
Diabetes tipe 1 (T1D) merupakan salah satu penyakit kronis berat yang paling sering terjadi pada anak-anak dan jumlah kasusnya meningkat seiring bertambahnya usia. Secara keseluruhan, penyakit ini dapat memengaruhi 1 dari 100 orang sepanjang hidupnya. T1D disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel penghasil insulin di pankreas. Stadium 1 T1D didiagnosis ketika ditemukan beberapa penanda serangan imun tersebut (autoantibodi pulau pankreas/islet autoantibodies). Penyakit kemudian berkembang menjadi stadium 2 ketika sebagian besar insulin telah hilang dan kadar gula darah mulai menjadi abnormal. Stadium 3 ditandai dengan kadar gula darah yang sangat tinggi yang sering menyebabkan ketoasidosis diabetik (DKA) dan memerlukan terapi insulin untuk menyelamatkan nyawa.
Perkembangan penyakit ini terjadi dalam periode bulan hingga tahun, sehingga memberikan peluang untuk melakukan skrining guna mendeteksi penyakit lebih awal, memperlambat progresi dengan terapi obat, serta memberikan edukasi yang dapat mencegah DKA. Diagnosis dini dan memulai terapi insulin ketika kadar HbA1c baru sedikit di atas 6,5% membantu mencegah komplikasi multiorgan yang meningkat seiring usia dan menjadi penyebab utama tingginya biaya medis langsung serta hilangnya produktivitas kerja yang berkaitan dengan T1D.
Berbagai penelitian yang mengikuti kelompok remaja berisiko tinggi selama puluhan tahun telah memberikan perkiraan awal mengenai cost-effectiveness skrining stadium 1 dan stadium 2 T1D. Skrining tidak dapat dibatasi hanya pada keluarga penderita T1D karena kelompok tersebut hanya mewakili sekitar 10–15% dari diagnosis baru T1D. Dalam beberapa tahun terakhir, program yang berhasil seperti Fr1da di Jerman dan Autoimmunity Screening for Kids (ASK) di Amerika Serikat telah memperluas skrining ke populasi umum. Program-program ini menyediakan data yang diperlukan untuk memperkirakan cost-effectiveness ketika skrining menjadi bagian dari layanan preventif kesehatan masyarakat.
Pemeriksaan autoantibodi pulau pankreas terbukti secara signifikan menurunkan angka kejadian DKA saat diagnosis dan berpotensi mengurangi biaya pelayanan kesehatan akibat komplikasi jangka panjang. Namun demikian, tindak lanjut jangka panjang terhadap peserta skrining tetap diperlukan. Skrining T1D dini juga dapat dikombinasikan dengan skrining penyakit celiac, kadar kolesterol tinggi, atau kondisi lain yang dapat dideteksi melalui tes darah, sehingga semakin meningkatkan cost-effectiveness program. Skrining rutin bayi baru lahir yang saat ini diterima secara luas untuk sekitar 30 penyakit langka—yang memengaruhi 1 dari 600 bayi—memerlukan biaya sekitar USD 125–150 per anak. Sebagai perbandingan, sekitar 1 dari 30 anak memiliki T1D dini atau penyakit celiac yang dapat dideteksi dengan biaya kurang dari USD 50 per anak yang diskrining.
Hasil program di Jerman dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa cost-effectiveness skrining bergantung pada prevalensi T1D dalam populasi, frekuensi DKA, akurasi dan biaya tes skrining, serta efisiensi sistem pelayanan kesehatan. Analisis ini memungkinkan prediksi skala nasional mengenai jumlah anak dan remaja berisiko tinggi serta sumber daya yang diperlukan untuk memantau mereka secara efektif pada stadium 1 dan 2. Skrining pada usia 2 dan 6 tahun di Jerman diperkirakan setiap tahun akan menemukan jumlah anak dengan T1D stadium dini yang serupa dengan jumlah anak yang saat ini baru terdiagnosis pada stadium 3, serta menurunkan kejadian DKA saat diagnosis sebesar 61%. Jika seluruh anak di Amerika Serikat diskrining saat ini, diperkirakan sekitar 350.000 anak akan terdiagnosis T1D stadium 1 dan 70.000 anak akan terdiagnosis stadium 2. Analisis cost-effectiveness terhadap skrining T1D dini menunjukkan bahwa investasi finansial dalam program tersebut layak dilakukan karena manfaat kesehatan dan penghematan biaya yang telah terbukti.







