Cameroon: Despite conflict, hospital care continues
Every day, the ambulance for the Minawao refugee camp parks in front of the Mokolo District Hospital in Cameroon’s Far North Region. Inside, worried mothers hold their feverish children in their arms, who alternate between sleeping and crying.
During this cool, windy and dusty season, cases of respiratory illness are common. The children most-severely affected are admitted into intensive care, where they will be placed on an oxygen concentrator. In this ward, Marie, a nurse working for ALIMA (The Alliance for International Medical Action), checks on the children’s vital signs each hour.
“One morning, my daughter Fatimatou was having trouble breathing and had diarrhea,” said Habiba, as she sat on a hospital bed, watching her daughter’s stomach rise and fall with the rhythm of her breathing. “I immediately brought her the Mogodé hospital. We stayed three days and then we were transferred to the Mokolo District Hospital. When we arrived, they placed Fatimatou on an oxygen concentrator.”
Not far away, in the therapeutic feeding center, an assistant nurse was conducting an appetite test: he distributed therapeutic food to three children to see if they were able to eat without a nasogastric tube. The mothers, three Nigerian refugees from the Minawao camp, watched, speaking to each other in Kanuri, one of the local languages.
“When the camp ambulance brought us to the hospital, my daughter Hadidja was refusing to eat,” said her mother, Aïcha. “For the first two days she was fed with the help of a gastric tube. Today they removed the tube. She has gained weight and she is accepting food,” recounted Aïcha, visibly reassured.
The Mokolo District Hospital is a referral center for sick children from the Minawao refugee camp. If a child cannot be treated in the camp and needs to be hospitalized, he or she is transferred by ambulance to Mokolo.
Since 2009, the Far North Region of Cameroon has been weakened by the conflict between the military and the armed group Boko Haram in the Lake Chad area. Nearly 240,000 residents of Cameroonian villages on the Nigerian border have been forced to flee towards safer areas, and the region now hosts nearly 90,000 Nigerian refugees, the majority of whom are staying in the Minawao camp, located 15 kilometers from Mokolo.
“The displaced populations and refugees are living in very difficult conditions,” explained Dr. Abdou Souley, ALIMA’s medical team leader. “In the Minawao camp, for example, there are sometimes shortages of potable water, which leads to diarrheal illnesses.”
In order to instill proper health practices on the populations, and prevent malnutrition and illnesses related to poor hygiene and poor health practices, ALIMA works with local health promoters. Their role is to organize individual or group information sessions at the hospital with mothers of hospitalized patients. Themes include signs of malnutrition, children’s diet, breastfeeding and even basic hygiene practices.
“Health promotion is essential in this program, because teaching good practices allows for prevention,” said Dr. Souley, “and changing people’s behaviors to improve children’s health and nutritional state.”
The Alliance for International Medical Action (ALIMA) is a medical humanitarian organization that works hand-in-hand with local organizations to provide quality medical care to the most vulnerable populations in emergency situations or recurring crises. Headquartered in Dakar, Senegal, ALIMA has treated nearly 3 million patients since it was founded in 2009, and has launched more than a dozen research projects on malnutrition, malaria and Ebola.
ALIMA has been working in the Far North Region of Cameroon since May 2016. In the Mokolo health district, ALIMA has supported the pediatric and nutritional services of the district hospital since March 2016, as well as 11 peripheral health centers. ALIMA also supports outpatient sexual and reproductive health care. In addition to Mokolo, ALIMA operates in the Makary health district in Logone-et-Chari, by supporting the district hospital and 9 integrated health centers.
In 2017 in Cameroon, our teams performed more than 28,300 pediatric consultations, treated nearly 8,000 children suffering from severe acute malnutrition and trained more than 73,800 mothers to screen their children for malnutrition.
Source: reliefweb.int
Kesehatan Digital (Digital Health) di Tingkat Global Serta Implikasinya di Tingkat Nasional
Webinar
Kesehatan Digital (Digital Health) di Tingkat Global Serta Implikasinya di Tingkat Nasional
Pengantar
Kesehatan digital (digital health) saat ini bukan sekedar jargon, tetapi sudah menjadi kebutuhan bagi sektor kesehatan untuk meningkatkan pelayanan. Secara umum, kesehatan digital berkaitan dengan penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) secara efektif dan efisien pada berbagai fungsi dan peran yang diemban oleh sektor kesehatan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat.
Beragam inovasi, solusi serta ide berbasis teknologi digital bertumbuh dengan pesat. Di rumah sakit, adopsi teknologi sudah bergeser. Setelah menerapkan billing system, fokus optimalisasi pelayanan di rumah sakit mulai mempertimbangkan teknologi berbasis Internet dan perangkat konektif yang terhubung dengan peralatan medis, baik di rumah sakit maupun di rumah pasien. Pemanfaatan Internet of Things (IOT) ini menjadi salah satu ciri dari konsep smart hospital.
Perkembangan ini mau tidak mau menyebabkan perubahan peran dan fungsi tenaga kesehatan. Berbagai inovasi seperti artificial intelligence, telemedicine hingga big data analytics telah diujicobakan di berbagai belahan dunia. Di sisi lain, ancaman keamanan siber (cybersecurity) serta risiko bocornya privasi dan kerahasiaan data medis masih menjadi alasan untuk tidak mengadopsi teknologi digital di kesehatan.
Berbagai hal tersebut menjadi topik bahasan menarik dalam 2 forum global yang diikuti oleh tim PKMK. Anis Fuad akan melaporkan perkembangan terkini mengenai smart hospital dari Smart Hospital Summit di Taipei pada akhir Maret 2018. Sedangkan Muhammad Asrullah akan memaparkan berbagai isu global yang dibahas dalam Geneva Health Forum terkait dengan kesehatan digital.
Webinar ini didesain untuk mengawali terbentuknya masyarakat praktisi yang peduli terhadap pengembangan konsep smart hospital dan digital health.
Tujuan
Memberikan gambaran kepada peserta mengenai perkembangan smart hospital dan mendorong terbentuknya masyarakat praktisi smart hospital.
Tempat, Waktu, dan Tanggal Pelaksanaan
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
Hari, Tanggal : Jumat, 20 April 2018
Waktu : 09.00-11.00
Tempat : Laboratorium Leadership, Gedung IKM Lama Lantai 3, PKMK FKKMK UGM
Link Webinar
Link Webinar: https://attendee.gotowebinar.com/register/6847292614960577281
Webinar ID: 938-890-331
Target Peserta
- Direktur rumah sakit.
- Pemimpin-pemimpin klinis.
- Kepala dan staf divisi IT di rumah sakit.
- Pemerhati dan peneliti informatika kesehatan.
- Pemerhati teknologi informasi rumah sakit.
- Mahasiswa
Narasumber
- Pembicara :
- Anis Fuad, S. Ked, DEA
- Muhammad Asrullah, MPH
- Pembahas : dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes, SpOG.(K).- Direktur Medik dan Keperawatan RSUP dr Sardjito
Agenda Acara
| Waktu | Menit | Materi | Pembicara |
| 09.00 – 09.10 | 10 | Pembukaan | Moderator |
| 09.10 – 09.30 | 20 |
Catatatan dari Taipei Smart Hospital Summit |
Anis Fuad, S.Ked., DEA |
| 09.30 – 09.50 | 20 |
Perkembangan Global Tentang Digital Health – Geneva Health Forum |
Muhammad Asrullah, MPH |
| 09.50 – 10.15 | 25 | Pembahasan | dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes, SpOG.(K) |
| 10.15 – 10.45 | 30 | Diskusi | |
| 10.45 – 11.00 | 15 | Kesimpulan dan Tindak Lanjut | Moderator |
Informasi dan Pendaftaran
Maria Lelyana
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FKKMK UGM
Phone: 0274 – 549425
Hp: 0811 1019 077
Email: [email protected]
Mayoritas Rumah Sakit di Bangka Belum Terapkan Metode Early Warning Sistem (EWS)
BANGKA – Rumah sakit di Provinsi Bangka Belitung mayoritas belum menerapkan Early Warning Sistem (EWS).
Padahal hal tersebut penting dalam standar nasional akreditas rumah sakit (SNARS).
Sebagai satu diantara pelayanan guna menentukan kondisi dan penanganan pasien secara dini.
Nursing Devalopment and Clinical Operation Devision Head Siloam Hospital, Silvinia menjelaskan EWS merupakan metode pelayanan rumah sakit buat menangani masalah kesehatan pasien secara dini.
Berpatokan terhadap perubahan kondisi fisiologi pasien melalui pengamatan. Guna meningkatkan peluang keselamatan dan hasil klinis pasien lebih baik.
“EWS ini menggunakan standarisasi pendekatan asesmen dan menetapkan skoring parameter fisiologi sederhana,” papar Silvinia kepada Bangka Pos, Minggu (15/4)
Penerapannya bertujuan menilai pasien kondisi akut, mendeteksi penurunan kondisi selama perawatan di rumah sakit secara dini, dan respon klinik tepat waktu secara kompeten.
Sebab, ketiganya sangat penting menentukan hasil klinis yang diharapkan.
EWS perlu dilakukan saat keadaan pasien tidak nyaman, hemodinamik atau tidak stabil, paska operasi, penyakit kronis.
Selain itu, pasien yang dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD), dipindahkan ke ruang rawat intensif, maupun perkembangan penyakitnya tidak menunjukan perbaikan.(*)
Sumber: tribunnews.com
Pengembangan Sistem Rujukan Medik dengan Pendekatan Masyarakat Praktisi
Terms of Reference
Program Pelatihan Jarak Jauh
Pengembangan Sistem Rujukan Medik dengan Pendekatan Masyarakat Praktisi (Community of Practices)
oleh
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK)
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada
Peserta: RS-RS Rujukan Nasional dan RS Vertikal
Pengantar
Berdasarkan pengamatan dan hasil diskusi-diskusi pada 2017 dan awal 2018, pengembangan sistem rujukan di Indonesia memerlukan pengembangan Knowledge Sharing dengan menggunakan pendekatan Masyarakat Praktisi (Community of Practices). Pusat pengembangan ini berada di RS-RS Rujukan Nasional/RS Vertikal.
Setelah melakukan kegiatan selama satu tahun, ada kemajuan menarik dimana sebagian RS Rujukan Nasional mengembangkan kegiatan Knowledge Sharing melalui webinar dengan sangat baik. Namun seperti yang dibahas pada diskusi, kemajuan ini masih menghadapi berbagai tantangan meskipun memiliki potensi pengembangan yang besar.
RS Rujukan merupakan salah satu aktor penting dalam pengembangan sistem rujukan di Indonesia. PKMK FKKMK UGM mengundang para pimpinan RS-RS Rujukan Nasional/RS Vertikal yang bermaksud untuk menguatkan kemampuan melalukan webinar untuk mengikuti pelatihan jarak-jauh.
Tujuan
Kursus ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan pemahaman mengenai konsep Masyarakat Praktisi untuk pelayanan medik.
- Menyusun sistem knowledge sharing di RS Rujukan Nasional/RS Vertikal dengan platform
- Menyusun agenda pengembangan di setiap kelompok Masyarakat Praktisi.
- Menyusun Business Plan untuk setiap kelompok Masyarakat Praktisi.
Luaran yang diharapkan
Apa yang akan dihasilkan kegiatan ini? Secara konkrit dan terukur, setelah mengikuti kursus ini, setiap RS:
- Mempunyai jadual kegiatan webinar untuk audiens:
(a) Staf RS Rujukan Regional dan Propinsi untuk penguatan system rujukan;
(b) Staf RS lain yang ingin meningkatkan teknologi pelayanannya;
(c) Masyarakat umum.
Jadual ini akan dipergunakan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk disebarkan ke seluruh RS-RS Rujukan di Indonesia melalui media sosial.
- Mempunyai sistem produksi untuk pengembangan ilmu, termasuk Studio dan sistem peralatan dan perlengkapan memadai, staf yang mempunyai kemampuan untuk perencanaan, serta pelaksanaan dan pengelolaan pasca produksi video dan bahan-bahan pembelajaran;
- Mempunyai sistem pengelolaan staf RS lain yang menjadi follower dan sistem alert;
- Menghasilkan sedikitnya 2 contoh untuk Seminar ataupun Workshop bagi ketiga audiens.
Diharapkan sudah ada kegiatan yang menggunakan SKP dan dilakukan secara berbayar.
- Mempunyai Business Plan untuk kegiatan ini, dengan penekanan pada pengembangan sumber dana baru melalui pendidikan dan pelatihan.
-
Mempunyai sistem insentif yang memicu dokter dan perawat serta manajer RS untuk menyebarkan ilmu
Peserta
- Direksi RS-RS Rujukan Nasional dan RS Vertikal
- Klinisi/dokter-dokter spesialis di tiap layanan rujukan
- Kepala Bidang dan staf yang terkait dengan layanan rujukan
- Kepala Bidang dan staf yang mengurusi IT di rumah sakit.
- Kepala Bidang dan staf yang mengurusi diklat di rumah sakit.
Metode Pelatihan
Program pelatihan jarak jauh ini diselenggarakan secara online memanfaatkan fasilitas webinar dan berbasis website. Fasilitas webinar menggunakan sarana prasanara yang telah dimiliki oleh masing-masing RS Rujukan. Modul pelatihan dapat diakses di website dan fasilitator dari PKMK FKKMK UGM akan memandu proses pelatihan. Pertemuan tatap muka yang dijadwalkan setiap minggu melalui webinar dapat diikuti oleh tim RS peserta dari lokasi kerja masing-masing.
Rencana Kegiatan
Pelatihan akan diselenggarakan selama kurang lebih 3 bulan. Satu angkatan pelatihan diikuti oleh 3 – 5 RS Rujukan Nasional/Vertikal. Setiap RS dapat mengikutsertakan berbagai kelompok seperti IT, pelayanan rujukan, dan unit-unit terkait.
Kegiatan akan dilakukan pada Juni – Agustus 2018.
Diagram Alur kegiatan

Jadual Kegiatan
Pelatihan dilakukan dalam 3 tahap dengan skema sebagai berikut:
A. Tahap 1: Konsep masyarakat praktisi dan webinar untuk RS Rujukan
Bagi seluruh tim RS Rujukan Nasional/RS Vertikal (Direksi, Klinisi, Kepala Bidang & Staf) diharapkan memahami berbagai materi di bawah ini:
[widgetkit id=36932]
B. Tahap 2: Pemantapan kemampuan rujukan medik berbasis telematika
- Bagi kelompok direksi, kepala bidang, dan staf
- Materi 1: Peran pemimpin struktural dalam pengembangan jejaring rujukan medik
- Materi 2: Menyusun bisnis plan kanal pengetahuan RS
- Bagi kelompok klinisi (Clinical Leader)
- Materi 1: Peran pemimpin klinis dalam pengembangan jejaring rujukan medik
- Materi 2: Pendataan dokter-dokter yang merujuk ke RS (para follower) dengan mengacu pada website manajemenrumahsakit.net dan bagaimana mengelola follower dengan baik
- Bagi kelompok IT dan Diklat RS
- Materi 1: Pra Produksi, Produksi, dan Pasca Produksi Webinar
- Materi 2: Menyusun bisnis plan
- Materi 3: Membahas Alur kerja dan koordinasi untuk integrasi aktivitas rujukan dengan website rumah sakit
- Materi 4: Manajemen alert system
- Materi 5: Mengembangkan sistem pembayaran untuk pelatihan jarak jauh dengan SKP
C. Tahap 3: Implementasi, Monitoring, dan Evaluasi
Bagi seluruh tim RS Rujukan Nasional/RS Vertikal (Direksi, Klinisi, Kepala Bidang & Staf)
- Simulasi dan pelaksanaan kegiatan menggunakan webinar
- Monitoring dan evaluasi bersama direksi, klinisi dan kepala bidang
Biaya
Biaya untuk mengikuti program ini adalah sebagai berikut:
- RS Rujukan Nasional/RS Vertikal: Rp 10.000.000,- per RS
Prasyarat
RS yang berminat mengikuti kursus ini harus sudah memiliki fasilitas webinar yang minimal terdiri dari:
- 1 unit komputer (PC atau laptop) yang sudah diinstall dengan program GoTo Webinar®, dilengkapi dengan microphone dan speaker yang memadai
- Komputer dapat disambungan ke unit viewer/infocus
- Sambungan internet dengan speed minimal 512kbps agar dapat menangkap audio-visual berkualitas baik selama kelas/diskusi berlangsung
Informasi dan pendaftaran:
Megarini Sulistyo
HP/WA: 0818 996 974
Email : [email protected]
Sudi Indra Jaya
HP/WA : 082 328 201 695
Email : [email protected]
RSUD Depati Hamzah Layani 200 Pasien per Hari
BANGKA- Dalam sehari, RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang dikunjungi sekitar 200 pasien rawat jalan. Demikian dinyatakan oleh Kepala Bidang Pelayanan RSUD Depati Hamzah dr Thamrin kepada Bangka Pos, Sabtu (7/4/2018).
Pantauan Bangka Pos pada Jumat (6/4) misalnya, jumlah kunjungan ini praktis membuat RSUD terlihat membludak.
Ratusan motor parkir di dalam kawasan rumah sakit. Pasien atau keluarganya terlihat menunggu di bangku-bangku selasar ruangan poli, apotek, dan laboratorium.
“Kunjungan itu masih sesuailah. Dengan banyaknya rumah sakit yang sedang dibangun ini kan. Masih moderatlah,” kata Thamrin kepada Bangka Pos.
RSUD Depati Hamzah menyadari hal ini dan berniat meningkatkan pelayanan mereka seiring dengan pengoperasioan gedung baru sekitar tiga bulan lagi.
Rumah sakit berniat membuat pasien dan keluarganya nyaman ketika datang ataupun menunggu berobat.
“Kalau sekarangkan, masih belum enak, masih ada pengaduan (keluhan) dari masyarakat. Nanti kami benahi, Insha Allah saat kami masuk gedung baru. Intinya nanti akan meningkatkan waktu respons terhadap pasien,” kata Thamrin.
Rumah sakit berencana akan membuat ruang tunggu pendaftaran yang nyaman, berpendingin ruangan. RSUD juga akan membuat sistem administrasi pendaftaran agar lebih tertib. Ketersediaan kamar misalnya bisa diakses dari luar melalui websites. Saat ini sedang dalam persiapan.
“Dalam waktu dua tiga bulan ini kami bisa alihkan (ke gedung baru) untuk ruang pendaftarannya,” kata dia. (*)
Sumber: tribunnews.com
Most fentanyl overdose survivors need little hospital care, UBC study finds
People who receive an antidote promptly after a fentanyl overdose and show no complications require little hospital care, according to a study by physicians at the University of British Columbia.
The finding could drive policy change at emergency rooms across B.C., where low-risk overdose survivors may be kept for six to 12 hours and sometimes even admitted overnight for observation.
Fentanyl overdoses kill an average of four British Columbians each day and the volume of cases takes a heavy toll on emergency services.
Vancouver Fire and Rescue Services logged 486 overdose calls in March, the highest since July of last year.
“If you don’t regularly see fentanyl overdoses, you might admit a patient thinking they are at risk of becoming critically ill,” said lead author Frank Scheuermeyer, a clinical associate professor at UBC and an emergency department physician at St. Paul’s Hospital. “But the risk of deterioration or dangerous complications is probably overstated.”
Lengthy observation appears to be unnecessary for people who show no complications, according to the study published in the Annals of Emergency Medicine.
“If you are going to admit people, you want to admit the right people and send the others home,” he said.
A protocol developed at St. Paul’s Hospital discharges patients considered low-risk after a brief assessment of blood-oxygen levels, respiration and alertness and just two hours of observation — which is usually about 75 per cent of all cases.
“St. Paul’s established a protocol for heroin overdoses about 15 years ago and we tweaked that and kept them a bit longer because fentanyl is a stronger drug,” Scheuermeyer said. “We keep them for two hours and that seems to be adequate.”
During the observation period, doctors and social workers have an opportunity to discuss detoxication options with the patient and ensure they are adequately housed and fed.
Data for the study was collected over four months of overdose treatment involving 1,009 patients at St. Paul’s.
One patient died after being discharged and refusing a take-home naloxone kit. Naloxone is a fast-acting antidote to opioid intoxication, used by paramedics and distributed free to the public in B.C. by pharmacies.
Part of St. Paul’s success is likely because overdose patients are usually resuscitated quickly in the field and transport times are very short, which may not be the case in smaller communities.
“However, when a new batch of drugs hits the street and emergency rooms face a large number of overdoses at once of the type we see in downtown Vancouver, our protocol could help take the guesswork out,” said Scheuermeyer.
Police estimate 32 people died of overdose in Vancouver in March, up from 18 in February.
Across the province in 2017, 1,156 people died of overdose by illicit drugs and fentanyl was detected in about 80 per cent of those cases, according to the B.C. Coroners Service. The Fraser Valley health region recorded the most fentanyl-related overdoses, with 377.
More than 2,100 British Columbians have died using fentanyl-tainted drugs since 2012.
Source: timescolonist.com
Edisi Minggu ini: 10 – 15 April 2018
Reportase: Webinar Pengadaan Alat Kesehatan Di Era JKN
Webinar yang membahas topik pengadaan alat kesehatan (alkes) di era JKN tahap pertama dilaksanakan pada Kamis, 5 April 2018. Webinar ini menghadirkan seorang pembicara dan dua orang pembahas, yaitu Yos Hendra, SE., MM., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert) sebagai pembicara, serta drg. Hj. RR. Tuty Setyowati, MM mewakili RS pemerintha dan dr. Teddy Janong, M.Kes mewakili RS swasta sebagai pembahas. Namun Teddy berhalangan hadir dikarenakan ada keperluan yang mendadak. Reportase: The Equity Initiative Opening Retreat “Silent is the best enemy for inequity”. Mengutip kalimat yang disampaikan oleh Lincoln C. Chen, MD (President of The China Medical Board) yang menyatakan bahwa kita harus memiliki perhatian dan pemikiran yang praktis agar dapat berpartisipasi mendukung health equity. Health equity bukan hanya meliputi kesehatan, melainkan juga menjaditantangan tersendiri dari sisi ekonomi yang dinamis terutama di Asia Tenggara. Seperti di negara lain, Asia Tenggara menghadapi tantangan menghadapi masalah akses pelayanan kesehatan, kebijakan pembiayaan, kesehatan ibu dan anak, pekerja migran dan korban human trafficking, etnis minoritas, dan mereka yang dilanda krisis kemanusiaan. Melalui Equity Initiative Fellowship Program diharapkan dapat menyatukan beragam kelompok profesional yang telah menunjukkan komitmen, dedikasi, dan antusiasme untuk memimpin perubahan bagi keadilan kesehatan. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Review Jejaring RS Rujukan Nasional, Provinsi, dan Regional Wilayah Timur |
|
Inovasi Berbasis Data :Sukses dan Tantangan dalam 3 Model Inovatif Skala Besar |
Webinar Pengadaan Alat Kesehatan Di Era JKN
Reportase
Webinar Pengadaan Alat Kesehatan Di Era JKN
Kamis, 5 April 2018

Webinar yang membahas topik pengadaan alat kesehatan (alkes) di era JKN tahap pertama dilaksanakan pada Kamis, 5 April 2018. Webinar ini menghadirkan seorang pembicara dan dua orang pembahas, yaitu Yos Hendra, SE., MM., M.Ec.Dev., MAPPI (Cert) sebagai pembicara, serta drg. Hj. RR. Tuty Setyowati, MM mewakili RS pemerintha dan dr. Teddy Janong, M.Kes mewakili RS swasta sebagai pembahas. Namun Teddy berhalangan hadir dikarenakan ada keperluan yang mendadak.
Pada webinar tersebut,Yos Hendra menyampaikan data perbandingan tarif INA CBG’s. Dari tarif INA CBG’s terdapat perbedaan antara tarif untuk RS pemerintah dengan RS swasta sebesar 3%. Kemudian jika menyoroti harga alat kesehatan di e-katalog terdapat dua macam harga, yaitu harga pemerintah dengan harga retail. Perbedaan kedua harga tersebut sebesar 20%, lebih murah harga pemerintah daripada harga retail. Hal itu sangat menarik dimana perbadaan tarif INA CBG’s antara RS pemerintah dengan RS swasta hanya 3%. Selain itu, juga beredar kabar bahwa harga alat kesehatan yang dijual di e-katalog lebih mahal daripada yang dijual di luar e-katalog.
Tuti selaku Direktur RSUD Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa RSUD Kota Yogyakarta lebih fokus dalam pengadaan melalui e-katalog. Berdasarkan pengalaman pengadaan melalui e-katalog dari segi waktu lebih cepat. Melalui e-katalog juga bisa melihat spesifikasi alat yang dibutuhkan. Dari sisi harga juga dapat menyesuaikan anggaran. Biasanya calon penyedia akan diminta presentasi barang yang dijual terlebih dahulu dengan mengundang user. Setelah itu menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) membandingkan dengan alat di rumah sakit lain. Setelah menyusun HPS baru RSUD Jogjamembeli alat tersebut. Di sisi lain, dalam pengadaan melalui e-katalog bisa dilakukan negosiasi untuk ongkos kirimnya. Setelah berhasil negosiasi juga harus dimasukkan ke dalam dokumen kontrak. Jika e-katalog dilihat dari sisi kelemahannya, terkadang server di pusat mengalami gangguan atau macet selama berminggu-minggu. Tetapi dari sisi penyerapan anggaran akan lebih banyak terserap dengan pengadaan melalui e-katalog. Setelah mendapatkan alatnya, pihak RS juga harus menghitung tarif berdasarkan unit cost, yang terpenting jangan sampai melebihi tarif INA CBG’s.
Setelah semua pembahasan pada tahap pertama dirasa telah cukup, kemudian Yos Hendra menutup pertemuan tersebut. Langkah selanjutnya ialah webinar pengadaan alat kesehatan akan digelar lagi untuk kedua kalinya. Selain itu, juga direncanakan akan dilakukan survei mengenai topik tersebut.
Oleh: Miftakhul Fauzi, SE
Invisimos, Inovasi untuk Pantau Pasien 24 Jam di Rumah Sakit
Surabaya – Selama ini, baik tenaga medis maupun keluarga pasien rawat inap mengandalkan Vital Sign Monitor, alat yang dapat menunjukkan kondisi vital pasien rawat inap sebagai panduan kondisi pasien.
Walaupun demikian, selalu ada kekhawatiran jika penanganan kondisi kritis pada pasien menjadi terlambat atau tidak optimal dikarenakan tenaga medis yang kewalahan mengawasi banyak pasien.
Hal ini mendorong I Ketut Eddy Purnama, dosen sekaligus Kepala Departemen Teknik Komputer Institut Teknologi 10 November (ITS) untuk mengembangkan alat yang dinamakannya Invisimos. Alat ini diklaim dapat memudahkan tenaga medis untuk memantau seluruh pasien rawat inap yang ada tanpa harus berkeliling atau menunggu panggilan dari keluarga yang sedang menjaga pasien.
“Perawat itu biasanya kesulitan kalau memantau kamar (inap, red) yang jumlahnya banyak. Nah, gimana kalau membuat alat yang bisa memantau kondisi pasien dari jarak jauh,” ujar Ketut kepada detikcom, Sabtu (10/3/2018).
Fakta ini didapat Ketut dari hasil diskusi dengan sejumlah tenaga medis. Dari diskusi itu muncullah salah satu persoalan, yaitu masalah pengawasan pasien.
“Menurut mereka, alangkah sangat bermanfaat bila ada alat yang dapat memantau pasien hanya dari ruang jaga,” lanjut Ketut.
Berbeda dengan alat pemantau terdahulu, yaitu Vital Sign Monitor, Invisimos memungkinkan tenaga medis memantau seluruh pasien rawat inap di seluruh ruang jaga sekaligus sebab Invisimos memiliki port luaran yang dapat mengirimkan kondisi vital pasien secara real time.
Dengan begitu bila pasien mengalami kondisi kritis, tenaga medis bisa langsung mengetahui dan langsung bertindak tanpa dipanggil oleh penjenguk atau anggota keluarga yang menunggui.
“Invisimos ini perangkat pemantau vital sign. Terintegrasi. Isitilahnya Invisimos Integrated Vital Sign Monitoring System,” tambah Ketut.
Kendati demikian, alat ini diakui Ketut masih dalam tahap pengembangan. Muhammad Fajariansyah Ismail (24), alumni ITS yang juga memiliki andil dalam penemuan ini mengatakan, ukuran Invisimos dianggap masih terlalu besar dan ribet.
Walaupun prototipe versi kedua berhasil dibuat lebih kecil, namun penempatan komponen yang tidak strategis juga bisa membuat daya tahan Invisimos menjadi tidak terlalu lama.
“Penempatan posisi komponennya masih harus dipikirkan lagi, mas. Ini masih prototype jadi masih apa adanya. Mesti pikir positioning istilahnya. Gimana kabel-kabelnya bisa lebih rapi, lebih ringkas, sehingga bisa lebih sempurna,” timpal Fajar.
Sumber: detik.com










