Curious Case of Cuba, American Journal of Public Health, August 2012, Vol 102, No. 8.
Poliklinik merupakan fasilitas kesehatan primer di Kuba yang menyediakan layanan spesialis, layanan gigi, laboratorium, prosedur diagnostik, dan layanan rehabilitasi. Poliklinik juga menyediakan layanan rawat inap. Selain poliklinik, terdapat 33 rumah bersalin untuk ibu hamil resiko tinggi dan 234 senior day care. Kemudian fasilitas kesehatan sekunder adalah rumah sakit. Level teratas adalah rumah sakit khusus di tingkat provinsi dan 14 institut yang melakukan penelitian serta perawatan klinis di bidang tertentu seperti oncology institute, laparascopy surgery institute, transplant institute, maupun geriatric medical institute. Jumlah rumah sakit terbanyak ada di Havana yaitu 45 rumah sakit yang melayani 2.2 juta penduduk, sedangkan di provinsi Cienfuegos dengan jumlah paling sedikit yaitu 4 rumah sakit melayani 406,000 penduduk. Setidaknya 1 provinsi memiliki 1 rumah sakit umum, 1 rumah sakit ibu melahirkan, 1 rumah sakit anak, bahkan lebih.
Kuba menerapkan proses Continuous Assessment and Risk Evaluation (CARE) untuk memastikan riwayat medis, pemeriksaan fisik pasien, lingkungan rumah, dan karakteristik lingkungan dimana pasien tinggal dapat digunakan untuk memantau kesehatan individu dan keluarga. Penduduk diklasifikasikan berdasar penyakit dan faktor resiko seperti pasien perokok, obesitas, diabetes, hipertensi, dan lain-lain. Proses tersebut cukup memakan waktu tetapi penting untuk rencana intervensi dalam mempromosikan kesehatan, memodifikasi faktor resiko, menerapkan obat yang sesuai, dan terapi terintegrasi untuk masalah kesehatan tersebut.
Dokter keluarga dan perawat melakukan kunjungan tahunan ke rumah – rumah penduduk bahkan untuk penduduk dengan penyakit kronis dilakukan kunjungan rumah minimal 3 bulan sekali. Mereka secara regular berkonsultasi untuk kasus-kasus tertentu kepada spesialis layanan primer di poliklinik mereka dan akan merujuk pasien jika diperlukan. Tidak ada catatan elektronik, hanya kertas, tetapi penyedia layanan kesehatan saling berkomunikasi untuk menggambarkan kondisi pasien. Jadi model telemedicine yang diterapkan di Kuba belum seperti yang diterapkan di negara lain. Mereka berkomunikasi via telepon untuk merujuk pasiennya. Teleradiologi juga belum dapat diterapkan karena sebagain besar masih berbasis pada kertas dan terbatasnya koneksi internet di negara ini.
Dokter keluarga, perawat, dan poliklinik bersama-sama melaui proses akreditasi agar dapat menjadi fasilitas pendidikan. Terdapat 488 poliklinik di seluruh Kuba dimana setiap poliklinik melayani sekitar 20.000 – 60.000 penduduk. Terdapat sekitar 20 – 40 dokter keluarga dan perawat pada masing-masing poliklinik. Basic Work Group terdiri dari 1 pimpinan poliklinik, 1 kepala perawat, 1 spesialis penyakit dalam, 1 spesialis anak, 1 spesialis kandungan kebidanan, 1 psikolog, dan di beberapa kasus terdapat 1 pekerja sosial. Mereka bertugas untuk memantau status kesehatan serta mengevaluasi hasil kerja dokter keluarga dan perawat.
Kunjungan Dokter per Fasilitas Kesehatan di Kuba

Sumber : C. William Keck, MD, MPH, and Gail A. Reed, MS, The Curious Case of Cuba, American Journal of Public Health, August 2012, Vol 102, No. 8.
Kuba hanya menghabiskan kurang dari $ 2.000 per orang untuk kesehatan, namun harapan hidup penduduknya sebanding dengan Amerika Serikat yang menghabiskan sekitar $ 9.000 per kapita untuk kesehatan (harapan hidup Kuba : 79.54tahun, Amerika Serikat : 78.74tahun, 2015). Sistem kesehatan di Kuba juga jauh lebih adil karena setiap orang dijamin akses ke layanan kesehatan yang berkualitas sama oleh pemerintah.
Dokter di Kuba bekerja untuk pemerintah karena semua fasilitas kesehatan dimiliki oleh pemerintah mulai dari level primer hingga tersier. Gaji yang mereka dapatkan $30 / bulan sehingga menjadikan mereka mempunyai pekerjaan sampingan. Seperti yang pernah disampaikan pada tulisan sebelumnya, Kuba lebih banyak mengirimkan tenaga kesehatan profesionalnya untuk bekerja di luar negeri karena salah satu hal yang menarik adalah dari sisi kompensasi. Seorang dokter dapat menghasilkan gaji USD 4,250 per bulan (10% untuk dokter dan sisanya disetor ke pemerintah). Pemerintah dapat melakukan hal tersebut karena mereka mempunyai kebijakan tersendiri.
Pelatihan profesi kesehatan dikelola oleh Kementerian Kesehatan Masyarakat (MINSAP) yang bertanggung jawab terhadap pengetahuan dan kompetensi masing-masing sekolah profesi kesehatan. Sekolah kedokteran dan keperawatan provinsi juga dibentuk untuk mendesentralisasikan pelatihan dan mendorong para profesional untuk berlatih di daerah asal mereka yang mayoritas merupakan daerah rural. Insentif yang diberikan oleh pemerintah adalah biaya kuliah gratis dengan prestasi akademik sebagai prasyaratnya.
Hal ini menjadikan Kuba mempunyai ketersediaan dokter yang tersebar baik di daerah urban maupun rural dengan perbandingan 1 : 122 penduduk. Berbeda dengan negara lain, pelatihan mereka tidak bergantung pada teknologi dan pengujian yang mahal. Sebaliknya, mereka belajar untuk mendiagnosis penyakit dengan pemeriksaan fisik komprehensif dan bercakap-cakap dengan pasien. Hasilnya mereka memahami 90% tentang masalah kesehatan. Mereka juga belajar melibatkan tenaga kesehatan tradisional untuk perawatan pasien. Meskipun Kuba juga masih menghadapi permasalahan penyebaran rumah sakit yang belum merata di setiap wilayahnya, namun setidaknya fasilitas kesehatan primer sudah tersedia di setiap wilayah.
Medical Tourism juga dikembangkan di Kuba dengan adanya “Cira Garcia” International Clinic yang merupakan referensi bagi pasien-pasien asing. Di sisi lain, Kuba masih harus menghadapi tantangan utama yaitu bagaimana berupaya lebih dengan keterbatasan sumber daya setelah adanya resesi global dan embargo, selain itu penduduk menua dengan proporsi 17.4% yang tentu saja berkaitan dengan penyakit kronik yang diderita maupun rehabilitasinya. Untuk menghadapi penyakit kronik, Kuba lebih banyak melakukan tindakan preventif. Mereka tidak dapat melayani dengan alat medis canggih seperti misalnya penanganan penyakit kanker karena untuk mengimpor alat-alat tersebut membutuhkan biaya sangat tinggi. Kesemuanya itu terkait dari dampak embargo terhadap Kuba.
Hal yang dapat kita pelajari adalah model perawatan primer yang efektif dan holistik serta berhasil dilaksanakan dengan sumber daya keuangan yang sangat terbatas. Selain itu keberhasilan Kuba dapat dikaitkan dengan jumlah dokter per kapita terbesar di dunia serta model pembelajaran atau pelatihan bagi para dokter. Namun di sisi lain, layanan kesehatan di Kuba tidak memiliki pelayanan kesehatan tersier yang efektif terutama dalam hal layanan spesialisasi dan akses terbatas ke jenis obat. Kemajuan teknologi belum dapat diaplikasikan di negara ini karena keterbatasan pendanaan akibat dampak embargo. Meskipun pemerintah Kuba sudah terbuka saat ini, namun dari pengalaman tidaklah mudah bagi kelompok asing untuk kunjungan studi ke fasilitas layanan kesehatan karena kebijakan Pemerintah Kuba yang dapat berubah tiba-tiba. (Elisabeth Listyani)
Sumber :
Maureen Bisognano, 3 Ways Cuba’s Health System Is Designed for the Triple Aim, Institute for Healthcare Improvement, 2016.
Bill Frist, Cuba’s Most Valuable Export: Its Healthcare Expertise, Published in Forbes Magazine , 2015.
William Keck, MD, MPH, and Gail A. Reed, MS, The Curious Case of Cuba, American Journal of Public Health, August 2012, Vol 102, No. 8.
Dr. Marcelino Feal, Cuba Health System Presentation, May 29, 2018.
RSUD Beltim Berikan Layanan Telepon Gratis Bagi Pasien
BELITUNG TIMUR – Guna memudahkan layanan komunikasi untuk pasien, UPT RSUD Belitung Timur menyediakan layanan telepon gratis. Layanan telepon gratis yang bekerjasama dengan XL ini disiapkan untuk seluruh pasienmaupun keluarga pasien yang berobat di UPT RSUD Belitung Timur
Humas RSUD Beltim Triaji Wibowo menyampaikan, pelayanan ini dimaksudkan untuk memudahkan pasien maupun keluarga pasien menghubungi sanak familynya dalam keperluan darurat.
“Layanan ini terdapat di dua titik, di UGD dan rawat inap dan kami berharap pasien dan keluarga dapat terbantu dalam keadaan darurat,” Ujar Aji kepada Posbelitung.co, Rabu (27/6/2018).
Aji menceritakan, sebelum adanya layanan ini pasien yang tidak membawa hp atau kehabisan pulsa kesulitan untuk menghubungi keluarga apabila terjadi musibah. “Dengan adanya layanan ini diharapkan dapat lebih membantu karena telepon dan pulsanya sudah disediakan secara gratis,” kata aji.
Fasilitas layanan telepon gratis ini sudah sediakan sejak beberapa minggu lalu, namun masyarakat masih banyak belum mengetahui, sehingga penggunaan layanan ini belum maksimal.
Warga Kampung Arab, Manggar Yesi (37) ketika menjenguk temannya yang sakit, saat mengunakan layanan telepon gratis di RSUD merasa terbantu dengan adanya fasilitas tersebut.
“Sangat membantu, apa lagi kalau kehabisan pulsa,” ujar Yesi kepada Posbelitung.(*)
Sumber: tribunnews.com
Pertama di Indonesia, RSUD Abdul Moeloek Terapkan BPJS Reservasi On Line
BANDAR LAMPUNG — Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung melakukan terobosan dengan menerapkan Reservasi Online support system (ROSS).
Dengan sistem ini pendaftaran pasien bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja pasien tersebut berada.
ROSS Merupakan solusi untuk memberi ruang yang lebih luas terhadap proses registrasi atau pendaftaran pasien via online untuk semua jenis pendaftaran pasien, baik pasien baru atau lama dengan pembiayaan pribadi maupun pasien peserta BPJS yang terintegrasi dengan Rumah sakit Tipe C dan BPJS.
Kepala Sub Bagian Humas RSUDAM Akhmad Sapry mengatakan aplikasi ini diperuntukkan baik bagi pasien umum maupun pasien BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dan berlaku untuk klinik rawat jalan.
Caranya pasien disediakan Media elektronik yang terhubung atau terkoneksi dengan internet. Pasien pribadi atau umum melampirkan KTP Lama, Kartu Berobat Pasien (No. Rekam Medik) RSAM, juga BPJS: Baru / Lama. Selain itu dilampirkan Kartu Peserta BPJS Aktif (No. Peserta BPJS), KTP, No. Surat Rujukan Tipe C Pasien Asuransi lainnya. Juga KTP, No Kartu Peserta Asuransi Lama: Kartu Berobat Pasien (No. Rekam Medik) RSAM.
“Reservasi Online dapat dilakukan H-3 sampai dengan H-1 dari rencana pasien akan melakukan kunjungan (berobat). Pasien harus melapor ke loket reservasi online pukul 07.30 WIB sampai dengan 08:30 WIB pada tanggal berobat yang sudah ditentukan,” kata Akhmad Sapry.
Sapry juga mengatakan reservasi online merupakan pioneer dalam penerapan Reservasi Online peserta BPJS di Indonesia. Aplikasi ini salah satu bentuk kemajuan dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dalam pendaftaran pasien sehingga dapat memudahkan masyarakat Provinsi Lampung dalam Mengakses Pelayanan Kesehatan di RSUDAM.
Direktur Utama RSUDAM dr. Hery Djoko Subandriyo,MKM mengatakan ROSS digagas untuk percepatan dan peningkatan mutu pelayanan pendaftaran pasien.
Sistem ini bermanfaat untuk menjamin kepastian pasien mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis keahlian yang diperlukan penanganan lebih lanjut dari pasien tersebut sehingga menjadi bagian penting untuk mencapai RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Sahabat Masyarakat Menuju Lampung Sehat.
Dengan adanya Reservasi pendaftaran pasien secara online ini Bapak Gubernur Lampung berharap masyarakat yang dirujuk ke RUSDAM dapat menggunakan aplikasi ini. “Semoga dengan hadirnya Aplikasi ini kami dapat memberikan pelayanan bagi masyarakat Lampung,” tegas Gubernur Lampung. (Rls).
Sumber: tribunnews.com
Kuba, Keunikan dan Tantangannya
Reportase Kuba (1)
Kuba, Keunikan dan Tantangannya
Global Learning 2018
The Equity Initiative
26 Mei – 2 Juni 2018
Havana, Kuba
Kuba menjadi negara yang menarik untuk dikunjungi dan dipelajari terkait aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kesehatan. Selain itu, Kuba juga menarik dari sisi sejarah dan politik yang dampaknya mempengaruhi kondisi kesehatan Kuba. Selama 5 dekade, Kuba bergumul dengan dominasi Spanyol, Amerika Serikat, dan Uni Soviet, berusaha untuk tidak tergantung secara politik dan ekonomi. Meskipun Kuba telah memproklamirkan kemerdekaan dari Spanyol pada 1868 namun mereka masih harus berjuang untuk melepaskan diri dari dominasi asing. Pertengahan 1950-an dominasi Amerika Serikat masih sangat kental terlihat dari kepemilikan terhadap 90% jasa telekomunikasi dan listrik, 50% jalan raya publik, 40% industri baru gula, dan 23% industri non gula. Hampir 80% produksi gula Kuba diekspor ke Amerika Serikat dan 1/3 produksi beras Amerika Serikat diekspor ke Kuba. Hubungan internasional Cuba setelah 1959 lebih cenderung mendekat pada Uni Soviet. Namun hubungan Kuba dengan Uni Soviet tidak akan pernah sama spesialnya dengan Amerika Serikat.

Central Park dan Old Havana (Dok. Pribadi)
Kuba telah memulai reformasi ekonomi dan sektor privat semakin bertumbuh. Kuba saat ini lebih modern di bidang ekonomi, namun 75% ekonomi tetap dikuasai oleh pemerintah. Selain itu, Kuba masih menghadapi beberapa isu ketidaksetaraan dari sisi sosial ekonomi, seperti penurunan daya beli karena peningkatan harga – harga, sistem mata uang ganda, sistem pasar ganda seperti perbedaan harga, mata uang, dan kualitas produk, diversifikasi sumber pendapatan, dan indeks pembangunan manusia. Mata uang ganda memang sangat mempengaruhi kondisi ekonomi di negara ini. Pertumbuhan ekonomi sebesar 2% tidak akan cukup untuk meningkatkan perekonomian. Embargo yang pernah diterapkan mendorong sektor privat semakin bertumbuh.
Transisi ekonomi semestinya mempengaruhi perbaikan sistem kesehatan di Kuba. Namun pemerintah Kuba masih menghadapi tantangan dalam mengelola sektor privat yang bertumbuh sangat pesat dibandingkan sektor publik. Seperti contoh gaji dokter rata-rata kurang lebih $30 per bulan dibandingkan dengan seseorang yang bekerja di sektor pariwisata dapat memperoleh pendapatan ratusan dolar per bulan. Di sisi lain, investasi di sisi kesehatan sangatlah tinggi. Embargo selama 50 tahun mempengaruhi kondisi ekonomi termasuk untuk mengimpor teknologi kesehatan maupun material yang dibutuhkan untuk industri farmasi. Untuk itulah, Kuba lebih memperkuat kesehatan di tingkat dasar. Sektor biofarmasi mengembangkan berbagai vaksin untuk mendukung kesehatan primer. Sistem kesehatan di Kuba saat ini merupakan pekerjaan yang masih terus berlanjut. Menurut Gail A. Reed, Executive Director, MEDICC Review, dalam sesi Cuban Universal Health Care System Achievements and Challenges, Kuba masih berupaya untuk memperbaiki status kesehatannya sejak 1959.
Pada 1959 – 1989 akses kesehatan mulai dapat dijangkau penduduk di daerah pedesaaan dan pegunungan. Selain itu, pemerintah melakukan program sosial seperti reformasi agraria dan kampanye literasi. Memperkuat dokter keluarga dan perawat di klinik kesehatan masyarakat, mengintegrasikan tindakan preventif, perawatan, dan riset. Tenaga profesional kesehatan bertambah dari 6,000 orang menjadi 35,000 orang, bidang spesialis yang dulunya terbatas dikembangkan menjadi 55 spesialis dengan bidang family medicine yang dikembangkan terlebih dulu. Satu sekolah kedokteran dengan kurikulum biomedik menjadi 14 sekolah dengan kurikulum biomedik dan kesehatan masyarakat. Dulu tujuan nasional belum dirumuskan, namun saat ini terdapat 4 tujuan utama yang menjadi panduan yaitu kesehatan ibu dan anak, penyakit infeksius, penyakit kronik, dan kesehatan lansia. Data yang dulunya tidak dapat diandalkan kemudian menjadi sistem peringatan dini secara epidemiologi. Penggunaan teknologi dulunya tersentralisasi menjadi desentralisasi. Riset medik dikembangkan menjadi prioritas untuk kesehatan masyarakat dan memperoleh pendapatan dari riset tersebut. Cakupan kesehatan nasional menjadi kontribusi internasional.
Sayangnya komitmen untuk meningkatkan status kesehatan terganjal kejatuhan ekonomi Kuba dalam kurun waktu 1990 – 2000. Pada periode 1990 – 1992 Kuba kehilangan 85% perdagangan internasionalnya, ditambah dengan embargo dari Amerika Serikat yang semakin ketat pada 1992. Selama 1989 – 1993 perekonomian Kuba menyusut sebesar 35%. Keperluan pendanaan untuk bidang kesehatan meningkat sebesar 70%, sementara asupan kalori per hari menurun sebesar 33% dan protein sebesar 39%. Namun yang menjadi paradoks dari kondisi ekonomi tersebut ditunjukkan dengan indikator kesehatan yang membaik. Angka kematian bayi sebesar 10.7 (1990) – 9.4 (1995) – 6.5 (2002) per 1,000 kelahiran. Angka kematian di bawah usia 5 tahun sebesar 13.2 (1990) – 12.5 (1995) – 8.1 (2002) per 1,000 kelahiran hidup. Angka harapan hidup sebesar 75.2 (1989) – 74.8 (1995) – 76.2 (2002). Hal tersebut dikarenakan adanya jaringan pengaman, yaitu kesehatan sebagai prioritas, sumber daya dikonsentrasikan pada kelompok rentan, sumber daya manusia sangat terlatih dan berdedikasi tinggi, menerapkan program the doctor next door yaitu komunitas berorientasi kesehatan primer dengan partisipasi aktif masyarakat, dan status kesehatan merupakan dasar solid untuk menentukan kondisi sosial.
Berdasarkan studi Human Development and Equity in Cuba, UNDP, 1999 mengungkapkan bahwa dari 25 negara bagian di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa Kuba merupakan negara dengan kondisi kesehatan terbaik diantara negara-negara Amerika Latin dan Karibia. Selain itu merupakan negara dengan sumber daya yang paling efektif meskipun jarang ada investasi di sektor kesehatan.
Menghadapi kondisi perekonomian tersebut Kuba melakukan berbagai prioritas pada 2000 – 2017 yaitu memperbaiki infrastruktur, publik mulai puas dengan jasa pelayanan pemerintah, kerja sama global seimbang dengan kebutuhan dalam negeri, dan strategi transformasi kesehatan terhadap MDG’s. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel berikut namun apabila dibandingkan dengan status kesehatan di Indonesia sepertinya Indonesia masih perlu upaya perbaikan untuk meningkatkan derajat kesehatannya walaupun angka – angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung karena Kuba dan Indonesia mempunyai kondisi yang berbeda.
Status Kesehatan di Cuba dan Indonesia
| Keterangan | Cuba | Indonesia |
| Tahun 2017 | ||
| Angka melek huruf | 100% | 95.50% |
| Perbaikan sumber air | 95.20% | 72.40% |
| Angka kematian bayi (per 1,000 kelahiran hidup) | 4 | 22.23 (tahun 2015) |
| Kelangsungan hidup balita | 99.50% | AKABA : 26.29 / 1,000 kelahiran hidup |
| Angka kematian ibu melahirkan (per 100,000 kelahiran hidup) | 38.3 (21.7 direct / 16.5 indirect) | 305 |
| Angka harapan hidup | 80 tahun (81 tahun wanita) | 71.06 |
| Penyebab utama kematian | penyakit jantung / kanker | penyakit jantung |
Sumber : Gail A. Reed, Cuba’s Health System, A Work in Progress, Profil Kesehatan Indonesia 2016, Data dan Informasi Kesehatan Indonesia 2017, www.bps.go.id.
Kuba juga terkenal dengan ekspor tenaga medis ke luar negeri. Dalam hal kerja sama kesehatan secara internasional untuk jangka panjang Kuba telah mengirimkan 55,000 tenaga kesehatan profesional yang melayani 60 negara. Pada 2018 sebanyak 407,000 tenaga kesehatan profesional telah dikirim ke 164 negara. Selain itu pada tahun sebelumnya yaitu 2015 sebanyak 41 tim telah membantu dalam program penanggulangan bencana dan darurat medis di 24 negara (Henry Reeve Emergency Medical Contingent) dan pada 2014 sebanyak 39,000 dokter asing dari 129 negara telah dilatih di Kuba, termasuk lebih dari 28,000 lulusan Latin American Medical School, Havana yang didirikan pada 1999.
Untuk kompensasi dokter Kuba yang dikirim ke luar negeri, semisal Brazil membayar 10% dari USD 4,250 gaji per bulan (sisanya disetor ke Pemerintah Cuba). Nominal tersebut dirasa masih lebih tinggi dibandingkan dengan yang mereka dapatkan di dalam negeri. Mereka menganggap gaji mereka lebih tinggi, dapat menabung, dapat membeli barang kebutuhan sehari-hari, dan mempunyai hak istimewa di negeri sendiri. Berikut merupakan sumber daya kesehatan yang tersedia di Kuba. Meskipun sistem kesehatan di Kuba dan Indonesia hampir sama, namun kondisi di Kuba dan Indonesia tentunya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Hal tersebut karena perbedaan geografi, demografi, ekonomi, sosial, dan politik.
Kondisi Sumber Daya Kesehatan di Cuba dan Indonesia
| Keterangan | Cuba | Indonesia |
| Tahun 2017 | ||
| Rumah Sakit | 150 | 2,776 |
| Poliklinik | 450 | 7,641 |
| Klinik gigi | 111 | |
| Dokter keluarga di komunitas | 13,131 of 44,000 + | 9,825 (puskesmas) |
| Rumah bersalin | 131 | |
| Nursing home | 150 | |
| Panti jompo | 287 | |
| Sekolah kedokteran | 14 | 75 |
| Pusat penelitian | 12 | |
| Dokter | 92,084 (1/122 pop) (63% women) | 98,703 |
| Dokter gigi | 18,675 (1/602 pop) (73% women) | 14,455 |
| Perawat | 87,637 (1/123 pop) (88% women) | 345,276 |
| Tenaga kesehatan lain | 232,397 (university level) | 685,060 |
| Total tenaga kesehatan | 492,366 (6.8% of working age pop) | 1,143,494 |
| (71% women) | ||
| Penduduk | 11,489,082 | 261,890,872 |
Sumber : Gail A. Reed, Cuba’s Health System, A Work in Progress, Profil Kesehatan Indonesia 2016, Data dan Informasi Kesehatan Indonesia 2017, www.bps.go.id, www.kki.go.id/assets/data/menu/Daftar_FK_Tahun_2016.pdf.

Dokter Keluarga, Hogar Materno Infantil, Hospital Hermanos Ameijeiras, dan Institute de Gastroenterologia, Cuba (Dok. Pribadi)
Pencapaian tersebut mendapatkan apresiasi, namun sampai saat ini Kuba masih menghadapi berbagai tantangan terkait ekonomi domestik, regional dan global, kebijakan bilateral antara Kuba dan Amerika Serikat, remunerasi dan migrasi SDM kesehatan, kebijakan kesehatan, urbanisasi, ketahanan pangan, tanggung jawab individu dan keluarga untuk kesehatan sendiri, populasi lansia, penyakit kronik, ancaman bencana, maupun penyakit endemik.
Pelajaran yang dapat diambil dari kunjungan ke Kuba yaitu meskipun menghadapi keterbatasan dan tantangan ekonomi maupun politik yang sangat kental menjadikan Kuba sebagai negara dengan kondisi kesehatan yang cukup baik. Namun masih perlu diperjuangkan antara kesetaraan dengan kesempatan untuk pembangunan sosial, ekonomi dan kesehatan.
Seperti catatan kunjungan Kuba dari dr. Lincoln Chen, The Equity Initiative Program, dimana terdapat 5 poin :
- Mengapa dan bagaimana sistem kesehatan Kuba dapat berkembang?
Pendorongnya adalah komunisme untuk mengembangkan negara sosialis dengan kesetaraan dan keadilan. Kesehatan dan pendidikan yang bebas dan universal dipandang sebagai pusat dari visi tersebut. Sementara sistem saat ini inovatif, dibutuhkan puluhan tahun untuk membangun tenaga kerja dan sistem kesehatan primer. Kuba telah menaklukkan generasi pertama penyakit tetapi saat ini menghadapi penyakit tidak menular dan penduduk yang menua.
- Apakah sistem Kuba luar biasa?
Indikator kesehatan (yang diproduksi oleh pemerintah) menunjukkan bahwa usia harapan hidup masyarakat Kuba sama dengan penduduk Amerika Serikat. Cakupan kesehatan universal yang gratis terutama perawatan kesehatan primer nampaknya adil dan efektif. Tidak ada kekurangan tenaga kerja kesehatan dan layanan kesehatan tampaknya menawarkan akses yang baik, biaya rendah, dan kualitas yang dapat diterima. Mengingat situasinya yang unik, Kuba telah berinovasi dalam bioteknologi, ekspor tenaga kerja, dan pariwisata medis.
- Apa yang mendorong sistem kesehatan Kuba?
Sistem Kuba “digerakkan oleh tenaga kerja” yang didukung oleh perencanaan hulu yang cermat dari pendidikan kedokteran mulai dari dokter kemudian perawat, didukung oleh pelatihan khusus dan memasukkannya ke dalam sistem nasional yang terdistribusi merata dan berlapis. Hal tersebut didukung, tetapi tidak didorong oleh sistem pembiayaan, obat-obatan, teknologi, atau informasi. Sebagian besar negara tidak memiliki sistem perencanaan pendidikan kesehatan terkoordinasi yang membawa produksi tenaga kerja menjadi sejajar dengan kebutuhan sistem kesehatan. Harmoni ini tidak rumit tetapi sulit dilakukan karena banyak hal resisten yang harus disatukan.
- Apa kelemahan Kuba?
Sistem pemerintahan tunggal membatasi pilihan baik penyedia jasa maupun pasien. Kemungkinan terjadi waktu tunggu lama dan kurangnya akses ke obat dan teknologi yang mahal. Kepuasan tenaga kesehatan profesional ditunjukkan dengan migrasi keluar para profesional tersebut. Perawat tampaknya sangat dirugikan di Kuba dengan status dan gaji rendah, serta kelelahan. Selain itu penyakit menua dan tidak menular menghadirkan tantangan baru.
- Dapatkah pelajaran Kuba diterapkan di tempat lain?
Sayangnya, hanya sedikit. Dasar-dasar desain dan pengoperasian layanan kesehatan primer dapat diterapkan, namun mempekerjakan dokter keluarga mungkin sulit tanpa adanya tambahan insentif untuk praktek di tengah masyarakat. Memperkenalkan investasi swasta dan insentif komersial akan membengkokkan sistem di Kuba. Selain itu teknologi canggih dan obat-obatan mungkin tidak mudah untuk diakses di Kuba.
Diketahui bahwa ada beberapa yang meragukan klaim dan statistik Kuba. Hal tersebut karena kontrol ketat pemerintah terutama di bidang kesehatan yang memiliki reputasi internasional dan juga penghasil devisa terbesar, sangat sulit bagi kelompok asing untuk masuk ke Kuba untuk mencari kebenaran. (Elisabeth Listyani)
Sumber :
Philip Brenner, Marguerite Rose Jiménez, John M. Kirk, and William M. LeoGrande, History as Prologue: Cuba before 2006.
www.thelancet.com, Vol 383 January 25, 2014, Cuba’s Economic Reforms Prompt Debate about Health Care.
Maureen Bisognano, 3 Ways Cuba’s Health System Is Designed for the Triple Aim, 2016.
Gail A. Reed, Cuba’s Health System, A Work in Progress.
Lincoln C. Chen, MD, Trip Notes #94, Havana Cuba, May 23-30, 2018.
www.worldometers.info/world-population/cuba-population/
http://worldpopulationreview.com/world-cities/havana-population/
Berikut merupakan referensi terkait, silakan klik :
Cuba Time to Expand Health in All Policies
Cuba’s economic reforms prompt debate about health care
History as Prologue: Cuba before 2006
RSUD Sungailiat Raih Akreditasi ‘Bintang 5’ & Penghargaan Rumah Sakit Terinovatif di Indonesia
SUNGAILIAT – Prestasi kembali diraih Pemerintah Kabupaten Bangka di bawah kepemimpinan Bupati Bangka, Ir. H. Tarmizi Saat, MM dan Wakil Bupati Bangka, Drs. Rustamsyah di bidang kesehatan.
Salah satu sentral pelayanan publik, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Bahrin, Sungailiat berhasil meraih akreditasi PARIPURNA “BINTANG 5” yang diberikan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, sekaligus Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018 sebagai Rumah Sakit Pemerintah terinovatif melalui inovasi “SIMPANAN CANTIK” (Sistem Pelayanan Cepat, Akurat dan Tepat Medik).
Bupati Bangka, Tarmizi Saat, Minggu (24/6/2018) mengatakan bahwa dalam periode “BANGKA BERMARTABAT 2013-2018”, terus membangun tata pemerintahan yang baik, dengan penguatan perbaikan kinerja pelayanan publik.
Filosofi pelayanan “biar lambat agar selamat” ditinggalkan dan diganti dengan “harus cepat agar selamat”.
Oleh karena itu, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berlomba-lomba membuat inovasi dan terobosan pelayanan publik yang mudah, cepat dan tanpa biaya.
“Raihan akreditasi PARIPURNA “BINTANG 5” yang diberikan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit, sekaligus Penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2018 yang diberikan Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi melalui inovasi “SIMPANAN CANTIK” adalah pengakuan mutu sekaligus penghargaan yang diberikan kepada Pemkab Bangka atas pelayanan kesehatan dan inovasi yang kami lakukan.
Penghargaan ini kami persembahkan kepada seluruh masyarakat bangka sebagai komitmen Pemkab Bangka dalam pembangunan kesehatan mewujudkan “BANGKA BERMARTABAT”,’’ jelas Bupati Bangka.
Dijelaskannya lagi, RSUD DEPATI BAHRIN ditingkatkan fasilitas-nya, dengan membangun Gedung 3 lantai dilengkapi dengan peralatan kesehatan yang modern.
Jumlah dokter spesialis juga merupakan yang terbanyak di Bangka Belitung dengan menerapkan standar pelayanan yang fokus pada pasien, standar manajemen rumah sakit yang mumpuni, keselamatan pasien didahulukan dan sasaran pembangunan berkelanjutan diutamakan.
RSUD DEPATI BAHRIN sudah “GOOD PATIENT CARE”, “Good Clinical Governance” Dan Good Hospital Governance” dan memenuhi 15 standar akreditasi yang mengacu standar akreditasi internasional.
’Kami terus mengembangkan pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangka. Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan akan kami perbaiki. Fasilitas RSUD Eko Maulana Ali Belinyu Dan RSUD Syafri Rahman Puding Besar akan kami tingkatkan.
Semua Puskesmas sudah terakreditasi dan pengelolaannya melalui BADAN LAYANAN UMUM DAERAH. Kedepan kami juga akan segera membangun Rumah Sakit Ketergantungan Obat,’’ungkap Tarmizi.
Dalam kesempatan itu juga, Direktur RSUD DEPATI BAHRIN Sungailiat, Dr Jasminar menyatakan dengan berbagai perbaikan dan berbagai dukungan kebijakan, saat ini RSUD Depati Bahrin mendapatkan Akreditasi Paripurna atau Bintang 5 sebagai bintang tertinggi dalam pelayanan kesehatan di Indonesia dan menjadikannya sebagai yang pertama dan satu-satunya rumah sakit umum pemerintah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang mendapatkan Bintang 5 dengan pelayanan terbaik dan inovatif.
“SIMPANAN CANTIK” adalah inovasi berbasis aplikasi android pertama di Indonesia sebagai solusi menurunkan angka kematian pasien rawat jalan, UGD maupun rawat inap.
Aplikasi ini digunakan oleh dokter penanggung jawab pasien di android masing-masing.
Dengan satu sentuhan, dokter bisa melihat seluruh data pasien yang terhubung dengan “Sistem Informasi Rumah Sakit”, sehingga seluruh permasalahan pasien dapat tertangani dengan sangat cepat, akurat dan tepat, dimanapun dokter penanggung jawab berada.
Sementara itu, Pj. Sekda Bangka, Ahmad Mukhsin menjelaskan bahwa pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK) 2018 Pemkab Bangka mengirimkan 11 inovasi.
Dari Bappeda 5 inovasi, Dinas Kesehatan 3 inovasi, serta RSUD Depati Bahrin, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Perikanan masing-masing 1 inovasi.
Keseluruhan inovasi tersebut berkompetisi dengan 2.824 inovasi lainnya dari seluruh di Indonesia. Alhamdulillah, sesuai dengan Pengumuman Kementrian PAN DAN RB, Nomor 001/TPI.06/2018, Tanggal 8 Juni 2018, salah satu inovasi kami “SIMPANAN CANTIK” meraih top 99.
Ini menunjukkan bahwa Pemkab Bangka merupakan pemkab dengan inovasi yang konsisten dan menjadikan RSUD DEPATI BAHRIN menjadi satu dari segelintir rumah sakit yang paling inovatif di indonesia.
Kepala Bappeda, Pan Budi Marwoto juga menjelaskan bahwa dalam 3 tahun terakhir, 2016, 2017 dan 2018, menjadi satu-satunya pemerintah daerah di Bangka Belitung bahkan Indonesia, yang konsisten dan selalu mendapatkan Penghargaan Top 99.
Tahun 2016, Pemkab Bangka mendapatkan 3 Penghargaan TOP 99, yaitu SIM DATA Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, Arisan Jamban dan SPGDT.
Bahkan Arisan Jamban meraih TOP 25 dan mewakili Indonesia dalam kompetisi inovasi pelayanan publik dunia di amerika serikat.
Tahun 2017, Pemkab Bangka melalui inovasi ‘‘BANG MUDA” atau Bangka Mudah Mendapatkan Akte, kembali meraih TOP 99.
Inovasi ini mengedepankan kecepatan dalam pemberian akte kependudukan, akte kelahiran dan akte kematian. Tahun 2018, melalui inovasi “SIMPANAN CANTIK”, kembali meraih TOP 99.
‘’Kedepan, pembangunan dan pelayanan publik di Kabupaten Bangka akan terus mengedepankan inovasi. Kita sangat meyakini, hanya inovasi yang akan menjadikan Kabupaten Bangka memiliki daya saing tinggi tinggi dan membawa perbaikan kehidupan bagi masyarakat,’’ jelas Panbudi. (Advertorial/Humas Pemda Bangka/Bappeda)
Sumber: tribunnews.com
Menkes: RSUD Sumsel Harus Punya Nilai Plus
Palembang – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) resmi mengoperasikan Rumah Sakit Daerah (RSUD) Sumsel, Sabtu (23/6). Menkes Nila Djuwita F Moeloek hadir dalam acara peresmian RSUD ini.
Nila mengatakan, pembangunan sarana kesehatan masih sangat diperlukan di daerah. Upaya pemerataan layanan kesehatan akan dilakukan di seluruh Indonesia. Karena itu, dalam waktu dekat, Kemenkes akan membangun rumah sakit di wilayah timur Indonesia. Pembangunan sarana kesehatanm ini hendaknya mempunyai layanan tambahan yang bisa dirasakan masyarakat.
“Saya apresiasi pemerintah Sumsel yang membangun rumah sakit bagi masyarakatnya. Pemerintah juga berupaya melakukan pemerataan kesehatan dengan akan membangun tiga rumah sakit di wilayah timur,” ujarnya usai peresmian.
Nila mengatakan, unit rumah sakit hendaknya memiiliki nilai unggulan seperti rumah sakit di Sumsel yang nantinya menjadi rumah sakit unit pembelajaran bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.
“Seperti rumah sakit ini memiliki fungsi lainnya yakni sebagai rumah sakit pembelajaran bagi mahasiswa. Rumah sakit yang menjadi lokasi praktik bagi mahasiswa,” katanya.
Selain keunggulan sebagai pusat rumah sakit pembalajaran bagi mahasiswa kedokteran, RSUD Sumsel juga dirancang bagi pelayanan para lansia. Menurut Nila, keinginan dalam pelayanan para lansia juga merupakan nilai tambah bagi RSUD Sumsel.
Para lansia, lanjut Nila, harus mendapatkan perhatian, mengingat masih sedikitnya layanan kesehatan yang memberikan perhatian khusus kepada kalangan tersebut. “Fokus pada kesehatan para lansia juga menjadi bagian pelayanan bagi masyarakat. Para lansia yang rentan untuk sakit karena menurunnya kemampuan tubuh, hendaknya mendapatkan perhatian,” ujarnya.
Nila juga menambahkan, dengan diopreasikannya RSUD Sumsel di Palembang, juga menyokong sarana kesehatan menjelang Asian Games, Agustus-September mendatang di Palembang. RSUD Sumsel yang sudah menjadi rumah sakit tipe B dengan standar menuju rumah sakit internasional, akan dioptimalkan melayani kesehatan saat perhelatan tersebut berlangsung.
Di Palembang, beberapa rumah sakit yang telah siap untuk memberikan pelayanan kesehatan saat Asian Games, di antaranya rumah sakit tipe A, RS Muhammad Husein (RSMH) Palembang, dan beberapa rumah sakit dengan tipe di bawahnya. “Rumah sakit inipun akan dipergunakan saat Asian Games, dua bulan lagi di Palembang,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin pada kesempatan itu mengungkapkan, pemerintah melengkapi sarana kesehatan bagi masyarakat Sumsel. Setelah program berobat gratis, berbagai sarana kesehatan terus ditambah, mulai dari rumah sakit spesialis hingga rumah sakit daerah.
“Berharap kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, tidak hanya pada program berobat gratis, namun layanan juga harus prima. Masyarakat Sumsel, tidak perlu lagi berobat ke luar negeri, karena sarana kesehatan di Sumsel sudah hampir sama baik dan banyaknya,” kata Alex.
Sumber: gatra.com
Edisi Minggu ini: 26 Juni – 2 Juli 2018
| Kuba, Keunikan dan Tantangannya
Global Learning 2018, The Equity Initiative 26 Mei – 2 Juni 2018
Bienvenido !! Welcome to La Habana, Cuba. Setidaknya kalimat tersebut yang menyambut kami di Kuba malam itu selain badai Alberto yang melanda beberapa negara di pesisir pantai Laut Karibia dan pantai timur Amerika Serikat. Setelah perjalanan yang panjang dari masing-masing negara kami selama +/- 26 jam penerbangan (tidak termasuk transit), tibalah kami di Jose Marti International Airport. Sebelumnya, Paris Charles De Gaulle International Airport menjadi titik temu kami dari berbagai negara di Asia. Selesai menunggu antrian imigrasi selama hampir 1 jam karena tidak banyaknya loket yang dibuka dan panjangnya antrian turis akhirnya kami berkendara menuju hotel tempat menginap. Selama 45 menit perjalanan dari bandara menuju hotel kami disuguhi pemandangan khas Havana dengan mobil-mobil antiknya. Mengunjungi Kuba merupakan suatu hal yang menantang, kami tidak hanya belajar mengenai ekonomi, politik, sosial, budaya, dan kesehatan, namun kami juga ditantang bersabar untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kolega karena fasilitas telekomunikasi mobile terutama internet tidak semudah di negara kami. Webinar Keunggulan smart hospital salah satunya adalah adanya integrasi dari berbagai lini baik internal rumah sakit maupun ekosistem yang mendukung smart hospital, serta berkolaborasi secara efektif untuk menghasilkan pelayanan yang optimal. Integrasi yang baik perlu didukung adanya konektifitas antara hardware dan software. Di dalam industri rumah sakit banyak pengembangan teknologi dengan berbagai macam jenis software serta dengan berbagai macam bahasa pemrograman. Hal ini yang menjadi tantangan sekaligus hambatan bagi pengembangan smart hospital apabila tidak dikelola secara baik. Webinar ini akan akan diselenggarakan pada hari Jumat, 6 Juli 2018, pukul 09.00-11.00 WIB. Jurnal: Analisa Segmentasi Pasar Rumah Sakit X Anisa Ramadhani Kusumastiti (Fakultas Kedokteran Gigi Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri) Nofita Dwi Harjayanti, Tita Hariyanti
Memahami Segmentasi pasar sebuah rumah sakit sangat penting supaya dapat menentukan focus pemasaran. Dengan melakukan analisa segmentasi pasar, target pemasaran dapat dipahami. Tujuan penerapannya adalah lebih memusatkan perhatian pada pemasaran agar bisa menetapkan prioritas dalam melayani pasien secara optimal. Segmentasi pasar dilakukan dengan mengklasifikasikan pasien berdasarkan segmentasi geografis, identitas demografi, psikografis dan perilaku pasien dengan menggunakan formulir yang terdapat dalam bagian registrasi. Untuk memahami lebih dalam bagaimana proses analisa segmentasi pasar sebuah rumah sakit, silakan simak jurnal berikut. Permasalahan Limbah Rumah Sakit di Indonesia
Limbah rumah sakit merupakan semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk cair, padat, maupun gas yang berbahaya karena dapat bersifat racun dan juga radioaktif. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan tumpukan limbah medis di rumah sakit seluruh Indonesia mencapai 8.000 ton. Hal itu dinilai karena pengolahan limbah medis yang belum memenuhi syarat. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
| Jurnal Open Access: Sebuah Pendekatan untuk Menilai Keselamatan Pasien di Rumah Sakit di Negara Berpenghasilan Rendah |
|
Bahaya Rokok | |
Hari Pertama Bekerja, RSUD Bulukumba Disesaki Pasien
BULUKUMBA – Hari pertama kerja usai libur Lebaran 2018, Rumah Sakit Umum Sulthan Dg Radja Bulukumba disesaki pasien.
Hal itu terlihat di hampir seluruh poli pelayanan pemeriksaan pasien rawat jalan, Kamis (21/6/2018).
Pelaksana tugas (plt) Direktur RSUD Sulthan Dg Radja, dr H Abdur Rajab mengakui, poli pemeriksaan khusus bagi pasien rawat jalan memang ditutup sementara selama libur bersama hari raya Idul Fitri.
Meski begitu, ruangan dan kamar perawatan seperti UGD, ICU, Pavilium, Asoka, Melati, Mawar dan Seruni tetap dibuka seperti biasa, begitupun sarana pemeriksaan penunjang seperti Radiologi dan Laboratorium.
“Libur bagi petugas poli yang melayani pasien rawat jalan, dimaksudkan untuk menghormati hari raya Idul Fitri 1439 H, khususnya bagi petugas dan mulai Kamis (21/6) hari ini, seluruh poli pelayanan kembali dibuka,” jelas mantan Kapus Caile itu.
Dijelaskan, penetapan hari libur lebaran tersebut mengacu pada keputusan Presiden Republik Indonesia, dan adanya surat edaran Bupati Bulukumba demi untuk menghormati umat islam merayakan hari raya idul fitri.
Bagi petugas seperti dokter, bidan, perawat selama hari libur sudah dibuatkan jadwal atau shif jaga sehingga tidak mengganggu pelayanan di kamar perawatan.
Selama dalam lebaran dan libur panjang, managemen rumah sakit memang mengalihkan sementara pemeriksaan ke IGD, dimana IGD rumah sakit tetap buka 24 jam penuh.
“Selama libur lebaran untuk sementara pemeriksaan dialihkan di IGD RSUD, jika pasien datang dengan emergency maka akan diberikan perawatan lanjutan, namun jika tidak terlalu emergency hanya di observasi kemudian diberi obat dan sudah bisa pulang,” tutup dr Rajab.
Sumber: rakyatku.com
Rogoh Rp 600 Juta untuk Tambah Ambulans di RSUD Bangil
BANGIL – Jumlah ambulans RSUD Bangil bakal bertambah tahun ini. Sebab, rumah sakit pelat merah itu merencanakan untuk menambah jumlah ambulans tahun ini.
Humas RSUD Bangil Ghozali menyampaikan, jumlah ambulans yang saat ini dimiliki RSUD Bangil masih jauh dari ideal. Sebab, baru ada enam ambulans yang dimiliki. Padahal, idealnya butuh sekitar 10 ambulans.
Ambulans tersebut terbagi untuk jenazah dan rujukan. Saat ini, jumlah ambulans untuk jenazah baru empat unit. Sementara untuk rujukan, baru dua unit.
“Sehingga, ambulans yang kami miliki belum ideal. Khususnya, untuk rujukan, yang idealnya ada tiga unit tambahan,” jelas Ghozali.
Karena itulah, pihak manajemen RSUD Bangil berencana untuk melakukan penambahan ambulans. Hanya saja, tidak semuanya akan dibeli, sesuai kondisi ideal. Menurut Ghozali, hanya satu unit yang akan diadakan tahun ini. Satu-satunya pengadaan itu, berupa ambulans rujukan.
Hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah rujukan RSUD Bangil ke Malang ataupun Surabaya. Untuk itu, perlu disikapi dengan penambahan ambulans. Karena jangan sampai, rujukan lambat dilakukan lantaran antrean ambulans. “Makanya, kebutuhan ambulans tambahan rujukan ini sangat urgen,” sampainya.
Ia menjelaskan, pihak manajemen telah menyiapkan anggaran untuk pengadaan ambulans rujukan tersebut. Nilainya, mencapai Rp 600 juta. Dana itu, tak hanya untuk pengadaan mobil ambulans, tetapi juga lengkap dengan peralatan di dalamnya.
“Sekarang masih proses membuat spesifikasi. Kami estimasikan triwulan ke tiga bisa dilakukan pengadaan,” tandas dia.
Sumber: jawapos.com















