JAKARTA-Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Zaenal Abidin menyatakan, semenjak diberlakukannya Kartu Jakarta Sehat (KJS), terjadi penumpukan dan pembeludakan pasien. Pembeludakan pasien itu menyebabkan dokter-dokter pun semakin kewalahan menangani pasien.
“Bisa dibayangkan ya, satu dokter itu menangani 100 pasien. Setiap pasien itu idealnya dilayani dokter selama 15 menit. Kalau jam kerja dokter itu 8 jam per hari, itu seharusnya tidak lebih dari 30 pasien. Semua itu dilakukan kalau ingin menjaga kualitas,” kata Zaenal, dalam Sarasehan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) bersama Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Gedung PB IDI, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2013).
Dengan adanya anggapan yang menyebutkan ideal penanganan dokter terhadap pasien yang mencapai 100 pasien per harinya, kata Zaenal, hal tersebut justru dapat mengurangi kualitas dokter. Karena jam ideal dokter dalam menangani pasien dapat berkurang.
“Dokter itu tidak seperti pembuat karcis, selesai tulis-tulis nama, pelayanannya juga selesai. Kami tidak seperti itu,” kata Zaenal.
Selain itu, ia juga mengatakan fasilitas pelayanan kesehatan primer di Puskesmas yang belum memadai mengakibatkan membeludaknya pasien KJS di rumah sakit rujukan. Menurut dia, fasilitas kesehatan di puskesmas harus diperbaiki agar setiap pasien tidak lari ke rumah sakit.
Pemprov DKI, kata Zaenal, juga harus menambah jumlah dokter di setiap Puskesmas. Alasannya, jika jumlah dokter di layanan primer (puskesmas) mencukupi, masyarakat akan lebih cepat ditangani tanpa harus ke rumah sakit.
“Sumber Daya Manusia (SDM) nya dicukupi, karena dokter itu dalam sehari bekerja delapan jam dan maksimal menangani 32 pasien. Kalau lebih dari itu, tidak efektif dan membuat pasien dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
Sumber: health.kompas.com

TOKYO-Ternyata tak hanya di Indonesia terdengar kabar rumah sakit menolak merawat seorang yang tengah sakit. Di negara maju seperti Jepang, kondisi seperti itu juga terjadi.
Menteri BUMN
Jakarta-Saat ini baru tersedia 64 rumah sakit (RS) yang memberi pelayanan terhadap korban kasus kekerasan terhadap anak (KTA) di Indonesia
YOGYAKARTA-Sistem rujukan di DIY masih menyisakan beberapa permasalahan. Setidaknya itu terlihat dari banyaknya rujukan langsung dari Puskesmas di DIY ke RS Dr Sardjito.
Jakarta-Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Bambang Wispriono menilai, evaluasi program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Depok sejauh ini sudah cukup baik. Namun, dia menilai masih banyak beberapa kelemahan yang terjadi dalam sistem pelayanan.
Jakarta : Rumah Sakit Dr Cipto Mangkusomo (RSCM) dalam 2 tahun terakhir ini terus berupaya menaikkan standar mutunya dari nasional menjadi internasional. Dan peningkatan standar itu nantinya tidak hanya dinikmati pasien yang mampu atau berkecukupan, tetapi juga untuk pasien yang tidak mampu.
Apa yang terjadi sekarang? Mengapa banyak bayi tidak tertolong di RS? Kemana sederet RS yang berprestasi tersebut? Apakah terjadi penurunan kualitas pelayanan RS, atau masalah kesehatan yang semakin kompleks sehingga harus menggunakan pendekatan yang berbeda untuk memecahkan masalah?
Jadi sebenarnya RS sayang ibu dan bayi masih ada, bahkan jumlahnya mungkin bertambah. Dengan difasilitasinya RS Daerah untuk menjadi BLUD, banyak RSUD yang kemudian mampu memperbaiki pencapaian SPM-nya, yang artinya mutu pelayanannya semakin baik. Demikian juga dengan RS swasta, didorong oleh kebutuhan untuk bertahan dan meningkatkan daya saing, mereka berlomba-lomba memperbaiki mutu pelayanannya agar tetap menjadi pilihan masyarakat. Apalagi saat ini banyak RS yang didorong oleh pemerintah untuk memenuhi standar akreditasi (internasional), maka logikanya mutu pelayanan lebih baik dari waktu-waktu yang lalu.

Sebulan terakhir, Dinas Kesehatan DKI Jakarta sedang jadi sorotan publik. Penyebabnya, kasus bayi yang meninggal karena tidak mendapatkan pelayanan maksimal dari rumah sakit.





