|
|
|
![]() |
Core Competencies for infection control and hospital hygiene professional in the European Union Editor : European Centre for Disease Prevention and Control Tahun : 2013 Penerbit : European Centre for Disease Prevention and Control |
|
|
|
![]() |
The Safety Competencies
Editor : Canadian Patient Safety Institute Tahun : 2008 Penerbit : Canadian Patient Safety Institute |
|
|
|
| The role of chief executive officers in a quality improvement initiative: a qualitative study
Editor : Anam Parand, Sue Dopson dan Charles Vincent Tahun : 2013 Penerbit: group.bmj.com |
|
|
|
|
![]() |
Pocket Book of Hospital Care for Children: Second Edition
Editor : World Health Organization Tahun : 2013 Penerbit : World Health Organization |
|
|
|
![]() |
Peran Direktur Medis: sebagai Tuan atau Pelayan?
Editor : Antonie Kossaify, Boris Rasputin, Jean Claude Lahoud |
|
|
|
| Akreditasi RSUD di NTT
|
|
|
|
|
| Belajar Sistem Akreditasi dari Pengalaman Australia
|
|
|
|
|
| Rumah Sakit Sayang Bayi, Masih Ada?
Editor : Putu Eka Andayani |
|
|
|
|
| Medical Audit
|
|
|
|
|
| The role of Clinical Officers in the Kenyan health system: a question of perspective
Editor : Patrick Mbindyo, Duane Blaauw and Mike English Tahun : 2013 Penerbit : BioMed Central |
|
|
|
|
Sejak 2011, RS Bunda Sudah Lakukan 50 Bedah Robotik
Kemajuan teknologi saat ini, rasanya dimanfaatkan betul oleh Rumah Sakit Bunda. Di RS ini, sejak Desember 2011 telah melayani 50 kasus bedah robotik.
Bedah robotik merupakan proses bedah laparoskopi menggunakan robot yang dilakukan secara khusus oleh tim bedah yang sudah terlatih di RS Bunda, Jakarta.
Ahli bedah robotik pertama di Indonesia Dr. Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, SpOG menyampaikan rasa syukurnya karena telah berhasil melakukan 50 operasi bedah robotik dalam setahun terakhir.
“Alhamdulillah, hingga saat ini pasien bedah robotik mencapai 50 kasus. Pemikiran untuk melibatkan teknologi yang paling maju ini memang berisiko. Tapi dengan niat memberikan yang terbaik bagi pasien, ini bukti kemajuan dunia pelayanan kesehatan dan kedokteran di Indonesia,” jelas Ivan pada acara ‘Pencapaian 50 Kasus Pertama Badah Robotik di Indonesia’, Kamis (27/6/2013).
Menurut Ivan, hingga saat ini RS Bunda bisa melayani pasien dengan penyakit seperti ginekologi umum (myoma,kista, dan lainnya), urologi (prostat,kanker), dan endrometriosis.
“Adapun untuk risiko, bahwa apapun jenis pembedahan, selalu ada risikonya. Tapi risiko ini bisa diminimalisisir dengan pembedahan minimal invasif termasuk bedah robotik,” tambahnya.
Sumber: liputan6.com
Doctors, Nurses Deliver Hospital Care to Patients’ Homes
ORLANDO, Fla. — Instead of admitting patients to medical units at the hospital, clinicians at Orlando Regional Medical Center are providing health care to patients in the comfort of their homes. The new twist on modern medicine is being piloted in a project to provide hospital-level care in a patient’s home through home visits, videoconferencing (virtual visit) and telemonitoring (remote vital signs monitoring). The goal is to deliver the same high quality care found in the hospital while in the home setting, but at lower costs and with increased convenience and greater benefits to patients.
Patients in the Emergency Department will be evaluated by a doctor and a case manager to determine if they are candidates for the pilot program. If a patient meets criteria and consents to participate the patient is given a “doctor’s bag” to take home for their hospital stay at home. The small case contains a camera and computer monitor, as well as equipment to monitor vital signs remotely. The technology allows doctors and nurses to monitor a patient’s condition at home just as they would if the patient were in the hospital.
For example, nurses from Orlando Health’s Visiting Nurse Association check will check in with a patient every four to six hours using a telemedicine connection, and make a daily visit.
“Doctors will also check on the patient via teleconference just as they would during daily rounding at the hospital, and they will also be available 24/7 for an emergent situation,” said David Sylvester, vice president, Post Acute Care and Transition Services, Orlando Health.
The study will last four months.
“During the pilot phase of the project, we hope to monitor 40 to 50 patients at home, beginning with a few medical conditions – pneumonia, cellulitis or skin infection, deep vein thrombosis or blood clots,” said Timothy Bullard, MD, chief medical officer, Orlando Regional Medical Center.
The innovative approach to medicine may prove beneficial to patients and the health care industry.
“We hope that caring for patients in their homes instead of in the hospital will allow us to provide a higher level of care while reducing health care costs,” said Dr. Bullard. “Caring for patients in their home environment practically eliminates the chance of a hospital-acquired infection since they won’t be in close proximity to other patients who may be very ill. We also believe it will enhance patient satisfaction by caring for them in an environment that is familiar to them.”
Once patients are discharged from their home setting, medical care will be transitioned to their primary care doctors, as it would when discharged following a traditional hospitalization. Patients will also be evaluated for home health services options.
###
About Orlando Health
Orlando Health is a $1.9 billion not-for-profit health care organization and a community-based network of physician practices, hospitals and care centers throughout Central Florida. Physician Associates, one of the largest multi-specialty practices in central Florida, consisting of more than 90 physicians in more than 20 locations, became a member of the Orlando Health family in January, 2013.
The organization, which includes the area’s only Level One Trauma Centers for adults and pediatrics, is a statutory teaching hospital system that offers both specialty and community hospitals. They are: Orlando Regional Medical Center; Dr. P. Phillips Hospital; South Seminole Hospital; Health Central Hospital, South Lake Hospital (50 percent affiliation); St. Cloud Regional Medical Center (20 percent affiliation), MD Anderson Cancer Center Orlando – the first affiliate of one of the nation’s premier cancer centers, The University of Texas MD Anderson Cancer Center in Houston; and the Arnold Palmer Medical Center, which consists of Arnold Palmer Hospital for Children and Winnie Palmer Hospital for Women & Babies. Orlando Health’s areas of clinical excellence are heart and vascular, cancer care, neurosciences, surgery, pediatric orthopedics and sports medicine, neonatology, and women’s health.
Orlando Health is one of Central Florida’s largest employers with nearly 16,000 employees and more than 2,500 affiliated physicians supporting our philosophy of providing high quality care and service that revolves around patients’ needs. We prove this everyday with over 110,000 inpatient admissions and nearly 690,000 outpatient visits each year. In all, Orlando Health serves 1.6 million Central Florida residents and nearly 3,000 international patients annually. Additionally, Orlando Health provides approximately $239 million in support of community health needs.
Ditolak Sejumlah Rumah Sakit, Balita Ini Akhirnya Meninggal
MAKASSAR — Revan Adiyaksa Amir akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit Akademis Makassar sekitar pukul 01:15 WITA Kamis dinihari setelah sebelumnya ditolak sejumlah Rumah Sakit (RS) milik pemerintah dan swasta dengan alasan ruangan perawatan penuh.
“Sebelumnya anak saya, saya bawa ke dokter umum karena mengalami muntaber, kemudian dibawa ke Rumah Rakit Umum Daya untuk mendapat perawatan, kemudian dirujuk ke RSU Wahidin Sudirohusodo, tetapi di tolak dengan alasan ruang PICU penuh pasien,” ujar Nirma, ibu kandung Revan di Makassar, Kamis.
Usai menguburkan anaknya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Panaikang dia menuturkan, awalnya Revan mengalami sakit dan muntah muntah kemudian di bawa ke dokter umum pada 21 Juni 2013. Tidak ada perubahan kemudian dirinya membawa anaknya ke RSUD Daya pada Senin 24 Juni 2013.
Setelah dirawat beberapa hari, lanjut Nirma, kondisi Revan menurun dan terlihat tertidur, namun setelah dicek dokter, ternyata almarhum dalam kondisi kritis dan bukan tertidur.
Pihak RSUD Daya kemudian langsung merujuk ke RS Regional Wahidin Sudirohudo mengunakan ambulan pada Rabu 26 Juni malam, namun tiba di RS tersebut pihak RS hanya memeriksa Revan didalam ambulan alasannya ruang perawatan anak Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sedang penuh.
Tidak ingin anaknya tersiksa karena dalam kondisi kritis, dia bersama suaminya (Amir) yang bekerja serabutan kemudian membawa anaknya ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Sayangnya, pihak rumah sakit tersebut juga mengatakan alasan yang sama dan tidak menerima Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda).
Nirma kemudian kembali membawa anaknya ke Rumah Sakit Awal Bros, lagi-lagi pihak rumah sakit mengatakan tidak punya ruangan khusus, dan tidak menerima peserta Jamkesda. Sekitar pukul 11:40 WITA anaknya kemudian dibawa ke RS Akademis dan akhirnya diterima dan ditangani.
Akan tetapi takdir berkata lain, usaha Nirma menyelamatkan anak keduanya akhirnya sirna dan Revan meninggal dunia pada pukul 01:15 WITA karena kekurangan cairan dan kondisinya sangat lemah.
“Anak saya sudah tidak sadar waktu dibawa ke beberapa rumah sakit. Dan saya belum tahu harus membayar pakai apa di rumah sakit Akademis, KTP dan KK disuruh simpan sebagai jaminan, saya hanya pasrah saja pak, kami ini orang miskin,” ucapnya terbata dirumah orang tuanya Perumahan Haji Kalla II/24 Kelurahan Panaikang, Kecamatan Panakukang.
Dikonfirmasi terpisah, Direktur RS Wahidin Sudirohusudo Prof Dr Abdul Kadir mengatakan pihaknya telah menangani pasien sesuai prosedur, hanya saja kondisi anak tersebut sudah kritis dan mesti dirawat intensif diruangan khusus karena mulai kehabisan cairan.
“Dari laporan saya terima, kondisi pasien sudah parah dengan kesadaran menurun, tetapi ruang PICU dengan 13 tempat tidur sedang penuh, lalu orang tuanya membawa ke rumah sakit lain setelah ditelepon dokter jaga ke beberapa rumah sakit, jadi kami tidak menolak,” bantahnya.
Sumber: republika.co.id
European Observatory on Health System and Policies
|
|
|
![]() |
Governing Public Hospitals: Reform srategies and the movement towards institutional autonomy
Editor : Richard B. Saltman, Antonio Duran and Hans F.W. Dubois Tahun : 2011 Penerbit : European Observatory on Health System and Policies |
|
|
|
West Cumberland Hospital care standards criticised
A hospital in Cumbria has been criticised for failing to meet national standards for care following an inspection by the health watchdog.
The Care Quality Commission (CQC) carried out an unannounced inspection at West Cumberland Hospital in Whitehaven in May.
It found action was needed in the care and welfare of patients, staffing and record-keeping.
A hospital spokesman said there was “no excuse” for not meeting the standards.
The inspection found there were not enough qualified and experienced staff to meet patients’ needs and patients’ care was “inadequate at times”.
It also found records were not being correctly maintained meaning patients were at risk of “unsafe or inappropriate” care and treatment.
However, the majority of patients said they were “satisfied” with the care and treatment they received at the hospital, according to the report.
‘Long journey’
Senior managers said plans were in place to rectify many of the issues around staffing and record keeping at the hospital.
Acting director of nursing Chris Platton said: “There can be no excuses for not meeting the expected standards set out in this report.
“[It is] unacceptable that both our staff and patients have historically endured standards of care which fall way below that of which any of us would expect from the NHS for our loved ones.”
He said that since September, 102 more nurses had been appointed to ensure there was greater flexibility in workforce planning.
Mrs Platton added: “There is no doubt that we are on a long journey relating to improving the quality of the services we deliver and the feedback, so far, from this inspection shows that we are taking steps in the right direction and beginning to make a difference.”
MP for Copeland and shadow health minister Jamie Reed said: “Today’s report raises some deeply worrying concerns that need to be put right without delay.
“It is right that they have recognised where the failings were occurring and this must result in better patient care – this is the central priority.”
Northumbria Healthcare NHS Foundation Trust is in the process of taking over the hospital as well as Cumberland Infirmary in Carlisle.
Source: bbc.co.uk
Mendikbud Resmikan RS Gigi dan Mulut Senilai Rp 44 M di Makassar
Makassar – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh meresmikan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, di Jalan Kandea, Makassar, Senin (26/6/2013). RS ini menghabiskan dana Rp 44 miliar.
“Kebutuhan dokter umum dan dokter gigi yang memiliki profesionalitas tinggi sangat besar. Kami dukung penuh Unhas yang sudah mempersiapkan rumah sakit ini, bisa menjadi tempat untuk melatih keterampilan teknis bagi calon dokter gigi Unhas, bisa pula menjadi pusat rujukan. Bukan hanya pasien, tapi pengembangan keilmuan bagi para calon dokter gigi,” ujar M Nuh usai meresmikan RSGM Kedokteran Gigi Unhas.
Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, Prof Drg Mansyur menyebutkan total anggaran yang dibutuhkan untuk membangun rumah sakit gigi dan mulut terlengkap di Indonesia ini mencapai sekitar Rp 44 miliar. Rinciannya Rp 14 miliar dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Tahun 2010 berupa bangunan beserta isinya, sedangkan peralatan Kedokteran Gigi sebesar Rp 30 miliar dari dana APBN tahun 2010 dan dana APBN-Perubahan tahun 2012.
Mansyur menambahkan, rumah sakit gigi dan mulut ini dilengkapi fasilitas rawat inap, laboratorium, ruang operasi bedah mulut, farmasi, peralatan foto rontgen, perawatan gigi anak dan 48 dental unit. Selain itu, Fakultas Kedokteran Gigi Unhas juga memiliki 11 guru besar dan 3 dokter spesial bedah mulut.
Selain meresmikan RSGM Fakultas Kedokteran Gigi Unhas, Mendikbud juga meresmikan gedung Teaching Industry, di kampus Unhas Tamalanrea dan menghadiri dialog dengan para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi Unhas di auditorium RS Unhas.
Sebelumnya, Mendikbud dan rombongannya juga menyambangi kediaman mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi, Hikmah, mahasiswa jurusan Kimia, yang berprestasi namun kurang mampu, di Jalan Kandea, Makassar.
Sumber: detik.com
11 Rumah Sakit Siap Tampung Penderita Gagal Ginjal
PENDERITA gagal ginjal boleh bernapas lega dari sekarang. Pasalnya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan 11 rumah sakit sudah menandatangani perjanjian komitmen mengenai keikutsertaan menjadi pusat Gagal Ginjal Terminal guna memberikan pelayanan pengobatan kepada para penderita.
Kondisi itu bisa terjadi sebagai salah satu upaya pemerintah mematangkan pelayanan kesehatan, khususnya bagi penderita gagal ginjal sebagai penyakit berbiaya besar (katastrofik) di era Sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Sehingga diharapkan pada implementasi di lapangan pada 1 Januari 2014, para penderita gagal ginjal semakin bisa memudahkan mereka mendapatkan layanan dialisis secara berkala atau operasi transplantasi ginjal yang terbilang relatif mahal. Di samping itu, pemerintah juga terus menggenjot jumlah rumah sakit juga setiap tahun agar terus bertambah demi mencukupi para penderita gagal ginjal yang setiap tahun meningkat pesat.
“Sebanyak 11 rumah sakit sudah menandatangani kerja sama dengan Kemenkes dan Askes untuk menjadi pusat Transplantasi Gagal Ginjal Terminal, dan di tahun mendatang akan diterus ditambah. Contohnya RSCM, RS PGI Cikini, RSUP Kariadi, RSPAD GS, RSUP Dr. Sutomo, RS Sardjito, RS Pringhadi, dan lain-lain. Tak hanya itu, kita juga terus berupaya menambah rumah sakit lagi sekaligus prasarana dan sumber daya manusia untuk terus bisa mencukupi penderita gagal ginjal yang selalu saja meningkat setiap tahun,” kata dr. B. Eka A. Wahjoeni, M. Kes mewakili key note speech dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH selaku Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dalam acara bertema Pelayanan Kesehatan yang Efektif dan Efisien pada Kasus Gagal Ginjal di Hotel Manhattan lantai 5, Kuningan- Jakarta Pusat, Rabu, (26/6/2013)
Senada dengan itu, Direktur Pelayanan PT. Askes Fajriadiunur mengatakan, PT. Askes yang akan bertransformasi menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Nasional) kesehatan akan menjamin seluruh penduduk dalam suatu asuransi sosial, sehingga terbuka para penderita kasus gagal ginjal mendapatkan pelayanan berbiaya mahal seperti dialisis, Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis ( CAPD), ataupun operasi transplantasi ginjal. Namun, harus perlu dilakukan kajian bersama tentang penanganan pasien dengan kasus penyakit Gagal Ginjal Terminal yang efektif dan efisien, baik secara outcome klinis maupun dari segi biaya.
“Mendapatkan outcome yang efisien dan efektif mengenai pelayanan klinis dan segi biaya sangat berguna bagi para penderita gagal ginjal nantinya. Sehingga masyarakat yang selama ini belum ter-cover asuransi akan menggunakan kesempatan ini memperoleh pengobatan. Kemudian jadi sangat mungkin penderita gagal ginjal meningkatkan lagi kualitas hidupnya,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Rully Roesli, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajajaran menambahkan bila upaya sampai per Januari 2014 belum bisa dilakukan, terutama pelayanan transplantasi ginjal. Menurutnya, sistem itu bisa diperbaiki sambil berjalan dan pasien mencari donor yang pas. Sehingga progresitas kematangan BPJS ini bisa cepat dirasakan masyarakat dan pelayanan kesehatan di Indonesia bisa benar-benar mengalami peningkatan.
“Transplantasi ginjal vital untuk menaikan kembali quality of life seseorang bila nanti BPJS berjalan. Pun kalau belum bisa dilakukan, hal itu bisa dilakukan sambil berjalan. Di mana pasien penderita gagal ginjal tetap menjalani dialisis atau COPD terlebih dahulu dan sekaligus mencari calon pendonor yang pas. Dan sampai pada waktunya, operasi itu bisa dilakukan dan pasien sudah mendapatkan donor yang pas. Barulah bisa dilakukan operasi transplantasi ginjal, yang berangkat dari rekomendasi Askes dan rumah sakit,” terangnya.
Sumber: okezone.com
RSUD Menanti SDM dan Alkes
BALIKPAPAN – Progres pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balikpapan sudah mencapai 95 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Dyah Muryani mengatakan, pihaknya tinggal berkonsentrasi mencari sumber daya manusia (SDM) serta alat kesehatan (alkes). Memenuhi persyaratan terakhir sebuah rumah sakit. “Alkes belum, perekrutan juga belum. Kami nunggu kajian. Nah setelah itu baru perekrutan,” kata Dyah, siang kemarin.
Ia menjelaskan, selain alkes, proyek yang menelan dana Rp 78 miliar tersebut nantinya tinggal menambah interior, pemasangan plafon, serta dibuatkan taman sebagai pencerah kawasan lingkungan. Sedangkan saluran air dan ventilasi udara dalam proses finishing. “Jadi semua tinggal tahap akhir,” ujarnya.
Sesuai fungsi pembangunan, rumah sakit yang di Jalan Mayjend Sutoyo, Gunung Malang tersebut diperuntukkan masyarakat menengah ke bawah. Prioritas pasien keluarga miskin (gakin), Jamkesmas, Jamkesda dan badan penyelenggara kesehatan lain.
Tidak hanya masyarakat kelas menengah bawah bisa terlayani, RSUD Balikpapan juga bisa mengurangi kepadatan layanan yang selama ini terpusat di rumah sakit pemerintah provinsi atau swasta yang sudah ada sebelumnya. Sama halnya RSUD Kanudjoso Djatiwibowo, RSUD Balikpapan bisa menangani semua kasus penyakit. Baik luar dan dalam. “Secara kualitas jelas menang RSKD karena tipe B, sedangkan RSUD Balikpapan hanya tipe C. Tapi bisa tangani semua penyakit,” terangnya.
Dyah menambahkan, pihaknya menginginkan agar Menteri Kesehatan membuka RSUD Balikpapan. “Yang buka kami maunya Menteri Kesehatan dong,” imbuhnya. Lantas kapan dibuka? “Kami targetkan awal tahun depan sudah bisa digunakan,” imbuhnya.
Terpisah, Siti Harbiah, warga Gunung Bakaran mengatakan, dibangunnya rumah sakit daerah pasti membawa perkembangan positif. Meski di Balikpapan terdapat banyak rumah sakit, namun tetap saja kadang ada warga Balikpapan tidak mendapat kamar ketika membutuhkan. Apalagi mereka yang masuk golongan gakin. Sebab pembayaran baru dilakukan belakangan oleh pemerintah daerah.
“Ya kami bersyukur jika memang sebentar lagi dibangun. Kami tidak pusing lagi mencari rumah sakit buat golongan miskin. Karena pemulihan kesehatan bagi rakyat menengah ke bawah juga mau berjalan cepat tanpa ada hambatan,” ucapnya. Ia juga berharap pemerintah daerah ikut mengevaluasi RSUD Balikpapan supaya terus memberi pelayanan prima.
Sumber: kaltimpost.co.id
Campaign begins to save hospital services
A campaign group is urging people to ‘rise like lions’ to help protect the future of Chorley Hospital.
Representatives from Unite are leading a fight to safeguard services at Chorley and South Ribble District Hospital after fears were raised over sweeping cuts and the threat of
privatisation.
A public meeting has now been scheduled for July 12 at Chorley Town Hall and organiser Steve Turner is calling on Chorley residents to turn out en masse.
He said: “The baton to defend our hospital has been passed on to the people of Chorley once again.
“There is growing fears that services will be opened up to private companies who put profits before patient care.
“This in our opinion goes against the principle of the NHS and health care being free at the point of need.”
Mr Turner described how 7,000 people marched the streets of Chorley when plans were revealed to close the hospital and transfer services to the Royal Preston Hospital in the 1970s.
He added: “We don’t believe that the hospital will close this time around, but there is a lot of uncertainty around it’s future and what the services will be provided from there in the years to come.
“Chorley is a growing town with an increasing population – we need our hospital more than ever.
“We firmly believe that if the public of our town once again rise like lions we can protect our hospital service.”
Mr Turner said he feared the accident and emergency unit could be downgraded.
Karen Partington, chief executive of Lancashire Teaching Hospitals NHS Foundation Trust, said: “We would like to assure people in Chorley and in the wider community that we remain completely committed to Chorley and South Ribble Hospital, and have no plans nor intention to close it. This continued speculation creates unnecessary anxiety for our patients and staff. We have arranged to meet the group to discuss any concerns they have.”
The public meeting will be held at Chorley Town Hall on Friday, July 12, at 7pm.
Source: chorley-guardian.co.uk












