DEPOK
RS Siloam Bali Siap Kerja Sama dengan JKBM
Bisnis.com, DENPASAR–Manajemen Rumah Sakit Siloam di Bali menawarkan kerja sama dengan Pemprov Bali dalam hal memberikan pelayanan bagi masyarakat yang hendak memanfaatkan Jaminan Kesehatan Bali Mandara.
Direktur Siloam Hospitals Bali I Wayan Sutarga mengungkapkan dengan fasilitas lengkap yang dimiliki rumah sakit Siloam, pihak RS Siloam berharap dapat ikut membantu dan memberi pelayanan yang baik kepada masyarakat Bali.
“Kami berharap fasilitas kelas tiga yang ada di rumah sakit di Sunset Road dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Bali,” jelasnya dalam keterangan tertulis usai menemui Gubernur Bali Made Mangku Pastika di kantornya, Selasa (13/5/2014).
Di Bali, RS Siloam mengoperasikan tiga rumah sakit bertaraf internasional dan memiliki fasilitas yang lengkap dan salah satunya terletak di Sunset Road. Upaya tersebut dilakukan RS Siloam Bali untuk menghilangkan kesan mewah sehingga tidak menjadi hambatan bagi masyarakat yang berniat mendapatkan layanan.
Menanggapi tawaran tersebut, Mangku Pastika mengapresiasi dan berterima kasih kepada pihak Siloam atas tawaran kerjasama yang diberikan, karena akan meningkatkan kualitas Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM).
Dinkes Jabar Siapkan Tujuh RS Tangani Pasien Mers
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Untuk menangani pasien yang terkena Mers, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat, menyiapkan tujuh Rumah Sakit (RS) yang ada di Jawa Barat. RS tersebut, akan siaga menangani pasien dengan gejala Mers terutama mereka yang baru kembali dari negara-negara wilayah Arab.
“Sebetulnya ada 7 RS yang disiapkan. Seperti RSHS, Gunung Jati, RS Subang, yang lainnya saya lupa. Pokoknya yang pernah disiapkan untuk flu burung dan Sars dulu,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jabar Alma Lucyati kepada wartawan, Senin petang (12/5).
Alma mengatakan, semua RS tersebut standarnya sama. Tapi, RSHS memang menjadi rujukan utama. Selain berkoordinasi dengan seluruh Dinkes Kabupaten Kota di Jabar, pihaknya pun berkoordinasi dengan biro-biro perjalanan haji dan umroh untuk menekan penyebaran virus mers di Jabar. ”Sudah ada 11 yang suspect, Insya Allah semuanya negatif,” katanya
Menurut Alma, Dinkes Jabar sudah mengeluarkan edaran kepada biro-biro perjalanan haji dan umroh untuk melakukan upaya pencegahan. Yakni, mulai dari memberikan wawasan, sosialisasi, pelatihan, upaya preventif, hingga membantu dan memantau jamaah yang baru pulang umrah.
“Setelah jemaah pulang, dua pekan dipantau. Karena masa inkubasinya 2 hari sampai 2 pekan. Kan biro-biro ini lah yang memiliki data lengkap jemaah,” katanya.
Namun, Alma berharap, masyarakat melakukan upaya aktif untuk memeriksakan diri jika merasakan gejala-gejala seperti demam serta batuk dan kebetulan baru pulang dari Arab. Dengan upaya aktif ini, setidaknya bisa mengurangi penularan kepada orang-orang terdekat seperti anak, istri, suami, dan yang kerabat dekat lainnya.
“Kalau sudah lewat dua pekan dari kepulangan, berarti aman,” katanya.
Upaya tersebut, kata dia, merupakan salah satu cara untuk melakukan deteksi dini. Dinkes Jabar, akan sangat senang dan bersukur kalau masyarakat bisa kooperatif. ”Pulang dari daerah Arab, Qatar, Oman dan sekitarnya, lalu datang ke kami,” katanya.
Sumber: berita.plasa.msn.com
Edisi Minggu ini: 13 – 19 Mei 2014
|
+ Artikel http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23931040 merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Karalapillai D, Baldwin I, Dunnachie G, Knott C, Eastwood G, Rogan J, Carnell E, Jones D. dan dipublikasikan di Pubmed pada Juni 2013. Sebagaimana juga berbagai publikasi lainnya mengenai efektivitas komunikasi di dalam RS, komunikasi tertulis yang sistematis merupakan satu keharusan untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan akhirnya meningkatkan keselamatan pasien. |
||||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | ||||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
||||
|
|
Era JKN, RS Surplus atau Defisit? |
|
University hospitals as drivers of career success: an empirical study of the duration of promotion and promotion success of hospital physicians |
|
Keselamatan pasien masih tertinggal di RS-RS di AS
Keselamatan pasien masih tertinggal di RS-RS di AS[*]
Rating Tahun 2013 oleh Consumer Reports menunjukkan bahwa sebagian besar RS perlu pembenahan
Consumer Reports magazine: May 2013

Majalah Concumer Reports baru-baru ini merilis laporan mengenai RS-RS peringkat tertinggi dalam hal keselamatan pasien. Pada laporan tahun 2012 (Agustus), jumlah RS yang dianalisis ada sebanyak 1.159 dan tahun 2013 jumlahnya meningkat menjadi 2.031 RS di seluruh Amerika. Namun dari data yang dianalisis, menurut Consumer Report ada banyak aspek yang masih perlu mendapat perhatian, antara lain:
- RS dengan rangking terendah, yaitu Clinch Valley Medical Center di Richlands, Va., hanya memperoleh skor 14 dari skor total 100. Manajer Risiko dan Risiko, Beth Stiltner, mengatakan bahwa skor hanya merepresentasikan sebagian kecil dari keseluruhan kinerja RS dan tahun 2012 RS telah berhasil menurunkan angka infeksi nosokomial. RS ini juga selalu melaporkan data terbaru pada pemerintah.
- Skor rata-rata RS adalah 49. John Santa, M.D, Direktur Consumer Reports Health Rating Center mengatakan bahwa jika menyangkut pelayanan kesehatan, hasil skoring tidak pernah baik. Selalu ada yang kurang dan angka ini bahkan masih bisa berubah.
- RS dengan skor tertinggi yaitu Bellin Memorial Hospital di Green Bay, Wis., hanya memperoleh skor 74. Ini menunjukkan bahwa bahkan RS dengan ranking terbaik pun masih membutuhkan banyak perbaikan.
Sebagai informasi tambahan, RS pendidikan yang memiliki tugas mulia mempersiapkan dokter masa depan untuk, malah tertinggal. Sebanyak dua per tiga dari 258 RS Pendidikan yang menyetorkan cukup data untuk dianalisis dalam hal patient safety, berada di bawah garis rata-rata nasional. Menurut Santa, RS-RS Pendidikan harusnya memiliki pencapaian yang tinggi, namun kenyataannya hal tersebut tidak terjadi.
Menyedihkannya, tren tersebut justru terjadi secara akut di New York yang merupakan salah satu kota terbesar dan icon AS. Di NY, 27 dari 28 RS Pendidikan memperoleh skor dibawah rata-rata nasional. Dalam hal ini ada pengecualian, yaitu Winthrop University Hospital di Mineola, N.Y. Secara keseluruhan, 58 dari 70 RS di area tersebut memiliki skor di bawah rata-rata nasional.
Skor keselamatan ini difokuskan pada lima ukuran kunci, yaitu: angka readmisi, komplikasi, komunikasi, penggunaan CT scan yang berlebihan dan angka infeksi. Data yang berasal dari pemerintah “pusat” dan pemerintah di negara bagian, mencakup area yang berbeda, tergantung pada pengukuran spesifik yang dilakukan. Untuk melihat deskripsi lengkap mengenai hal tersebut, anda bisa masuk ke link aslinya dengan mengklik how we rate hospitals.
Rating yang dihasilkan oleh Consumer Reports menunjukkan suatu hasil pengukuran yang penting, namun hasil ini ini bukan satu-satunya sumber yang dapat Anda jadikan referensi. Rating ini, misalnya saja, tidak menilai seberapa sukses sebuah RS dalam memberikan terapi medis. Jadi dalam hal ini, calon pasien dapat mencari informasi dari berbagai sumber lain dan memadukannya menjadi suatu informasi yang komprehensif, misalnya di Hospital Compare yang dikelola oleh pemerintah dan di Leapfrog Group, suatu organisasi independen yang merekam keselamatan dan mutu di RS.
[*] Artikel ini dipublikasi di http://www.consumerreports.org pada Mei 2013
Krisis Oksigen di RSUD Simeulue Mulai Teratasi
SINABANG – Kebutuhan oksigen (O2) serta obat-obatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Simeulue mulai teratasi setelah pasokan oksigen dan obat-obatan yang diperlukan tiba via kapal laut di Simeulue, Senin (12/5). Para pasien diharapkan tak lagi gelisah karena apa yang mereka butuhkan sudah tersedia dalam jumlah memadai di rumah sakit itu.
Kabar tentang tibanya pasokan oksigen dan obat-obatan itu disampaikan kepada wartawan melalui konferensi pers di ruang kerja Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Simeulue, Senin (12/5). Temu pers itu dihadiri Direktur RSUD, Kadiskes, Ketua IDI, serta Kabag Humas, dan Kabid Pelayanan
RSUD Gambiran Kediri Bentuk Timsus Tangani Virus Korona
“Kami bentuk tim khusus, agar tidak bisa menyebar kemana-mana. Ada dokter jantung, panyakit dalam, sesuai dengan bidangnya masing-masing,” kata Dr Syahril Hidayat Sp.P, salah seorang dokter RSUD Gambiran, Kediri, kepada wartawan, Senin.
Ia mengatakan penyakit mers ini menjadi sorotan nasional, bahkan di Arab Saudi dikabarkan ada sekitar 133 orang meninggal karena penyakit ini. Terlebih lagi, di Indonesia, banyak masyarakat yang melakukan umrah, sehingga dibentuk tim khusus untuk mengantisipasi penularan virus tersebut.
Ia juga mengatakan, RSUD Gambiran, Kediri juga merawat salah seorang pasien yang sakit mirip dengan gejala sakit mers. Ia adalah EN (44), warga Kabupaten Kediri. Ia sakit setelah pulang umrah.
Saat ini, tim medis masih melakukan pemeriksaan intensif pada pasien tersebut. Tim medis juga masih menunggu hasil uji laboratorium terkait dengan kesehatan pasien tersebut. Namun, ia menyebut, dari pemeriksaan foto rontgen di paru tidak ditemukan ada tanda-tanda “pneumonia” seperti pada pasien yang diduga terserang virus mers.
Sebelumnya, RS Bhayangkara, Kediri juga merawat pasien yang sakit dengan gejala mirip sakit mers. Pasien tersebut adalah Nyonya SU (69), warga Kabupaten Kediri. Ia dirawat setelah sakit usai pulang umrah. Tubuhnya panas, yang disertai dengan sesak nafas dan batuk.
Sampai saat ini, tim dokter RS Bhayangkara, Kediri, masih terus melakukan pengawasan pada kondisi pasien. Ia masih menjalani perawatan di rumah sakit untuk pemulihan kesehatannya.
Direktur RS Bhayangkara, Kediri, AKBP Prima Heru Y menyebut, telah melakukan pemeriksaan awal pada pasien bersangkutan. Bahkan, tim dari Dinas Provinsi Jatim serta Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Provinsi Jatim juga datang, untuk memeriksa pasien bersangkutan. Hasil foto rontgen, menunjukkan tidak terindikasi atau mengarah ke mers, sehingga dimungkinkan terkena virus biasa.
Dalam perawatan pasien pun, tim rumah sakit juga menerapkan proteksi para petugasnya, di antaranya perawat serta tim medis yang memeriksa pasien menggunakan pakaian khusus serta memakai masker. (*)
Pemprov DKI Jakarta Akan Bangun RS Khusus Jantung dan Kanker
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA–Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang merencakan pembangunan dua rumah sakit khusus jantung dan kanker di DKI Jakarta.
Menurut Ahok, rumah sakit khusus kanker dan jantung di Jakarta sudah tidak bisa menampung jumlah pasien dengan jumlah yang banyak.”Yang di Darmais kenapa penuh karena cuma satu ngurusin seluruh Indonesia. Ya kita mau kantor Dinas kesehatan kami jadi RS kanker,” ujar Ahok di Balai Kota, Senin (12/5).
Sedangkan untuk rumah sakit khusus jantung rencananya Pemprov DKI akan membangunnya di Rumah Sakit Sumber Waras Grogol. “Sisinya kita akan bikin rumah sakit khusus jantung jadi nanti orang Jakarta dan luar Jakarta kalau sakit akan kita bantu,” ujar mantan Bupati Belitung Timur tersebut.
Selain itu Pemprov DKI menurut Ahok tengah berencana untuk mengambil alih rumah sakit atau yayasan yang akan kolaps untuk menjadi fasilitas publik. Nantinya, pengambilalihan yayasan atau lembaga swasta tersebut akan dibeli sesuai dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
“Pokoknya kita nggak mau bangunan swasta itu tiba-tiba berubah jadi mall. Kita mau beli aja nanti,” ujar Ahok.
Untuk anggaran rencana pembangunan dua rumah sakit tersebut Ahok mengatakan sudah di alokasikan ke Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah (APBD) perubahan. Selain itu, anggaran bisa diambil dari Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) yang diperoleh dari tidak adanya pendaftaran barang Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ke Unit Layanan Pengadaan (ULP) sampai batas yang ditentukan yakni tanggal16 Mei.
Ahok menilai Silpa akan lebih baik dialokasikan ke program Pemprov DKI lainnya. “Kan tadi banyak yang aku bikin coret jadi Silpa. Ya nanti bisa untuk suntikan dana ke Bank DKI juga ke jalur busway,” terang Ahok.
Untuk Bus TransJakarta sendiri menurut Ahok, Pemprov DKI belum akan membeli armada bus dengan jumlah yang banyak dalam jangka waktu terdekat ini. Target DKI saat ini menurutnya adalah merevitalisasi jalur busway sebanyak 15 koridor. “Ya pokoknya fokus dulu ke jalan kita beresin, bus berapa dulu lah,” ujar Ahok.
Sumber: republika.co.id
Kemenkes Akan Tingkatkan Puskesmas Hutumuri Jadi RS Pratama
Ambon – Berita Maluku. Kementerian Kesehatan akan meningkatkan status Pusat Kesehatan Masyarakat Hutumuri di kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, menjadi rumah sakit pratama tipe D.
“Setelah melihat langsung keberadaan puskemas rawat inap Hutumuri, saya rasa statusnya dapat ditingkatkan menjadi rumah sakit tanpa kelas atau Rumah Sakit Pratama type D,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi di Ambon, Minggu (11/5/2014).
Menurut dia, puskemas rawat inap ini layak untuk ditingkatkan status guna peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di kota Ambon.
Hal ini dirasa perlu, mengingat lokasi puskesmas cukup jauh dari pusat kota dan jumlah penduduk juga dinilai layak.
“Peningkatan status tersebut dipastikan akan meningkatan kualitas kesehatan masyarakat, yang selama ini hanya dilayani satu dokter,” katanya.
Menkes Nafsiah mengatakan, rumah sakit pratama sebenarnya dibangun di daerah kepulauan atau perbatasan agar memudahkan masyarakat untuk memperoleh akses layanan kesehatan.
“Rumah sakit pratama di Ambon ditujukan untuk memenuhi permintaan layanan kesehatan di kelas III, bagi masyarakat yang kesulitan mengaskes layanan, sehingga dinilai layak untuk ditingkatkan status,” ujarnya.
Dijelaskannya, rumah sakit pratama merupakan rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan kesehatan dasar yang tidak membedakan kelas perawatan dalam upaya menjamin peningkatan akses masyarakat.
RS pratama penyelenggaraan melayani kesehatan perorangan yakni memberikan pelayanan gawat darurat selama 24 jam, pelayanan rawat jalan, dan rawat inap.
“Rumah Sakit Pratama akan dilayani tenaga medis, Keperawatan, Penunjang Kesehatan, dan Tenaga nonKesehatan. Minimal akan dilayani dua dokter spesialis,” tandasnya.
Ia menambahkan, izin operasional Rumah Sakit Pratama diberikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota berdasarkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan setempat.
“Saya optimistis setelah ditingkatkan status, layanan kesehatan akan semakin baik dan kualitas kesehatan juga meningkat,” kata Nafsiah Mboi. (ant/bm 10)
Sumber: berita-maluku.com











