TINTABORNEO.COM, Sampit – Ketersediaan dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi atau rehabilitasi medik masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk di RSUD dr Murjani Sampit. Kondisi tersebut mendorong manajemen rumah sakit untuk mengajak lebih banyak dokter muda menekuni bidang spesialis yang masih sangat dibutuhkan tersebut.
Direktur RSUD dr Murjani Sampit, dr Yulia Nofiany, mengatakan saat ini rumah sakit masih kekurangan tenaga dokter spesialis rehabilitasi medik. Bahkan, pelayanan yang ada masih mengandalkan bantuan satu dokter spesialis yang juga bertugas di rumah sakit lain.
“Untuk saat ini kami masih dibantu oleh dr Atet Kurniadi. Beliau juga menjabat sebagai Direktur RS Hanau sehingga harus membagi waktu pelayanan di dua rumah sakit,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Karena keterbatasan tenaga dokter, layanan rehabilitasi medik di RSUD dr Murjani hanya dapat dibuka pada hari-hari tertentu, yakni saat dokter spesialis tersebut bertugas di Sampit.
Meski demikian, kebutuhan masyarakat terhadap layanan rehabilitasi medik tergolong tinggi. Dalam satu hari pelayanan, jumlah pasien yang datang dapat mencapai sekitar 100 hingga 120 orang.
Menurut Yulia, rehabilitasi medik memiliki peran penting dalam mendukung proses pemulihan pasien. Layanan ini dibutuhkan oleh pasien pascaoperasi, penderita gangguan saraf, hingga pasien penyakit dalam yang memerlukan terapi lanjutan untuk mengembalikan fungsi tubuh secara optimal.
“Banyak pasien yang setelah mendapatkan penanganan dari dokter spesialis lain masih membutuhkan terapi lanjutan melalui fisioterapi atau rehabilitasi medik,” katanya.
Ia menilai masih minimnya jumlah dokter spesialis rehabilitasi medik di Indonesia dipengaruhi rendahnya minat dokter muda mengambil bidang tersebut. Sebagian besar lulusan kedokteran cenderung memilih spesialis yang lebih populer seperti bedah, anak, maupun kebidanan dan kandungan.
Karena itu, pihaknya terus mendorong dokter-dokter muda agar mempertimbangkan rehabilitasi medik sebagai pilihan pendidikan spesialis.
“Bidang ini masih sangat dibutuhkan. Peluangnya juga besar karena jumlah spesialisnya masih terbatas dibandingkan bidang lain yang sudah banyak peminat,” tutur Yulia.
Ia berharap ke depan semakin banyak dokter yang mengambil spesialis rehabilitasi medik sehingga kebutuhan layanan kesehatan masyarakat dapat terpenuhi secara maksimal, termasuk di Kabupaten Kotim. (ri)
Sumber: tintaborneo.com







