
Laporan
Hospital Management in Asia 2015
September 3, dan 4 tahun 2015
Hotel Sedona, Yangoon Myanmar
Reporter: Laksono Trisnantoro

Pembukaan:
Mr. Ashok Nath, Conference Chair
Sebagai ketua konferensi mengucapkan sambutan kepada seluruh delegasi yang sebagian besar adalah direksi dan pemilik RS. Ada 836 peserta konferensi ini, termasuk 70-an peserta dari Indonesia yang sebagian besar berasal dari dari RS swasta. Di konferensi ini ada 17 best practices yang disajikan oleh para pembicara. Berbagai pihak melakukan kerjasama termasuk dari PERSI. Sponsor kegiatan ini banyak yang berasal dari kelompok konsultan akreditasi, termasuk dari US dan Amerika. Ada juga sponsor dari Microsoft dan Roche. Kolaborator utama di Mayanmar adalah Asosiasi RS Swasta Myanmar. Disamping itu ada juga penanda-tanganan beberapa buku, mulai dari buku pediatric sampai berbagai buku lainnya termasuk quality. Mr Nath dalam sambutannya menggambarkan pula sejarah HMA yang pertama di tahun 2002 diselenggarakan di Bangkok. Selama 14 tahun Indonesia belum pernah menjadi tuan rumah. Bagi anda yang berminat melihat lebih lanjut silahkan klik di situs resminya untuk melihat detil acaranya (http://www.hospitalmanagementasia.com/)
Dr. Htin Paw, President, Myanmar Private Hospitals’ Association
Myanmar baru saja kena banjir. Pertemuan ini sangat penting karena RS erat kaitannya dengan masalah banjir. Dr. Htin mengucapkan terimakasih kepada HMA yang menyelenggarakan konferensi ini di Yangoon. Diharapkan konferensi ini berguna. Pidato disampaikan dengan bahasa Inggris yang baik karena memang Myanmar lama berada dibawah penjajahan Inggris sehingga banyak yang bisa berbahasa Inggris dengan baik.
[restabs alignment=”osc-tabs-left” responsive=”false” tabcolor=”#efefef” tabheadcolor=”#0143b5″ seltabcolor=”#ffffff” seltabheadcolor=”#000000″ tabhovercolor=”#ffffff”]
[restab title=”Hari I – Plenary I” active=”active”]
Plenary I: Skills
Seven additional skills hospital managers and physicians need to acquire to be relevant in the future
- Ms. Paula Wilson, President & CEO, Joint Commission International (USA)
- Moderator: Dr. Ye Moe Myint, Former President, Myanmar Private Hospitals’ Association
Ms Wilson Master Degree in Social Work di State University of New York in Albany. Berpengalaman puluhan tahun dalam manajemen RS dan saat ini berada di bawah Columbia University sebagai konsultan, khususnya dalam manajemen strategis. Berikut ringkasan diskusinya:
Selama ini ada pandangan tradisional mengenai ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer RS yaitu mulai dari manajemen keuangan operasional, expert dalam skill dan komunikasi eksternal. Tapi hal-hal ini tidak cukup. Kita harus mempunyai skill tambahan yang baru, antara lain 7 hal yang akan saya sampaikan.
Pertama kita harus mempunyai pelayanan kesehatan yang reliable dan baik sehingga tidak merugikan pihak lain, termasuk pasien (no-harm). Di sini diperlukan kepemimpinan, budaya yang aman dan baik dan selalu berorientasi ke proses. Kedua: memahami data besar dan memanfaatkannya. Data besar ini antara lain dari medical record, data klaim asuransi, sampai ke data social media.
Juga perlu untuk memahami bahwa akan ada pengobatan personalized untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Dengan data besar ini dapat mempunyai pemahaman yang lebih baik untuk pasien, staf dan masyarakat. Ketiga: Mempunyai ketrampilan dalam menangani Bencana. Ketrampilan ini sangat penting karena bencana selalu ada dan mungkin akan terjadi. Topan, gempa bumi dan lain-lain, termasuk konflik geopolitik dan kecelakaan kimiawi. Jadi para direksi RS perlu melakukan drills, Table Top Exercise, Integrasi dengan polisi lokal dan Barisan Pemadam Kebakaran.
Keempat: Mempunyai kemampuan dalam Pengendalian Infeksi. Adanya MERS, Ebola, Avian Flu serta Multi-drug Resistant Organism (M+MDROs), Pengalaman infeksi merupakan hal yang mengerikan bagi pasien, yang celakanya dapat menghentikan karir seorang manajer RS. Kelima, memanfaatkan kesempatan yang ada karena kemajuan Teknologi Kesehatan, misalnya: Mobile Health, Telehealth; IBM Watson dan Pelayanan Kanker; Genetika dan Personalized Medicine. Namun perlu diingat, keamanan data, jangan sampai bocor. Keenam: Ketrampilan dalam Engagement dengan SDM. Bagaimana agar para staf dapat melekat atau terlibat secara erat dengan rumah sakit. Engagement yang baik dapat mengurangi kesalahan melalui perkembangan karyawan, penghargaan dan kepercayaan. Apakah mereka terikat dengan manajernya? Ketujuh; sebagai pemimpin harus mempunyai Deep Self Awareness. Apakah paham mengenai dirinya sendiri. Apakah sudah melakukan penilaian 360 derajad? Bagaimana dengan kekuatan dan kelemahan anda sehingga dapat menyewa staf dan tahu bagaimana cara bekerja agar komplimen dengan anda sebagai manajer RS.
Akhirnya dalam meningkatkan kemampuan tersebut, seorang manajer RS harus selalu ingin tahu, selalu inovatif, mudah beradaptasi untuk perubahan dan mau mengambil risiko.
[/restab]
[restab title=”Hari I – Plenary II”]
Plenary II: Round Table: CHARACTERISTICS OF HIGH PERFORMING HOSPITALS
Plenary 2 merupakan sesi dengan 3 pembicara dari berbagai negara, yaitu:
- Prof. Anupam Sibal, Group Medical Director, Apollo Hospitals Group (India)
- Mr. Stephen Leyshon, Global Clinical Officer and Principal Advisor in Patient Safety, DNV GL Strategic Research and Innovation (Norway)
- Mr. Robert Grey, Chairman & CEO, Azure Healthcare Limited (Australia)
Moderator: Dr. Wai Lun “Allen” Cheung, Director – Cluster Services, Hong Kong Hospital Authority (Hong Kong)
Dalam pembukaannya, moderator menekankan bahwa topik sesi ini adalah: apa kriteria untuk mengukur sebuah RS merupakan lembaga yang baik.
Presentasi Prof Sibal:
Apa yang disebut sebagai High Performance Hospital. Apa karakteristiknya?

Ada yang menyatakan 7 way..ada yang menyatakan 5 habit… Saya menyatakan ada berbagai hal. Secara keseluruhan dapat dilihat dalam slide ini:
Jika RS ingin memenangkan kompetisi perlu ada Talent Management. Bagaimana mengembangkan staf yang berbakat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara in-house coaching program, simulation model seperti yang dilakukan oleh jaringan Sister of Charity Health System. Di jaringan Apollo: Ada keluarga Apollo…sebagai sebuah tempat yang baik untuk bekerja.
– RS harus berorientasi pada outcome bukan pada masalah. Just in Time. Kaizen…continous improvement, Quality at the Source merupakan konsep-konsep penting yang perlu dipelajari. RS harus berorientasi pada Outcome pelayanan klinis, Mempunyai Clinical Balance Scorecard ACE@25 indicators seperti yang dipakai Appollo.
– RS sebaiknya harus fokus, jangan mudah tertarik perhatiannya ke luar. RS harus mempunyai kemampuan to learn, action…dan melakukan Manajemen Perubahan secara terus menerus. Jangan hanya berputar-putar. Manajemen Perubahan dilakukan secara baik di University of Texas untuk pelayanan kanker. Di Apollo…manajemen perubahan dimulai dari fakta historis menjadi RS Swasta Tertier yang pertama di India, namun punya Network secondary care dan juga pelayanan primer (Apollo Clinics). Kegiatan dikoordinasi dengan menggunakan Apollo digital.
– Di RS harus ada suatu pedoman untuk apa yang harus kita lakukan dan yang harus tidak lakukan. Harus punya budaya akuntabilitas. Misal: bagaimana caranya agar terjadi penghematan . Di Apollo ada Incident Reporting dan diberikan reward untuk yang menemukan hal ini. Dengan demikian semua orang accountable.
-Penanganan pasien (engagement) harus dimulai dari datang sampai akhir. Blue Ocean yang tenang dapat memberikan kenyamanan bagi pasien. Cleveland Clinic membuka medical record dilakukan agar informasi dari pasien menjadi lebih baik. Di Apollo…manajemen rumahsakit mendengarkan suara pasien yang merupakan hal penting.
-RS perlu terus melakukan Inovasi. DI Mayo Clinic ada banyak inovasi dilakukan dalam berbagai pelayanan klinik..Sebagai salahsatu contoh di Jaringan Apollo menggunakan Telemedicines sebagai salahsatu inovasi.
Pembicara kedua, Dr. Leyshon memberikan berbagai sifat RS dari berbagai kegiatan, antara lain
– Seri review kritis
– Case studies
– Interviews dengan 60 leaders
– Workshop dengan para ahli
– Patient Vignettes
Apa dan jenis pelayanan kesehatan yang diharapakan. Jawabannya adalah:
Visi umum:
– Save
– Cost Effective
– Equitable
– Effective
– Timely
– Suitable
Atribut yang sama di berbagai negara adalah:
– Clear, shared vision, dan strategy yang baik
– Mempunyai transformativee leadership
– Mempunyai budaya pembelajaran
– Mempunyai kemampuan memonitor kinerja secara efektif.
– Mampu melakukan engagement dengan SDM
– Mempunyai struktur organisasi yang ramping.
Apakah saat ini mempunyai ada negara yang mempunya system kesehtan yang sudah baik dan rumahsakitnya juga baik? Ternyata hampir semua negara tidak punya sistem yang sudah dianggap ideal. Hal lainnya adalah bagaimana menggunakan apa yang disebut sebagai Prospective Hazard Analysis untuk melihat berbagai risiko. Dengan memahami apa yang di depan, dapat dilakukan sebuah manajemen perubahan.
Pembicara ketiga Dr. Grey menekankan bahwa dalam bisnis biasa ada berbagai karakteristik yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Dalam slide tersebut ada 5 karakteristik lembaga yang baik:
– Leadership
– Keterbukaan
– Motivasi
– Meningkatkan kinerja
– Tujuan-tujuan
Disetiap ciri lembaga yang baik ada berbagai hal lebih rinci yang perlu dikembangkan oleh rumahsakit. Berikut ini rinciannya:
– Leadership: mencakup kepercayaan (trust), integritas, mampu memutuskan (decisive), efektif, percaya diri.
– Keterbukaan mencakup Komunikasi, Knowledge, Proses, Perubahan, Performance.
– Motivasi: hal ini terkait dengan iklim bekerja, Budaya, Partisipasi, Safety, kepuasan
– Improvement: Strategi, Proses, Reports, Products, dan Kompetensi
– Tujuan: Management, Employees, Partners, Customers, Stakeholders
Kesimpulan:
Di sesi Plenary 2 ini, ada kecenderungan para pembicara menggunakan prinsip prinsip dari perusahaan biasa yang di bawa ke RS. Professor Sibal bahkan menegaskan bahwa rumahsakit harus belajar dari lembaga-lembaga lain yang sukses menetapkan karakteristik lembaga yang baik. Yang menjadi masalah dalam penggunaan model ini adalah kepercayaan antara klinisi dengan para manajer. Ini merupakan masalah klasik di mana-mana. Problem dengan klinisi adalah adalah mereka sangat bright tapi tidak banyak memahami mengenai manajemen. Tantangan di lembaga rumahsakit adalah memang bagaimana antara manajer dengan klinisi dapat bekerja bersama. Hal ini seperti cabinet dengan pemerintah koalisi…. Bagaimana dapat bekerja sama dalam perbedaan.
[/restab]
[restab title=”Hari II – Plenary III”]
Flag Exchange Ceremony
- Mr. Ashok Nath, Conference Chair • Dr. Htin Paw, President, Myanmar Private Hospitals’ Association • Dr. Luong Ngoc Khue, Director of Department of Medical Service Administration, Ministry of Health (Vietnam)
Hari ke 2 dimulai dengan penyerahan bendera yang menandai penyelenggaraan HMA ke 15 di tahun 2016 akan diselenggarakan di Vietnam, tepatnya di Ho Chi Minh City. Dalam pidatonya Dr. Luong mengajak seluruh peserta untuk datang kembali tahun depan di Ho-Chi-Minh City (Saigon)
Plenary 3:
Plenary III: DEBATE “E-HEALTH IS MAKING THE ROLE OF THE DOCTOR OBSOLETE
Sesi plenary ini menarik karena menghadirkan pembicara dengan model perdebatan. Topik yang diperdebatkan adalah mengenai e-Health. Bagaimana peran dokter di masa mendatang karena semakin terbukanya ilmu pengetahuan kedokteran di internet, juga pemakian robotic untuk operaso-operasi. Apakah dokter akan berkurang perannya?
Kelompok yang pro penggunaan eHealth adalah
- Dr. Tony Ko, Cluster Chief Executive New Territory West Cluster, Hong Kong Hospital Authority (Hong Kong)
- Mr. Vishal Bali, Asia Head – Healthcare, TPG Growth (India)
Kelompok yang tidak mendukung adalah:
- Ms. Samantha Reid, General Manager, RiskMan International (Australia)
- Dr. Roswin Rosnim Djaafar, Chief Executive Officer, Awal Bros Hospital Pekanbaru (Indonesia)
Moderator: Dr. Rustico Jimenez, President, Private Hospitals Association of the Philippines
Dr. Ko sebagai pembicara yang mempuyai pandangan setuju bahwa tekologi akan mengurani peran dokter menyatakan bahwa: beberapa klinisi memang akan tergantika oleh Sistem Inteligence Komputer yang bisa dipakai untuk diagnosis. Sistem Manajemen Klinik akan sangat berkembang di masa mentang. Tantangan adalah mengurangi Clinical Error dengan cara mengembangkan sistem IT untuk keputusan. Disamping itu perlu dilihat prospek mengenai Robot untuk proses pembedahan. Juga peran Radiologist…yang mungkin akan hilang. Ditegaskan bahwa masa e-Health akan datang dan bisa mengurangi sebagian peran tenaga dokter. Teknologi e-Health akan mengurangi tenaga kesehatan dari diagnosis sampai ke treatment. DI masa mendatang akan banyak self-diagnosis, dan pasien akan lebih bertanggung jawab pada dirinya.
Ms Samantha Reid sebagai pembahas yang kontra terhadap anggapan bahwa teknologi akan menghilangkan peran dokter menyatakan bahwa: Hubungan dokter pasien bukan hanya masalah teknologi…tetapi juga masalah komunikasi. Informasi dalam komunikasi ini yang perlu untuk manusia. Masih banyak kebutuhan mengenai “human-touch” yang berupa listening dan care yang tidak bisa dihilangkan oleh dokter. Kompleksitas hubungan antar manusia ini yang tidak membuat dokter menjadi kuno. Klinisi harus tetap ada dalam tim klinis. Kita harus melihat kenyataan bahwa teknologi tidak segalanya di pelayana n kedokteran.
Mr Bali; sebagai pembicara yang setuju akan menurunnya peran dokter dalam pelayanan kesehatan. Ada retorika: Siapa yang menggunakan cell-phone. Kapan pakai yang lands line…? Siapa yang pakai WA, siapa yang pakai SMS. Hanya sedikit. Inilah yang saya sebut sebagai kita berada di dunia yang personalized. Semakin lama semakin menjadi personal. Teknologi semakin baik. Akan ada 90 milyar device di internet. Berapa anggota masyarakat yang sudah pakai gelang untuk mengecek tidur di malam hari, berapa kalori hilang, berapa langkah berjalan. Teknologi mengarah ke personalisasi pelayanan…E-Health. Personal pengukuran kadar glukosa di pasien DM merupakan contoh hal yang terus berkembang. Sekarang ini klinisi mengembangkan personal alat pengukur DM dengan pasien sebagai pengukurnya. Dunia sudah berubah.
Dr, Roswin
Di dunia ini semakin banyak orang tua dan dokter semakin sedikit secara relative untuk meningkatkan mutu pelayanan. Dalam pelayanan kesehatan, dokter masih dibutuhkan. Apakah bisa dilakukan oleh orang lain? Apakah dokter masih akan terus dibutuhkan dalam dunia robotic, nano-technologi dll? Tidak bisa. Dokter tetap dibutuhkan, karena akan ada redefinisi peran dokter. Ketrampilan yang tidak pernah bisa dihilangkan adalah caring.
[/restab]
[restab title=”Hari II – Plenary IV”]
Plenary IV: Competency: How to identify and develop your hospital’s core competencies
Sesi ini merupakan presentasi tunggal oleh Dr. Peter Edelstein, FACS, FASCRS, Chief Medical Officer, Elsevier Clinical Solutions (USA). Moderator sesi ini Prof. Han Saw, Former Professor and Head of the Department of Surgery, Institute of Medicine. Sesi ini menggambarkan betapa pentingnya pelayanan klinik di RS. Bagaimana caranya untuk menggambarkan kompetensi sebuah rumah sakit dilakukan secara sistematis. Langkah pertama perlu dilakukan identifikasi kompetensi, kemudian mengembangkan, memelihara dan memperluas kompetensinya.
Dalam hal ini, perlu ada kompetensi yang diproyeksikan melalui kebutuhan masyarakat akan pelayanan rumah sakit dan sumber dayanya. Siapa populasi pengguna RS dan apa kebutuhan mereka?. Secara realistis, ada data besar yang secara jujur perlu dianalisis. Misal data besar dari data Klaim Asuransi. Kita lihat kebutuhan pasiennya. Misal untuk diabetes, apakah pasien diabetes sering masuk ke fase emergency. Apakah perlu kita memperkuat pelayanan diabetes secara emergency? Kemudian kita akan masuk ke penentuan, apa saja kompetensi dokter yang dibutuhkan. kompetensi ini harus cocok sehingga terjadi sinergi antara kompetensi rumah sakit dan dokter. Jadi dokter sangat menentukan dalam kompetensi ini.
Kemudian, kita harus melihat kompetensi aktual yang ada saat ini. Bagaimana mutu proses pelayanan, bagaimana hasil kinerja pelayanan terhadap pasien, bagaimana analisis klinisnya? Apakah terukur secara obyektif? Sebagai seorang ahli bedah, pembicara menegaskan bahwa kompetensi rumah sakit hanya bisa meningkat bila ada Evidence Based Information. Selanjutnya diharapkan ada program penting seperti: tersedianya referensi untuk solusi klinis, proses pelayanan yang sistematis, informasi obat yang baik, perencanaan pelayanan dan peningkatan ketrampilan perawat, sampai ke hubungan baik dengan pasien dan edukasi bagi mereka.
[/restab]
[restab title=”Hari II – Penutup “]
Penutup: Refleksi untuk Indonesia
Setelah dua hari pertemuan, konferensi HMA ke-14 ini ditutup dengan Gala Dinner yang meriah dan pemberian award. Ada banyak kategori untuk award, antara lain: inovasi dalam IT, CSR, pengembangan Sumber Daya Manusia, perbaikan di fasilitas bio medik, perbaikan komunitas RS, pemasaran, inovasi dalam manajemen RS dan tata kelola, pelayanan pengguna, perbaikan service untuk pengguna internal, perbaikan pelayanan klinis sampai ke patient safety. Dalam hal award HMA 2015 ini menarik untuk dianalisis sebagai refleksi bagi Indonesia.
Refleksi pertama, kategori award menekankan mengenai pentingnya indikator klinis dalam manajemen RS. Hal ini merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat dibantah. Pelayanan rumah sakit adalah pelayanan klinis. Mutu RS, seperti yang terpapar di banyak paper di plenary ataupun di paralel menunjukkan bahwa indikator klinis merupakan hal penting. Hal ini penting untuk ditekankan di Indonesia, bahwa pelayanan RS adalah pelayanan klinis. Oleh karena itu, klinisi (dokter) sebagai penanggung-jawab utama pelayanan perlu lebih aktif dalam mengelola rumah sakit sesuai dengan tugas fungsionalnya.
Refleksi kedua: Berbagai kategori Award ini menunjukkan bahwa manajemen RS merupakan sebuah pekerjaan detil, yang harus sampai bagus di semua sudut. Pepatah orang Inggris “The Devil is in detail” merupakan hal tepat untuk menunjukkan pentingnya detil. Hal ini penting karena system manajemen di Indonesia sering lupa pada detil. Akibatnya terjadi performance yang tidak baik. Sebagai contoh: system rujukan harus dirancang secara detil, termasuk aspek rujukan balik klinis dan patient-safety di transportasinya. Hal-hal detil ini, perlu ditopang oleh system IT yang baik di RS. Tanpa ada IT yang baik, tidak mungkin manajemen RS yang harus detil menjadi baik. Dalam konteks ini menarik untuk dianalisis bahwa sebagian besar yang mengikuti HMA 2015 dari Indonesia adalah para manajer dari RS-RS Swasta yang cenderung for-profit. Yang menarik lagi adalah bahwa sebagian besar berasal dari RS Swasta dengan struktur jaringan (Chain Hospital), seperti Siloam, Ramsey, sampai ke Awal Bros. Kecenderungan ini menarik untuk dianalisis bahwa isi HMA yang sangat detil dan berbasis kegiatan berbasis for-profit, cocok untuk kelompok RS jaringan.
Refleksi ketiga, terlihat bahwa para pemenang award dari Indonesia selama ini sedikit sekali. Saya sebagai anggota Panel Juri di salah satu kategori melihat bahwa RS-RS di Indonesia memang belum banyak yang mampu meyakinkan panel Juri tentang kehebatan programnya, atau mungkin sebagian besar RS di Indonesia tidak mau menuliskan pengalaman rumah sakitnya. Secara keseluruhan ada kesan bahwa RS-RS di Indonesia tidak begitu progresif dibandingkan dengan RS-RS di Asia Tenggara. Para pembicara dari RS Indonesia juga tidak banyak jumlahnya dalam Konferensi HMA 2015 ini. Keadaan ini perlu dibahas secara mendalam oleh PERSI dan seluruh perhimpunan RS seperti ARSADA, ARSPI, ARSSI, ARSANI dan lain-lain.

Apakah memang benar, RS-RS di Indonesia tertinggal dengan RS-RS di ASEAN. Pertanyaan ini tentu perlu dibahas pula oleh Program-Program Pascasarjana Manajemen/Administrasi RS di Indonesia. Apakah kurikulumnya sudah tepat atau belum.
Demikian refleksi mengikuti kegiatan di Yangon. Sampai bertemu kembali di Ho Chi Minh City di Vietnam pada HMA 2016.
Salam.
Laksono Trisnantoro
Info lebih detil pada www.hospitalmanagementasia.com
[/restab][/restabs]


Dalam Akreditasi Rumah Sakit, suatu proses credentialing di bidang keperawatan yang harus dilakukan oleh Komite Keperawatan juga memerlukan proses penilaian kompetensi yang bertujuan menentukan dimana seorang perawat akan ditempatkan sesuai dengan kompetensi yang dipunyai. Sehingga assessment kompetensi perawat di rumah sakit adalah juga sebagai syarat pertanggung jawaban dalam Akreditasi Rumah Sakit.
Tujuan pelatihan kali ini adalah peserta diharapkan mampu berperan sebagai designer dalam merencanakan dan mengorganisasikan assessment kompetensi di lembaga assessment seperti lembaga sertifikasi profesi atau instasi (rumah sakit). Selanjutnya peserta melakukan proses assessment (uji kompetensi) sesuai skema sertifikasi atau pedoman yang ditentukan oleh lembaga assessment. Peserta yang terdaftar dan telah hadir dan akan mengikuti pelatihan sejumlah 52 orang perawat yang terdiri dari:
Pelatihan berlangsung di Ruang Akasia RS Jogja, Jl. Wirosaban No.1 Jogjakarta dan Praktek Assessor berlangsung di Ruang Perawatan RS Jogja. Pelatihan berlangsung 5 hari dengan narasumber berasal dari pakar Komite Pengembangan dan Pelatihan Perawat Indonesia Persatuan Perawat Nasional Indonesia (KP3I PPNI) yang terdiri dari Masfuri, S.Kp, MN, Tri Hapsari, SKp, M.Kes, Siti Ruhana, SKp dan Apri Sunadi, SKp, M.Kep.
Ketua ARSADA Pusat, dr. Kuntjoro, A. Purjanto, MKes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa RS Daerah harus senantiasa meningkatkan on become process, melakukan perbaikan secar aterus menerus dan memelihara positive thinking. Dr. Kuntjoro menekankan ada tiga values yang perlu diterapkan dalam rangka mencapai kinerja pelayanan, kinerja keuangan dan kinerja manfaat RSUD. Ketiga values itu: 1) mengaplikasikan semua kriteria akreditasi versi 2012, 2) menimplementasikan BLUD dan 3) mengaplikasikan JKN.



Sanur – Program sister hospital (SH) dan performance management leadership (PML) yang terlaksana sejak 2010-2015 memberikan gambaran perubahan yang dinamis bagi rumah sakit umum daerah di NTT. Ada banyak keberhasilan dan tantangan selama kegiatan ini berlangsung. Pada 2015 ini, merupakan momen penting bagi RSUD mengingat dokter-dokter daerah yang disekolahkan sudah kembali mengabdikan diri ke RSUD sehingga perlu adanya estafet mengenai pelayanan PONEK RSUD. Selain itu, dinamika jaminan kesehatan nasional (JKN) memberikan tantangan berat bagi RSUD untuk memperbaiki manajemennya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan hasil pendampingan Audit Maternal dan Perinatal (AMP) yang dilakukan di 3 daerah dengan angka kematian neonatus terbesar di NTT. Pada sesi ini dr. Rukmono, Sp. OG menyampaikan bahwa AMP bisa dilakukan dengan fun bukan beban, sehingga hasil yang diharapkan dapat lebih optimal.
Jakarta-Analisis unit cost masih menjadi kendala bagi sebagian rumah sakit, hal ini disebabkan antara lain oleh rumitnya penghitungan dan banyaknya data yang diolah. Manfaat analisis unit cost antara lain dapat dipergunakan untuk memperkirakan kebutuhan biaya dalam menangani pasien untuk kasus-kasus tertentu.
Kegiatan di atas masih ditindaklanjuti dengan komunikasi jarak jauh dikarenakan masih ada unit yang belum dianalisis yakni unit rawat jalan. Data yang tersedia masih belum sesuai dengan kebutuhan sehingga memerlukan revisi yang membutuhkan waktu di kesempatan lain.




Salah satu perbedaan mendasar antara Tiongkok dan Indonesia adalah bentuk pemerintahannya. Tiongkok menerapkan bentuk pemerintahan yang sentralistik, sehingga penetapan kebijakan nasional dilakukan oleh pemerintah pusat. Pemerintah daerah (di tingkat provinsi, kabupaten hingga kecamatan) tinggal menerapkan dan dapat melakukan sedikit penyesuaian dengan kondisi lokal. Meskipun tersentralistik, dalam banyak hal, pemerintah pusat hanya mengeluarkan kebijakan, namun pendanaan untuk implementasinya di daerah merupakan tanggung jawab masing-masing pemerintah daerah. Contohnya pada kebijakan mengenai pembangunan fasilitas publik sebagaimana telah dibahas di atas. Hal yang memudahkan pengambilan keputusan nasional adalah karena hanya ada satu partai politik di Tiongkok sehingga pemerintah memiliki satu suara.





Pertemuan dibuka oleh Prof. Li Yihai, Director of International Relationship SASS. Tim Indonesia dipimpin oleh Benjamin Todd Hillman dari KSI. Menurut Ben, Think tank memainkan peran yang prominent dalam mempengaruhi kebijakan. Think tank dan researcher juga berperan sebagai link antara knowledge dan policy. Ada increasing demand di Indonesia terkait peran think tank untuk menghasilkan kebijakan yang berbasis bukti. Challenges di kedua negara adalah conduct timely relevant high quality reseach, komunikasi ke policy makers dan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses ini. Juga banyak tantangan terkait dengan pendanaan yang sesuai research agenda. Disini ada 16 lembaga think tank dari Indonesia. Hal yang paling penting dari program KSi adalah global exchange. Lembaga think tank di dunia saling belajar dari pengalaman lainnya. Kunjungan ke Tiongkok adalah untuk mempelajari lembaga think thank disini, bagaimana mempengaruhi policy makers, dan juga untuk saling bertukar pikiran dalam diskusi.
Prof. Yang Yuli dari Institute of Economic, SASS merupakan narasumber pertama yang membahas tentang reformasi ekonomi dan pembangunan sosial di Tiongkok. Menurut Yang, ekonomi Tiongkok pada awalnya dibangun dari pertanian, dimana tahun 1999 terjadi peningkatan produksi jagung yang luar biasa besar dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu 100 juta ton. Hal ini menyebabkan meningkatnya pendapatan perkapita penduduk dari yang awalnya hanya seperempat dari pendapatan perkapitan Rusia (tahun 1978) menjadi lebih dari lima kali lipat pendapatan Rusia saat ini. Setelah reformasi tersebut, Tiongkok bukan lagi sekedar negara agraris melainkan menjadi negara yang memanfaatkan teknologi dan sektor jasa pun berkembang.
mengadvokasi pemerintah terkait dengan isu-isu sosial ekonomi yang berkembang, dengan memanfaatkan saluran khusus yang dibangun untuk itu. Salah satunya dengan melakukan indepth discussion secara terus menerus dengan aktor kunci di policy makers.
Menurut hasil penelitian Professor Lu Xiaowen dari Institute of Sociology, Shanghai Academy of Social Science, Shanghai yang merupakan kota terbesar di Tiongkok memiliki 20 juta penduduk dengan komposisi pendatang yang cukup besar. Ini merupakan pasar tenaga kerja yang potensial, sehingga pendapatan perkapita penduduk kota ini juga merupakan yang tertinggi di Tiongkok. Secara alamiah, social security dan social service-nya juga paling bagus. Kebutuhan hidup mendasar dijamin oleh pemerintah. Ukuran rumah terkecil adalah 80 sqm2 dengan anggota keluarga rata-rata 3,5 orang per keluarga. Ini membuat kepadatan per rumah tinggal lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata rumah di negara berkembang. Kota Shanghai juga memiliki layanan dan fasilitas publik terbaik di Tiongkok, antara lain sistem transportasi dengan subway yang memiliki line yang sangat banyak. Sistem ini mampu mengangkut 10 juta penumpang per hari.
Professor Shen Guoming dari Shanghai Federation of Social Sciences Societies mengatakan bahwa dulu pemerintah Tiongkok belum seserius saat ini dalam mengangani kasus korupsi. Ini merupakan bentuk dari reformasi hukum yang dilakukan oleh pemerintah. Moral, rule of law dan citizenship diajarkan di sekolah-sekolah. Intinya, reformasi ini merupakan upaya penegakkan hukum dan meningkatkan kesadaran masrakat Tiongkok terhadap hukum. Hal ini membutuhkan kepemimpinan nasional yang kuat.
Di Tiongkok ada lebih dari 2.000 lembaga think tank yang terdaftar, namun hanya 300 yang aktif melakukan penelitian dan advokasi. Lembaga yang aktif ini terorganisir dengan baik dan memiliki reputasi yang sudah dikenal. Sebanyak 40% lembaga merupakan milik pemerintah, 25% berafiliasi dengan lembaga pendidikan (academic based research centers) dan sisanya adalah NGOs. Lebih dari 60% lembaga berkedudukan di Tiongkok bagian timur, khususnya di Beijing dan Shanghai. Banyaknya lembaga think tank ini melahirkan asosiasi lembaga yang sering kali melakukan kolaborasi dalam penelitian untuk kemudian memberi masukan kepada policy makers.
Professor Quan Heng (Deputy Director of World Economic) memberikan beberapa tips bagi lembaga think tanks Indonesia dalam melakukan advokasi kepada policy makers:



Materi yang terkait dengan bab dalam Akreditasi RS dimulai dengan Bab Hak Pasien dan Keluarga (HPK). Bab ini mensyaratkan administrasi yang bisa dipertanggungjawabkan dan pemberian informasi yang akurat tentang hak pasien sebagai seorang manusia sesuai harkat dan martabatnya. Paparan ini meliputi standar, contoh dokumen dan contoh implementasinya yang disampaikan oleh dr. Sutoto secara runtut agar terlihat jelas apa yang harus dilakukan oleh RS-RS yang diwakili peserta workshop kali ini, di akhir sesi terdapat beberapa pertanyaan yang muncul dan dijawab tuntas oleh narasumber.
Hari kedua, dr. Luwiharsih, M.Sc. sebagai pemateri ke-2 memberikan paparan menarik. Presentasi harus disampaikan direktur RS untuk mengawali proses survei Akreditasi Program Khusus ini dan “tidak boleh diwakilkan”. Dr. Luwi memaparkan bahan apa saja perlu disampaikan dalam presentasi tersebut dan waktu yang dialokasikan. Materi tentang Bab Kuailifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) disampaikan dengan detail dan jelas yang terdiri dari 17 (tujuhbelas) sub bab penilaian. Inti dari bab ini adalah perlindungan pasien berupa kepastian bahwa pelayanan hanya dilakukan oleh professional yang kompeten. Sesi diskusi dan tanya jawab pada materi ini menjadi semakin hangat ketika ada beberapa pertanyaan yang tidak terjawab oleh karena terbatasnya waktu sesi diperpanjang agar rasa ingin tahu para peserta workshop terpenuhi.
Lokakarya ini bertujuan untuk membahas esensi BLUD dan bagaimana agar tujuan BLUD dapat dicapai secara optimal, yaitu memberikan pelayanan bermutu secara efisien dan akuntabel. Pembukaan lokakarya ini diawali dengan pengantar yang disampaikan oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD. Prof. Laksono mengemukakan bahwa program pengembangan di Provinsi NTT masih dalam kondisi yang menggairahkan, dimana masalah-masalah masih ada sehingga perlu adanya “refreshing” mengenai BLUD sehingga RSUD dapat mengembangkan diri untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi. Penerapan BLUD mengalami kemajuan dimana hanya tersisa 3 RSUD belum berstatus BLUD yang tergabung dalam Sister Hospital.
Dengan bantuan kerja sama dalam bentuk Sister Hospital dan Performance Management and Leadership (PML) telah membuahkan hasil dimana ketersediaan dokter spesialis dapat mulai terpenuhi. Beberapa indikator terpenuhinya ketersediaan tersebut, antara lain adanya residen yang dikirim, tercapainya program wajib dan program tambahan, bergesernya pola bersalin di rumah ke RSUD dan puskesmas, bergesernya penolong persalinan dari dukun ke bidan, penurunan jumlah kematian ibu dari 330 jiwa di tahun 2008 menjadi 159 jiwa di tahun 2014. Namun satu hal yang masih harus menjadi perhatian adalah angka kematian bayi yang masih fluktuatif dengan adanya peningkatan jumlah kematian bayi 1.428 jiwa di tahun 2014 dimana AKI pada tahun 2008 sebesar 1.274 jiwa.
Hal-hal tersebut menggambarkan bahwa aturan keuangan daerah belum mendukung sehingga mengakibatkan tidak dapat terpenuhinya kebutuhan pada jelang akhir tahun anggaran RSUD, bahkan penggunaan anggaran hanya diperbolehkan pada tahun yang bersangkutan. Dampak yang dihadapi adalah pengadaan obat, BHP, bahan makanan, dan kebutuhan lain tidak dapat mengimbangi operasional pelayanan, anggaran tahun berjalan yang sudah habis tidak dapat ditambah, bahkan kerusakan alat di luar rencana tidak dapat diperbaiki pada tahun berjalan.





