KPU Tak Sediakan TPS Keliling, Pasien Disarankan Mencoblos ke TPS Terdekat
SAMARINDA
KPU Tak Sediakan TPS Keliling, Pasien Disarankan Mencoblos ke TPS Terdekat
SAMARINDA
MEDAN, SUMUTPOS.CO- Rencana kedatangan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono ke Kota Medan pada 27-29 Maret mendatang, salah satunya akan mengunjungi rumah sakit umum daerah (RSUD) dr Pirngadi Medan.
Hal ini terlihat dari kunjungan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), di rumah sakit milik Pemko Medan itu, Selasa siang (25/3).
PEKANBARU,SeRiau
Remunerasi merupakan salah-satu unsur yang cukup penting untuk diketahui oleh para manajer Rumah Sakit karena menyangkut biaya kehidupan dan penghidupan seluruh karyawan. Seringkali ketidakseimbangan upah, gaji atau insentif antara kelompok dokter, paramedik perawat / non perawat, tenaga administratif serta tingkatan manajer Rumah Sakit menyebabkan terjadinya konflik yang berkepanjangan dan menyebabkan menurunnya komitmen karyawan terhadap organisasi. Karenanya perlu pemahaman bagaimana sistem insentif dapat dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan melalui beberapa pendekatan yang lebih fleksibel.
Dalam rangka membantu manajemen RS memahami dan mampu menyusun Sistem Remunerasi, maka RSUD Embung Fatimah Kota Batam menyelenggarakan
MAROS, BKM–Penetapan rancangan peraturan Daerah (raperda) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salewangang, Maros mengalami kemandetan. Padahal saat ini proses penggodokan Raperda Rumah sakit sedang berlangsung di DPRD Maros.
Dari informasi yang dihimpun, macetnya penggodokan Raperda RSUD Salewangang, disebabkan adanya keinginan kalangan eksekutif untuk menjadikan RSUD Salewangang menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Ketua Pansus Raperda RSUD Salewangang, Lory Hendrajaya menuturkan, Raperda RSUD sementara penggodokan. Dia mengakui, Raperda itu belum ditetapkan karena banyaknya pertimbangan. Namun dia menolak mengaitkan lambatnya penetapan Raperda menjadi Perda itu dikarenakan isu BLUD.
“Belum ditetapkan, karena memang masih dalam proses pembahasan. Tapi belum ditetapkannya itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan BLUD,” sebutnya.
Bupati Maros HM Hatta Rahman menuturkan, sudah sepantasnya RSUD Salewangang menjadi BLUD. Hal itu supaya RSUD Salewangang dapat mengelola sendiri keuangannya. Selain itu melalui BLUD pihak RSUD dapat meningkatkan kinerja pelayanan publik melalui penerapan manajemen keuangan berbasis hasil.
“BLU menjadikan alat untuk meningkatkan kinerja pelayanan publik melalui penerapan manajemen keuangan berbasis hasil dan bukanlah semata-mata sarana untuk mengejar fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan. Sehingga kualitas layanan yang baik, cepat, efisien dan efektif dapat dinikmati masyarakat,
Jakarta – Sejumlah Rumah Sakit (RS), termasuk swasta, mengaku mengalami peningkatkan pendapatan saat menerapkan sistem pembayaran paket Indonesia Base Case Groups (Ina CBGs) dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, keterlambatan pembayaran klaim bisa mengganggu cash flow (arus kas) RS.
Kebijakan pembayaran uang muka 50 persen dari total klaim untuk menjaga likuiditas RS disambut baik pihak pemberi layanan kesehatan. Namun RS juga meminta ada pengaturan jadwal pembayaran uang muka yang jelas untuk menjamin operasional RS tetap berjalan. Pasalnya, bagi swasta, cash flow RS tergantung dari pembayaran klaim tersebut.
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
Para Pembaca yang terhormat, Scaling Up Program Sister Hospital
24 Mar2014
Scaling Up Program Sister Hospital Provinsi NTTReportase Scaling Up Program Sister Hospital Provinsi NTT Nusa Dua, Bali, 19 Maret 2014 Reporter: Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM,. M.Kes
Skenario pertama adalah skenario optimis, yaitu semuanya berjalan sesuai dengan yang disusun dalam peta pemerintah. Namun skenario ini hanya dapat berjalan apabila terdapat berbagai kebijakan dan perubahan-perubahan yang dibutuhkan agar asumsi dalam Road Map terpenuhi, antara lain ketersediaan fasilitas, SDM dan dana. Skenario kedua adalah skenario pesimis, akan terjadi apabila ada kegagalan dalam menambah SDM dan fasilitas kesehatan di daerah sulit, komposisi PBI dan non-PBI yang tidak seimbang, fraud dan berbagai masalah lain dalam pelaksanaan JKN. Dalam kondisi ini, dana BPJS akan banyak terserap ke daerah-daerah yang memiliki banyak fasilitas kesehatan dan yang banyak melakukan fraud. Bila yang terjadi adalah skenario pesimis, maka NTT tidak akan dapat menyerap dana BPJS sebanyak daerah-daerah lain yang telah maju dengan fasilitas yang lebih banyak. Program Sister Hospital di Provinsi NTT yang telah berjalan sejak akhir tahun 2010 dan kemudian diperkuat dengan Performance Management and Leadership (PML) tahun 2011 bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi di NTT. Pada prinsipnya program sister hospital ini merupakan program kemitraan antara RS “besar” di Jawa, Bali dan Makassar dengan RSUD di NTT. Kemitraan ini dilakukan untuk mengatasi kelangkaan tenaga dokter spesialis dan tenaga kesehatan lainnya di RS, khususnya untuk melaksanakan pelayanan PONEK 24 jam. Implementasi kegiatan adalah dengan cara clinical contracting out. Pada model ini, RS Mitra mengirimkan tenaga spesialis obsgyn, spesialis anak dan spesialis anestesi serta tenaga paramedis untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meningkatkan keterampilan teknis staf klinis di RSUD melalui training, magang di RS Mitra, dan pengembangan budaya kerja yang mengarah ke mutu layanan dan keselamatan pasien. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan tenaga puskesmas, dimana mereka dilatih dan diberi penyegaran dalam rangka penguatan sistem rujukan. Hasil yang diperoleh yaitu pelayanan PONEK di RS sudah mulai tertata dan tim juga sudah menghasilkan manual rujukan yang dilaksanakan mulai dari tingkat puskesmas atau bidan desa sampai dengan RS. Dengan adanya manual rujukan ini, “kegaduhan” di IGD RS akibat kasus ibu hamil yang terlambat dirujuk dapat dikurangi. Sejauh ini, hasil monitoring dan evaluasi pada sebelas RSUD di NTT menunjukan bahwa pada umumnya program SH-PML telah membawa dampak positif. Ketersediaan tenaga residen senior dari spesialisasi Obsgyn, Anak dan Anestesi tersedia secara reguler di hampir semua RS, terbangunnya manual rujukan kasus ibu hamil dari tingkat bidan desa dan puskesmas ke RS, hingga berbagai pembenahan pengelolaan operasional RS. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa banyak faktor yang ikut mendorong kemajuan tersebut, antara lain dukungan Pemda pada beberapa daerah yang cukup baik, memberi kesempatan bagi RSUD untuk menerapkan metode-metode baru yang lebih efektif.
Jika upaya intervensi untuk menghadapi kondisi seperti pada skenario kedua dilakukan, maka ada harapan bahwa pemerataan distribusi tenaga dapat terjadi. Pemerataan distribusi tenaga akan mempermudah scaling up program sister hospital. Pada akhir pertemuan, Dr. Stefanus Brian Sera selaku Kepal Dinas Provinsi NTT menjelaskan pada para direktur RSUD mengenai bagaimana mekanisme pengelolaan dana JKN yang masuk ke RS, yaitu untuk operasional (jasa medis, bahan habis pakai, jasa RS). Dampak positif dari pelaksanaan JKN antara lain: RS menggunakan INA-CBGs menguntungkan RS dilihat dari aspek tarif Perda sebelumnya. Menurut Dr. Stefanus ini berarti bahwa tarif RS sebenarnya sudah kuno, sehingga perlu kajian unit cost untuk memperbaiki tarif. Provinsi menyediakan anggaran untuk pelayanan kesehatan Jamkesda dan Jamkesmas sebesar Rp 7,5 M, dengan dasar tarf INA-CBGs. Namun anggaran ini hanya dialokasikan untuk RS rujukan: – RSUD Atambua (untuk rujukan dari Belu, Kefamenanu dan Melaya), – RSUD Kupang (untuk rujukan dari Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Kupang, Rote dan Sabu), – RSUD Sikka (untuk rujukan dari Kab. Sikka dan Flores timur), – RSUD Ruteng (untuk rujukan dari Ruteng, Manggarai Barat dan Manggarai Timur) dan – RSUD Waingapu untuk kabupaten lainnya. |