Perlindungan Anak dari Kekerasan Selama COVID-19
Community of Practice for Health Equity

https://www.freepik.com/
Kekerasan anak didefinisikan sebagai segala bentuk kekerasan terhadap individu berusia di bawah 18 tahun dan merupakan masalah yang terdapat di seluruh belahan dunia. Mayoritas kekerasan terhadap anak mencakup penganiayaan secara fisik, seksual, maupun psikologis. Sekitar setengah dari seluruh anak – anak di dunia mengalami hukuman fisik di rumah; 3 dari 4 anak berusia 2 sampai 4 tahun mengalami kekerasan disipliner dari orang tua atau pengasuh mereka; setengah dari siswa berusia 13 sampai 15 tahun mengalami kekerasan dari teman sebayanya di sekolah; dan 1 dari 3 remaja perempuan berusia 15 sampai 19 tahun telah menjadi korban kekerasan pasangan (secara intim). Sedangkan kekerasan emosional atau psikologis termasuk membatasi kebebasan anak, ejekan terhadap anak, ancaman dan intimidasi, diskriminasi, penolakan, dan pengasingan. Penelantaran anak juga merupakan bentuk kekerasan anak yang kerap kali ditemui.







Kurangnya kapasitas tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor kesenjangan pelayanan kesehatan selama COVID-19. Menurut data dari International Labour Organization, banyak negara telah mengalami kekurangan tenaga kesehatan selama pandemi COVID-19 karena jam kerja panjang, upah yang rendah, dan kendala keselamatan kerja dan risiko yang tinggi di lapangan.1 Terlebih lagi, faktor – faktor tersebut memiliki dampak yang lebih besar bagi wanita. Secara global, wanita menempati 70% dari tenaga kesehatan profesional.2 Adapun di Indonesia, daerah – daerah pedesaan dan pelosok sangat bergantung pada pelayanan kesehatan yang diberikan oleh para bidan. Seorang bidan di daerah rural umumnya sangat dipercayai oleh masyarakat dan seringkali memberikan pemeriksaan dasar dan konseling kesehatan sebelum masyarakat pergi ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.3 Wanita juga seringkali terlibat dalam pelayanan kesehatan masyarakat sebagai sukarelawan dan pekerja sosial. Lantas, apa yang membedakan besarnya beban dan risiko yang dihadapi tenaga kesehatan wanita dan pria, terutama selama pandemi COVID-19?







