Reportase
Webinar Building Resilient Health Care:
Strategi Rumah Sakit dalam Membangun Ekosistem Layanan Kesehatan yang Inovatif, Tangguh, dan Berkelanjutan
Implikasi PMK No. 6 tahun 2026 tentang Rumah Sakit

PKMK-Yogyakarta. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bersama Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan webinar untuk membahas adaptasi rumah sakit pasca terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) Nomor 6 Tahun 2026 pada Rabu (5/8/2026). Salah satu implikasi dari regulasi baru ini adalah mewajibkan rumah sakit bertransformasi dari klasifikasi berbasis kelas menuju klasifikasi berbasis kompetensi klinis dengan masa transisi dua tahun. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit dituntut untuk merancang ulang tata kelola guna memperkuat ekosistem layanan dan menangkap peluang inovasi operasional di tengah tekanan margin pembiayaan JKN. Webinar diselenggarakan secara daring pada Rabu (5/8/2026).

Mengawali sesi pengantar, dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D. memaparkan urgensi bagi rumah sakit untuk melakukan transformasi yang bersifat beyond compliance. Perubahan demografi yang memicu aging society dan krisis iklim global menuntut institusi kesehatan untuk tidak sekadar menjalankan operasional dasar, melainkan beradaptasi menjadi institusi yang tangguh (Climate Resilience). Transformasi digital, seperti adopsi Rekam Medis Elektronik (RME) dan layanan telemedicine, diposisikan sebagai langkah strategis untuk meminimalisasi emisi karbon rumah sakit sekaligus menjamin kontinuitas pelayanan (continuity of care) pasien secara efektif.

Memasuki sesi pemaparan narasumber, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. membedah konsep Sense Making yang dapat membantu direksi dan dewan pengawas agar tidak mengabaikan perubahan ekosistem kesehatan. Secara makro, daya saing inovasi rumah sakit di Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya. Salah satu langkah sistematis yang bisa dilakukan sebagai respon terhadap perubahan tersebut adalah melakukan pembaruan Rencana Strategis (Renstra) dengan menempatkan dokter spesialis sebagai Clinical Leaders dalam perencanaan layanan. Institusi tidak dapat lagi hanya bergantung pada pembiayaan JKN, namun rumah sakit juga perlu mengembangkan diversifikasi pendapatan melalui layanan non-JKN, seperti produk layanan wellness atau membuka unit perawatan sekunder di luar lingkungan rumah sakit induk.

Melengkapi tinjauan dari aspek model bisnis, Assoc. Prof. Hans P. Wijaya, MM merinci dampak PMK Nomor. 6 Tahun 2026 terhadap struktur operasional rumah sakit yang akan memicu fenomena hilirisasi layanan (downstreaming). Direksi dihadapkan pada pilihan strategis yang absolut: melakukan scoping up dengan berinvestasi pada layanan medis tingkat lanjut, atau melakukan scale down dengan menurunkan status operasional menjadi klinik utama untuk mereduksi beban biaya. Jika rumah sakit tidak proaktif membangun aliansi strategis dan ekosistem kesehatan terintegrasi, institusi akan sangat rentan terhadap gelombang akuisisi (mergers and acquisitions).

Beranjak ke implementasi tata kelola rumah sakit daerah, Dr. Firman, S.E., MPH, Direktur RSUD Sondosia Kabupaten Bima membagikan hasil evaluasi lapangan RS di NTB. Perbaikan difokuskan pada penguatan regulasi internal berbasis status BLUD agar manajemen memiliki fleksibilitas hukum untuk mengeksekusi inovasi. Melalui analisis data operasional, RSUD berfokus meningkatkan kompetensi pada layanan-layanan prioritas yang riil dan spesifik untuk memenuhi standar kompetensi PMK baru.

Menutup rangkaian kegiatan, Ovilia Andini dari Divisi Manajemen Rumah Sakit menjabarkan Rencana Tindak Lanjut (RTL) pendampingan PKMK FK-KMK UGM. Memasuki bulan September hingga Oktober 2026, agenda perumahsakitan akan dilanjutkan dengan workshop teknis berseri yang difokuskan pada penyusunan Renstra rumah sakit pemerintah, pengelolaan rumah sakit pendidikan, penyusunan business plan berbasis produk, hingga transisi status fasilitas Kesehatan. Seluruh peserta dan jajaran manajemen diarahkan untuk tergabung dalam Community of Practice sebagai wadah pemecahan masalah operasional dan tata kelola secara berkelanjutan.
Reporter : Renaldi







