manajemenrumahsakit.net :: DENPASAR
Berobat di Surabaya Tak Kalah Manjur Dibanding RS Luar Negeri
manajemenrumahsakit.net :: BEROBAT ke luar negeri masih menjadi pilihan sebagian warga Surabaya, terutama mereka yang berduit. Namun, perlahan-lahan hal tersebut mulai berkurang. Banyak di antara mereka makin percaya bahwa kemampuan dokter dan rumah sakit di Surabaya tak kalah dibanding yang ada di luar negeri.
Tjoa Bie Giok Anna merupakan salah seorang warga Surabaya yang kerap berobat ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Begitu juga keluarga dan rekan-rekannya. Alasan utamanya, banyak orang mengatakan bahwa pengobatan di luar negeri jauh lebih bagus dibanding dalam negeri. Tapi, itu dulu.
Kini Anna semakin cinta berobat di dalam negeri. Tepatnya sejak penyakitmeningiomaatau tumor otak dia derita pada 2013 hingga membuat tangan dan kaki kirinya melemah.
Awalnya, perempuan 51 tahun itu mencoba berobat ke Malaysia dengan harapan sembuh. Lantas, dokter saraf di salah satu rumah sakit di Malaysia memintanya melakukanmagnetic resonance imaging(MRI). Hasilnya mencengangkan. Tumor otak tersebut sudah sebesar kepalan tangan dan harus dioperasi.
Tidak puas dengan hal itu, Anna berniat berobat ke Singapura sekaligus menjalani operasi pengangkatan tumor. Namun, hal tersebut diurungkan. Dia mencoba berobat di Surabaya. Saat itu, rumah sakit yang menjadi jujukan adalah National Hospital dan Anna pun langsung ditangani tim dokter Brain and Spain Center. Awalnya saya lebih percaya berobat ke luar negeri karena pelayanannya terkenal lebih bagus. Tapi, kata hati saya bilang, di Surabaya saja, ujarnya.
Setelah berkonsultasi, Anna merasakan perbedaan pelayanan saat berobat ke luar negeri dan di dalam negeri. Ibu dua anak tersebut menemukan dokter yang profesional dan mampu menjelaskan kepada pasien dengan baik. Hingga akhirnya, Anna dioperasi di Surabaya.
Anna mengungkapkan, cara operasi yang dilakukan di Surabaya tergolong canggih. Saat itu, operasi dilakukan dengan teknikminimally invasivedalam mengambil tumor yang bersarang di kepala. Yakni, dengankeyhole sugery. Yaitu, membuat lubang kecil untuk mengeluarkan tumor secara bertahap. Setelah operasi, saya bisa langsung beraktivitas seperti biasa. Rambut saya tidak gundul, kisahnya. Hingga akhirnya, operasi pengangkatan tumor pada otak Anna berhasil. Dia pun sembuh hingga sekarang.
Dari situlah, Anna menemukan pelayanan yang diinginkan. Yaitu, melayani pasien dengan hati. Dokter-dokter yang bertindak secara profesional tidak hanya didapat saat dirinya berobat di rumah sakit. Tetapi, pascaoperasi pun, Anna tetap merasakan kehangatan pelayanan para dokter. Suster dan dokternya baik. Setelah operasi, saya juga masih sering telepon dan SMS, dan terus direspons baik. Itu yang membuat saya percaya bahwa di Surabaya juga ada rumah sakit yang profesional, ujar pengusaha kuliner ternama di Surabaya tersebut.
Sebenarnya, lanjut dia, yang dibutuhkan seorang pasien saat berobat adalah rumah sakit dengan tim yang bisa melayani dengan hati. Hal tersebut dia dapatkan justru di Indonesia dengan sistem kekeluargaan. Dia berharap pelayanan dengan hati tidak hanya diperoleh pada satu rumah sakit, melainkan seluruh rumah sakit di Indonesia. Dengan begitu, pasien bisa percaya dengan berobat di dalam negeri.
Sistem kekeluargaan belum tentu saya dapatkan di luar negeri. Belum tentu juga saat libur saya bisa telepon atau SMS untuk konsultasi. Di Indonesia, saya menemukannya, tambahnya.
Saking puasnya berobat di dalam negeri, kini Anna kerap merekomendasikan teman-temannya dan keluarga yang sebelumnya sering berobat ke luar negeri untuk berobat di dalam negeri, khususnya di Surabaya. Selain mampu menangani penyakit-penyakit kronis, biaya yang dikeluarkan tidak semahal jika berobat ke luar negeri. Pasti biayanya lebih hemat, ujarnya.
Menurut dia, sebagian masyarakat masih menganggap bahwa pelayanan di dalam negeri kurang bagus. Karena itu, mereka takut menjalani operasi besar di dalam negeri. Padahal, hal tersebut tidak semuanya benar. Kebanyakan mereka takut. Tapi, sistem kekeluargaan dan kepandaian dokter menjelaskan kepada pasien sehingga rasa takut itu sirna, paparnya.
Pengalaman berharga juga didapat Askan Halim. Pria 58 tahun itu juga mempunyai pengalaman sendiri berobat di luar negeri dan dalam negeri. Askan pernah menderitahemifacial spasm(HFS) yang mengakibatkan sebagian wajahnya terlihat peyot. Berawal pada 2001, saat itu tanpa disadari sebagian wajahnya mulai dahi, mata, hingga pipi berkedut. Awalnya perubahan di wajahnya tak dihiraukan.
Namun, lama-kelamaan hal tersebut membuatnya malu saat bertemu orang. Baru pada 2006, lelaki asal Surabaya itu menjajal berbagai pengobatan dan aneka diagnosis. Saya sampai ke berbagai negera seperti Malaysia, Singapura, hingga Jepang, kata lelaki yang akrab disapa Koh Chung itu. Dia juga sempat terbang ke Jepang untuk mencoba pengobatan akupunktur.
Namun, atas saran seorang teman, Chung diminta kembali ke tanah air dan menemui seorang dokter bedah saraf yang ahli. Di tangan dr M. Sofyanto SpBS, HFS yang disebabkan terganggunya saraf nomor tujuh itu teratasi.
Dengan hanya luka sepanjang satu sentimeter, wajah peyot tersebut kembali simetris. Senyum Koh Chung pun kembali bersinar. Banyak dokter yang bilang kemungkinan buta bila operasi. Tapi, menurut Sofyanto, risikonya sembuh, terangnya penuh semangat. Sejak itu, warga Dharmahusada tersebut langsung percaya dan membuktikan bahwa risiko itu terbukti. Dia sehat dan kembali beraktivitas tanpa rasa malu.
Ya, beberapa RS di Surabaya kini memiliki kualitas yang mumpuni. Mulai dokter, fasilitas, hingga kualitas pelayanan. Beberapa RS memiliki andalan sendiri-sendiri. Bukan hanya untuk penanganan penyakit-penyakit ringan, tapi juga penyakit berat.
RS Premiere, misalnya, memiliki andalan dalam penanganan penyakit jantung. Mulaibypass, ganti katup, sampai permasalahan aorta. Pada 2013, RS Premiere menjadi rumah sakit swasta terbanyak yang menerima pasien jantung. Totalnya ada 36 kasus. Untuk tahun ini, sampai sekarang ada 14 kasus, ujar dr Hartono Tanto MARS, direktur RS Premiere.
Bukan hanya jantung, ragam penyakit berat lain juga tertangani. Sebut saja berbagai operasi ortopedi, tumor otak, dan stroke. Tumor otak, terlebih di otak kecil, dikategorikan operasi sulit karena menyangkut banyak hal di pusat koordinasi dan keseimbangan tubuh. Sama halnya dengan stroke. Bahkan, penanganan khusus telah disiapkan dalam waktu dekat berupa peluncuranstroke unit, unit penanganan terpadu bagi penderita stroke.
Selain keahlian-keahlian itu, ungkap dr Hartono, salah satu pelayanan penting yang diutamakan RS Premiere adalahintensive care. Selain ICU,intensive caremeliputi HCU (high care unit) dan NICU (neonatal intensive care unit). HCU ditujukan untuk meringankan beban ICU sebagai ruangan tempat pemulihan kondisi pasien pascaoperasi-operasi sulit. Sementara itu, NICU lebih dikhususkan sebagai perawatan intensif bagi bayi-bayi prematur atau berusia di bawah 28 hari.
Keberhasilan operasi bukan hanya di meja operasi. Tapi, lebih dari itu, kita harus punya ICU yang kuat untuk mendukung operasi yang sulit, ujar dr Hartono.
Keberhasilan suatu operasi, ujar dia, tak berhenti setelah operasi berakhir. Penanganan setelah itu justru memegang peranan penting. Karena itulah, mengapaintensive caremendapat perhatian begitu istimewa sebagai penentu kesuksesan tindakan operasi. Pasien-pasien pascaoperasi akan dipindahkan secara bertahap melalui ICU dan HCU sebelum akhirnya dikembalikan ke kamar perawatan.
Kami juga menempatkan dokter-dokter yang tangguh di UGD. UGD merupakan filter pertama sebelum dialihkan ke unit lainnya.Time saving is life saving. Jadi, harus ada penanganan yang tepat saatgolden time, atau tiga jam pertama di UGD, ungkapnya.
RS Bedah Surabaya juga pantas jadi andalan. Selain menampung dokter-dokter hebat yang mampu bersaing dengan rumah sakit luar negeri, rumah sakit ini dilengkapi fasilitas terbaik. Salah satunya, memberikan fasilitastravel health service. Itu merupakan pelayanan antar jemput bagi pasien dari luar kota atau luar negeri dari bandara ke rumah sakit. Kami ingin pasien yang akan berobat juga aman dan nyaman. Jadi, mereka bisa cepat sembuh, kata dr Adityaningrum Purbo,marketing managerRS Bedah.
Selain itu, RS Bedah memberikan fasilitas ambulans bagi pasien yang membutuhkan penanganan khusus. Mereka akan dijemput dari bandara menuju RS dengan ambulans khusus bandara. Sementara itu, bagi keluarga pasien yang ikut menemani, mereka juga bisa mendapatkan layanan terbaik dari RS. Yakni, layanan City Tour of Surabaya.
Keluarga pasien bisa diantar berkeliling Kota Pahlawan sekaligus ke pusat-pusat perbelanjaan sembari mengisi waktu luang dan melepas rasa bosan. Fasilitas tersebut juga ditunjang dengan layanan hotel. Bila ada yang butuh penginapan, kami bisa mengubah kamar pasien jadi hotel berbintang, tambahnya. Layanan itu diberikan secara gratis kepada pasien. Tujuannya, pasien merasa betah dan nyaman.
Rumah sakit lain yang telah mendeklarasikan diri sebagai rumah sakit berkualitas internasional adalah National Hospital. Rumah sakit yang berada di kawasan Surabaya Barat tersebut tidak hanya mendesain bangunan rumah sakit dengan standargreen building,tapi jugapatient safety. Hal tersebut tidak hanya diterapkan dalam bidang medis, tetapi juga nonmedis. Misalnya, pemasangancentral vacuum systemsebagai bagian dari sanitasi di dalam gedung berlantai 10 itu.
Sistem tersebut merupakan salah satu fasilitas pengolahan limbah terpadu yang bertujuan membantu menekan angka infeksi dan persebaran penyakit melalui udara yang dapat membahayakan pasien serta pengunjung rumah sakit. Hyginedi rumah sakit menjadi hal terpenting untuk kesembuhan pasien, kata dr M Sofyanto SpBS, dokter spesialis bedah saraf National Hospital.
Selain itu, penerapanelectronic medical record(EMR) dilakukan sebagai catatan atau kumpulan sistematis informasi kesehatan pasien berbasis elektronik yang terhubung dan terintegrasi dengan sistem informasi dalam jejaring rumah sakit.
Sumber: msn.com
RSUD Sumedang Akan Buat Home Care
manajemenrumahsakit.net, Sumedang – RSUD Sumedang akan membuka jenis pelayanan baru. Pelayanan tersebut adalah home care yaitu pelayanan medis yang tidak dilakukan di rumah sakit melainkan dilakukan di rumah.
Meski begitu, layanan ini belum akan diluncurkan sebelum bupati menyetujui tarif jenis pelayanan ini yang akan dituangkan dalam peraturan bupati.
Singapura, Destinasi Kesehatan di Asia
manajemenrumahsakit.net :: Jakarta – Dukungan dokter spesialis di setiap bidang kesehatan dan sejumlah rumah sakit ternama telah menjadikan Singapura sebagai salah satu negara yang menjadi destinasi kesehatan di Asia. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Negeri Singa ini di peringkat keenam dari 191 negara yang memiliki sistem kesehatan terbaik.
Chief Operating Officer (COO) Mount Elizabeth Hospital Singapore Joycelyn Ling mengatakan, sebanyak 20 persen pasien Mount Elizabeth berasal dari Indonesia. Angka tersebut menjadikan warga negara Indonesia sebagai pasien terbanyak kedua yang berobat di Mount Elizabeth setelah masyarakat Singapura. Pasien dari Indonesia yang berobat di rumah sakit tersebut kebanyakan penderita kanker dan jantung.
Edisi Minggu ini: 19 – 25 Agustus 2014
|
Dear Pengunjung Website manajemenrumahsakit.net,
+ Open Access Journals
19 Aug2014
Kesimpulan SementaraDari hasil kunjungan lapangan ini, dapat disimpulkan bahwa:
19 Aug2014
Pemantauan terhadap Pencapaian SPM dan Target RSB
RSUD telah melakukan pemantauan terhadap pencapaian SPM secara rutin. Pemantauan terhadap data sampai dengan April 2014 menunjukkan bahwa sebagian indikator SPM telah tercapai, antara lain jenis pelayanan, waktu tunggu pelayanan di IGD, IRJA, IRNA maupun operasi elektif, kejadian infeksi pasca operasi dan transfusi darah, dan berbagai indikator penting lainnya. Namun demikian, masih banyak hal yang membutuhkan perbaikan karena pencapaiannya masih di bawah standar. Misalnya kemampuan menangani live saving dan sertifikasi untuk petugas di IGD masih kurang dari 90%, belum ada tim penanggulangan bencana, kematian pasien > 48 jam, belum ada tim PONEK terlatih, dan belum semua penulisan resep sesuai formularium. Namun pengamatan terhadap semua instalasi pelayanan menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan diseluruh bagian RS ini masih belum mencapai target. Hasil investigasi menunjukkan bahwa alasan ketidakpuasan pasien antara lain pelayanan yang lambat, petugas kurang ramah bahkan terkesan angkuh, ruangan kotorperawat jarang mengontrol kondisi pasien di malam hari, kamar mandi yang jorok, hingga pasien yang diminta untuk bolak balik ke pelayanan, sehingga mengesankan pelayanan yang belum efisien dan belum berorientasi pada pengguna. RS ini merencanakan penambahan 150-200 TT lagi. Pembangunan kapasitas tambahan ini ditargetkan selesai pad apertengahan tahun depan. Jika dibandingkan dengan proyeksi pengguna pada perencanaan dengan realisasinya, maka nampak bahwa cukup banyak target yang telah melampaui 30% pada kuarter pertama ini. Hal tersebut menimbulkan optimisme bahwa target pelayanan akan tercapai bahkan terlampaui di akhir tahun 2014. Salah satu perubahan signifikan yang terjadi dibandingkan dengan data sebelumnya adalah proporsi pasien. Tahun lalu pasien umum (fee for service) jumlahnya lebih dari 30%, saat ini proporsinya berkurang menajdi sekitar 25%. Diperkirakan hal ini juga berpengaruh terhadap tingkat penggunaan RS oleh masyarakat. Namun sayangnya frekuensi rapat koordinasi internal RS khususnya di level direksi masih kurang. Banyak masukan termasuk dari masyarakat/pasien yang belum ditindaklanjuti karena kurangnya arahan dan supervisi dari atas. Berbagai masalah sistem maupun teknis yang wajar terjadi pada awal pelaksanaan BLUD kurang mendapat perhatian. Hal ini berdampak pada konflik antar-bagian yang terkait. RS masih membutuhkan pihak yang berperan sebagai penengah dalam konflik internal dan yang mengarahkan bagaimana respon RS terhadap berbagai masalah tersebut. Peran ini sebenarnya ada pada direktur RS.
19 Aug2014
Pemantauan terhadap Pengelolaan Keuangan
Evaluasi ini dilakukan di salah satu RS milik pemerintah. Kunjungan lapangan dilaksanakan pada minggu kedua Agustus 2014. Saat persiapan, seluruh dokumen persyaratan BLUD sudah dipersiapkan dengan baik oleh POKJA RS, demikian juga dengan RBA. Bahkan RSUD juga telah menyiapkan draft beberapa peraturan kepala daerah yang diperlukan untuk pelaksanaan BLUD, antara lain peraturan tentang pedoman keuangan RS. Namun sebagaimana banyak terjadi di RSUD lain yang telah ditetapkan sebagai BLUD, RSUD ini juga masih menyusun RKA. Alasan yang dikemukakan adalah karena SIMDA masih menuntut entry dilakukan per rekening. RS merasa memiliki bargaining power yang kecil, karena dari Rp 100M pendapatannya, yang merupakan pendapatan dari jasa pelayanan hanya sebesar Rp 10M atau 10%. Jika suatu saat proporsi pendapatan RS sudah lebih tinggi, misalnya di atas 50% maka RS merasa akan memiliki bargaining power yang lebih besar dan saat itulah RS akan menegosiasi aplikasi SIMDA agar sesuai dengan kebutuhan RS yang BLUD. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar, sebab proporsi pendapatan RS tidak semata dilihat dari jasa layanan. Sebagai RS pemerintah, maka banyak biaya di RSUD yang memang merupakan kewajiban pemerintah. Contoh Dinas Kesehatan tidak melayani pasien sehingga tidak ada pendapatan. Namun Dinkes tetap menerima gaji, alkasi untuk bahan habis pakai, pemeliharaan dan sebagainya. Dalam hal ini 100% pendapatannya berasal dari APBD. Demikian juga dengan SKPD-SKPD lain yang tidak memiliki pendapatan dari jasa layanan. Dengan demikian, RSUD sebagai salah satu SKPD juga memiliki hak yang sama dengan SKPD lain, ada atau tidak ada pasien gaji PNS, bahan habis pakai, pemeliharaan dan berbagai pengeluaran rutin lainnya merupakan kewajiban pemerintah. Sehingga, yang digunakan sebagai ukuran untuk menghitung proporsi pendapatan RS bukan Rp 100 M melainkan biaya barang dan jasa. Dari Rp 100 M anggaran RS, rinciannya adalah: Rp 50M untuk bahan habis pakai, Rp 30M untuk barang dan jasa, Rp 5M untuk gaji pegawai dan 15M untuk biaya tidak langsung. Dengan demikian, yang digunakan untuk mengukur kemampuan RS dalam memperoleh pendapatan adalah biaya tidak langsung sebesar Rp 30M. Dari jumlah ini, 10M (atau 30% diantaranya) berasal dari pendapatan jasa layanan. Setelah menerapkan PPK-BLUD, diestimasikan biaya ini bisa lebih dihemat menjadi sekitar Rp 25-28M. Dengan demikian, penyamaan mindset diantara pengelola RSUD masih perlu dilakukan. Laporan keuangan yang dibuat oleh RS ini masih berbasis SAK. Pemimpin RS harus mencari solusi mengenai masalah ini dengan membuat kesepakatan dengan Bagian Keuangan Pemda. Prinsipnya BLUD adalah untuk mempermudah birokrasi pelayanan pada masyarakat, bukan untuk membuatnya menjadi tambah rumit. Saat ini, RSUD telah memiliki peraturan kepala daerah mengenai jenjang nilai pengadaan barang dan jasa. Selain itu, RSUD juga telah membuat SOP penatausahaan keuangan RS. Masalahnya adalah aturan ini justru lebih rigid dan rumit dibandingkan dengan sebelum BLUD. Contoh untuk pembelian obat-obatan sebesar Rp 2 juta saja SPJ yang harus disiapkan banyak sekali. Dari sini terlihat bahwa penyusunan peraturan kepala daerah dan SOP tersebut masih menggunakan mindset birokrasi yang justru menghambat kecepatan pelayanan. Oleh karena itu, revisi terhadap peraturan dan SOP tersebut mutlak segera dilakukan.
19 Aug2014
Evaluasi Kinerja RSUD sebagai BLUDEvaluasi Kinerja RSUD sebagai BLUD Pendahuluan
Kinerja pelayanan dapat diukur dari pencapaian volume dan mutu pelayanan klinis yang dilakukan di berbagai instalasi, dengan membandingkan antara perencanaan yang terdapat di Rencana Strategis Bisnis dengan pencapaian pada saat dilakukannya evaluasi. Selain itu, kinerja mutu juga dapat diukur dari pencapaian indikator-indikator SPM. Namun sebagai standar minimal, indikator SPM ini berfungsi untuk menjaga agar mutu pelayanan RSUD tidak berada di bawah batas toleransi yang berkaitan dengan keselamatan pasien. Kinerja keuangan dapat diukur dari pencapaian indikator-indikator keuangan yang telah ditetapkan pada perencanaan (Rencana Strategis Bisnis). Indikator ini tidak selalu berbicara mengenai berapa pendapatan yang bisa diperoleh RS dalam melayani pasien, namun juga berapa penghematan yang berhasil dilakukan melalui proses yang lebih efisien. Selain itu, kinerja keuangan secara teknis juga dapat dilihat dari penerapan Permendagri 61/2007, antara lain penggunaan informasi unit cost pelayanan sebagai dasar penetapan tarif, penggunaan RBA untuk menyusun anggaran dan sebagainya. Jenis ukuran yang akan dievaluasi tergantung pada jenis indikator kinerja keuangan yang ditetapkan pada RSB masing-masing RS.
Ketiga ukuran kinerja tersebut telah tertuang dalam dokumen persyaratan BLUD khususnya RSB dan SPM, sebagai janji RSUD maupun kepala daerah kepada masyarakat daerah ini untuk meningkatkan pelayanan publik, dalam hal ini pelayanan kesehatan di rumah sakit. Dengan dilakukannya pengukuran atau evaluasi terhadap pencapaian dari ketiga kelompok kinerja tersebut, maka kedua RSUD akan dapat membuktikan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa ada progress perbaikan kinerja RSUD setelah ditetapkan sebagai BLUD, meskipun mungkin belum semua target tercapai. Tujuan Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi pencapaian kinerja RSUD setelah ditetapkan sebagai BLUD dan membandingkannya dengan perencanaan pada RSB maupun rencana pencapaian SPM. Tahapan Kegiatan Kegiatan evaluasi kinerja dua RS yang melaksanakan BLUD diawali dengan cara penyusunan instrument penilaian oleh tim penilai, peninjauan lapangan, diskusi hasil peninjauan lapangan dan laporan hasil evaluasi
Instrumen Evaluasi Tim Evaluator
Hasil Peninjauan Lapangan Pemantauan terhadap Pengelolaan Keuangan
18 Aug2014
Minggu 2 BL Pengembangan Unit Pengiriman Residen 26 April sampai 2 Mei 2014
Pengorganisasian dan Manajemen Unit Pengiriman Residen di RSCM
Peserta yang mengikuti Kunjungan Lapangan I ini adalah peserta yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya (Bandung dan lain-lain).
2. MoU dan Kontrak Pengembangan Unit Pengiriman Residen dengan penyandang dana dan atau penanggungjawab program sebagai dasar pengiriman residen
Penanggung-jawab: DR. dr. Dwi Handono Sulistyo, MKes Nara Sumber: Rimawati, SH, MHum
Dasar kerja sama untuk pengiriman residen dituangkan dalam MoU dan Kontrak. Selama ini, yang sudah sering dilakukan adalah MoU. Dari aspek hukum, MoU saja tidak cukup. MoU harus disertai dengan Kontrak. Secara bertahap, diharapkan kontrak yang ada akan berbentuk Kontrak Berbasis Kinerja (Performance-based contracting). Agar Unit Pengiriman Residen dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal, maka para peserta diharapkan mampu untuk memahami MoU, kontrak, dan hal-hal lain yang terkait.
Bentuk pelatihan pada minggu ini terdiri dari: self learning dengan mempelajari berbagai materi yang tersedia, dan diskusi secara online/webinar pada hari Jum’at, (09/05/2014), jam 13.15 – 14.45 WIB.
Minggu III: Konsep MoU dan Kontrak, serta aplikasinya untuk Unit Pengiriman Residen Kami mengharapkan Anda dapat mempelajari secara mandiri (self learning) berbagai materi yang telah kami sediakan.
Para peserta menuliskan:
Jawaban diharapkan dapat diterima oleh sekretariat blended learning melalui e-mail: [email protected] paling lambat tanggal 8 Mei 2014 pukul 24:00 WIB.
Kode untuk memberi nama file:
BL-ManajemenUPR-2014-03-XXX.doc
XXX=initial nama anda. Silahkan piih dan harap diberitahu ke pengelola. | |||||

Peraturan Menteri Dalam Negeri No 61/2007 tentang PPK-BLUD mengamanatkan bahwa BLUD harus dievaluasi pada tahun ketiga pelaksanaannya untuk menentukan apakah sudah berjalan dengan baik atau tidak. Hasil evaluasi ini kemudian menjadi dasar bagi penetapan status BLUD selanjutnya, apakah tetap BLUD (penuh atau bertahap) atau statusnya dicabut dan kembali menjadi SKPD biasa. Sebuah RS di kawasan Sumatera melaksanakan evaluasi terhadap implementasi BLUD yang baru berjalan selama kurang lebih enam bulan. dari hasil evaluasi ini ditemukan beberapa praktek yang tidak sesuai dengan falsafah BLUD, sehingga harus segera dibenahi. Apa saja temuan tim evaluator? Silakan simak selengkapnya 
Kinerja manfaat dapat dilihat antara lain dari jenis-jenis pelayanan yang dikembangkan setelah menerapkan PPK-BLUD, sehingga dengan adanya jenis layanan ini masyarakat tidak perlu mencari pelayanan sejenis ke luar daerah, dan sebagainya. Selain itu, kinerja manfaat juga dapat dilihat dari trend masyarakat miskin yang dapat dilayani di RSUD ini.

Tujuan:





