Sesi Paralel 1
Sebuah studi kasus telah dilakukan di sebuah kota di Myanmar terhadap pelaksanaan jaminan sosial berbasis kota (Township Based Health Protection). Jaminan ini meliputi sistem prabayar, voucher untuk layanan ibu dan bayi serta subsidi untuk masyarakat miskin. Selain menguji kelayakan keuangan, studi ini juga akan membantu pengambil kebijakan dalam menetapkan premi tahunan per penerima manfaat dan subsidi per orang miskin untuk menjamin keberlangsungan program. Umumnya responden yang terlibat dalam penelitian ini menghendaki adanya tiga layanan utama, yaitu rawat inap, layanan emergency untuk melahirkan dan layanan ambulance. Ada gap yang lebar antara WTP dengan biaya layanan, sehingga subsidi yang diperlukan untuk subsidi adalah sekitar 18,934.00 USD per tahun untuk 215.622 populasi Kita Daik-U. Aspek penting lain untuk keberlangsungan program yang terungkap dari studi ini adalah transparansi, meningkatkan cakupan pelayanan dan mutu yang lebih baik.

Studi lain di Kamboja meneliti tentang peran insentif finansial, yaitu bagaimana perubahan pendapatan dan motivasi staf serta faktor level fasilitas berhubungan dengan lingkungan kerja, termasuk material monitoring ketersediaan staf dan motivasinya. Hasil yang diperoleh yaitu insentif finansial memberikan kontribusi terhadap 40% dari total pendapatan staf. Mereka mengatakan bahwa motivasinya meningkat dan terjadi juga kenaikan utilisasi fasilitasi sebesar 60%. Staf merasa puas dengan insentif yang diberikan secara adil dan lebih tinggi dari sebelumnya. Motivasi kerja, monitoring kinerja dan kualitas pelayanan berhubungan secara signifikan dengan utilisasi fasilitas pelayanan. Di Kamboja, faktor-faktor ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.
Disisi lain, Thailand yang sudah mengimplementasikan UHC sejak 10 tahun lalu kini menghadapi aging population. Negara yang menurut WHO memiliki sistem pembiayaan universal paling stabil diantara negara berkembang itu kini menghadapi tantangan semakin meningkatnya biaya layanan kesehatan. Diperkirakan angka ketergantungan penduduk yang menua meningkat dari 13% menjadi 45% di tahun 2050, yang juga berarti berkurangnya jumlah pembayar pajak. Di pihak yang lain, banyak penduduk usia produktif yang bekerja di sektor informal. Untuk mengkaji lebih jauh terkait hal ini, WHO melakukan analisis struktural untuk melihat adanya peluang sumber pembiayaan selain pajak. Jika populasi tua mencapai jumlah seperti yang diramalkan, maka pemerintah akan membutuhkan tambahan 7-10% pajak penghasilan untuk menjamin kelangsungan UHC. Hal ini terjadi karena jumlah pekerja sektor informal lebih banyak, yang artinya lebih banyak penduduk berpenghasilan jauh lebih rendah dari yang sektor formal, maka pajak penghasilan sebagai sumber pendanaan UHC dirasakan lebih tepat dibandingkan dengan pajak konsumsi dan pajak kapital. Temuan ini sedikit berbeda dari penelitian sebleumnya yang menyatakan bahwa pajak penghasilan memiliki efek terdistorsi lebih besar dibandingkan dengan pajak konsumsi.
Link Terkait:

Pada sesi pertama Sub Pleno ini berbicara Ichiro Kawachi dari Harvard University mengenai equity and social determinants of health. Reportasenya bisa diikuti 




Workshop yang dipandu oleh
Pada akhir sesi ini, pembicara menawarkan kerjasama dalam bidang health literacy bagi siapa saja yang berminat, untuk menjadi:

Filipina memiliki kondisi geografis yang mirip dengan Indonesia (terdiri dari banyak pulau meskipun tidak sebanyak Indonesia), sehingga tantangan geografis dan epidemiologis yang dihadapi juga serupa. Selama rentang waktu 1976-2010, peningkatan jumlah RS dan kapasitas tempat tidur (TT) di RS swasta lebih besar dibandingkan dengan RS Pemerintah. Sebagaimana RS pemerintah di Indonesia, tidak semua RS Pemerintah di Filipina mendapatkan otonomi. Dalam studi kasus Filipina, salah satu RS yang dilibatkan dalam penelitian adalah satu-satunya RS milik pemerintah daerah yang mendapatkan otonomi cukup luas. Dampak dari perubahan ini menyebabkan meningkatnya volume kegiatan dan pendapatan RS. Meskipun demikian, RS ini masih mendapatkan subsidi dari pemerintah (provinsi). Gubernur bertindak sebagai Ketua Board untuk menjamin hal tersebut tetap berlangsung. Namun di Filipina ada juga provinsi yang miskin, dimana Pemda tidak mampu men-support RS-nya. Pemerintah pusat kemudian membuat program untuk meningkatkan kapasitas manajerial dan pelayanannya, sehingga terjadi peningkatan kinerja: jumlah pasien meningkat, klaim ke asuransi lebih banyak, dokter mendapat remunerasi lebih baik. Salah satu RS milik pemerintah pusat mengalami overload pasien rawat inap maupun rawat jalan, serta output pelayanan buruk. Reformasi difokuskan pada sistem klaim, dimana RS ini merekrut staf cukup banyak untuk menangani klaim, termasuk tiga orang dokter untuk memantau justifikasi klaim. Meskipun RS ini tidak otonom, namun terjadi peningkatkan kinerja pelayanan, misalnya investasi yang sempat tertunda dapat diselesaikan dan tidak ada lagi masalah kekurangan obat-obatan.
Sesi hari ini juga dilengkapi dengan pemaparan materi mengenai “governance”. Antonio Duran (dari India Country Office WHO) mengutip dari buku-buku serial reformasi sistem kesehatan dari health observatory mengenai definisi governance. Ia memaparkan bahwa governance merupakan interaksi komplek di berbagai level sistem kesehatan: nasional (kebijakan, regulasi, ini disebut level makro), institusi (strategi, disebut level meso) dan internal/klinik (manajemen, ini disebut level mikro).
Project Studi komparatif ini diinisiasi oleh Asia Pacific Observatory on Health System and Policies yang bermarkas di Filipina dan diketuai oleh DR. Dale Huntington. Studi dilakukan di tujuh negara terpilih: Indonesia, Filipina, New Zealand, India, Sri Lanka, Thailand dan Vietnam, dari bulan Juli hingga Desember 2013 dengan tujuan untuk membandingkan perkembangan tata kelola RS publik di negara-negara tersebut.
India dan New Zealand memiliki sedikit kesamaan dalam pengelolaan RS Publik (pemerintah), dimana ada suatu badan yang menjadi pengelola RS (dapat mengelola lebih dari satu RS). Badan ini yang bertanggung jawab kepada pemerintah. Namun yang menarik dari kasus India adalah tingginya market share RS Privat (lebih dari 70%) dibandingkan dengan RS Pemerintah, menyebabkan India mengalami ketergantungan sangat tinggi pada sektor swasta.





