suarasurabaya.net – Dinas Kesehatan Jawa Timur akan menambah layanan untuk penderita tuberkulosis (TB), di empat rumah sakit.
Empat rumah sakit yang akan menjadi tempat rujukan para penderita TB itu, diantaranya RSUD Dr. Soedono Madiun, dan RS Dungus Madiun, RSUD Jombang, RSUD Gambiran Kediri.
Harsono Kadis Kesehatan Jawa Timur mengatakan, empat rumah sakit itu akan melayani para penderita TB yang masih sangat tinggi di Jawa Timur.
“Rumah sakit-rumah sakit itu akan membantu rumah sakit lainnya, diantaranya RSUD dr Soetomo, RSUD dr Saiful Anwar, dan RS Paru Jember yang sebelumnya sudah menangani para penderita TB di Jawa Timur,” ujar Harsono, Selasa (25/3/2014).
Diharapkan dengan adanya tambahan empat rumah sakit yang akan melayani para penderita TB itu, pasien tidak perlu lagi harus jauh-jauh datang ke Surabaya. Selain itu, pasien akan lebih cepat dapat pelayanan kesehatan dan perawatan yang diperlukan sesuai penyakit yang di derita.
Untuk mendukung operasional dan layanan pada pasien TB, rumah sakit-rumah sakit yang melayani penderita TB akan dapat anggaran khusus dari pusat dan Pemprov Jawa Timur lewat APBN dan APBD.
“Rencananya tahun ini, empat rumah sakit tambahan itu akan dapat bantuan dan segera melayani para penderita TB di wilayah sekitar mereka,” jelas Harsono.
Sampai tahun 2013 lalu, di Jawa Timur ada 42.222 penderita TB yang ditangani di beberapa rumah sakit, puskesmas dan klinik-klinik di Jawa Timur. Dari jumlah itu, hampir 90 persen pasien yang diobati sudah berhasil, tapi ada juga yang belum berhasil karena mereka melepaskan diri dari pengobatan tanpa diketahui sebabnya. (tas/ipg)
Sumber: suarasurabaya.net

PEKANBARU,SeRiau
Remunerasi merupakan salah-satu unsur yang cukup penting untuk diketahui oleh para manajer Rumah Sakit karena menyangkut biaya kehidupan dan penghidupan seluruh karyawan. Seringkali ketidakseimbangan upah, gaji atau insentif antara kelompok dokter, paramedik perawat / non perawat, tenaga administratif serta tingkatan manajer Rumah Sakit menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan dan menyebabkan menurunnya komitmen karyawan terhadap organisasi. Karenanya perlu pemahaman bagaimana sistem insentif dapat dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan melalui beberapa pendekatan yang lebih fleksibel.
KOMPAS.com 





