Survei Kompensasi Dokter 2013
Physician Practice
Bulan lalu, Physician Practice merilis hasil survei tentang insentif dokter. Physician Practice adalah sebuah media online yang berbasis di Baltimore. Media ini menyediakan sumber daya manajemen praktis bagi para dokter berupa ide dan berbagai solusi. Survei insentif dokter yang dirilisnya bulan November lalu melibatkan 1.500 orang dokter dengan berbagai keahlian dari berbagai negara bagian di Amerika Serikat, juga disitasi oleh AMA (Asosiasi Dokter AS) dan menjadi referensi bagi banyak praktisi untuk menentukan besaran insentif dokter.
Para dokter yang menjadi responden dalam survei ini terdiri dari dokter umum, Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Anak, Psikiatri dan lainnya. Lebih dari 20% dokter memiliki full-time-equivalent income (termasuk bonus) pada kisaran USD 200,001-300,000 (atau sekitar Rp 2,5-3,6M dengan kurs saat ini) pada tahun lalu. Full-time-equivalent (FTE) adalah unit yang mengindikasikan beban kerja seorang karyawan (atau siswa) sedemikian rupa sehingga dapat dibandingkan, biasa digunakan untuk mengukur keterlibatan seseorang dalam suatu proyek atau untuk menyelusuri penguarangan biaya. FTE 1.0 artinya seseorang bekerja secara full-time, sedangkan FTE 0.5 artinya ia hanya bekerja separuh dari jam kerjanya (wikipedia). Dalam hal ini, hasil survei di atas menunjukkan pendapatan yang diterima dokter dalam setahun dibandingkan dengan FTE-nya. Ada kurang lebih 8-14% dokter yang menerima income ≤ USD 100,000 setahun.
Diantara mereka, sekitar 34% telah menjalani praktek lebih dari 20 tahun dan ada 20% yang praktek kurang dari 5 tahun. Selebihnya telah menjalani praktek selama kurun waktu 5-20 tahun. Kebanyakan mereka bekerja pada praktek kelompok kecil (2-9 dokter), yaitu sebanyak 40,5%. Namun banyak juga yang bekerja pada praktek bersama yang cukup besar, dengan lebih dari 20 dokter (22,4%).
Hal yang menarik adalah ketika survei ini menyajikan data rentang penghasilan responden tahun lalu yang dikelompokkan berdasarkan jenis spesialisasinya. Responden diminta untuk menjawab sesuai dengan FTE mereka, dimana dokter yang bekerja secara part-time diminta untuk mengkonversi pendapatannya jika mereka bekerja sebagai tenaga full-timer. Hasilnya, proporsi dokter penyakit dalam dan psikiater yang berpendapatan ≤ USD 100,000 lebih banyak dibandingkan dengan proporsi dokter keluarga dan dokter anak. Di sisi lain, proporsi dokter keluarga yang berpendapatan ≥ USD300,000 hampir sama dengan dokter penyakit dalam dan jauh lebih banyak dibandingkan dengan dokter anak.
Sebanyak 33,8% responden mengatakan bahwa seluruh penghasilannya berasal dari pendapatannya sebagai dokter. Namun ada juga responden yang mengatakan bahwa lebih dari 50% income mereka tidak berasal dari gajinya sebagai dokter. Dikaitkan dengan produktivitas, ada 35% responden yang mengakui bahwa tidak ada dari pendapatannya itu yang secara spesifik berhubungan dengan produktivitasnya. Hanya 8% responden yang mengatakan bahwa 75% dari pendapatannya berhubungan dengan produktivitas mereka sebagai dokter.
Di sisi lain, pendapatan dokter yang menjadi responden pada penelitian ini juga tampaknya tidak terlalu berhubungan dengan kepuasan pasien dan value yang diberikannya pada pasien. Ini ditunjukkan dari hasil survei, dimana ada 70% responden yang menjawab bahwa pendapatannya tidak berhubungan secara khusus dengan kepuasan pasien, dan hampir 70% responden menjawab bahwa pendapatannya tidak berhubungan dengan value (mutu dan biaya). Hanya 24% responden yang 5-25% dari pendapatannya berhubungan dengan kepuasan pasien.
Saat ditanya mengenai insentif yang diinginkan, selain dalam bentuk gaji ternyata banyak juga yang menginginkan insentif dalam bentuk rencana pensiun (74,2%) dan pembagian bonus secara reguler (28%). Tidak sedikit juga yang menginginkan adanya profit sharing (19,8%). Namun demikian, tampaknya banyak yang pesimis meghadapi bisnis pelayanan kesehatan oleh dokter praktek pribadi maupun berkelompok di tahun mendatang. Sekitar 32% responden bahkan menganggap akan ada penurunan antara 5-10% atau lebih. Hampir 40% menganggapnya sama saja dengan tahun sebelumnya. Hanya Sisanya optimis bahwa akan ada pertumbuhan yang positif di bisnis ini.
Pesimisme juga ditunjukkan oleh para responden yang merupakan pemilik usaha/tempat praktek terhadap kelangsungan usaha mereka dalam 1-5 tahun kedepan. Secara finansial Ada 33,3% menganggap akan ada pertumbuhan namun tidak signifikan dan ada 38% yang menganggap bahwa perlu kerja lebih keras hanya untuk mempertahankan pendapatannya saat ini, atau bahkan menutup tempat prakteknya. Ini dijelaskan juga dengan hasil survei yang menunjukkan bahwa pemilik tempat praktek
menganggap bahwa pendapatan yang diperoleh dari usahanya mengecewakan (33,1%) dan sangat mengecewakan (20,5%). Untuk menutupi pendapatan yang rendah tersebut, 36% mencoba menambah jumlah pasien yang bisa dilayani per hari, 26,5% mencoba bekerja di luar tempat prakteknya dan 25,6% membuka layanan pendukung klinis.
Dari berbagai komponen biaya pelaksanaan pelayanan praktek dokter, biaya overhead umumnya berkisar antara 41-70% dan hanya 6,7% yang menganggap bahwa biaya overhead ini lebih kecil dari tahun lalu. Lebih dari separo responden menganggap biaya ini sama dengan tahun sebelumnya, atau bahkan lebih besar (42,5%).

Ada 81,2% responden yang melayani pasien medicare (program asuransi pemerintah federal bagi warga AS berusia lebih dari 65 tahun, atau warga negara yang lebih muda namun memiliki keterbatasan fisik (disabilitas) dan mereka yang menderita gagal ginjal permanen (www.medicare.gov). Sebagian besar (70%) responden masih akan meneruskan kerjasama dengan medicare meskipun ada 17,6% lainnya yang akan menolak pasien medicare yang baru. Ada juga yang berencana untuk mencoba metode pembayaran lain (pembayaran langsung) untuk mengurangi keterlibatan pihak ketiga dalam praktek kedokteran mereka (6,6%).
Tidak jauh berbeda dengan program medicare, 70,6% responden pada survei ini melayani pasien medicaid, yaitu program asuransi bagi 60 juta warga Amerika yang meliputi anak-anak, ibu hamil, orang tua, warga lansia, dan individu dengan disabilitas. Hampir 70% responden menyatakan ingin melanjutkan program kerjasama untuk melayani pasien medicaid, namun ada 15% yang

menyatakan belum pasti apakah akan melanjutkan atau menghentikan kerjasama.
Meskipun banyak yang pesimis mengenai perkembangan praktek pribadi (solo) maupun berkelompok ini, namun cukup banyak juga responden yang bersikap tetap seperti apa yang sudah mereka jalankan selama ini dalam lima tahun kedepan (58,3%). Sebagian lainnya memutuskan untuk bermitra dengan pihak lain (11,9%), menutup atau menjual bisnisnya (5%), pensiun (11,1%) dan bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih besar (13,7%). (pea)

Proses transfer informasi tentang pasien harus dilakukan secara terstruktur dan seefisien mungkin. Namun proses ini bisa jadi sangat menantang, karena pasien yang sedang atau pernah dirawat oleh Dokter A mungkin adalah pasien baru bagi Dokter B (karena Dokter B baru menjalani hari pertama dari siklus stasenya di bangsal tersebut, sedangkan Dokter A mungkin sudah menjalani stasenya selama beberapa waktu). Dengan kondisi ini, Dokter B mungkin akan menanyakan banyak informasi medis dari pasien yang sudah pernah ditanyakan oleh Dokter A. Bukan berarti bahwa Dokter B tidak membaca catatan medis pasien. Ia akan merasa lebih yakin bila mendapat informasi langsung dari sumbernya, sehingga tidak ada informasi penting yang terlewat. Hal ini sering membuat stres pasien, namun sangat menolong bagi residen. Tampaknya para residen di Amerika berpendapat lebih baik bertanya berulang-ulang untuk memastikan kebenaran infromasi atau mencocokan catatan medis, meskipun pasien menjadi stres karenanya. Hal ini terlihat dari rendahnya angka miss-communication antar-residen pada proses handoff pasien. Bagaimana dengan di Indonesia?
Berdasarkan penelitian Takata (2011), rumah sakit memproduksi emisi GHG (green house gas) 2,5 kali lebih besar dan menggunakan energi jauh lebih banyak dibandingkan dengan bangunan komersial biasa. Banyak RS yang karena tekanan lingkungan maupun faktor lain, kemudian mencoba menerapkan strategi green hospital. Bagaimana sesungguhnya strategi green hospital itu? Apa saja alternatif green initiatives yang dapat dilakukan oleh RS? Benarkah green initiatives dapat mengurangi cost pelayanan di RS?
Yang menarik adalah adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa RS yang beroperasi di lingkungan yang kompetitif (diserahkan pada mekanisme pasar seperti di USA), akan lebih mudah menerapkan inisiatif hemat energi dibandingkan RS yang beroperasi di lingkungan yang kurang kompetitif (misalnya di wilayah dimana seluruh RS didanai dengan dana publik, seperti di UK dan Canada). Setidaknya ada tiga faktor yang dapat memotivasi RS untuk menerapkan strategi ramah lingkungan (go-green), yaitu kompetisi, legitimasi (regulasi) dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Namun sayangnya dibutuhkan investasi yang besar untuk menghasilkan proses yang ramah lingkungan.


Menjalin kerjasama kontrak dengan pihak ketiga dilakukan dengan cara yang lebih aktif dan penuh inisiatif dalam negosiasi kontrak serta re-negosiasi kontrak yang ada untuk meningkatkan penghematan biaya. Misalnya manajemen kontrak untuk pembelian fasilitas listrik dan gas alam dari berbagai pemasok energi melalui perjanjian penetapan harga yang masa kontraknya bervariasi sesuai dengan kondisi pasar. Kontrak jangka panjang akan lebih menguntungkan dan efisien. Contoh nyata terjadi pada kontrak pengadaan energi listrik selama lima tahun, dari 1 Januari 2012 sampai 31 Desember 2016. Meskipun ada kenaikan tarif listrik, namun penghematan anggaran tetap dapat dilakukan sebesar USD 17 juta selama lima tahun kedepan.




Hubungan dokter-pasien juga mempengaruhi perilaku dalam menggunakan PHRs, dimana pasien cenderung akan mengikuti saran dokter dalam menggunakan PHRs secara intensif. Menariknya adalah selama periode studi, selain mencatat rekaman kesehatan pasien, sistem ini juga mencatat bagaimana respon petugas kesehatan terhadap pasien.
Rumah sakit di seluruh dunia, umumnya merupakan salah satu pengguna energi yang sangat besar, karena memiliki jam operasi selama 24/7 dengan berbagai jenis peralatan dan infrastruktur. Energi yang digunakan terutama meliputi gas, air dan listrik. Semua aktivitas berdampak pada pelepasan gas buang (emisi CO2) di udara, yang berkontribusi pada meningkatnya suhu global, perubahan cuaca serta mencairnya es di Kutub Utara dan Selatan. Banyak negara yang kemudian berinisiatif untuk mengeluarkan kebijakan terkait penggunaan energi secara lebih bijaksana sembari mengurangi inefisiensi anggaran.
SPP pada RS mencapai 5,3 tahun, sedangkan pada sekolah mencapai 12, 8 tahun. Hal ini disebabkan karena RS memiliki jam operasi 24/7, jauh lebih panjang dari jam operasi sekolah, sehingga RS memerlukan payback period yang jauh lebih pendek dari sekolah.
Pengantar
Pengertian Layanan Unggulan
Pasien yang dirujuk biasanya merupakan kasus dengan berbagai komplikasi, membutuhkan penanganan khusus dan LOS tinggi, sehingga cost pelayanan juga tinggi. Sebagai RS publik, pangsa pasar RS ini sebagian besar adalah mayarakat tidak mampu. Disamping itu, pemilik RS tidak setuju apabila tarif RS terlalu tinggi, karena akan bertentangan dengan misinya sebagai RS publik. Manajer RS berpendapat tidak mungkin menjadikan perinatologi sebagai layanan unggulan, karena pasti tidak akan mendatangkan revenue yang cukup untuk menutupi biaya operasional RS. Kepala divisi perinatologi juga merasa keberatan jika harus menjadikan aspek finansial sebagai salah satu indikator kinerjanya, karena itu akan membuatnya menolak banyak pasien miskin.
Kesimpulan





