|
Halo Pengunjung Website,
+ Artikel
Strategic collaborative quality management and employee job satisfaction
|
||||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | ||||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
||||
| Speaking up for patient safety by hospital-based health care professionals: a literature review |
|
Kompetensi patient safety | ||
RSUD Pandeglang Minim Tenaga Perawat
detakserang.com – PANDEGLANG, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Berkah Kabupaten Pandeglang minim tenaga perawat dan bidan, sebab dari 128 jumlah pegawai yang saat ini ada masih kekurangan sekitar 46 lagi, sehingga harus membutuhkan antara 40 untuk tenaga perawat dan 6 orang bidan.
Enong Iroh Rohayati, Kepala Sub bagian Umum dan Kepegawaian RSUD berkah Pandeglang mengatakan, untuk mengacu ke tipe B yaitu harus ada penambahan tenaga perawat dan bidan, agar untuk satu tempat tidur pasien itu satu orang perawat. Namun kata dia, dari pihak RSUD sendiri sudah mengajukan baik ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan juga ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, tetapi belum ada informasi dari pihak Dinas terkait.
“Sebetulnya kebutuhan tenaga perawat bagi RSUD ini bisa dibilang mendesak, sebab akan mengacu kepada tipe B jadi harus ada penambahan baik bidan dan perawat,”katanya, kemarin.
Lanjut kata Enong, RSUD ini masih ada beberapa ruangan yang belum difungsikan diantaranya ruangan kelas satu dan dua, jumlah pegawai masih kekurangan, maka dari itu dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk segera merealisasikan permohonan penambahan perawat yang telah diajukan pada tahun 2013 lalu.
“Mengingat volume pasien yang dirawat disini sangat banyak setiap harinya maka saya berharap agar Pemda segera menangani kekurangan tenaga perawat, agar pelayanan bisa lebih epektif sehingga tidak ada pasien yang harus menunggu untuk mendapatkan ruangan untuk dirawat,”ungkapnya.
Terpisah Juaeni Kepala bidang (Kabid) Pormasi BKD Kabupaten Pandeglang mengatakan, memang dari RSUD pada tahun 2013 lalu mengajukan permohonan untuk penambahan tenaga perawat, dan permohonan itu juga langsung diajukan lagi oleh pihak BKD ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) RI.
“Kami juga sekarang sedang menunggu informasi dari Menpan, sebab untuk formasinya itu dari pusat,”katanya, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Kamis (29/5).
Sementara H. Dodo Juanda, Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten setempat, pihaknya membenarkan kalau untuk RSUD itu masih kekurangan tenaga bidan dan perawat, tetapi kata Sekda, Pemkab sendiri harus mengkaji Anggaran Pembelanjaan Barang Daerah (Apbd) terlebih dahulu masih cukup atau tidak untuk membiayai jumlah perawat yang dibutuhkan pihak RSUD saat ini.
“Kalau untuk penambahan bidan dan perawat itu bisa direkrut dari Dinkes dan juga dari tiap-tiap puskesmas melalui sleksi, tetapi kita harus mengkaji APBD nya dulu cukup atau tidak untuk memberi tunjangan terhadap mereka, sebab kami juga tidak ingin membebankan pegawai tersebut,”ungkapnya.
Sumber: detakserang.com
Joserizal: RS Indonesia di Gaza Komitmen Bangsa Ini untuk Palestina
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Presidium Mer-C (Medical Rescue Emergency) Joserizal Jurnalis mengatakan, gerakan yang digagas oleh para tokoh di Sumatera Utara tersebut merupakan semangat masyarakat Sumut
RS Korsel Kebakaran, 21 Korban Tewas
Seoul, Menit.tv: Sebuah bencana tragis dengan menelan korban jiwa cukup banyak kembali terjadi. Kali ini laporan dari Korea Selatan yang menyebutkan terjadinya bencana kebakaran yang melanda sebuah rumah sakit yang dikhusukan untuk menampung pasien lanjut usia. Laporan terkini menyebutkan, setidaknya 21 korban jiwa yang terenggut oleh bencana yang pecah pada tengah malam itu.
Laporan lebih jauh menyatakan, Otoritas pemadam kebakaran Korea Selatan yang menerima laporan adanya kebakaran tersebut di provinsi Jeolla, wilayah Selatan Korea Selatan. Kebakaran dilaporkan dimulai dari lantai dua gedung rumah sakit tersebut.
Laporan terkiat menyatakan, terdapat sekitar 34 pasien dan perawat di lantai dua saat api mulai berkobar. 7 orang dikabarkan berhasil selamat setelah diungsikan, namun 28 orang yang berusia sekitar 70-an hingga 80-an tahun yang terpaksa dipindahkan ke rumah sakit lain untuk perawatan setelah menghirup asap.
Pihak berwenang mengonfirmasikan, kebakaran tersebut telah menewaskan 21 orang dan melukai 7 orang lainnya.
Hingga kini, pihak kepolisian dan petugas pemadam kebakaran sedang menyelidiki sebab-sebab dari bencana tersebut. Otoritas Korsel juga dila[porkan sedang memeriksa apakah rumah sakit memiliki peralatan pencegahan kebakaran. Laporan lain menyebutkan, lebih dari 300 pasien berusia lanjut yang berada di rumah sakit itu.
Pemerintah Korea Selatan kali ini, nampaknya akan semakin mendapat tekanan yang berat dari warganya terkait tingkat keselamatan di negeri itu, terlebih tragedi tenggelambya kapal ferry beberapa pekan lalu yang menewaskan ratusan korban. Kritik terhadap pemerintah kini kian tajam dengan pecahnya insiden kebakaran ini.
Sumber: menit.tv
Dewan Minta Pelayanan RSUD Lebih Ditingkatkan
TENGGARONG- DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar agar meningkatkan pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Umum Daerah.
Bank Mandiri Kucurkan Dana Hibah untuk RS Bethesda
YOGYA (KRjogja.com) – PT Bank Mandiri Tbk membantu sarana kesehatan RS Bethesda Yogyakarta berupa satu unit mobil ambulance senilai Rp 227 juta, Kamis (22/5). Bantuan merupakan realisasi dari Program Bina Lingkungan perseroan.
Penandatangan Perjanjian Hibah dan Berita Acara Serah Terima Hibah dilakukan Hendra Wahyudi (Area Manager Bank Mandiri Area Yogya) dan dr Purwoadi Sujatno Sp PD (Direktur Rumah Sakit Bethesda Yogya). Secara simbolis penyerahan hibah dilaksanakan Harjito Hasto Prasojo (Deputy Regional Manager Bank Mandiri Kanwil VII Semarang) kepada dr Purwoadi Sujatno Sp PD (Direktur Rumah Sakit Bethesda Yogya) dan dilanjutkan pemotongan pita dan peninjauan mobil ambulance.
Hendra Wahyudi dalam siaran pers yang diterima KRjogja.com, Kamis (29/05/2014) mengatakan, hibah tersebut berasal dari dana Program Bina Lingkungan Bank Mandiri yang merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan terhadap penyediaan sarana kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. “Kami juga ingin mendukung peran RS Bethesda dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Diungkapkan, program tersebut dilaksanakan melalui tiga pilar utama yaitu, pembentukan komunitas mandiri melalui pelaksanaan program Mandiri Bersama Mandiri yang bertujuan untuk membina kelompok masyarakat/komunitas secara terintegrasi dalam hal kapasitas, infrastruktur, kapabilitas dan akses.
“Kemudian, Program Kemandirian Edukasi dan Kewirausahaan yang dicapai dengan melaksanakan program Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Peduli Pendidikan dengan tujuan untuk menciptakan pemimpin di masa depan yang siap dengan persaingan global. Sedangkan pilar terakhir adalah penyediaan Fasilitas Ramah Lingkungan yang bertujuan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat melalui penciptaan lingkungan yang asri dan nyaman,” tutur Hendra.(Mez)
Sumber: krjogja.com
RSUD Barus, Hasil Patungan Pusat, Propinsi dan Kabupaten
Tapanuli Tengah – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, diresmikan pengoperasiannnya oleh
UAE Umumkan Bebas Virus MERS
DEPARTEMEN Kesehatan Uni Emirat Arab menyatakan, semua rumah sakit di wilayahnya telah bebas dari virus MERS atau
RSUD Kota Malang Beroperasi Mulai Juni 2014
Malang (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang siap dioperasikan mulai Juni 2014 mendatang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, Asih Tri Rachmi.
Menurutnya, RSUD Kota Malang bisa dioperasikan setelah peraturan daerah (perda) Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) rumah sakit sebagai payung hukumnya disahkan oleh DPRD Kota Malang. “Rencananya perda dan SOTK rumah sakit disahkan pada 5 Juni mendatang, setelah itu RSUD bisa langsung beroperasi,” ujar Asih, Selasa (27/5/2014).
Lebih janjut Asih menjelaskan, Perda SOTK RUSD Kota Malang yang akan disahkan legislatif nantinya akan mengatur beberapa hal, diantaranya status RUSD sebagai Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD) hingga standar pelayanan rumah sakit.
“RSUD ini sebenarnya sudah selesai dibangun sejak awal tahun ini lengkap dengan sarana pendukungnya. Tetapi payung hukum yang belum ada membuat RSUD tidak bisa beroperasi,” katanya.
RSUD Kota Malang yang terletak di kawasan Bumiayu Kecamatan Kedungkandang ini berkapasitas 50-60 kamar dengan kategori tipe D Pratama. Luas lahan RSUD mencapai 12 ribu meter persegi. Pembangunannya menelan dana mencapai Rp 15 Miliar lebih.
“Layanan kesehatannya hanya ada kelas III, tidak ada layanan kelas II, I apalagi VIP. Prioritas kami adalah untuk melayani warga kota pemegang BPJS Kesehatan terutama penerima bantuan iuran (PBI),” tandas mantan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang ini. (num/ted)
Sumber: beritajatim.com
Pemerintah Nunggak Utang RS, Obat Kanker Jadi Langka
Banyaknya keluhan masyarakat yang menyebutkan kelangkaan obat kanker di sejumlah daerah terus menjadi masalah. Beberapa yayasan yang menangani pasien kanker bahkan menyebutkan obat kanker sering tiba-tiba menghilang dari pasaran. Menanggapi hal tersebut, Konsultan Hematologi Onkologi dari Divisi Hematologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Prof. Dr. Djajadiman Gatot SpA(K) mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada obat yang menghilang di pasaran. Karena ia pernah menelusuri bahwa kelangkaan obat kanker dikarenakan keengganan sejumlah perusahaan farmasi memberikan obat kanker pada RS.
“Saya juga melihat kondisi ini. Tapi setelah diusut ke distributor obat, kenapa obat menghilang? Mereka bilang, `Dok tidak hilang, tapi RS belum bayar. Kita tidak bisa berikan lagi`. Saya bertanya, Kenapa? Karena masih ada tunggakan dari RS jadi kita tidak bisa berikan lagi,” kata Prof Djajadiman saat temu media di acara pembukaan layanan kesehatan kanker anak gratis oleh Tahir Foundation di RS Mayapada, Senin (26/5/2014). Masalahnya, lanjut Prof Djajadiman, hal ini berdampak negatif pada pasien. Mereka antre di Instalasi Gawat Darurat tanpa kepastian. Ada pula yang tidak bisa masuk ruangan dan baru sampai selasar Rumah Sakit sudah meninggal.
“Kami di lapangan hampir setiap hari melihat seperti itu.” Akibat utang pemerintah Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi yang ditemui di tempat yang sama membenarkan adanya utang pemerintah pada beberapa RS terkait Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sejak 31 Desember silam. Menkes berdalih sejauh ini, anggaran untuk membayarkan utang tersebut masih tersendat di Kementerian Keuangan dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
“Utang telah masuk Kementerian Keuangan dan sedang diaudit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Setalah itu minta persetujuan DPR. Mudah-mudahan bisa dibayar sececaptnya,” kata Menkes. Menkes sempat menyatakan, utang pemerintah pada rumah sakit mencapai 3 Triliun. Sehingga memang menjadi masalah besar ketika perusahaan farmasi menolak memberikan obat. “Inilah yang kita perlu perbaiki. Tapi saya telah bicara pada Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi untuk membantu memberikan obatnya. Karena sekali lagi yang jadi korban pasien. Kasihan pasien,” katanya….
Sumber: beritasingkat.com

Minggu ini sebuah diskusi untuk membahas RS Rujukan pusat dan regionalakan diselenggarakan oleh Magister Manajemen RS FK UGM. Diskusi ini selain melibatkan pakar dari FK UGM juga mengundang para praktisi dari RSUP Dr. Sardjito, RS Akademik dan RSUP Prof. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Diskusi seri pertama telah dilakukan dua minggu yang lalu di FK UGM dengan tujuan untuk membahas definisi “pusat rujukan nasional” yang dikaitkan dengan kompetensi, regionalisasi serta pembiayaan kesehatan di era JKN. Pada seri kedua ini, diskusi akan dititikberatkan pada hal yang lebih teknis mengenai kompetensi rujukan dan bagaimana potensi ketiga RS yang terlibat ini dapat menjadi rujukan sesuai dengan kondisinya masing-masing. Diharapkan dari serial diskusi ini nantinya akan lahir suatu model rujukan nasional dan rujukan regional, hal-hal yang membedakannya dengan RS non rujukan (dan non pendidikan) selain dari persyaratan standar sebagaimana diatur pada Permenkes No 340/2010.


Ini adalah sebuah editorial yang ditulis oleh Neil Lunt dan Russell Mannion untuk IJHPM edisi 2014, 2(4). Menurut penulis, masih ada banyak pertanyaan penelitian tak terjawab terkait dengan kebijakan, ditengah maraknya praktek medical tourism dan pertumbuhan pasar global layanan kesehatan. Untuk itu, penulis mencoba menggarisbawahi isu-isu utama terhadap enam aspek dalam jurnal ini: epidemiologi, ekonomi kesehatan, etika kebijakan kesehatan, politik kesehatan, manajemen kesehatan serta kebijakan kesehatan. Intinya adalah ada sedikit sekali bukti mengenai siapa melakukan perjalanan kemana untuk kepentingan apa, yang akan membantu dalam mengembangkan kebijakan dan peraturan di area ini, yang digolongkan sebagai “under research area” yang membutuhkan lebih banyak peneliti untuk menyajikan fakta-fakta yang ada.
Peneliti berasal dari Health Management and Economic Centre, School of Health Management and Information Sciences, Teheran University of Medical Sciences, Teheran, Iran. Tujuannya adalah untuk melihat dampak dari Strategic Collaborative Quality Management (SCQM) terhadap kepuasan kerja karyawan. Dengan metode case study, hasil yang didapat adalah bahwa RS melaporkan adanya peningkatan beberapa dimensi kepuasan kerja secara signifikan, misalnya manajemen dan supervisi, kebijakan organisasi, syarat kerja dan kondisi kerja. 






