Kesehatan Mental Balita dan Anak – Anak Positif COVID-19 yang Dikarantina
Community of Practice for Health Equity

Balita dan anak – anak adalah salah satu kelompok yang rentan terpapar COVID-19. Per 29 Agustus 2020, terdapat 2.2% kelompok umur 0 – 5 tahun dan 7.2% kelompok umur 6 – 18 tahun positif COVID-19 yang menjalani perawatan serta isolasi. Perhatian lebih harus diarahkan kepada anak – anak yang dalam perawatan COVID-19 karena tidak hanya fisik mereka yang rentan, namun kesehatan mental mereka juga rentan. Anak – anak dalam perawatan COVID-19 yang terpisah dari orang tua atau pengasuh mereka, anak – anak yang orangtua atau pengasuhnya terinfeksi, atau bahkan meninggal dari penyakit ini memiliki banyak pertanyaan yang mungkin belum bisa mereka mengerti.




Kurangnya kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor kesenjangan pelayanan kesehatan selama COVID-19. Menurut data dari International Labour Organization, banyak negara telah mengalami kekurangan tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 karena jam kerja panjang, upah yang rendah, dan kendala keselamatan kerja dan risiko yang tinggi di lapangan.1 Terlebih lagi, faktor – faktor tersebut memiliki dampak yang lebih besar bagi wanita. Secara global, wanita menempati 70% dari tenaga kesehatan profesional.2 Adapun di Indonesia, daerah – daerah pedesaan dan pelosok sangat bergantung pada pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para bidan. Seorang bidan di daerah rural umumnya sangat dipercayai oleh masyarakat dan seringkali memberikan pemeriksaan dasar dan konseling kesehatan sebelum masyarakat pergi ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.3 Wanita juga seringkali terlibat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebagai sukarelawan dan pekerja sosial. Lantas, apa yang membedakan besarnya beban dan risiko yang dihadapi tenaga kesehatan wanita dan pria, terutama selama pandemi COVID-19?










