Webinar Bridging System: Tantangan dan Hambatan Penerapan Smart Hospital Keunggulan smart hospital salah satunya adalah adanya integrasi dari berbagai lini baik internal rumah sakit maupun ekosistem yang mendukung smart hospital, serta berkolaborasi secara efektif untuk menghasilkan pelayanan yang optimal. Integrasi yang baik perlu didukung adanya konektifitas antara hardware dan software. Di dalam industri rumah sakit banyak pengembangan teknologi dengan berbagai macam jenis software serta dengan berbagai macam bahasa pemrograman. Hal ini yang menjadi tantangan sekaligus hambatan bagi pengembangan smart hospital apabila tidak dikelola secara baik. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Jumat, 06 Juli pukul 09.00-11.00 WIB. Indonesia: Negara dengan Struktur Penduduk Tua Proporsi Lebih dari 7 Persen
Perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial masyarakat mendorong keberhasilan pencapaian sumber daya manusia. Efeknya terjadi peningkatan jumlah penduduk usia lanjut ( ≥ 60 tahun). Indonesia sudah termasuk negara berstruktur tua dengan proporsi penduduk lansia >7%. Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan termasuk Asia, dimana pada 2015 sudah mulai menunjukkan populasi menua. Knowledge Sharing: 21 Mei 2018 RSUP Dr. Sardjito sebagai salah satu RS rujukan nasional di Indonesia memiliki tugas mengembangkan Health Technology Assessment (HTA), HTA yang dikembangkan khususnya penapisan teknologi tepat guna di sekitarnya dengan mengutamakan produk dalam negeri. Tema HTA ini dirasa penting untuk dikaji bersama, maka RSUP Dr. Sardjito dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM menginisiasi webinar HTA yang akan dilaksanakan pada Senin, 21 Mei pukul 09.00-10.30 Wib. Webinar ini gratis. Kunjungan Pembelajaran Smart Hospital ke National Hospital Surabaya National Hospital di Surabaya merupakan pionir penerapan smart hospital di Indonesia. Ketika rumah sakit lain masih ragu dan mempertanyakan keabsahan rekam medis elektronik, beragam inovasi digital telah diterapkan di National Hospital. Tidak hanya untuk perekaman data pasien ke dalam aplikasi rekam medis elektronik, layanan jarak jauh juga disediakan untuk pasien penyakit kronis, sehingga pasien dapat melakukan konsultasi pemantauan kadar gula darah sewaktu dan tekanan darah dari rumah melalui wearable devices. Penggunaan QR code dan RFID (radio frequency identifier) juga sudah jamak dilakukan sebagai penanda logistik, pasien, maupun dokter. |
|||
| Website ini akan update setiap Selasa pagi. Nantikan Informasi terbaru setiap minggunya. | |||
|
+ Arsip Pengantar Minggu Lalu |
|||
|
|
Situasi Lupus di Indonesia |
|
Reportase Webinar Pengalaman Lapangan dalam Menggunakan Teknologi Informasi untuk Meningkatkan Efisiensi dan Kualitas Sistem Rujukan |
Indonesia: Negara dengan Struktur Penduduk Tua Proporsi Lebih dari 7 Persen
Perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial masyarakat mendorong keberhasilan pencapaian sumber daya manusia. Efeknya terjadi peningkatan jumlah penduduk usia lanjut ( ≥ 60 tahun). Indonesia sudah termasuk negara berstruktur tua dengan proporsi penduduk lansia >7%. Secara global populasi lansia diprediksi terus mengalami peningkatan termasuk Asia, dimana pada 2015 sudah mulai menunjukkan populasi menua.
Berdasarkan data proyeksi penduduk, diperkirakan tahun 2017 terdapat 23.66 juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9.03%). Diprediksi jumlah penduduk lansia tahun 2020 (27.08 juta), tahun 2025 (33.69 juta), tahun 2030 (40.95 juta) dan tahun 2035 (48.19 juta).
Rasio ketergantungan penduduk lansia Indonesia pada tahun 2015 sebesar 13.8 artinya bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 14 orang penduduk lansia.
Salah satu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan pelayanan kesehatan adalah penduduk lanjut usia. Penduduk lanjut usia secara biologis akan mengalami proses penuaan secara terus menerus, dengan ditandai menurunnya daya tahan fisik sehingga rentan terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian.
Pada 2015, angka kesakitan lansia sebesar 28.62%, artinya bahwa dari setiap 100 orang lansia terdapat sekitar 28 orang diantaranya mengalami sakit. Bila dilihat berdasarkan tipe daerah, derajat kesehatan lansia yang tinggal di perkotaan cenderung lebih baik daripada lansia yang tinggal di perdesaan.
Gambar 2. Angka Kesakitan Lansia Berdasar Tipe Daerah di Indonesia

Lansia juga membutuhkan perawatan kesehatan. Berobat jalan dapat dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisonal tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan. Dari tabel di bawah terlihat tiga tempat yang paling banyak didatangi oleh penduduk lansia untuk berobat jalan yaitu praktek dokter/bidan (43.11%), Puskesmas (25.97%) dan rumah sakit pemerintah (12.72%).
Tabel 1. Persentase Penduduk Lansia Sakit Yang Berobat Jalan Menurut Tipe Daerah di Indonesia Tahun 2015

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 penyakit yang banyak dider0ita lansia adalah hipertensi (57.6%), artritis (51.9%), stroke (46.1%), masalah gigi dan mulut (19.1%), penyakit paru obstruktif menahun (8.6%) dan diabetes mellitus (4.8%). Sementara itu, bertambahnya usia menyebabkan menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh dan menyebabkan diasibilitas. Masa tua jika tidak dijaga dengan baik dapat mengakibatkan ancaman nyawa, sehingga segala upaya memang harus diubah, salah satunya dengan perilaku hidup sehat (PHBS) yang merupakan program pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Sumber :
Analisis Lansia di Indonesia 2017, Kementerian Kesehatan Indonesia.
Riskesdas 2013.
UGD Lama RSUD Pangkep Akan Dijadikan Ruang Bersalin
PANGKAJENE– Unit Gawat Darurat (UGD) lama di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pangkep akan dijadikan ruang bersalin.
Pantauan TribunPangkep.com, beberapa pekerja sedang sibuk memperbaiki bagian luar.
Ada juga yang sementara mengecet.
“UGD lama akan direhab untuk kamar bersalin. Jadi para ibu-ibu yang mau bersalin tiba-tiba, itu aksesnya sudah mudah dan cepat,” kata Dirut RSUD Pangkep, dr Annas Ahmad di Pangkajene, Kamis (17/5/2018).
Dia menambahkan, gedung lama tersebut akan dilengkapi kamar-kamar rawat inap.
“Jadi kamar untuk ibu hamil yang melahirkan itu bisa bertambah dan terpenuhi dan semoga kedepan tidak ada lagi kekurangan kamar,” jelasnya.(*)
Sumber: tribunnews.com
Dinkes Bakal Siapkan Alkes untuk RSUD dan Puskesmas
Mulai beroperasinya Rumah sakit umum daerah (RSUD) Mitra Sehat, membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Mitra bakal siapakan sejumlah alat kesehatan.
“Tahun ini kami akan menyiapkan Alkes khusus untuk RSUD. Anggarannya sudah ada sekira hampir dua miliar,” kata Kepala Dinkes Minahasa Tenggara Helni Ratuliu di Ratahan, Kamis kemarin.
Pengadaan alkes tersebut murupakan tahap awal untuk pemenuhan fasilitas pendukung RSUD, pemenuhan sejumlah polisi rawat jalan.Selain itu alkes yang akan disiapkan tersebut akan ditempatkan di Poli kandungan dan poli bedah.
“Untuk peralatan ini kami fokuskan terlebih dahulu di kedua Poli tersebut, seperti alat USG untuk kandungan, dan peralatan bedah. Sedangkan Poli lainnya hanya peralatan kecil,” jelasnya.
Tak hanya RSUD Mitra Sehat, sejumlah puskesmas bakal kecipratan bantuan alkes, di puskesmas Ratahan Timur.
Sumber: tribunnews.com
Tingkatkan Layanan, RSUD SSMA Pontianak Telurkan Dua Inovasi
PONTIANAK – Tingkatkan pelayanan publik yang ada, UPTD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak kembali mengeluarkan dua inovasi unggulan yaitu mengenai aduan masyarakat dan Pendaftaran Pasien berbasis online.
Direktur RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Yuliastuti Saripawan saat melakukan press konferensi dengan awak media menuturkan terkait pengaduan online, mereka beri nama, Sistem Pengaduan Penanganan Pengaduan Masyarakat (SIPPANDUMAS) Kalkun Online. Inovasi ini merupakan Pengelolaan Penanganan Pengaduan Pelanggan (masyarakat) terhadap Pelayanan Rumah Sakit berbasis Online,
“Inovasi ini menggunakan aplikasi Kalkun sebagai layanan SMS gateway berbasis web yang dapat digunakan untuk bertukar pesan dengan SMS yang dapat di implementasikan pada server dan perangkat komunikasi ponsel baik jenis CDMA maupun GSM,”kata Yuliastuti Saripawan, Rabu (16/5/2018).
Diciptakannya inovasi berbasis IT ini diharapkannya dapat meningkatkan akses komunikasi antara rumah sakit dan masyarakat terhadap kualitas pelayanan rumah sakit.
Selain itu, pihaknya juga membuat aplikasi pendaftaran pasien secara online. Sehingga masyarakat bisa mendaftar melalui smartphone dalam 1 atau 3 hari sebelum mereka mendatangi Rumah Sakit Kota Pontianak tersebut.
Yuliastuti Saripawan menuturkan, SIPPANDUMAS ini sebenarnya merupakan bagian dari pelayanan publik. Dimana sebelumnya respon aduan masyarakat masih terkesan lamban diantisipasi. Maka dengan adanya SIPPANDUMAS ini pihaknya segera menangani keluhan dan aduan masyarakat dan masyarakat juga diminta untuk menyampaikan keluhan sesuai dengan sistem yang ada.
Sementara ,Kepala Bidang Pengendalian dan Pengembangan UPTD RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, Surhaini yang merupakan penggagas inovasi menjelaskan, dalam sistem ini ada tim yang akan memilah jenis aduannya, baik itu biasa atau serius.
Pihak RSUD akan melihat mengklasifikasikan aduan antara lain pelayanan kesehatan, sarana dan prasarana serta fasilitas kesehatan yang ada, sehingga mudah mengidentifikasi aduan masyarakat dan cepat menanggapi.
Sumber: tribunnews.com
Jelang Ramadan, Manajemen dan Pegawai RSUD Bulukumba Saling Memaafkan
BULUKUMBA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba, menggelar apel pagi terakhir sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1439 H yang jatuh pada Kamis (17/5/2018). Apel pagi tersebut digelar di halaman depan rumah sakit, Rabu (16/5/2018).
Apel pagi dihadiri puluhan pegawai RSUD bersama pejabat struktural manajemen rumah sakit berlangsung khidmat.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur RSUD, dr Abdur Rajab yang sekaligus pembina apel, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh karyawan rumah sakit yang telah konsisten mengikuti apel pagi sebelum memulai aktivitas pelayanan.
“Dengan apel pagi, kita akan lebih memaknai arti kedisiplinan dan arti kebersamaan,” katanya.
Diketahui, selama bulan suci Ramadan kegiatan apel pagi untuk sementara waktu ditiadakan hingga usainya bulan puasa.
Dalam kesempatan itu, di hadapan seluruh peserta apel, dr Rajab juga menyampaikan bahwa rumah sakit telah menyiapkan konsumsi untuk berbuka puasa dan makan sahur bagi pegawai yang melaksanakan puasa.
“Bagi pegawai rumah sakit yang mendapat giliran jaga siang dan jaga malam, tidak perlu membawa bekal dari rumah karena rumah sakit telah menyiapkan konsumsi,” tutup dr Rajab.
Pada kesempatan ini pula, dr Radjab menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pegawainya sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
“Tidak terasa kita telah sampai pada Ramadan 1439 H. Olehnya itu selaku pribadi dan direktur RSUD saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya bila selama ini ada kata dan sikap yang menggores hati,” ujar dr Rajab.
Menurutnya, sebagai umat manusia yang beragama semestinya harus saling maaf memaafkan. Terlebih lagi menjelang bulan suci Ramadan yang penuh ampunan dan merupakan peristiwa penting bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia.
“Maaf dan memaafkan adalah sifat alamiah seorang manusia, yang tidak harus berbuat salah ataupun menunggu kesalahan orang lain. Bahkan menurut agama, mereka yang pertama kali memberi maaf akan memperoleh kedudukan istimewa di sisi Tuhan,” imbuhnya.
Sumber: rakyatku.com
Webinar Health Technology Assessment (HTA)
RSUP Dr Sardjito dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM
Bekerjasama menyelenggarakan kegiatan knowledge sharing
Webinar Health Technology Assessment (HTA)
Senin, 21 Mei 2018 pkl 09.00 – 10.30 WIB
Pengantar
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/390/2014, RSUP Dr Sardjito merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional. Salah satu tugas dari rumah sakit rujukan nasional adalah mengembangkan Health Technology Assessment (HTA) khususnya penapisan teknologi tepat guna di wilayah sekitarnya dengan mengutamakan produk dalam negeri.
Health Technology Assessment (HTA) atau penilaian teknologi kesehatan adalah evaluasi sistematik terhadap sifat/karakter, efek, serta dampak sebuah teknologi kesehatan yang dilakukan secara multi disipliner untuk menilai dampak dan manfaat teknologi tersebut dari sisi sosial, ekonomi, organisasi, serta etik. Webinar ini merupakan sarana bagi praktisi pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit, untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan solusi untuk memanfaatkan HTA secara optimal.
Tujuan Kegiatan
- Meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya HTA, terutama bagi RS-RS Rujukan Nasional, Rujukan Provinsi, dan Rujukan Regional
- Memberikan penjelasan cara identifikasi area-area dimana perlu dilakukan HTA
- Memberikan pemahaman penerapan hasil study HTA dalam memilih teknologi yang sesuai
Link Webinar
Link Webinar : https://attendee.gotowebinar.com/register/4526841494893166339
Webinar ID : 236-172-475
Sasaran Peserta
- Jajaran Direksi dan Manajemen Rumah Sakit
- Tim HTA Rumah Sakit,
- Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (KMKB) Rumah Sakit,
- Perwakilan Asosiasi Rumah Sakit (PERSI, ARSADA, ARSSI)
- staf Dinas Kesehatan
- staf BPJS Kesehatan
- Mahasiswa S2 Manajemen Rumah Sakit
- Dosen, Peneliti, dan Konsultan
Jadwal Webinar Health Technology Assessment (HTA)
| Waktu | Durasi | Judul Materi/Kegiatan | Narasumber |
| 09.00-09.05 | 5’ | Pembukaan | Direktur Utama RSUP Dr Sardjito dan Dekan FKKMK UGM |
| 09.05-09.25 | 20’ |
Kepentingan Health Technology Assessment (HTA) di Rumah Sakit |
Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph.D |
| 09.25-09.30 | 5’ | Diskusi | Moderator dan Narasumber |
| 09.30-09.50 | 20’ |
Tipe Evaluasi Ekonomi |
Dr. Jarir At Thobari, D.Pharm, PhD |
| 09.50-10.10 | 20’ |
Study HTA di RS |
Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt, M.Kes, MBA |
| 10.10-10.25 | 15’ | Diskusi | Moderator dan Narasumber |
| 10.25-10.30 | 5’ | Penutupan | Moderator |
Narahubung
|
Khabib Instalasi Perpustakaan dan Peningkatan Kemampuan SDM (IP2KSDM) Gedung Diklat Lt.4 RSUP Dr Sardjito Telp: (0274) 587333 psw 258 Email: [email protected] atau [email protected] |
Yulianna Sekretariat Academic Health System Universitas Gadjah Mada Gedung KPTU lt. 2 FKKMK UGM Telepon: +62 813-6360-5031 Email: [email protected] |
Situasi Lupus di Indonesia

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau Systemic Lupus Erythematosus atau yang lebih dikenal dengan penyakit seribu wajah merupakan penyakit inflamasi autoimun kronis yang belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Penyakit autoimun adalah istilah yang digunakan saat sistem imunitas atau kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Sistem kekebalan tubuh penderita lupus akan menyerang sel, jaringan dan organ yang sehat. sistem kekebalan tubuh akan mengalami kehilangan kemampuan untuk melihat perbedaan antara substansi asing (no-self) dengan sel dan jaringan tubuh sendiri (self).
Manifestasi penyakit LES sangat luas, meliputi keterlibatan kulit dan mukosa, sendi, darah, jantung, paru, ginjal, susunan saraf pusat dan sistem imun, sehingga memerlukan pengobatan yang lama dan seumur hidup. Beberapa faktor resiko penyakit LES adalah:
- Faktor genetik: diketahui sekitar 7% pasien LES memiliki keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang juga terdiagnosis LES
- Faktor lingkungan yang merupakan factor pemicu timbulnya LES: infeksi, stres, makanan, antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultraviolet (matahari) dan penggunaan obat-obat tertentu, merokok, paparan Kristal silica.
- Faktor hormonal: perempuan lebih sering terkena penyakit LES dibandingkan laki-laki. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit LES sebelum periode mestruasi atau selama kehamilan mendukung dugaan bahwa hormon, khususnya estrogen menjadi pencetus penyakit LES. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti peran hormon yang menjadi penyebab besarnya prevalensi LES pada perempuan (periode tertentu)
Data prevalensi di setiap negara berbeda-beda. Suatu studi sistemik di Asia Pasifik memperlihatkan data insidensi sebesar 0,9 – 3,1 per 100.000 populasi/tahun. Prevalensi kasar sebesar 4,5 – 45,3 per 100.000 populasi.
The Lupus Foundation of America memperkirakan sekitar 1,5 juta kasus terjadi di Amerika dan setidaknya terjadi lima juta kasus di dunia. Setiap tahun diperkirakan terjadi sekitar 16 ribu kasus baru Lupus. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat jumlah penderita Lupus di seluruh dunia dewasa ini mencapai lima juta orang. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan usia produktif dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100 ribu penderita baru.
Di Indonesia, jumlah penderita penyakit Lupus secara tepat belum diketahui. Prevalensi Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di masyarakat berdasarkan survei yang dilakukan Prof. Handono Kalim, dkk di Malang memperlihatkan angka sebesar0,5% tehadap total populasi.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online, pada 2016 terdapat 858 rumah sakit yang melaporkan datanya. Jumlah ini meningkat dari dua tahun sebelumnya.

Berdasarkan rumah sakit yang melaporkan datanya pada 2016 diketahui bahwa terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis penyakit lupus, dengan 550 pasien diantaranya meninggal dunia. Jumlah kasus Lupus pada 2016 meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2014, yaitu sebanyak 1.169 kasus. Jumlah kematian akibat Lupus pada pasien rawat inap di rumah sakit juga meningkat tinggi dibandingkan tahun 2014. Tingginya kematian akibat lupus ini perlu mendapat perhatian khusus karena sekitar 25% dari pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia pada2016 berujung pada kematian (LH).
Terakreditasi Bintang Dua, RSUD Dompu Siap Layani dengan Hati dan Senyum
Dompu – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Dompu hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan didukung tenaga medis dan paramedis yang profesional serta di lengkapi dengan fasilitas kesehatan yang memadai.
“Melayani dengan hati dan senyum menjadi moto kami di rumah sakit (RS) Dompu,” kata Direktur RSUD Dompu, dr. H. Syafruddin melalui Humasnya, Gunawan, A.Md.Pik kepada Suara NTB beberapa waktu lalu.
Moto rumah sakit ini merupakan implementasi dari visi, pelayanan kesehatan yang prima secara profesional. Untuk mewujudkan visi ini, RS Dompu menetapkan 5 misinya yaitu memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien, meningkatkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, memberikan perlindungan hukum dan keselamatan kerja terhadap karyawan, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, harmonis, aman dan sejahtera, serta menjadi pusat rujukan sarana kesehatan Kabupaten Dompu.
Sebagai pusat rujukan sarana kesehatan di Kabupaten Dompu, RSUD memiliki beberapa pelayanan seperti gawat darurat 24 jam, pelayanan anastesiologi dan terapi intensif, pelayanan peristi dan persalinan komprehensif, pelayanan medis spesialis, pelayanan penunjang medis, pelayanan rawat inap, dan pelayanan khusus.
Pelayanan rawat jalan yang didukung spesialis seperti syaraf, penyakit dalam, anak, bedah, obstetri dan ginekologi atau kebidanan dan kandungan, mata, serta spesialis gigi dan mulut. Masing – masing spesialis didukung dan didampingi dokter umumnya. “Mereka melayani pasien setiap hari di poli untuk layanan rawat jalan,” jelas Gunawan.
Pelayanan rawat jalan ini dilakukan terhadap pasien umum maupun pasien BPJS kesehatan melalui loket pendaftaran pasien. Pasien yang sudah mendaftar akan diverifikasi oleh petugas untuk mengetahui catatan medis serta status pasien sebagai peserta BPJS kesehatan atau pasien umum. Untuk menghindari kerumunan pasien akibat banyaknya pasien yang ingin mendapat layanan melalui poli, pihak rumah sakit menggunakan sistem nomor antrian dan panggilan dengan pengeras suara apabila antrian sudah tiba.
Tidak hanya itu, RSUD Dompu juga memiliki dokter spesialis anestesi berfungsi selama pembedahan berperan memantau tanda – tanda vital pasien karena sewaktu – waktu dapat terjadi perubahan yang memerlukan penanganan secepatnya. Karena terkait operasi bedah, keberadaan spesialis ini berada di ruang operasi.
Pihak rumah sakit juga menyediakan layanan kritik dan saran dari setiap layanan yang diberikan. Kotak saran ini disediakan sebagai otokritik bagi pihak rumah sakit dari penerima layanan. Setiap kritik dan saran yang disampaikan, pihak rumah sakit langsung meresponnya dengan segera. (ula/*)
Sumber:
Ini Komentar Dirut RSUD Datoe Binangkang Tentang Bertambahnya Dokter Spesialis Mata
LOLAK – Rumah Sakit Umum Daerah Datoe Binangkang ketambahan satu dokter spesialis mata. Dokter spesialis tersebut baru selesai sekolah dan sebagai pegawai tetap di RSUD.
Menurut Direktur RSUD Datoe Binangkang Kabupaten Bolmong Sahara Albugis, untuk tenaga medis sudah cukup. Tapi, kalau tenaga dokter masih kurang, belum lama ini RSUD ketambahan satu dokter spesialis mata.
“Kami ketambahan satu dokter, yakni dr Ervan Dilapanga. Dia adalah dokter spesialis mata dan statusnya pegawai tetap. Jadi, untuk saat ini dokter ahli mata di RSUD sudah berjumlah dua orang. Untuk dokter penyakit dalam, saraf, dan lainnya pun sudah ada,” ungkap Albugis, Minggu (13/5).
Ia menjelaskan, untuk tenaga dokter di RSUD sudah cukup. Tapi ada juga dua dokter ahli yang masih sementara sekolah, di antaranya radiologi dan patologi klinik.
“Insya Allah, tahun depan dua dokter ahli tersebut sudah selesai sekolah. Sebab, saat ini sudah banyak masyarakat yang datang berobat di RSUD,” ungkap Sahara, yang juga menjabat Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolmong.
Dengan demikian, jika ada masyarakat yang sakit dan masih bisa ditangani di RSUD, maka tidak perlu dibawa ke RSU Prof Kandou. (kel)
Sumber: tribunnews.com








