| Edisi Minggu ke 28: Selasa 14 Juli 2020
Reportase Webinar How COVID-19 Burdened Equity in Education and Health for Special Need Children CoP for Health Equity
Pandemi COVID-19 telah menyebabkan penghentian sistem pembelajaran tatap muka pada mayoritas sekolah dan universitas di Indonesia. Perubahan sistem pembelajaran menjadi metode digital dan daring menimbulkan beberapa permasalahan bagi banyak pelajar. Namun perubahan metode pembelajaran ini memiliki dampak yang jauh lebih besar bagi para penyandang disabilitas. Webinar yang diadakan pada 16 Juli 2020 mengundang tiga panelis, diantaranya Risna Utami, Nila Tanzil, dan Abelardo Apollo Ilagan David, Jr. untuk membahas mengenai kesetaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus selama dan setelah pandemi COVID-19. Webinar ini dimoderatori oleh Muhammad Zulfikar Rakhmat. Pengobatan Simptomatik untuk Health Inequity : Meningkatkan Kesadaran akan Bias Implisit pada Pelayanan Kesehatan CoP for Health Equity
“Health equity” atau pemerataan dalam kesehatan berarti idealnya, setiap orang harus mendapatkan kesempatan yang adil untuk mencapai potensi kesehatan penuh mereka dan tidak seorang pun boleh dibedakan dalam mencapai potensi ini.1 Atas dasar definisi ini, tidak boleh ada pasien yang patut menerima standar perawatan kesehatan yang lebih rendah karena “structural inequality” atau ketidakadilan struktural yang meliputi faktor sosial ekonomi, kelas, tingkat pendidikan, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, dan dimensi-dimensi lain yang melekat pada individu dan kelompok. Pengalaman Pasien Menunjukkan Sedikit Hubungan dengan Strategi Manajemen Kualitas Rumah Sakit
Pengalaman yang dilaporkan pasien semakin sering digunakan untuk secara rutin memantau kualitas perawatan. Dengan meningkatnya perhatian pada langkah – langkah tersebut, manajer rumah sakit mencari cara untuk secara sistematis meningkatkan pengalaman pasien di seluruh departemen rumah sakit, khususnya dimana hasil digunakan untuk pelaporan publik atau penggantian biaya. Namun, saat ini tidak jelas apakah rumah sakit dengan sistem manajemen kualitas yang lebih matang atau fokus yang lebih kuat pada keterlibatan pasien dan strategi perawatan yang berpusat pada pasien berkinerja lebih baik pada pengalaman yang dilaporkan pasien. Peneliti menilai efek dari strategi tersebut pada serangkaian tindakan yang dilaporkan pasien. Artikel ini dipublikasikan di jurnal PLOS One, pada 2015. Webinar How COVID-19 Burdened Equity in Education and Health for Special Need Children Community of Practice for Health Equity July 16, 2020 COVID-19 pandemic had caused the closure of majority of schools and universities throughout Indonesia. In order to continue with learning, various technologies had been used as tools to deliver information and knowledge. It is no doubt the effect brought upon by the changes had been felt by all of the people involved, children with disabilities need to face additional challenges that may not be felt by others. Students who are deaf, blind, speech impaired, mental disabilities and others with special needs are unable to use educational technologies as smoothly as their friends without special needs. We rarely see school materials that are built with sign language, subtitles, captions, audio and other format that can ease the learning of such children. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Sistem Manajemen Rumah Sakit yang Saling Terkait |
|
Menanggulangi Kesenjangan Kesehatan Mental Selama Wabah COVID-19 |
Pengobatan Simptomatik untuk Health Inequity
Pengobatan Simptomatik untuk Health Inequity :
Meningkatkan Kesadaran akan Bias Implisit pada Pelayanan Kesehatan
Community of Practice for Health Equity

“Health equity” atau pemerataan dalam kesehatan berarti idealnya, setiap orang harus mendapatkan kesempatan yang adil untuk mencapai potensi kesehatan penuh mereka dan tidak seorang pun boleh dibedakan dalam mencapai potensi ini.1 Atas dasar definisi ini, tidak boleh ada pasien yang patut menerima standar perawatan kesehatan yang lebih rendah karena “structural inequality” atau ketidakadilan struktural yang meliputi faktor sosial ekonomi, kelas, tingkat pendidikan, ras, jenis kelamin, orientasi seksual, dan dimensi-dimensi lain yang melekat pada individu dan kelompok.2
Gawat, RSUD Adnaan WD Stop Layani Rapid Test
Surat Edaran (SE) Direktorat Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan (Yankes), Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tanggal 6 Juli 2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi dalam penanganan Covid-19, ternyata berbuntut terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).
Misalnya saja di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Manajemen dan petugas medis RSUD setempat, yakni RSUD dr Adnaan WD, diduga “ngambek” melayani masyarakat yang hendak melakukan atau rapid test antibodi untuk kebutuhan dokumen perjalanan ke luar daerah.
Stok Rapid Tes Kit Sudah Habis, RSUD Tarakan Cari Bahan yang Murah
TARAKAN- Stok rapid test kit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan sudah habis, pihak RSUD Tarakan pun sedang mengupayakan pencarian bahan yang murah agar sesuai dengan Surat Edaran Pemerintah Pusat tentang batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan rapid test antibodi, Kamis (9/7/2020).
Seperti diketahui, batasan tarif tertinggi untuk pemeriksaan rapid test antibodi berkisar Rp 150 ribu.
Tim Medis Sukses, RSUD Nunukan Sudah Kosong dari Pasien Corona
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan sudah kosong dari pasien Corona. Sebanyak 43 pasien yang dirawat sudah sembuh semua, sedangkan 1 pasien yang masih menunggu proses kesembuhan tidak dirawat di rumah sakit, karena memilih melakukan isolasi mandiri di rumahnya.
“Keberhasilan merawat pasien hingga sembuh, dicapai karena penerapan sistem kerja yang baik dan disiplin menjalankan tugas adalah kunci keberhasilan dalam penanganan kasus pasien Covid-19. Sistem kerja ini akan semakin menunjukan hasil apabila para pasien berprilaku kooperatif selama menjalani proses penyembuhan,” ungkap Ketua Tim Covid-19 Kabupaten Nunukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan dr. Ferdy Syah Irfan, disela-sela pemulangan 2 pasien Covid-19 yang mendapat kesembuhan, Selasa (7/7/2020).
Alat PCR di RSUD Tarakan Mulai Hari Ini Difungsikan untuk Periksa Sampel Swab
TANJUNG SELOR– Setelah dilakukan sejumlah persiapan, akhirnya Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, dijadwalkan mulai periksa sampel swab hari ini, Rabu (8/7/2020).
RSUD Tarakan merupakan rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), yang letaknya di Kota Tarakan.
Kepastian pengoperasian PCR di RSUD Tarakan ini diperoleh setelah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara, Usman, beserta Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kaltara, Agust Suwandy, melakukan kunjungan sekaligus pemantauan di laboratorium tersebut.
Ternyata BPJS Yang Bikin Operasional RSUD Teluk Kuantan Terganggu Pada 2019
TELUK KUANTAN – Bupati Kuansing Mursini menyampaikan penyebab mengapa operasional di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Kuantan sempat terganggu pada tahun 2019 lalu.
Penyebabnya, kata Bupati, karena adanya tunggakan BPJS kepada RSUD Teluk Kuantan jumlahnya mencapai Rp 2,7 Miliar. “Ini penyebab terganggunya operasional Rumah Sakit terutama pengadaan obat-obatan dan bahan habis pakai ((BHP),” kata Bupati Mursini saat rapat paripurna, Selasa, 7 Juli 2020.
Edisi Minggu ke 27: Selasa 7 Juli 2020
| Edisi Minggu ke 27: Selasa 7 Juli 2020
Sistem Manajemen Rumah Sakit yang Saling Terkait
Sistem Manajemen Rumah Sakit yang saling terkait adalah sistem manajemen kesehatan berbasis web yang unik yang menghubungkan semua rumah sakit yang beroperasi di negara ini untuk operasi manajemen rumah sakit yang efisien. Motivasi di balik pekerjaan ini adalah untuk mengatasi pengalaman tantangan di operasi rumah sakit sehari – hari, terutama untuk mendapatkan catatan riwayat pasien di rumah sakit mana pun selama perawatan kasus darurat. Ini dicapai dengan pengambilan data, penyimpanan, pengambilan, dan pengelolaan informasi yang tepat (yang melibatkan riwayat diagnostik dan penagihan medis) yang dapat mengatasi banyak pasien; mengurangi beban kertas kerja sistem manual dan ditujukan untuk meningkatkan sistem perawatan kesehatan. Kerangka pengembangan sistem ini dirancang dan diimplementasikan menggunakan persyaratan fungsional yang dikumpulkan dari definisi masalah dan analisis. Metodologi yang digunakan adalah Rapid Application Development (RAD). Alat pengembangan pemrograman front-end menggunakan JavaFx, HTML, CSS, JavaScript, sedangkan PHP, XAMPP Server Engine di back-end, dan Teknologi Biometric Fingerprint. Sistem ini berhasil diimplementasikan pada sistem operasi Windows 7. Hasilnya diuji dan solusi web yang dikembangkan dapat menangkap input data, penyimpanan, pengambilan, dan memungkinkan rumah sakit mengakses catatan riwayat medis pasien apa pun dari antarmuka terpadu. Dengan demikian keadaan darurat dapat ditangani. Oleh karena itu, ini menghasilkan peningkatan besar dalam pemeliharaan dan manajemen informasi rumah sakit terhadap kualitas perawatan pasien. Artikel ini dipublikasikan pada 2018 di International Journal of Science and Research Menanggulangi Kesenjangan Kesehatan Mental Selama Wabah COVID-19 CoP for Health Equity
Wabah COVID-19 berdampak pada kesehatan mental di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan swaperiksa web PDKSJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) per 14 Mei 2020, terdapat 69% dari 2.364 responden menderita masalah psikologis, antara lain cemas, depresi, dan trauma psikologis. Prevalensi penderita gangguan jiwa akan terus meningkat selama wabah COVID-19, sehingga sekarang timbul suatu urgensi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan mental. Namun, apakah Indonesia siap untuk menanggulangi masalah kesehatan mental yang muncul selama dan setelah wabah ini berlangsung? Webinar How COVID-19 Burdened Equity in Education and Health for Special Need Children Community of Practice for Health Equity July 16, 2020 COVID-19 pandemic had caused the closure of majority of schools and universities throughout Indonesia. In order to continue with learning, various technologies had been used as tools to deliver information and knowledge. It is no doubt the effect brought upon by the changes had been felt by all of the people involved, children with disabilities need to face additional challenges that may not be felt by others. Students who are deaf, blind, speech impaired, mental disabilities and others with special needs are unable to use educational technologies as smoothly as their friends without special needs. We rarely see school materials that are built with sign language, subtitles, captions, audio and other format that can ease the learning of such children. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Kesehatan Anak, Stunting, dan Pernikahan Dini |
|
Variabilitas dalam Biaya di Bangsal Rumah Sakit |
| Memimpin National Flagship Hospital: Tinjauan Aksi Strategis Pemimpin Rumah Sakit |
|||
Menanggulangi Kesenjangan Kesehatan Mental Selama Wabah COVID-19
CoP for Health Equity

Wabah COVID-19 berdampak pada kesehatan mental di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan swaperiksa web PDKSJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) per 14 Mei 2020, terdapat 69% dari 2.364 responden menderita masalah psikologis, antara lain cemas, depresi, dan trauma psikologis. Prevalensi penderita gangguan jiwa akan terus meningkat selama wabah COVID-19, sehingga sekarang timbul suatu urgensi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan mental. Namun, apakah Indonesia siap untuk menanggulangi masalah kesehatan mental yang muncul selama dan setelah wabah ini berlangsung?
RS Mata SMEC Hadirkan Layanan Konsultasi Virtual dengan Harga Terjangkau
Pusat pelayanan kesehatan mata, Rumah Sakit (RS) Mata Sabang Merauke Eye Center (SMEC) kini telah menyediakan layanan terbaru yang diberi nama SMEC Virtual Care.
SMEC Virtual Care adalah layanan untuk memberikan konsultasi kesehatan mata melalui medium digital atau secara daring. Pada bidang kesehatan mata, istilah digitalisasi ini populer disebut tele-medicine atau tele-oftalmologi.












