|
Halo Pengunjung Web,
+ Buku A Best Practice Guide for NHS Buku ini dapat digunakan secara bebas (dengan menghilangkan logonya) karena diterbitkan melalui Open Governance Licence oleh website resmi pemerintah Inggris. Buku ini antara lain menjelaskan mengenai karakteristik kemitraan yang efektif dan memberikan berbagai instrumen untuk melakukan self-assessment. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Temu Alumni dan Konferensi Hospital Hygiene in Patient Safety Framework |
|
Patient Safety Strategy: Achieving Safe Care 2012-2014 |
Berbagai Tips untuk Menjalankan RS Secara Efektif dan Memelihara Kesinambungan RS
Berbagai Tips untuk Menjalankan RS Secara Efektif dan Memelihara Kesinambungan RS
Laura Miller, Editor in Chief, ASC Review & Becker’s Review in Spine pernah menulis mengenai bagaimana kiat agar RS bisa dijalankan secara efektif. Tulisannya ini dimuat pada Becker’s Hospital Review edisi Desember 2011 lalu. Menurutnya ada enam kiat yang bisa dipakai oleh para manajer RS yang tampaknya bisa diterapkan di RS swasta maupun RS pemerintah.
- Pastikan bahwa catatan anda tidak mengakumulasi depresiasi yang tidak diinginkan
Jika RS anda memiliki asset (gedung, peralatan) yang sudah tidak digunakan atau bahkan sebenarnya sudah tidak ada, namun dalam neraca masih ada, maka ini akan membebani keuangan RS dalam hal: membayar pajak yang seharusnya tidak lagi dibayarkan, mengalokasikan sejumlah dana untuk maintenance yang seharunya lebih kecil dari proporsi yang terlihat di neraca, dan sebagainya. Tingginya akumulasi depresiasi dan pengeluaran (biaya) dalam pembukuan RS akan mempengaruhi kinerja laporan keuangan yang pada akhirnya mempengaruhi besarnya biaya modal yang dapat digunakan untuk perencanaan berikutnya.
- Minimalkan turn-over pegawai
Seorang CEO sebuah pusat pelayanan kesehatan di Daytona, Alex Rintoul, mengatakan bahwa jika terlalu banyak staf yang “keluar-masuk” tidak baik karena membutuhkan waktu dan energi untuk melatih mereka. Saat mereka keluar berarti RS kehilangan tenaga terampil.
- Bangun tim klinis yang kuat
Tim yang kompeten dan kompak sangat penting bagi keberhasilan pelayanan, khususnya pada layanan bedah. Jika sebuah tim bedah terlambat memulai operasi berikutnya, karena dokter anestesinya masih menyelesaikan tindakan terhadap pasien sebelumnya, atau karena pasien berikutnya belum siap dioperasi, maka hal tersebut akan berdampak pada ketidakpuasan pasien maupun tim bedah.
- Kendalikan elemen-elemen dalam persaingan yang dapat anda pengaruhi
Ada banyak aspek persaingan di luar sana yang tidak bisa dikendalikan, seperti demografi, pola penyakit, geografis dan sebagainya. Namun ada juga aspek yang bisa dipengaruhi atau bahkan dikendalikan oleh RS, yaitu dengan memanfaatkan faktor eksternal sebagai peluang. Misalnya jejaring antar-RS, menjalin kerjasama dengan RS tersier untuk melengkapi pelayanan dan sebagainya. Selain itu, dari sisi internal, meningkatkan daya saing RS berarti memantapkan posisi RS di lingkungan eksternalnya.
- Lakukan evaluasi departemen sebelum melakukan pengurangan pekerjaan
Menurut pakar manajemen SDM, mengurangi pekerjaan atau merampingkan struktur di suatu unit kerja/departemen dengan alasan jumlah pegawainya sedikit (bukannya malah menambah jumlah tenaga) tidak akan berhasil meningkatkan efektivitas kerja. Sebaliknya, ini bisa membahayakan mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Disarankan agar RS melakukan evaluasi dan benchmark untuk melihat pengurangan di area mana yang akan mendatangkan dampak negatif paling kecil atau area mana yang tidak mempengaruhi mutu pelayanan klinis.
- Pertimbangkan kerjasama dengan perusahaan penyedia jasa outsourcing
Pertimbangkan neraca perusahaan yang akan dijadikan mitra kontraktor dan lakukan perbandingan pada beberapa perusahaan. Sebuah perusahaan kontraktor yang baik akan fokus pada layanan kesehatan dan menggunakan teknologi terkini untuk melayani (RS) anda.
Sementara itu, Kelsey Brimmer, seorang associate editor di Healthcare Finance News membagikan kiat bagi keberlangsungan RS khususnya dari sisi keuangan. Kiat-kiat ini diambil dari laporan khusus yang mengeksplorasi ide terkait dengan pengadaan di RS. Keith Sutter adalah salah satu kontributor pada laporan tersebut yang kebetulan juga adalah sustainable brand marketing di perusahaan Johnson & Johnson. Bersama dengan Joanne Spigonardo (senior associate director sebuah lembaga inisiatif kepemimpinan), Shutter menuliskan kiatnya kepada HFN sebagai berikut.
- Buat prioritas. Kedengarannya sederhana, namun sesungguhnya banyak RS yang kesulitan untuk menentukan mana yang harusnya lebih dulu dikerjakan dan mana yang bisa belakangan.
- Preferensi pengadaan, misalnya menghindari pembelian kemasan kecil dan menjatuhkan pilihan pada tipe yang bisa digunakan kembali daripada single use
- Menargetkan matriks rantai persediaan. Dalam hal ini, RS bisa membuat matriks yang akan mengelompokkan persediaan dalam kelompok ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan energi, tingkat toksisitas atau berbahayanya zat pembersih dan sebagainya.
- Pengurangan sampah dan kemitraan lokal. Program daur ulang dan mengurangi pengemasan jika dikembangkan di RS maka akan berdampak pada penghematan yang signifikan. Selain itu RS juga bisa berhemat dengan menyediakan makanan yang bahan bakunya berasal dari daerah sekitar sehingga mengurangi biaya transportasi/pengiriman.
- Menerapkan konsumsi energi yang dikendalikan, misalnya dengan menggunakan konstruksi bangunan dan lampu penerangan yang hemat energi. Konservasi energy bisa mengurangi tagihan listrik hingga 20-30% per tahun. RS mungkin juga bisa mulai mencari peluang untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan, seperti sinar matahari dan angin.
Sumber:
http://www.beckershospitalreview.com
http://www.healthcarefinancenews.com
pea
Peserta BPJS Kesehatan Berharap Rumah Sakit Bertambah
manajemenrumahsakit.net – Jakarta (Antara Kalbar) – Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan berharap rumah sakit dan klinik yang bekerja sama bisa diperbanyak sehingga memudahkan masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan.
“Dalam keadaan darurat, orang pasti akan memilih rumah sakit terdekat. Kalau tidak semua rumah sakit melayani BPJS, tentu akan menyusahkan masyarakat,” kata Didik Suhartono (57) di Jakarta, Minggu.
Didik otomatis menjadi peserta BPJS Kesehatan karena sebelumnya menjadi peserta Askes. Dia sudah pernah merasakan layanan kesehatan BPJS Kesehatan ketika harus dirawat dan menjalani operasi tumor usus.
Pensiunan pegawai negeri sipil juga mengeluhkan obat dan alat kesehatan yang harus diambil sendiri oleh pasien atau keluarganya, tidak boleh oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya.
Hal itu, kata dia, berbeda dengan pelayanan di rumah sakit untuk pasien non-BPJS yang ketersediaan obat dan alat kesehatan relatif lebih mudah karena pasien harus menyerahkan deposit terlebih dahulu saat awal masuk rumah sakit.
“Kalau pasien non-BPJS yang sudah deposit uang, pihak rumah sakit mudah sekali menyediakan obat. Kalau pasien BPJS, harus diambil sendiri. Bagaimana kalau pasien tidak ada keluarga yang mendampingi dan tidak bisa mengambil sendiri,” tuturnya.
Didik juga mengeluhkan kualitas alat kesehatan yang diberikan BPJS. Karena penanganan penyakitnya belum usai, Didik harus dibuatkan “colostomy” atau anus buatan di perutnya untuk sementara.
Nah, kantong “colostomy” yang disediakan BPJS Kesehatan untuk menampung kotoran ternyata mudah terlepas karena perekatnya kurang melekat dengan kulit. Selain itu, kantong “colostomy” yang disediakan juga hanya bisa digunakan satu kali pakai.
“Akhirnya saya membeli sendiri kantong ‘colostomy’ yang bisa merekat lebih kuat dan tidak sekali pakai sehingga lebih praktis digunakan bila bepergian,” katanya.
(D018/Z. Abdullah)
Sumber: antarakalbar.com
RSUD Indrasari Rengat Tambah Dokter Spesialis Penyakit Dalam
manajemenrumahsakit.net – RENGAT – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari Rengat akan menambah tenaga dokter spesialis penyakit dalam. Pasalnya, di RSUD Indrasari Rengat hanya memiliki satu dokter spesialis penyakit dalam dan tidak lagi mampu melayani banyaknya pasien yang datang tiap hari.
RSUD Malinau Terbaik di Kaltara
Irianto Berharap Empat Daerah Lain Bisa Mencontoh
manajemenrumahsakit.net – MALINAU
22 Rumah Sakit Terapkan Sistem Bridging BPJS
manajemenrumahsakit.com, JAKARTA–Sebanyak 22 rumah sakit di seluruh Indonesia telah mengimplementasikan fasilitas teknologi informasi sistem “bridging” untuk pendataan anggota Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang akan mempermudah proses pendaftaran pasien rujukan antar-rumah sakit.
“Setelah dianalisa antrian di fasilitas kesehatan yang panjang, ternyata masalahnya adalah pada sistem pendaftaran. Tujuan ‘bridging’ ini agar memudahkan pasien sehingga tidak perlu antri pelayanan terlalu lama,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi saat meninjau loket BPJS Kesehatan yang telah melakukan bridging di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Kamis (3/7/2014)
Sistem bridging akan meningkatkan proses pemasukan data pasien rujukan namun tetap menjaga keamanan dan kerahasiaan masing-masing sistem rumah sakit sehingga diharapkan antrian peserta BPJS Kesehatan yang membutuhkan layanan dapat dikurangi.
Selain itu, sistem “bridging” diharapkan juga mampu meningkatkan kecepatan dalam proses pengelolaan klaim, piutang maupun verifikasi.
Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan banyak keuntungan yang bisa didapat dari sistem “bridging” tersebut yaitu bagi peserta BPJS Kesehatan maka proses antrian akan menjadi jauh lebih cepat karena registrasi peserta hanya pada sistem rumah sakit.
Adapun keuntungan bagi rumah sakit antara lain dapat meningkatkan layanan administrasi peserta, menghemat SDM dan sarana-prasarana serta perekaman data pelayanan kesehatan dan proses pengajuan klaim menjadi lebih cepat.
“Kemudian juga ada peningkatan kecepatan pengolahan data dan informasi layanan, juga ada transparansi pembiayaan karena perekaman data pada setiap sistem sama,” ujar Fachmi seperti dikutip Antara.
Menurut catatan Bisnis, hingga akhir Juni 2014, sebanyak delapan RS vertikal di DKI Jakarta telah mengimplementasikan penuh sistem tersebut yaitu RS Cipto Mangunkusumo, RSUD Tarakan, RSUP Fatmawati, RS Haji, RS Kanker Dharmais, RS Jantung Harapan Kita, RSPI Sulianti Saroso dan RSUP Persahabatan.
Empat belas RS lain yang juga telah menerapkan sistem “bridging” tersebar diseluruh Indonesia yaitu RSUD Margono Soekarjo (Purwokerto), RSUP Dr.Sardjito (Yogyakarta), RSUD Tugurejo (Semarang) dan
Layanan Hyperbaric Oxygen Theraphy (Hbot) Rumah Sakit
Untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memenuhi permintaan masyarakat, Rumah sakit
RS Jogja tambah kapasitas rawat inap
Yogyakarta (Antara Jogja) – Rumah Sakit Jogja sebagai rumah sakit milik Pemerintah Kota Yogyakarta membangun Gedung Blok H sebagai upaya menambah kapasitas rawat inap untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang terus meningkat.
“Penambahan ruangan rawat inap, khususnya kelas III sangat dibutuhkan. Terlebih, sejak jaminan kesehatan nasional (JKN) ditetapkan berlaku per 1 Januari 2014, kebutuhan ruangan rawat inap kelas III meningkat,” kata Direktur RS Jogja Tuty Setyowati di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, kapasitas ruangan rawat inap di Rumah Sakit Jogja saat ini mencapai sekitar 200 tempat tidur dan jumlah tersebut belum mampu memenuhi permintaan dari masyarakat.
“Seringkali, kamar sudah penuh sehingga pasien yang seharusnya mendapat layanan rawat inap harus pindah ke rumah sakit lain,” katanya.
Selain untuk menambah kapasitas ruangan rawat inap, pembangunan Gedung Blok H tersebut juga ditujukan untuk menambah jenis layanan kesehatan di Rumah Sakit Jogja.
Penambahan layanan kesehatan tersebut di antaranya, layanan kesehatan tradisional, klinik kecantikan, klinik rehabilitasi medik, dan klinik tumbuh kembang.
“Peralatan pendukung layanan kesehatan di Rumah Sakit Jogja juga akan ditambah yaitu CT Scan, mesin hemodialisa dari enam unit menjadi 20 unit tahun ini,” katanya.
Tuty menyebut, pekerjaan pembangunan Gedung Blok H tersebut dibiayai menggunakan APBD Kota Yogyakarta 2014 sebesar Rp20,1 miliar. Tahap pertama dijadwalkan selesai pada tahun ini dan akan dilanjutkan pembangunan tahap kedua pada 2015.
“Diharapkan, gedung ini sudah bisa dimanfaatkan pada Januari 2016,” kata Tuty.
Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti sudah melakukan upacara pelatakan batu pertama pembangunan Gedung Blok H pada Selasa (1/7). Gedung tersebut memiliki luas bangunan sekitar 6.000 meter persegi.
Gedung Blok H akan dibangun empat lantai ditambah satu lantai semi “basement” sehingga mampu menambah kapasitas pelayanan pasien yang mengalami peningkatan sekitar enam persen per tahun. (E013)
Sumber: antaranews.com

Minggu ini kami sajikan tips bagaimana mengelola RS secara efektif dan bagaimana agar sustainabilitasnya terjaga. Tips ini berasal dari berbagai pengalaman yang diintisarikan ke dalam satu tulisan dan pernah dimuat oleh Becker’s Hospital Review dan Hospital Finance News, dua media online besar di USA. Salah satu langkah untuk menjaga efektifitas adalah dengan outsource. Secara finansial outsourcing ini sebaiknya mengutamakan mitra lokal agar menghemat biaya distribusi material yang pada akhirnya dapat menekan biaya satuan pelayanan di RS. Ikuti tips lainnya 








