Banyak analis mengatakan jumlah korban tewas dalam pemboman di Boston bisa lebih banyak jika insiden itu terjadi di kota lain.

BOSTON— Pemboman pada Marathon Boston menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 170 orang. Namun banyak analis yang mengatakan bahwa jumlah korban tewas bisa lebih banyak lagi jika insiden itu terjadi di kota yang berbeda.
Rumah sakit berkualitas tinggi dan perencanaan yang baik di Boston dipuji karena telah menyelamatkan banyak nyawa.
Ketika korban pemboman dibawa ke Departemen Gawat Darurat Pusat Medis Tufts, petugas medis telah siap sedia.
“Tim manajemen darurat kami telah bersiap bahkan sebelum ada bom,” ujar Dr. Brien Barnewolt, kepala pengobatan gawat darurat. Tufts selalu siaga untuk Senin Marathon setiap tahun.
Tufts terkenal di seluruh dunia. Tempat ini memiliki sertifikat untuk mengobati luka-luka yang paling gawat. Pusat trauma anak dan dewasa di lantai satu hanya dua menit dari tempat pemboman jika dicapai oleh kendaraan. Bahkan enam rumah sakit ternama yang merawat pasien-pasien dari pemboman berada dalam radius 3,5 kilometer dari garis finish Marathon. Dan jika menyangkut trauma atau luka, waktu akan menyelamatkan nyawa.
“Adanya rumah-rumah sakit di sini yang dapat mendistribusikan pasien pada wilayah keahlian masing-masing dan melakukan perawatan definitif dan stabilisasi segera telah menyelamatkan nyawa. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Saya yakin ini juga telah menyelamatkan kaki banyak orang,” jelas Dr. Barnewolt.
Selain itu, banyak rumah sakit di Boston yang memiliki bagian pelatihan yang mereplikasi skenario trauma.
Fakultas Kedokteran Tufts University memiliki keahlian klinis dan pusat simulasi tempat mahasiswa dan tim trauma berlatih. VOA merupakan stasiun televisi pertama yang diizinkan masuk sejak pembukaannya empat tahun lalu.
Dalam berlatih, pasiennya adalah boneka dengan kontrol jarak jauh yang dapat mengedipkan mata dan menangis. Tim tersebut harus mencari tahu apa yang salah dengannya dan mengobatinya. Para instruktur menonton dari belakang cermin dua arah, yang memungkinkan mereka menilai tim tersebut.
“Kami berlatih dan ketika kami kira telah menguasai semuanya, kami berlatih lagi,” jelas Dr. Horacio Hojman.
Dr. Hojman mengatakan bahwa hal itu meningkatkan efisiensi.
“Ketika kami menerima pasien, semuanya bekerja seperti jam. Tidak ada yang berbicara. Kami tidak perlu berbicara,” jelasnya.
Tim tersebut tahu di mana mereka harus berdiri. Mereka paham apa gerakan berikutnya, dan hal tersebut sangat membantu para pasien, seperti yang terjadi pada pekan lalu. Petunjuk tangan menandakan bahwa seluruh tim bekerja di departemen gawat darurat.
“Sulit untuk memahami situasi, namun dalam peristiwa seperti ini, kita janya harus bekerja,” kenang seorang anggota tim trauma.
Program simulasi tidak menyertakan skenario untuk luka-luka karena bom. Setelah minggu lalu, rumah sakit perlu menambahkannya.
Sumber: voaindonesia.com



Rumah sakit yang ruangannya memiliki jendela tertutup diketahui meningkatkan risiko pasien untuk terkena infeksi, ungkap penelitian terbaru. Ilmuwan inggris menggunakan karbon dioksida sebagai gas pelacak ketika melakukan percobaan ini. Mereka mencari tahu apakah infeksi akan menyebar pada rumah sakit dengan kamar yang biasanya berisi hingga 30 tempat tidur dalam satu ruangan.
Jakarta, PKMK. Manajemen Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, sampai saat ini belum memperoleh kejelasan tentang pemindahan bayi Edwin Sihombing (2,5 bulan) dari Rumah Sakit Harapan Bunda (Jakarta Timur). RSCM belum menerima surat rujukan dari manajemen Rumah Sakit Harapan Bunda. “Sejak Jumat lalu, kami memang mendengar bahwa bayi tersebut dirujuk ke sini. Tapi kami belum mendapat waktu pasti untuk itu,” ujar Wiwin Winarsih, seorang staf hubungan masyarakat RSCM (22/4/2013). Pada prinsipnya RSCM siap merawat bayi tersebut sampai sembuh. “RSCM kan tidak pernah menolak pasien,” Wiwin menambahkan. Lebih jauh ia mengatakan, mungkin saja saat ini perpindahan bayi Edwin ke RSCM masih dalam proses administrasi di Rumah Sakit Harapan Bunda. Termasuk di dalamnya adalah perundingan tentang biaya apa saja yang ditanggung oleh manajemen Rumah Sakit Harapan Bunda.
Benoit De Gryse first joined Doctors Without Borders/Médecins Sans Frontières (MSF) in 2005, working on a mental health project for displaced people after the tsunami in Banda Aceh, Indonesia. He continued to work with MSF on various mental health projects in Indonesia, Haiti, and Brussels, before returning to Indonesia in 2008 as project coordinator of the response to the Sulawesi earthquake.
Metrotvnews.com: Rumah Sakit yang menolak pasien miskin akan dikenakan sanksi berat. Pasalnya Pemerintah daerah (Pemda) Kota Depok sudah mengucurkan anggaran untuk membantu pasien miskin sebesar Rp18 miliar.
DUBLIN — A miscarrying Indian woman who died from blood poisoning in an Irish hospital after being denied an abortion perished because staff bungled her diagnosis and didn’t give her prompt treatment, a jury unanimously ruled Friday in a case that has divided Ireland.





