
Manajemen forecasting atau peramalan dalam konteks alat kesehatan (alkes) bukan sekadar aktivitas administratif rutin, melainkan juga pondasi kritikal yang menentukan efektivitas layanan klinis dan keselamatan pasien di seluruh ekosistem kesehatan. Di tengah dinamika industri kesehatan yang semakin kompleks, mulai dari fluktuasi epidemiologi, kemajuan teknologi medis yang pesat, hingga gangguan rantai pasok global, kemampuan untuk memprediksi kebutuhan masa depan dengan akurasi tinggi menjadi pembeda antara sistem kesehatan yang tangguh dan yang rentan. Secara fundamental, forecasting melibatkan analisis mendalam terhadap data historis penggunaan alkes, tren penyakit musiman, profil demografis pasien, serta jadwal prosedur medis yang direncanakan. Tanpa peramalan yang sistematis, fasilitas kesehatan berisiko terjebak dalam siklus reaktif yang merugikan, dimana pengadaan hanya dilakukan saat stok habis (stockout). Kondisi ini sangat berbahaya bagi alkes esensial seperti ventilator, perangkat sirkuit jantung, hingga bahan habis pakai steril di ruang operasi. Kegagalan dalam memprediksi kebutuhan ini tidak hanya menyebabkan penundaan tindakan medis yang fatal, tetapi juga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kesehatan. Oleh karena itu, penerapan manajemen forecasting yang proaktif harus dipandang sebagai investasi strategis untuk memastikan bahwa alat yang tepat tersedia bagi pasien yang tepat pada waktu yang tepat, sehingga memitigasi risiko klinis secara signifikan.