Jakarta – Peralatan canggih dan dokter yang mumpuni, merupakan harga mati bagi sebuah rumah sakit berkualitas dalam melakukan pelayanan kesehatan terhadap semua orang yang sakit. Begitupula dengan pelayanan yang penuh kasih.
Di usianya yang kedua, MRCC Siloam Hospital Semanggi, kian berbenah diri untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Peralatan canggih, sumber daya manusia dan lembaga penelitian, bersinergi menjadi satu dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal buat masyarakat Indonesia.
Pendiri, Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCC) Siloam Hospital, DR Mochtar Riady, mengatakan tanpa dokter atau sumber daya manusia yang handal, sebuah rumah sakit hanya sekadar ruang. Perlu menggabungkan unsur peralatan canggih, dokter handal dan pusat penelitian agar pelayanan menjadi maksimal.
“Meminjam pepatah lama, gunung tak perlu tinggi asal ada dewa, air tak harus dalam asal ada naga. Betapa besarnya sebuah rumah sakit kalau tak ada dokter yang handal, tentu tak akan berguna bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Mochtar, dalam acara Ulang Tahun ke-2 MRCC Siloam Hospital Semanggi, Jalan Garnisum Dalam No.2-3, Semanggi, Jakarta, Senin (8/7).
Dikatakan Mochtar, jika ingin memberikan pelayanan lebih baik, sebuah rumah sakit harus memiliki perlengkapan serta alat yang berkualitas, sumber daya manusia atau dokter yang handal dan pusat penelitian.
“Dalam mewujudkan dokter-dokter handal, kami berusaha mencetak sumber daya manusia dari UPH (Universitas Pelita Harapan). Saat ini setiap tahunnya ada 100 dokter baru lulusan UPH. Ke depan, kami akan bangun gedung baru untuk meluluskan 400 dokter setiap tahunnya. Selain itu, perlu pusat lembaga penelitian untuk menopangnya. Dengan bergabung ketiga unsur itu, maka saya yakin kualitas dan pelayanan rumah sakit dapat ditingkatkan,” bilangnya.
Bangun 70 Rumah Sakit
Mochtar mengaku, memiliki cita-cita membangun 70 rumah sakit di Indonesia untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Saya bersyukur Tuhan memberikan suatu rezeki kepada saya. Saya hanya berharap bisa membangun rumah sakit sebanyak mungkin buat masyarakat Indonesia. Kalau Tuhan mengizinkan, saya akan membangun 70 rumah sakit di Indonesia. Kita sekarang sudah memiliki 14 rumah sakit, jadi masih ada 56 rumah sakit yang masih dalam pembangunan. Kalau tak didukung doa restu segenap rakyat Indonesia, cita-cita ini tak akan terwujud. Saya mohon doanya,” papar pendiri Lippo Grup itu.
Ihwal apa yang mendorongnya ingin membangun rumah sakit sebanyak itu? Mochtar mengatakan, tujuannya semata untuk memberikan pelayanan kesehatan buat semua masyarakat tanpa kecuali. Karena, rumah sakit itu sangat penting buat masyarakat.
“Ibu saya meninggal dunia saat usia saya delapan tahun, karena mengalami kesulitan (ketidaknormalan kontraksi leher rahim atau distosia) ketika melahirkan adik saya. Sebenarnya kesulitan itu tak menjadi masalah, kalau peristiwa itu terjadi pada saat ini. Ayah saya meninggal pada umur 60 karena menderita kanker lambung dan begitu kesulitan. Maka, saya merasa rumah sakit begitu penting buat manusia,” terangnya.
Ia mengatakan, ilmu kedokteran saat ini sangat jauh berkembang dengan ilmu kedokteran dulu. Karena itu, perkembangan teknologi sangat penting diikuti agar dapat memberikan pelayanan maksimal.
“Teknologi sangat penting buat kesejahteraan manusia. Saya menyarankan kepada para dokter dan perawat supaya bisa terus mengikuti teknologi baru. Sehingga, peralatan bisa terus diperbaiki hari demi hari,” tegasnya.
Mochtar mengungkapkan rasa syukur, karena MRCCC Siloam Semanggi dapat melayani masyarakat selama dua tahun berjalan.
“Waktu begitu cepat. Dalam dua tahun ini, kita mengalami sukacita dan dukacita bersama. Semua bisa diatasi karena sumbangsih bapak dan ibu (dokter) sekalian. Tanpa sumbangsih kalian tak akan berjalan baik. Saya harapkan, ke depan MRCCC bisa menjadi rumah sakit yang memiliki peralatan baik, dokter handal dan memberikan pelayanan penuh kasih kepada pasien,” tandasnya.
Sumber: beritasatu.com

Jakarta – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menanggung seluruh klaim Kartu Jakarta Sehat yang diajukan rumah sakit kelas C dan D. Kebijakan ini sedang dalam proses perundingan, dan dalam waktu dekat akan diperkuat peraturan gubernur.
Jakarta – Pemda DKI akan menaikkan tarif sistem Indonesia Case Based Groups (INA CBGs) oleh National Case-mix Centre (NCC) untuk rumah sakit-rumah sakit tipe C dan D. Keputusan ini Hal terkait keluhan beberapa rumah sakit peserta Kartu Jakarta Sehat (KJS) di Jakarta yang menilai tarif tersebut tergolong masih rendah.
Kulonprogo – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates mengklaim pengadaan alat pada akhir 2012 sudah sesuai prosedur. Sementara, pihak Jogja Corruption Watch (JCW) meminta agar Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIJ memeriksa RSUD Wates terkait pengadaan tersebut karena dinilai rawan penyimpangan.
Wali kota Batam Ahmad Dahlan meresmikan penetapan kenaikan kelas rumah sakit umum daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam dari tipe C menjadi tipe B di halaman aula RSUD Embung Fatimah Batam di Batuaji, Jumat (5/7) siang. Hadir dalam acara peresmian itu, Menteri kesehatan RI yang diwakili oleh Direktur Bina Upaya Kesehatan Jiwa Diana Utami, ketua DPRD kota Batam Surya Sardi, Sekdako Batam Agus Sahiman, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Chandra Rizal dan sejumlah pejabat pemko dan SKPD lainnya.
Rumah sakit Pondok Indah (RSPI) Puri Indah di usianya yang kelima berhasil meraih prestasi yang cukup membanggakan. Selain menjadi rumah sakit swasta pertama yang berhasil melakukan transplantasi hati di Indonesia, ada lagi prestasi lainnya.
Padang — Rumah sakit di dalam negeri perlu berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, kemampuan tenaga medis serta didukung dengan peralatan yang canggih, agar mampu mengangkat daya saing di bidang kesehatan. Dengan itu, diharapkan tak ada lagi warga negara Sumbar khususnya tidak ada yang memilih berobat ke luar negeri terutama Malaysia dan Singapura.
(CBS News) NEW YORK – One of the most dangerous threats inside hospitals today is a superbug called CRE, a bacteria resistant to antibiotics. Cases of CRE have been increasing, and have now been found in at least 43 states.
PELALAWAN – Saat ini, upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL) merupakan salah satu dokumen lingkungan hidup yang berisi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan bagi pelaku usaha.





