manajemenrumahsakit.net :: Manado
Gubernur Sumut Diminta Sinergikan Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Medan- Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho diharapkan mengoordinasikan fungsi rumah sakit di daerah itu agar mampu bersinergi dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Anggota Komisi E DPRD Sumut Rinawati Sianturi mengatakan, pelayanan rumah sakit (RS) di Sumut selama ini sudah cukup baik, terutama RSU Pusat Adam Malik Medan. “Namun ada kesan kuat koordinasi antar RS di Sumut cukup lemah sehingga belum memberikan hasil maksimal dalam pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Rinawati, di Medan, Minggu (1/2).
Menurut dia, salah satu indikasi kurangnya koordinasi terlihat dari proses rujukan yang ditujukan ke RSU Pusat Adam Malik Medan. “Akibatnya, RSU Pusat Adam Malik sering
RS Bersalin Meledak, Bagaimana Para ibu dan Bayinya?
manajemenrumahsakit.net :: MEXICO CITY – Sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak di Cuajimalpa, Mexico City, Meksiko, meledak hingga hancur menjadi puing-puing, Kamis (29/1).
Penyebab insiden maut itu adalah kebocoran pipa gas di depan rumah sakit. Dua per tiga bangunan rumah sakit tersebut jadi puing. Tujuh orang dilaporkan tewas.
Mereka terdiri atas empat bayi dan tiga orang dewasa, termasuk di antaranya seorang suster. Lebih dari 73 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Diyakini masih ada belasan bayi dan orang dewasa yang terperangkap di balik reruntuhan.
Kepala Dinas Kesehatan Mexico City Armando Ahued menjelaskan bahwa seorang bayi dan seorang perawat tewas di lokasi kejadian. Korban lainnya meninggal saat berada di rumah sakit. Saat ini ada sembilan bayi yang kondisinya lemah.
Belum diketahui apakah mereka bisa bertahan atau tidak. Seluruh korban yang terluka dilarikan ke rumah sakit lain dengan helikopter. Korban yang lukanya tidak terlalu parah dirawat di lokasi kejadian di dalam beberapa ambulans yang telah disediakan.
Ledakan maut tersebut terjadi pukul 07.00 waktu setempat. Saat itu ada truk milik Gas Express Nieto yang menyuplai gas di rumah sakit. Sejak 2007, perusahaan itu telah melayani 31 rumah sakit di Mexico City. Memang tidak semua area Mexico City yang bisa mengakses layanan gas utama.
Jadi, mereka bergantung pada gas yang dikirim via truk tersebut. Entah apa yang terjadi, pipa yang dipakai mengalirkan gas mengalami kebocoran. Petugas tidak bisa mengendalikannya sehingga ledakan hebat akhirnya terjadi.
“Mereka mencoba mengendalikan kebocoran, tapi tidak bisa. Tiga operator truk tersebut telah ditahan dan dua petugas lainnya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka,” ujar Wali Kota Mexico City Miguel Angel Mancera.
Ledakan tersebut bukan kali pertama terjadi di Meksiko. Pada Februari 2013, 37 orang tewas di perusahaan energi Pemex, Mexico City. Terjadi penumpukan gas di ruang basement sehingga mengakibatkan ledakan hebat. Lantas, Mei 2013 ada 25 orang tewas ketika tanker minyak hilang kendali di utara Mexico City sehingga membuat mobil dan rumah di area sekitarnya ikut terbakar.
Beberapa saksi mata menyatakan, sebelum terjadi ledakan di rumah sakit bersalin tersebut, tercium bau gas yang sangat kuat. Beberapa saat kemudian, mereka mendengar ledakan yang sangat hebat sehingga kaca-kaca jendela pecah dan pintu terbanting.
“Saya pikir ada gempa. Tiba-tiba saja, saya mendengar suara yang sangat keras dan pintu rumah terbuka seperti ditendang,” terang Ivan Rodriguez, 28 yang bertempat tinggal di samping rumah sakit.
Di sisi lain, Kepala Badan Perlindungan Sipil Meksiko Luis Felipe Puente mengungkapkan bahwa ratusan tim penyelamat diterjunkan ke lokasi ledakan. Mereka membawa beberapa anjing pelacak. Saat ledakan itu terjadi, diperkirakan ada seratus orang di dalam rumah sakit.
“Tim penyelamat sedang memeriksa puing-puing beton dan baja untuk mencari korban selamat,” tuturnya. Beberapa bayi akhirnya ditemukan di balik reruntuhan dalam kondisi selamat.
Banyak bayi yang selamat karena dilindungi langsung oleh ibu masing-masing. Ketika ledakan tersebut terjadi dan gedung mulai runtuh, para ibu langsung mendekap bayinya masing-masing agar tidak terkena reruntuhan.
“Istri saya memeluk bayinya dan membungkuk sehingga atap mengenainya. Untungnya, atap tersebut tidak melukainya,” ungkap Jose Eduardo Manriquez, 22, yang melihat kondisi istrinya di Rumah Sakit Enrique Cabrera.
Mayoritas korban yang terluka ringan memang dirawat di rumah sakit tersebut. Istrinya lantas diselamatkan pihak kepolisian dan keluar dari rumah sakit dengan bertelanjang kaki. Cerita serupa diungkapkan banyak pasien lainnya.
Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto mengucapkan bela sungkawa melalui akun Twitter miliknya. Begitu juga Paus Fansiskus. Dia mendesak agar follower akun Twitter-nya berdoa bagi para korban ledakan dan keluarga yang ditinggalkan.
“Kami berdoa untuk para korban dan keluarga ledakan di Rumah Sakit Cuajimalpa, Meksiko. Semoga Tuhan memberikan mereka kedamaian dan kekuatan,” kicau Fransiskus di akunnya.(Reuters/AFP/CNN/sha/c20/ami)
Sumber: jpnn.com
Pemprov Sulbar Tunggu DPRD Bangun Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Mamuju (ANTARA Sulbar) – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menunggu keputusan DPRD Sulbar untuk membangun rumah sakit dengan menggunakan pinjaman dari pusat investasi pemerintah (PIP) Kementrian Keuangan.
“Pemerintah akan menunggu keputusan DPRD Sulbar untuk mewujudkan RSUD Sulbar tipe B,” kata Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, di Mamuju, Sabtu.
Ia mengatakan, DPRD Sulbar belum menetapkan persetujuan mengenai rencana pemerintah untuk membangun rumah sakit Sulbar tipe B yang akan memanfaatkan pinjaman dari PIP sebesar Rp239 miliar.
“Sebagian anggota DPRD Sulbar menolak pembangunan RSUD Sulbar melalui pinjaman PIP sehingga pemerintah akan berupaya menggalang persetujuan DPRD yang merupakan tahapan untuk memperoleh pinjaman PIP yang digagas pemerintah di Sulbar sejak 2013,” katanya.
Menurut dia, Sulbar butuh peningkatan pelayanan kesehatan karena kondisi pelayanan kesehatan di Sulbar memprihatinkan selama ini, banyak warga tidak bisa terselamatkan karena tidak memadainya pelayanan rumah sakit, sehingga RSUD yang akan lebih memadai dan menjadi rumah sakit rujukan di Sulbar dibangun melalui bantuan PIP,” katanya.
“Pembangunan RSUD tersebut telah melalui kajian analilis dan pertimbangan dan pemerintah yakin akan mampu menyelesaikan pinjaman pembangunan RSUD tersebut, yang membutuhkan jangka waktu tujuh tahun dengan bunga 9,75 persen pertahun untuk melunasi pinjaman tersebut kemudian,” katanya.
Ia mengatakan, dari pinjaman sekitar Rp239 miliar tersebut sekitar Rp201 miliar digunakan untuk membangun kebutuhan fisik rumah sakit dan sekitar Rp38 miliar untuk pengadaan alat kesehatannya.
“Pemerintah bisa melunasi pinjaman ini karena APBD Sulbar yang terus mengalami peningkatan yang akan digunakan membayarnya, dan pengelolaan rumah sakit yang lebih baik kedepan untuk meningkatkan pendapatan daerah,” ujarnya. FC kuen
Sumber: antarasulsel.com
Kamar rumah sakit penuh, pasien kanker dirawat di rumah
manajemenrumahsakit.net :: Dengan alasan kamar rumah sakit penuh, Nasrudin (57) warga Jalan Nusa Indah E1, RT 6 RW 8, Kebon Jeruk, Jakarta Barat terpaksa menjalani pengobatan di rumah. Nasrudin diketahui memiliki penyakit tumor di kepala.
Istri Nasrudin, Kusmawati (52), mengatakan bila sebelum sakit suaminya merupakan seorang satpam. Dia pernah dirawat dan menjalani operasi di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat pada April 2013. Namun karena tidak dapat menangani secara khusus, RS merujuk Nasrudin ke RS Dharmais.
“Karena keterbatasan alat, operasi di RS Tarakan tidak sampai total hingga oleh pihak RS Tarakan dirujuk ke RS Dharmais untuk menjalani operasi selanjutnya,” ujar Kusmawati kepada wartawan, Rabu (12/6) malam.
Pihak keluarga, lanjut wanita yang bekerja sebagai penjahit itu menuturkan, pihak RS Dharmais mengatakan kamar tidak ada yang kosong. “Anak saya sudah emapat kali ke rumah sakit, tapi petugas sana bilang, kamar belum ada yang kosong,” ujar dia.
Kini, Nasrudin hanya bisa berbaring lemas di rumahnya. Tubuhnya yang kurus, makin diperparah dengan kondisi penglihatan sudah memudar. Pihak keluarga hanya dapat memberikan obat yang didapat dari klinik. [mtf]
Sumber: merdeka.com
Jumlah Pasien Meningkat, RSUD Ini Rawat Pasien di Lorong Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: GUNUNG KIDUL — Jumlah pasien rawat inap terutama anak di RSUD Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meningkat dalam sebulan terakhir sehingga sebagian harus dirawat di lorong rumah sakit itu menggunakan tempat tidur tambahan.
Kepala Bidang Pelayanan dan Keperawatan RSUD Wonosari Triyani Heni Astuti di Gunung Kidul, Selasa, menyebutkan sebagian dari mereka adalah pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD). “Jumlah penderita DBD meningkat sehingga kami terpaksa menyediakan tempat tidur tambahan di lorong Ruang Dahlia atau bangsal anak,” kata Triyani, Selasa (27/1).
Ia mengatakan ruangan anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari itu hanya memiliki kapasitas untuk 16 pasien. Meskipun ada pasien yang dirawat di lorong, tiga dokter spesialis anak yang ada akan tetap melakukan pemantauan intensif kepada pasien. “Kami jamin mereka tidak mendapat perlakuan berbeda,” kata dia.
Ia mengatakan penderita DBD yang dirawat di RSUD Wonosari sejak awal Januari 2015 hingga saat ini mencapai 46 orang. Desember dan Januari merupakan waktu terbanyak pasien dengan penyakit DBD.
“Untuk saat ini, dari 18 pasien anak yang menjalani rawat inap, lima diantaranya dilakukan observasi untuk penyakit DBD,” katanya.
Triyani mengatakan untuk mengatasi masalah kekurangan ruangan, RSUD Wonosari sedang membangun gedung baru. Rencananya akan dioperasikan pada Februari 2015. “Awal Februari, pasien dengan penyakit syaraf akan menempati ruangan sendiri sehingga diharapkan tidak kekurangan,” katanya.
Sementara itu salah satu orang tua pasien yang dirawat di lorong, Suyanto (38) mengaku tidak bisa berbuat banyak meski anaknya Anisa Ahmad Dzakia (7) harus dirawat di lorong, meski seharusnya sebagai seorang PNS mendapat kamar di kelas II. “Mau bagaimana lagi keadaannya memang seperti ini,” katanya.
Ia mengatakan sebelum masuk ke rumah sakit, anaknya sempat dirawat di Puskesmas Karangrejek. Namun karena diduga menderita DBD lalu dirujuk ke rumah sakit. “Yang penting mendapat perawatan,” katanya.
Sumber: republika.co.id
Sidak Komisi 4 di RSUP Kandou, Masih Ditemukan Pasien BPJS Membayar
manajemenrumahsakit.net :: Manado
RSU Bunda Jakarta Kembangkan Layanan Berbasis Teknologi Terkini
manajemenrumahsakit.net :: Jakarta – Bagi sebagian masyarakat, ketika mendengar nama Rumah Sakit Umum (RSU) Bunda Jakarta, mungkin yang langsung terlintas di benak adalah rumah sakit yang khusus melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja. Padahal meskipun sama-sama berada di bawah naungan Bunda Medik Healthcare System (BMHS), antara RSU Bunda Jakarta dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bunda memiliki perbedaan konsep.
Dijelaskan Dr. Didid Winnetouw selaku Kepala RSU Bunda Jakarta, rumah sakit yang berdiri sejak tahun 2012 ini tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja, melainkan juga melayani kesehatan yang lebih umum. Selain itu dalam memberikan pelayanan kesehatan, rumah sakit yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat ini juga selalu mengedepankan fasilitas berbasis teknologi mutakhir.
“Setiap tiga sampai enam bulan sekali, RSU Bunda Jakarta akan mengembangkan pelayanan terbaru. Ini dilakukan untuk semakin mengukuhkan diri sebagai rumah sakit yang tidak hanya melayani masalah kesehatan ibu dan anak saja,” kata Dr. Didid Winnetouw di RSU Bunda Jakarta, baru-baru ini.
Salah satu layanan unggulan yang dikembangkan RS Bunda Jakarta adalah
Ini Isi Akreditasi Kemenkes Pada Rumah Sakit dan Puskesmas di Palembang
manajemenrumahsakit.net :: Untuk memastikan pelayanan kesehatan di setiap puskesmas, Rumah sakit yang ada di Sumsel. Tim akreditasi dari Kementerian kesehatan (Kemenkes) akan melakukan survey dengan penilaian Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) versi tahun 2012.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sumsel, Lesty Nuraini kepada Rakyat Merdeka Online Sumsel mengaku, standar akreditasi ini diaplikasikan kepada pelayanan berfokus pasien, keselamatan pasien tetap menjadi yang utama. Kesinambungan pelayanan harus dilakukan, baik saat merujuk pasien kepada rumah sakit lain, atau saat serah terima pasien di rumah sakit.
“Pelayanan tenaga kesehatan harus lebih menghormati hak-hak pasien, dan melibatkan pasien dalam proses perawatan sebagai mitra. Lalu tingkatkan kepercayaan publik bahwa rumah sakit dan puskesmas telah melakukan upaya peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” katanya saat ditemui, Rabu (28/1).
Menurutnya, akreditasi puskesmas ini merupakan yang pertama kalinya diselenggarakan atas dasar Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 75 tahun 2014 tentang standardisasi puskesmas sebagai layanan kesehatan primer. Sedangkan bagi rumah sakit, akreditasi ini merupakan penilaian lanjutan yang juga diatur dalam Permenkes nomor 56 tahun 2014 tentang klasifikasi standar rumah sakit. Dari level terendah yakni pratama, berlanjut ke madya, lalu utama, dan yang tertinggi adalah paripurna.
“Agar puskesmas dan rumah sakit sesuai dengan standar. Apabila akreditasi sudah diselenggarakan, untuk puskesmas dan rumah sakit yang masih kurang memenuhi standar, yang harus memenuhi kekurangan tersebut adalah Dinkes kabupaten/kota masing-masing,” tegasnya.[yud]
Sumber: rmolsumsel.com







