|
Activity-Based Management untuk Lean Management di Rumah Sakit
Persaingan semakin ketat dan sistem jaminan kesehatan di Indonesia mendorong manajemen rumah sakit untuk memberikan perhatian pada upaya-upaya pengelolaan rumah sakit yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Lean management merupakan pendekatan yang dapat mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan dengan biaya yang masuk akal dan mendorong rumah sakit untuk melakukan continuous improvement. Fokus Lean management adalah menghilangkan pemborosan dalam segala aspek pelayanan kesehatan. Pemborosan yang umum terjadi pada organisasi pelayanan kesehatan adalah:
Pelayanan Kesehatan Jangan Mengabaikan Orang Lanjut Usia
Pada hari orang lanjut usia internaSional atau International Day of the Older Person, yang jatuh setiap 1 Oktober, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan diperlukannya pendekatan baru pada penyediaan layanan kesehatan untuk orang lanjut usia (lansia). WHO menekankan pentingnya peran puskesmas dan kontribusi yang dapat diberikan oleh kader kesehatan masyarakat. Dalam rangka menjaga kesehatan lansia sehingga mereka bisa hidup sehat lebih lama lagi. Selain itu, ditekankan juga pentingnya mengintegrasikan pelayanan kesehatan untuk berbagai kondisi. Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur WHO mengatakan, “Pada tahun 2050, diperkirakan 1 dari 5 penduduk dunia akan berusia 60 tahun atau lebih. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita bersama untuk memastikan bahwa semua orang lansia bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dimanapun mereka berada, tanpa dibeda-bedakan.” |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Mengurangi Waktu Tunggu dan Meningkatkan Kepuasan Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Umum di China |
|
Review Jurnal: Pengelolaan Limbah dari Rumah Sakit: Sebuah Studi Kasus di Pakistan |
Activity-Based Management untuk Lean Management di Rumah Sakit
Activity-Based Management untuk Lean Management di Rumah Sakit
Oleh Anastasia Susty Ambarriani

Lean Management
Persaingan semakin ketat dan sistem jaminan kesehatan di Indonesia mendorong manajemen rumah sakit untuk memberikan perhatian pada upaya-upaya pengelolaan rumah sakit yang lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas pelayanan. Lean management merupakan pendekatan yang dapat mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan dengan biaya yang masuk akal dan mendorong rumah sakit untuk melakukan continuous improvement. Fokus Lean management adalah menghilangkan pemborosan dalam segala aspek pelayanan kesehatan. Pemborosan yang umum terjadi pada organisasi pelayanan kesehatan adalah:
- Defect, yaitu pelayanan gagal kualitas, menghasilkan pemborosan waktu untuk suatu layanan kesehatan yang tidak tepat, melakukan pengawasan (tambahan) karena keraguan akan kualitas pelayanan kesehatan ataupun memperbaiki pelayanan yang gagal kualitas. Contoh defect pada rumah sakit adalah: melakukan tindakan operasi yang sebenarnya tidak diperlukan, pemberian obat yang keliru atau dosis obat yang salah, yang mengakibatkan efek samping pada pasien sehingga kemudian memerlukan pengobatan ulang.
- Overproduction yaitu pemberian layanan kesehatan berlebihan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contohnya adalah melakukan tindakan atau prosedur yang sebenarnya tidak atau belum diperlukan pasien.
- Transportation yaitu pergerakan produk (pasien) yang tidak perlu. Contohnya pasien poliklinik yang memerlukan pemeriksaan penunjang harus berjalan melewati UGD dan ruang administrasi/manajemen sebelum mencapai unit laboratorium atau unit radiologi. Akibat layout rumah sakit yang buruk, pasien harus berpindah-pindah dalam jarak yang jauh.
- Waiting yaitu menunggu untuk dapat melakukan suatu aktivitas. Contoh staf laboratorium menunggu melakukan pemeriksaan laboratorium karena bahan belum tersedia, pasien menunggu untuk dapat berkonsultasi dengan dokter. Dokter menunggu berkas rekam medis yang sedang dicari oleh petugas sebelum dapat melayani pasien.
- Motion yaitu pergerakan para karyawan yang tidak diperlukan. Misalnya staf laboratorium harus mengambil reagen di tempat yang jauh dari laboratorium.
- Overprocessing yaitu melakukan pekerjaan yang tidak mempunyai nilai tambah bagi pelanggan/pasien. Contohnya membuat catatan berlebihan atau dobel yang sebenarnya tidak diperlukan.
- Human Potential yaitu pemborosan potensi karyawan. Misalnya perawat terlatih untuk merawat bayi baru lahir namun bertugas di bangsal penyakit dalam akibat sistem rolling yang kurang efektif.
Lean Management dan Activity Based Management
Implementasi lean management perlu didukung oleh alat manajerial yang berfokus pada aktivitas dan proses penciptaan nilai pelanggan serta mengarah pada efisiensi melalui perbaikan secara terus menerus (continuous improvement). Sistem manajemen berbasis aktivitas (activity-based management system) merupakan alat manajemen yang relevan untuk digunakan jika rumah sakit akan menerapkan lean management.
Activity based management adalah suatu pendekatan yang menyeluruh dan terintegrasi yang memungkinkan para manajer memfokuskan perhatian pada aktivitas dengan tujuan penciptaan nilai pelanggan (customer value). Activity based management mempunyai dua dimensi, yaitu dimensi biaya (cost) dan dimensi proses. Dimensi biaya menyediakan informasi tentang biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aktivitas atau rangkaian aktivitas, sedangkan dimensi proses menyediakan informasi tentang aktivitas apa yang dilakukan dan bagaimana kinerja aktivitas tersebut. Gambar di bawah ini menunjukkan diagram activity-based management.

Gambar 1: Diagram Activity-Based-Management
Sumber: Hansen & Mowen
Dimensi ‘Biaya’ dalam Activity Based Management
Dimensi ‘biaya’ dalam activity-based management bertujuan untuk menyediakan informasi tentang besarnya biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aktivitas atau rangkaian aktivitas. Pendekatan penentuan biaya dalam activity-based management adalah activity based costing. Activity based costing adalah metode penentuan biaya produk dengan cara membebankan biaya berdasarkan aktivitas dan rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam menghasilkan produk. Pendekatan activity based costing sangat relevan dengan lean hospital karena berfokus pada aktivitas atau proses. Melalui pendekatan activity based costing, biaya setiap aktivitas dapat ditentukan secara lebih akurat. Selain itu, karena biaya setiap aktivitas diidentifikasi dengan jelas, maka akan lebih mudah untuk melakukan pengendalian biaya aktivitas. Biaya merupakan dampak dari adanya aktivitas, jika manajemen ingin melakukan pengurangan biaya, maka harus melakukan pengurangan aktivitas yang tidak diperlukan. Pendekatan activity-based costing memudahkan manajemen untuk melihat dampak aktivitas terhadap biaya produk.
Dimensi ‘Proses’ dalam Activity-Based Management
Rangkaian aktivitas atau proses yang dilakukan oleh rumah sakit dalam melakukan pelayanan kepada pelanggan disebut sebagai value stream. Rangkaian aktivitas tersebut diharapkan seluruhnya memberi ‘nilai’ bagi pelanggan, namun demikian, faktanya sering terdapat aktivitas yang sesungguhnya tidak diperlukan dan tidak memberi nilai bagi pelanggan, yaitu pasien dan keluarga pasien. Aktivitas yang tidak memberi ‘nilai’ bagi pelanggan seharusnya dieliminasi karena menyebabkan biaya tidak bernilai tambah. Biaya merupakan implikasi dari adanya aktivitas. Aktivitas bernilai tambah menyebabkan terjadinya biaya bernilai tambah (value-added cost), sebaliknya aktivitas tidak bernilai tambah menyebabkan terjadinya biaya tidak bernilai tambah (non value-added cost). Biaya tidak bernilai tambah dalam pelayanan kesehatan menyebabkan tingginya biaya pelayanan kesehatan tetapi tidak memberi manfaat bagi pelanggan, yaitu pasien dan keluarga pasien. Biaya tidak bernilai tambah harus dieliminasi.
Dimensi ‘proses’ dalam activity-based management bertujuan untuk mengidentifikasi adanya biaya tidak bernilai tambah. Pendekatan yang digunakan pada dimensi ‘proses’ adalah process value analysis (analisis nilai proses). Inti analisis nilai proses adalah analisis aktivitas. Analisis aktivitas dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengelompokkan aktivitas ke dalam aktivitas bernilai tambah dan aktivitas yang tidak bernilai tambah, mengidentifikasi driver (penyebab) aktivitas dan selanjutnya melakukan upaya pengurangan aktivitas tidak bernilai tambah melalui pengurangan penyebab terjadinya (driver) aktivitas tidak bernilai tambah. Pengurangan aktivitas tidak bernilai tambah dilakukan dengan cara membuat standar yang selalu berubah (dinamis) yang mengarah pada penyempurnaan. Standar yang selalu berubah ke arah perbaikan disebut dengan standar kaizen.
Inti dari lean hospital adalah mengurangi pemborosan yang berasal dari aktivitas yang tidak memberi nilai tambah bagi pelanggan. Oleh karena itu, analisis aktivitas memegang peran penting dalam penerapan lean hospital. Namun demikian, analisis aktivitas seharusnya dilanjutkan pada analisis biaya tidak bernilai tambah. Hal ini untuk mendukung tercapainya tujuan penerapan lean management, yaitu memberi pelayanan kepada pelanggan dengan kualitas tinggi tanpa harus boros. Peran akuntansi manajerial dalam penerapan lean management adalah menyediakan pelaporan biaya yang mendukung keberhasilan penerapan lean management. Salah satunya adalah dengan menyediakan laporan biaya bernilai tambah dan biaya tidak bernilai tambah. Pelaporan biaya bernilai tambah dan biaya tidak bernilai tambah membantu para personel di rumah sakit untuk menyadari adanya biaya tidak bernilai tambah, sehingga mendorong pada upaya untuk melakukan pengurangan biaya tidak bernilai tambah. Tabel 1 di bawah ini merupakan contoh pelaporan biaya bernilai tambah dan biaya tidak bernilai tambah berdasarkan aktivitas. Biaya untuk setiap kelompok aktivitas tersebut dapat dirinci lebih lanjut ke dalam setiap jenis biaya, semisal biaya alat tulis, biaya gaji, biaya obat, biaya bahan habis pakai dan lain-lain.
Tabel 1: Laporan Biaya Tidak Bernilai Tambah

Selain pelaporan biaya bernilai tambah dan tidak bernilai tambah untuk setiap periode, perlu disiapkan laporan biaya tidak bernilai tambah secara tren, sehingga dapat diketahui perbaikan yang telah dilakukan oleh rumah sakit dalam melawan pemborosan. Di bawah ini adalah contoh laporan tren biaya tidak bernilai tambah untuk setiap kelompok aktivitas. Perlu diingat semakin rinci laporan biaya, maka informasi yang diperoleh akan semakin detail, dan akan lebih mudah untuk mengetahui bagian-bagian mana yang mengalami pemborosan.
Tabel 2: Laporan Tren Biaya Tidak Bernilai Tambah

Adanya penurunan biaya tidak bernilai tambah dari periode ke periode menunjukkan terjadinya continuous improvement atau menunjukkan adanya perbaikan kinerja aktivitas.
Pengukuran Kinerja dalam Lean Hospital
Tujuan lean management adalah mengejar kesempurnaan (pursue perfection) melalui perbaikan yang dilakukan secara terus menerus. Kesempurnaan diarahkan pada kualitas pelayanan yang prima dengan biaya yang efisien dan memberikan return yang rasional bagi organisasi rumah sakit yang mengimplementasikannya. Untuk mencapai semua tujuan tersebut, dibutuhkan indikator kinerja yang dapat mencerminkan tercapainya semua tujuan tersebut. Dimensi kinerja pada lean hospital meliputi kinerja operasional, pemanfaatan kapasitas dan kinerja keuangan. Ketiga ukuran kinerja tersebut tidak dapat dipisahkan.
Kinerja operasional mengukur produktivitas proses pelayanan (value stream) secara operasional. Ukuran kinerja operasional antara lain: rasio antara jam pelayanan dan jumlah pasien yang dilayani, rasio antara jumlah kegagalan pelayanan dengan jumlah total pelayanan, rata-rata waktu pelayanan dan tingkat kepuasan pelanggan atau pasien. Ukuran kinerja kapasitas menunjukkan kemampuan rumah sakit dalam memanfaatkan kapasitas yang dimiliki dalam suatu value stream. Contoh ukuran kinerja ini adalah produktivitas tenaga kerja, produktivitas pemanfaatan peralatan dan fasilitas lainnya. Ukuran kinerja keuangan mengukur kinerja keuangan dalam suatu proses pelayanan (value stream). Contoh ukuran kinerja dalam aspek ini adalah return on revenue, yaitu selisih pendapatan dan biaya dibandingkan dengan pendapatan. Tabel 3 adalah contoh ukuran kinerja yang dapat digunakan oleh suatu rumah sakit yang menerapkan lean management yang dicontohkan oleh Maskell.
Pengukuran kinerja dan pelaporan biaya pada biasanya dilakukan pada setiap akhir periode, yang pada umumnya adalah tahunan. Dalam penerapan lean management, pelaporan kinerja dan pelaporan biaya tidak perlu harus menunggu pelaporan akhir tahunan, namun dapat dilakukan dalam periode yang lebih pendek. Semakin sering evaluasi dan pelaporan dilakukan, maka akan semakin cepat dalam mendeteksi adanya pemborosan dan semakin cepat pula tujuan kesempurnaan untuk dicapai. Dalam Tabel 3 yang dicontohkan oleh Masskell di bawah ini, evaluasi dilakukan pada setiap minggu. Meskipun demikian, hal ini sangat tergantung pada kondisi dan ketersediaan fasilitas dan sumber daya manusia di rumah sakit yang menerapkan lean management.
Tabel 3: Ukuran Kinerja dalam Lean Management

Sumber: Maskell
Kesimpulan
Implementasi lean management harus didukung oleh analisis biaya, pelaporan biaya dan pengukuran kinerja yang relevan. Tanpa dukungan analisis biaya, pelaporan biaya dan pengukuran kinerja yang sesuai, implementasi lean management tidak akan memberi hasil yang optimal. Pendekatan activity-based management dapat membantu rumah sakit yang menerapkan lean management untuk mencapai hasil yang optimal dan menghasilkan perbaikan kinerja secara menyeluruh dan terintegrasi.
Sumber bacaan:
- Duke, Caitlin R, How Healthcare Accounting Adapt to Lean Practices, Undergraduate honor theses, East Tennessee State University, 2017
- Hilton & Platt, Managerial Accounting: Creating Value in Dynamic Business Environment, 10th Mc Graw Hill, 2015
- Hansen & Mowen, Management Accounting, 8ed, Thomson, 2008
- Maskell, Baggaley and Grasso, Practical Lean Accounting, 2nd ed Productivity press, 2011
Dr Restum : Penggunaan Infus Kadarluasa Adalah Murni Kelalaian
PANGKALPINANG – Kepala Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang, Dr Restum mengakui bahwa pemberian Infus Kadarluarsa kepada Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Depati Hamzah adalah murni kelalaian dari pengawas rumah sakit.
“Kami akan berikan teguran keras kepada pihak rumah sakit, namun satu hal yang harus saya jelaskan disini Infus waluapun kadarluarsa infus tersebut, bukanlah faktor penyebab kematian karena di dalam infus itu cuma berisikan elektrolit dan gula. Memang ada yang berkandungan vitamin tapi itu jarang digunakan, ” ungkap Restum kepada wartawan, Senin (09/10/2017) usai mengikuti Paripurna Di Sekretariat DPRD Kota Pangkalpinang.
Kemudian dirinya menyebutkan siang ini rencananya akan melakukan rapat dengan pihak terkait agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi kedepan.
Diketahui sebelumnya Pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah kota Pangkalpinang yang diberikan asupan infus kadaluarsa oleh pihak rumah sakit ternyata meninggal dunia.
Pasien atas nama Harzian Lesmana (43) warga jalan H. Hasan desa Payabenua kecamatan Mendo Barat, kabupaten Bangka itu meninggal dunia pada Jumat (6/10/2017) di rumah sakit setelah kurang lebih satu minggu menjalani rawat inap di RSUD Depati Hamzah.
Almarhum sendiri diketahui masuk RSUD sejak hari Selasa lalu, diketahui pasien diberikan infus kadaluarsa oleh pihak rumah sakit sejak Minggu malam, ketika keluarga mengambil obat dari apotek RSUD Depati Hamzah Kota Pangkalpinang itu.
Dari kejadian ini almarhum meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil-kecil dan satu istri. “Anak almarhum paling besar sekitar usia dua tahunan, dan InsyaAllah almarhum sendiri akan dikebumikan usai shalat Ashar,” ujar Andre keluarga korban.
Sumber: amunisinews.com
Tambah Tenaga Medis Sesuai Kebutuhan Masyarakat
KUALA PEMBUANG-Selain perbaikan berbagai fasilitas rumah sakit, saat ini pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, juga terus berupaya menambah jumlah tenaga medis. Menurut Plt Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kuala Pembuang dr H Reson Rusdianto, jumlah tenaga medis yang diupayakan ditambah khususnya dokter sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
Reson menyebutkan, sekarang ini RSUD Kuala Pembuang sudah memiliki tujuh dokter spesialis yakni dokter spesialis penyakit dalam, dokter kandungan, dokter spesialis anak, dokter spesialis anestesi, dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin, dokter spesialis bedah dan dokter spesialis jiwa. “Selain itu juga ditambah dengan empat orang dokter umum, sehingga kini pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain mulai berkurang,” ujarnya kepada wartawan, di Kuala Pembuang, kemarin.
Reson menyatakan, saat ini pihaknya juga terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. “Tahun 2017 ini kami akan mengoperasionalkan instalasi gawat darurat (IGD) yang sudah selesai dibangun terhubung dengan seluruh ruang poli yang ada di rumah sakit,” katanya.
Dia berharap dengan terintegrasinya seluruh ruangan tersebut, maka pelayanan di RSUD Kuala Pembuang akan semakin cepat dan mudah.Selain mengoperasionalkan IGD, lanjut Reson, pihaknya juga akan membenahi IGD lama yang nantinya difungsikan untuk instalasi kefarmasian. Sedangkan instalasi kefarmasian yang ada sekarang akan digunakan untuk poli psikiatri. (mad/ila/dar)
Sumber: prokal.co
RSUD Kota Bogor Terus Tingkatkan Pelayanan, Kini Jadi Langganan Tempat Studi Banding
Pelayanan yang prima dan program administrasi yang mumpuni, membuat RSUD Kota Bogor kembali menjadi lokasi studi banding bagi RSUD daerah lain. Seperti dilakukan RSUD Majene di Provinsi Sulawesi Barat, Sabtu (7/10). Mereka rela jauh-jauh ke Bogor untuk belajar bagaimana RSUD Kota Bogor mengelola rumah sakit.
“Mengapa kami memilih RSUD Kota Bogor, karena kami mendengar bahwa rumah sakit ini terus mengalami kemajuan pasca-akuisisi dari rumah sakit swasta ke rumah sakit pemerintah daerah,” Kata Dirut RSUD Majene, dr H Rakhmat.
Pihaknya pun mendapat referensi dari BPJS Pusat bahwa RSUD Kota Bogor mendapat predikat terbaik menata administrasi program layanan kesehatan pemerintah tersebut. “Saat ini, kami sedang proses peningkatan akreditasi. Jadi, tata kelola mutu pelayanan rumah sakit di antara BPJS menjadi syarat penting rumah sakit kami untuk naik kelas,” jelasnya.
Oleh karenanya, dalam studi banding tersebut, pihak RSUD Majene membawa beberapa perwakilan dari beberapa bidang pelayanan, agar program belajar ini bisa langsung dipraktikkan di setiap bagian atau unit kerja.
Dalam kesempatan itu, Dirut RSUD Kota Bogor dr Dewi Basmala, Mars dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih atas kepercayaan dan langkah yang dilakukan RSUD Majene dengan melakukan studi banding ke tempatnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan.
“Saya bahagia, rumah sakit ini dijadikan sarana dan tempat belajar. Karena minggu lalu, RSUD Bantul pun datang ke sini. RSUD Kota Bogor pun, saat ini terus belajar untuk meningkatkan pelayanan dan kepercayaan, khususnya warga Kota Bogor,” ucapnya.
RSUD Kota Bogor, kata dia, saat ini sedang menambah sarana dan prasana, khususnya ruang rawat inap, serta akan membuat program unggulan, di antaranya untuk pelayanan kanker dan hemodialisa.
Sementara itu, Kasubag Hukum dan Humas RSUD Kota Bogor Taufik Rahmat menambahkan, selain meningkatkan beberapa perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) pun menjadi skala prioritas.
Oleh karena itu, pihaknya selalu mengikuti berbagai diklat yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah. “Kami akan trus berusaha meningkatkan mutu pelayanan dan tidak hanya sebatas sarana prasana saja, tapi SDM pun terus kami tingkatkan,” tandasnya.(wil/*)
Sumber: radarbogor.id
Cegah Kecurangan Rumah Sakit Atas Ketersediaan Kamar, BPJS Kesehatan Terapkan Sistem Online
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menerapkan sistem online yang disebut Aplicares atau daftar rumah sakit dan informasi bagi ketersediaan tempat tidur. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah timbulnya kecurangan yang dilakukan rumah sakit atas ketersediaan kamar untuk pasien.
Dari 64 rumah sakit provider yang tersebar di Medan, Binjai, dan Langkat, baru 17 rumah sakit yang sudah terintegrasi dalam sistem tersebut.”Belum semua, tapi perlahan-lahan semua rumah sakit provider BPJS Kesehatan sudah mengarah kesana,” ujar Kepala Bidang Kepesertaan dan Pelayanan Peserta BPJS Kesehatan Cabang Medan, Sufriyanto kepada wartawan, Senin (09/10/2017).
Menurut Sufriyanto, pada tahun 2018 mendatang, semua rumah sakit wajib memiliki sistem ini. Sehingga informasi itu bisa diketahui seluruh masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan rawat inap.”Sehingga mereka (rumah sakit-red) terbuka tentang kamar, berapa yang kosong, dan berapa yang memang terisi,” jelasnya.Bagi masyarakat yang igin mengakses Aplicares ini, sebut Sufriyanto bisa mengaksesnya di https://faskes.bpjs-kesehatan.go.id/aplicares/#/app/dashboard. Kemudian cek daftar rumah sakit yang sudah menyedia-kan info terkait ketersediaan kamar.
“Lalu tinggal pilih nama provinsi dan kabupaten/kota yang ingin dicek ketersediaan kamarnya. Setelah itu, masyarakat bisa klik nama rumah sakit yang ingin dituju, nantinya akan terlihat di sana berapa total kamar yang ada, berapa yang terisi, dan berapa yang kosong,” ungkapnya.
Begitupun, lanjut dia, masyarakat juga harus melihat update terakhir yang dilakukan rumah sakit sebelum dibawa ke tempat pelayanan yang dituju.”Nah untuk memastikannya, bisa juga langsung ditelpon ke rumah sakit yang bersangkutan atau jika tidak sesuai dengan di sistem ketika sampai ke rumah sakit, bisa dikonfirmasikan langsung ke manajemen rumah sakit kenapa dan kapan pasien masuk. Jika ternyata tidak sesuai juga, bisa melaporkannya ke kita (BPJS Kesehatan) nanti akan kita tindak lanjuti,” paparnya.
Sufriyanto menambahkan, pihaknya selalu mengingatkan rumah sakit agar selalu dapat berkesinambungan untuk mengupdate informasi terbaru yang dibutuhkan oleh pasien.”Kita juga sering mengingatkan rumah sakit untuk mengupdate. Misalkan dua hari atau seminggu tidak update, kita pasti menanyakannya kenapa tidak diupdate. Itu yang sering kita ingatkan,” pungkasnya. (BS07)
Sumber: beritasumut.com
Lippo Karawaci Akusisi Rumah Sakit dan Mal di Buton
KARAWACI – Pada semester pertama tahun ini PT Lippo Karawaci Tbk ( LPKR), meraih pendapatan sebesar Rp 4,9 triliun atau turun 3 persen yoy, dengan laba kotor sebesar Rp2,1 triliun atau turun 9 persen yoy. EBITDA LPKR mengalami menurun sebesar 21 persen yoy menjadi Rp 962 miliar.
Sementara itu, laba bersih relatif LPKR relatif datar menjadi Rp487 miliar. Demikian laporan keuangan yang diumumkan LPKR Senin (9/10/2017) untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni 2017.
Dalam laporan tersebut LPKR juga mengumumkan persetujuan RUPSLB First REIT atas penjualan dan penyewaan kembali properti terpadu di Pulau Buton pada 21 September atas akuisisi senilai 28,5 dollar Singapura juta untuk sebuah properti terpadu terdiri dari Siloam Hospitals Buton yang terhubung dengan sebuah mal ritel, yakni Lippo Plaza Buton.
Ketut Budi Wijaya, Presiden Direktur LPKR, mengatakan, dengan selesainya akuisisi properti terpadu itu, portofolio First REIT akan menjadi 19 properti yang ada di Indonesia, Singapura serta Korea Selatan.
Siloam Hospitals sendiri merupakan rumah sakit tiga lantai yang baru dibangun dengan luas GFA 10,796 m2.
ulai beroperasi sejak April 2016 lalu, kapasitas maksimum rumah sakit ini mencapai 140 tempat tidur.
Sementara itu, Lippo Plaza Buton, adalah mal ritel satu lantai yang berdiri sendir. Pusat belanja ini mulai beroperasi sejak Desember 2015. Dengan total GFA 11.138 m2, Lippo Plaza adalah satu-satunya mal modern di kota Baubau.
Ketut memaparkan, pendapatan dari divisi Residential & Urban Development menurun sebesar 25 persen yoy menjadi Rp1,3 triliun. Pendapatan LPKR dari sektor Townships turun sebesar 41 persen yoy menjadi Rp687 miliar.
Sementara itu, pendapatan dari Large Scale Integrated Developments naik sebesar 6 persen yoy menjadi Rp648 miliar.
“Untuk pendapatan recurring tumbuh 8 persen yoy menjadi Rp3,6 triliun. Ini berkontribusi sebesar 73 persen terhadap total pendapatan kami yang didukung oleh pertumbuhan yang kuat dari divisi kesehatan dan dan mal,” ujar Ketut.
Berdasarkan laporan tersebut Ketut memaparkan pendapatan dari divisi rumah sakit meningkat 8 persen yoy menjadi Rp2,8 triliun. Keenam rumah sakit milik Lippo memberikan kontribusi sebesar Rp 1,3 triliun atau 47persen dari total.
“
Kunjungan pasien rawat jalan meningkat sebesar 10 persen. Sepanjang tahun ini, Siloam sudah mengambil alih empat rumah sakit dan juga telah membuka empat rumah sakit sehingga jumlah rumah sakit di bawah pengelolaan Siloam menjadi 31. Itu ditambah lagi dengan rumah sakit-rumah sakit baru lainnya akan diumumkan tahun ini,” kata Ketut.
Sumber: kompas.com
MUTU PELAYANAN RSUD ZUBIR MAHMUD MAKIN MENINGKAT
ACEH TIMUR – Sejak peresmian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zubir Mahmud, pada November 2015, kini RSUD tersebut menjadi rujukan dan melayani pasien setiap bulannya.
Pada Agustus 2017 tercatat rumahsakit tersebut melayani pasien rawat inap sebanyak 715 pasien dan rawat jalan 4.947 pasien. Angka ini jauh melebihi total pasien saat masih di gedung lama.
Menurut Direktur RSUD Zubir Mahmud, T Iskandar Rizal, Sp Pd keberadaan RSUD dengan gedung dan fasilitas lengkap bantuan PT Medco Energi dan PT Medco E&P Malaka ini, sangat membantu dalam upaya peningkatan mutu pelayanankesehatan masyarakat di Aceh Timur. Peningkatan fasilitas ini membuat warga setempat menjadi lebih nyaman untuk berobat ke RSUD karena rumah sakit memiliki fasilitas yang lengkap dan fasilitas air yang bersih serta memiliki oksigen sentral. Fasilitas ini, berbeda dengan gedung RSUD sebelumnya.
“Rumah sakit ini kini menjadi rujukan pelayanan kesehatan di Kabupaten Aceh Timur. Gedung dengan fasilitas lengkap dan tersedianya dokter ahli yang berpengalaman menjadikan rumah sakit ini semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujar dokter Iskandar.
Hal ini terbukti dengan berhasilnya operasi pengangkatan tumor Kista Ovarium seberat 5,5 kilogram dari perut seorang pasien warga Kecamatan Pante Bidari. Proses pengangkatan dilakukan oleh tim dokter RSUD pada, Sabtu, (27/5) lalu. Tim dokter berhasil mengangkat kista dengan lancar dan selamat.
Selain itu, RSUD Zubir Mahmud juga menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi para pekerja Medco E&P Malaka dan kontraktor-kontraktor yang ada di proyek-proyek Blok A.
Kini, untuk mendukung pelayanan di RSUD, terdapat sebanyak 21 dokter umum dan 26 dokter spesialis. dalam tindakan bedah dan medis umum yang dilakukan, terdapat beberapa tindakan medis lanjutan yang sudah dapat dilakukan di RSUD ini seperti bedahsaluran kemih, bedah pembuluh darah toraks kardiovaskuler (BTKV) dan pengangkatan tumor kista ovarium.
“Kami senang karena bantuan MedcoEnergi atas RSUD ini tepat sasaran dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Mudah-mudahan dengan dukungan semua pihak, Medco E&P Malaka dapat menyelesaikan proyeknya tepat waktu sehingga multiplier effect dari keberadaan Blok A dapat benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Direktur PT Medco E&P Malaka, Eka Satria. (Ardi)
Sumber: riaukontras.com
Rumah Sakit Didorong Agar Terkoneksi Panggilan Kegawatdaruratan 119
Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) Agustama mengaku, terus mendorong rumah sakit agar terkoneksi dengan layanan panggilan kegawatdaruratan. Pasalnya, kata dia, hingga saat ini baru enam rumah sakit yang sudah terkoneksi dengan layanan panggilan kegawatdaruratan 119.
“Yang sudah terkoneksi 119, baru ada enam rumah sakit, yakni RSUP Haji Adam Malik, RSUD dr Pirngadi, RS Martha Friska, RS Malahayati, RS Murni Teguh dan RS Sari Mutiara,” ujar Agustama, di Medan, Sabtu (07/10/2017).
Agustama mengatakan, Dinas Kesehatan terus mendorong layanan panggilan kegawatdaruratan itu terkoneksi dengan rumah sakit lainnya. Sebab, layanan 24 jam ini dinilai sangat membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau misalnya ada pasien kritis dari daerah ke Medan, tetapi ternyata kamar penuh, kan lama kalau harus dirujuk lagi, bisa-bisa meninggal di jalan. Nah, di sini masyarakat tinggal telepon 119 dan bisa dibawa langsung ke RS yang direkomendasikan, kamar dan layanan lainnya yang tersedia,” ungkapnya.
Agustama menjelaskan, masalah layanan kegawatdaruratan ini memang otoritas Dinas Kesehatan. Sehingga untuk mengoptimalkan peran sistem online gawat darurat tersebut, pihaknya sudah mensosialisasikan dan menggelar pelatihan ke kabupaten/kota.
“Tapi untuk kemampuan tergantung daerah masing-masing, kendalanya dana. Tiap RS memang harus punya layanan ini. Jadi kita bantu sosialisasikan dan beri pelatihan. Di beberapa kabupaten/kota sudah berjalan, sudah bisa telpon 119,” jelasnya.
Namun layanan 119, sambungnya, berbeda dengan sistem informasi rumah sakit (SIRS). Ia mengakui, jaminan 119 ini bisa langsung dipastikan pasien mendapatkan kamar karena memang sudah darurat. RS sudah mengetahui dengan melihat sistem jika ada pasien yang akan masuk. “Kita terus mendorong RS agar lebih mengoptimalkan layanan ini. Apalagi masyarakat yang sudah menggunakan 119 juga ada banyak,” terangnya.
Sebelumnya, Ketua Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumut, Azwan Hakmi Lubis, menyebutkan, layanan kegawatdaruratan di RS dinilai belum optimal. Padahal layanan itu sangat penting karena pasien yang dirujuk ke dalam perawatan ini sesegera mungkin harus bisa memperoleh penanganan intensif. “Belum maksimal, soalnya layanan kegawatdaruratan ini belum benar-benar terkoneksi,” jelasnya.
Ia berharap Dinkes sebagai otoritas dapat mengatur perihal online tersebut. Tujuannya agar 119 bisa mendistribusikan pasien yang membutuhkan layanan gawat darurat ke RS yang tersedia. “Jadi kalau orang menelepon 119, pasiennya bisa segera didistribusikan kelau memang sudah online,” sebutnya.(BS06).
Sumber: beritasumut.com
RS Haji Medan dilengkapi ruang kateterisasi jantung
Medan – Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi berharap operasional ruang operasi cathlab atau kateterisasi jantung di Rumah Sakit Haji Medan bisa semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
“RS Haji Medan yang di bawah pengelolaan Pemprov Sumut memang harus semakin memiliki peralatan yang canggih agar bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya di Medan, Sabtu usai meresmikan ruang kateterisasi jantung di RS Haji Medan.
Cathlab adalah suatu pelayanan yang dilakukan di laboratorium kateterisasi jantung dan angiografi untuk menentukan diagnostik penyakit jantung dan pembuluh darah dan untuk selanjutnya dilakukan intervensi nonbedah sesuai indikasi secara invasive melalui pembuluh darah dengan menggunakan kateter atau elektroda.
Menurut dia, dewasa ini, penyakit jantung merupakan salah satu penyakit yang banyak melanda warga dan menjadi penyebab kematian.
“Fasilitas operasi cathlab RSU Haji Medan itu pasti disambut hangat masyarakat karena sudah lama ditunggu,”katanya.
Masyarakat sangat membutuhkan karena ditengah meningkatnya jumlah penderita jantung akibat pola hidup tidak sehat, jumlah fasilitas itu justru masih minim di rumah sakit Sumut.
Akibat masih minim, antrian layanan kateterisasi jantung itu cukup lama .
“RS Haji Medan yang menjadi salah satu rumah sakit andalan termasuk dari luar Provinsi Sumut memang harus terus berbenah,”katanya.
RS Haji Medan, bukan hanya memerlukan peningkatan di peralatan kedokteran yang lebih canggih dan ruangan yang memadai, tetapi juga pelayanan dari petugas medisnya.
Direktur Rumah Sakit Haji Medan Diah Retno W Ningtias menyebutkan manajemen rumah sakit itu terus melakukan pembenahan.
Ruang rawat jalan, inap, IVY dan hemodialisa misalnya sudah direnovasi .
“Meski RS Haji milik pemerintah, tetapi fasiltasnya tidak kalah dengan swasta,” katanya.
Peningkatan pelayanan juga dilakukan pada sumber daya manusia di rumah sakit itu.
“Di RS Haji sudah ada dokter PNS dengan berbagai spesialis keahlian sejumlah 42 orang,”katanya.
Meski semakin bagus, manajemen, ujar Diah, tetap berharap mendapat bantuan seperti menambah dokter PNS yang subspesialis ahli mata, digestif, ahli jiwa, ahli jantung, bedah gigi dan mulut.
Dengan semakin lengkapnya dokter spesialis dan sub spesialis, maka rujukan pasien dari daerah akan semakin banyak dan sebaliknya jumlah pasien yang dirujuk keluar rumah sakit semakin sedikit.
Sumber: antaranews.com










