Kulonprogo – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates mengklaim pengadaan alat pada akhir 2012 sudah sesuai prosedur. Sementara, pihak Jogja Corruption Watch (JCW) meminta agar Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ memeriksa RSUD Wates terkait pengadaan tersebut karena dinilai rawan penyimpangan.
Dirut RSUD Wates, Lies Indriyati mengatakan, seluruh proses pengadaan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Menurutnya, hal tersebut diperkuat dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). Sehingga, dikatakannya, pihak Kejati tidak perlu repot-repot memeriksa pengadaan alat kesehatan 2012 di rumah sakit yang dipimpinnya tersebut.
“LHP BPK menyebut semuanya sudah normatif. Kami tidak berani mengada- ada. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan BPK, memang tidak ada penyalahgunaan dalam pengadaan alat kesehatan tersebut,”ungkapnya, Minggu (7/7).
Lies menjelaskan, bantuan dana dalam pengadaan alat kesehatan tahun 2012 tersebut terbagi dalam dua tahap. Yakni dana Tugas Pembantuan (TP) sebesar Rp5 miliar dan Tugas Pembantuan Perubahan (TPP) sebesar Rp 7 miliar. Menurutnya, dari total dana tersebut tidak semua digunakan. Untuk TP misalnya, hanya digunakan sekitar Rp4,6 miliar sedangkan untuk TPP hanya digunakan sebesar Rp6,3 miliar.
“Persisnya saya lupa. Tapi kisarannya di angka tersebut. Sisanya kita kembalikan ke negara karena kita memang hanya menggunakan sesuai kebutuhan saja,” katanya.
Rentang waktu proses pengadaan alat kesehatan dengan dana APBN tersebut, lanjutnya, memang cukup pendek. Namun, pihaknya menjamin jika prosesnya aman karena hal tersebut dilakukan melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemkab Kulonprogo.
“Pengadaan tersebut saya pastikan aman karena kami melalui ULP Pemkab. Seluruh barang juga sudah digunakan sejak awal 2013 ini”imbuhnya.
Sementara, Kepala Divisi Investigasi JCW Maryanto Rodzali mengatakan, pihaknya mendesak agar Kejati tidak hanya mengusut pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit di Jogja saja. Pasalnya, berdasarkan penelusuran JCW pada APBN P 2012, anggaran pengadaan alat kesehatan yang mengucur ke daerah tidak hanya diterima RS Jogja, melainkan juga di RSUD Wates. Bahkan, dikatakannya, dana yang diterima RSUD Wates malah jauh lebih besar.
“Dari sisi waktu, pengadaan alat kesehatan tersebut memang sangat pendek, yakni tiga bulan sejak dikucurkan pusat. Proses pengadaan berjalan dari September sampai Desember. Hal itu sangat rawan penyimpangan karena waktu sangat sedikit,”paparnya.
Sumber: sorotjogja.com

Wali kota Batam Ahmad Dahlan meresmikan penetapan kenaikan kelas rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam dari tipe C menjadi tipe B di halaman aula RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji, Jumat (5/7) siang. Hadir dalam acara peresmian itu, Menteri kesehatan RI yang diwakili oleh Direktur Bina Upaya Kesehatan Jiwa Diana Utami, ketua DPRD kota Batam Surya Sardi, Sekdako Batam Agus Sahiman, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Chandra Rizal dan sejumlah pejabat pemko dan SKPD lainnya.
Rumah sakit Pondok Indah (RSPI) Puri Indah di usianya yang kelima berhasil meraih prestasi yang cukup membanggakan. Selain menjadi rumah sakit swasta pertama yang berhasil melakukan transplantasi hati di Indonesia, ada lagi prestasi lainnya.
SEMARANG – Direktur Utama RSUP Dr Kariadi Semarang, Bambang Wibowo, mengakui rumah sakit yang dipimpinnya masih memiliki banyak kekurangan. Pembenahan pun diagendakan, meliputi penyediaan sumber daya manusia (SDM), teknologi, fisik bangunan, dan mutu pelayanan.
Padang — Rumah sakit di dalam negeri perlu berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, kemampuan tenaga medis serta didukung dengan peralatan yang canggih, agar mampu mengangkat daya saing di bidang kesehatan. Dengan itu, diharapkan tak ada lagi warga negara Sumbar khususnya tidak ada yang memilih berobat ke luar negeri terutama Malaysia dan Singapura.
(CBS News) NEW YORK – One of the most dangerous threats inside hospitals today is a superbug called CRE, a bacteria resistant to antibiotics. Cases of CRE have been increasing, and have now been found in at least 43 states.
PELALAWAN – Saat ini, upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL) merupakan salah satu dokumen lingkungan hidup yang berisi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan bagi pelaku usaha.
LONDON (Reuters) – On any given day, some 80,000 patients in Europe are fighting an infection they picked up in hospital, often while in intensive care, the EU’s disease monitoring agency said in a survey published on Thursday.
A second doctor in eastern P.E.I. is speaking out against changes to services at the Souris Hospital.
Jakarta : 10 hari setelah Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM) menerima akreditasi Joint Comission International (JCI), ternyata salah satu rumah sakit di Bali menerima penghargaan yang sama, yaitu Rumah Sakit Shanglah.





