Silakan login untuk mengakses laman berikut
Fasilitator

–
dr. Hanevi Djasri.,MARS
Konsultan
Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK UGM
–
–
–
–
| Menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan ke pendidikan S2 dalam bidang Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Universitas Indonesia yang diselesaikan pada tahun 1997. Pada tahun 1996-2003 menjadi manajer pada perusahaan joint-venture asuransi kesehatan swasta dan pada sebuah grup rumah sakit swasta di Jakarta. Pada tahun 2003 beralih profesi dari praktisi menjadi peneliti dan konsultan dalam bidang manajemen pelayanan kesehatan.
Area penelitian dan konsultasi yang ditekuni adalah dalam bidang peningkatan mutu lembaga kesehatan melalui pendekatan regulasi internal dan regulasi eksternal. Saat ini terlibat aktif dalam kegiatan pengembangan sistem regulasi pelayanan kesehatan di beberapa propinsi, kegiatan implementasi konsep clinical governance dan patient safety di beberapa rumah sakit, dan kegiatan untuk mengintegrasikan konsep dan pelaksanaan manajemen mutu lembaga kesehatan secara nasional antara lain melalui IHQN (Indonesian Health care Quality Network) dan juga melalui kerjasama dengan lembaga internasional seperti ISQua (International Society for Quality in health care). |
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa |
Pelatihan Audit Medik
Manajemen Rumah S —Home— Kelompok Kerja—-Aktivitas Mutu klinis—-Pelatihan—-Artikel
|
Pelatihan Audit Medik dr. Hanevi Djasri, MARS Pelatihan ini dilakukan secara jarak jauh dengan memanfaatkan media komunikasi internet. Dengan metode ini diharapkan para manajer dan pimpinan rumah sakit dapat tetap meningkatkan kompetensi dalam hal penyusunan rencana strategis tanpa harus menyediakan waktu khusus untuk pertemuan tatap muka maupun perjalanan dinas. Dari sisi biaya tentu saja metode ini akan jauh lebih efisien dibandingkan dengan pertemuan tatap muka. |
![]() |
|
Beban Kursus 6 minggu Selama 2-3 jam per minggu |
![]() |
| –
Pengantar Pelatihan Di era globalisasi yang bercirikan competitiveness dan profesonalism, upaya-upaya peningkatan mutu ini harus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk menjamin bahwa setiap pasien akan mendapatkan pelayanan yang terbaik berdasarkan kaidah-kaidah medis yang baku. Audit medik merupakan perangkat bagi rumah sakit yang sangat penting untuk memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada pelanggannya. Audit medik saat ini semakin dirasa penting tidak saja dari segi manfaat, tetapi juga karena audit medik juga menjadi salah satu instrumen akreditasi rumah sakit. – Peserta Persiapan yang diperlukan oleh peserta:
– Modul Modul I : Clinical governance, organisasi belajar, dan proses perbaikan kinerja Modul II : Audit medik-suatu pendekatan terstruktur untuk meningkatkan mutu Modul III : Pemilihan topik dan penyusunan kriteria Modul IV : Pengumpulan dan pelaporan data Modul V : Analisis penyimpangan Modul VI : Tindakan dan pelaporan |
–
Fasilitator PKMK FK UGM –
|
–
Kategori Kelompok Kerja:
Aktivitas Mutu Klinis
–
Bagi Member Silahkan Klik daftar untuk mengikuti pelatihan ini
Change Management: Mengapa Proses Transformasi Gagal
Tidak ada sesuatu di dunia ini yang bebas dari pengaruh perubahan. Ada yang berhasil, ada yang gagal dan sebagian besar berada di salah satu titik pada skala Keberhasilan-Kegagalan. John P. Kotter pada suatu Artikel di Harvard Business Review menuliskan hasil pengamatannya terhadap lebih dari 100 perusahaan yang besar (seperti Ford) maupun yang kecil (seperti Landmark Communication). Menurutnya, pelajaran paling umum yang didapat dari perusahaan yang lebih berhasil adalah bahwa proses perubahan akan berjalan sebagai rangkaian dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu. Melompati tahapan hanya akan menimbulkan ilusi tingkat kecepatan proses transformasi. Pelajaran kedua adalah kesalahan yang kritis bisa menghasilkan dampak yang sangat efektif dalam memperlambat momentum dan mengecilkan arti keberhasilan yang sudah didapat dengan susah payah.
Menurut Kotter, ada delapan langkah dalam mentrasformasi sebuah organisasi yang dapat ditunjukkan melalui bagan berikut.

Kotter menduga bahwa kemungkinan terjadinya error adalah karena pengalaman kita yang masih kurang dalam pembaharuan organisasi, dimana bahwa pada oyang yang sangat kompeten pun kesalahan bisa saja terjadi.
Error #1: Sense of Urgency yang dibangun kurang besar
Kedengarannya mudah, namun sebenarnya tidak. Lebih dari 50% organisasi gagal pada fase ini. Penyebabnya karena sebagian manajer tidak menyadari betapa beratnya upaya menggerakkan orang-orang agar keluar dari comfort zone mereka masing-masing, sehingga memandang remeh upaya untuk itu. Setiap perubahan membutuhkan pemimpin. Namun dalam banyak kasus, proses perubahan lebih banyak dikelola oleh manajer sedangkan jumlah pemimpin sangat kurang. Padahal dari sudut pandang manajer, tanggung jawabnya adalah untuk meminimalkan risiko dan menjaga agar sistem yang ada saat ini berjalan dengan efektif. Sebaliknya, transformasi pasti membutuhkan dibuatnya system baru, dimana pembuatan sistem baru ini pasti membutuhkan adanya kepemimpinan.
Tranformasi akan mulai dengan baik jika organisasi memiliki pemimpin yang baru, yang mampu melihat kebutuhan akan perubahan yang besar. Jika target pembaharuan adalah keseluruhan organisasi, maka CEO/Direktur Utama/Kepala Kantor adalah kuncinya. Jika target pembaharuan adalah divisi atau bagian, maka Kepala Divisi/Kepala Bagian adalah kuncinya. Jika individu-individu kunci ini bukan great leaders, atau change champions, fase pertama ini akan menjadi suatu tantangan yang sangat besar bagi organisasi.
Error #2: Tidak membentuk Koalisi Pengarah yang cukup kuat
Organisasi yang gagal di fase ini biasanya adalah yang meremehkan sulitnya melakukan perubahan dan juga membentuk koalisi yang kuat. Organisasi yang gagal biasanya juga tidak memiliki sejarah adanya kerjasama tim di manajemen puncaknya sehingga memandang rendah nilai koalisi ini. Upaya-upaya perubahan yang tidak diarahkan oleh koalisi yang kuat awalnya bisa saja menampakkan progress yang baik. Namun cepat atau lambat, orang-orang yang anti perubahan akan mengambil alih situasi dan menghentikan perubahan tersebut.
Di organisasi yang kecil maupun besar, tim pengarah bisa terdiri dari tiga sampai lima orang saja. Namun menurut Kotter, pada organisasi yang besar jumlah anggota tim ini harus segera bertambah menjadi 20 atau 50, sebelum perubahan mencapai fase ketiga. Anggotanya bisa berasal dari dalam atau dari luar organisasi, senior managers dan bukan senior managers. Dnegan komposisi ini, maka tim akan bekerja diluar kenormalan organisasi. Ini masuk akal, sebab untuk menghasilkan output yang luar biasa diperlukan upaya dan cara-cara yang juga luar biasa.
Error #3: Tidak ada Visi
Pada upaya transformasi yang sukses biasanya ada koalisi pengarah yang dengan mudah mengkomunikasikan mengenai gambaran masa depan yang hendak dicapai kepada pengguna, stakeholders dan karyawan. Aturan umum: jika anda tidak dapat mengkomunikasikan visi pada seseorang dalam waktu kurang dari lima menit DAN mendapatkan reaksi yang menunjukkan adanya pemahaman dan ketertarikan, maka anda belum selesai dengan fase ketiga proses transformasi ini.
Pada organisasi yang gagal bertransformasi kita bisa menemukan banyak sekali rencana, instruksi dan program, namun tidak ada visi. Padahal tanpa visi semua upaya perubahan yang dilakukan tidak akan membawa organisasi mencapai tujuan perubahan.
Error #4: Efek yang berlipat ganda akibat kurang dikomunikasikannya visi perubahan
Ada tiga jenis pola komunikasi berdasarkan pengamatan Kotter. Pertama sebuah kelompok yang sebenarnya sudah membuat visi transformasi yang baik dan mengkomunikasikannya melalui pertemuan-pertemuan tunggal atau komunikasi tunggal. Ini hanya menggunakan 0.0001% dari total komunikasi internal organisasi secara tahunan tahunan. Pola kedua adalah direktur mengalokasikan cukup banyak waku untuk berceramah pada berbagai kelompok yang ada di organisasinya. Namun itupun tidak membuat sebagian besar karyawannya paham (tidak mengherankan, sebab hanya menggunakan 0.0005% dari total komunikasi internal organisasi secara tahunan). Pada pola ketiga, sebagian besar komunikasi dilakukan melalui newsletters dan pidato-pidato atau ceramah, namun beberapa eksekutif senior memperlihatkan perilaku yang justru kebalikan dari arah pencapaian visi. Hasilnya adalah munculnya kesinisan diantara para staf dan hilangnya kepercayaan pada komunikasi.
Eksekutif organisasi yang lebih berhasil biasanya berkomunikasi melalui aktivitas mereka dari jam ke jam, menggunakan semua saluran komunikasi yang ada untuk terus menerus menyampaikan visi. Mereka mengubah newsletter yang membosankan dan tak terbaca menjadi suatu artikel yang hidup dan menarik mengenai visi. Mereka mengubah rapat-rapat manajemen yang menjemukan menjadi diskusi yang menggairahkan mengenai transformasi. Pada diskusi rutin mengenai masalah operasional, mereka akan memaparkan mengapa sebuah usulan solusi tepat (atau tidak tepat) jika dimasukkan dalam perspektif yang lebih luas. Yang terpenting adalah apa yang dilakukan oleh para manajer yang lebih sukses, yaitu “walk the talk”. Komunikasi datang dengan berbagai bentuk, perkataan maupun tindakan. Tidak ada yang dapat merusak perubahan lebih efektif daripada perilaku orang-orang penting yang tidak konsisten dengan perkataannya.
Error #5: Tidak menyingkirkan hambatan pada visi baru
Pada separuh awal proses transformasi tidak ada satu organisasi pun yang memiliki momentum, kekuatan atau waktu untuk menyingkirkan seluruh hambatan. Yang harus dilakukan adalah menyingkirkan hambatan terbesar. Jika hambatan tersebut adalah orang, meskipun ia adalah seorang pada posisi penting, maka jauh lebih penting untuk memperlakukan orang tersebut secara fair dalam arti konsisten dengan pencapaian visi. Aksi merupakan hal yang esensial, baik untuk memberdayakan staf maupun untuk memelihara kredibilitas dari upaya perubahan sebagai suatu keseluruhan proses yang utuh.
Error #6: Tidak secara sistematik merencanakan untuk dan menciptakan kemenangan jangka pendek
Transformasi yang sesungguhnya membutuhkan waktu yang lama. Kebanyakan orang tidak suka melakukan long march kecuali mereka bisa melihat tanda-tanda awal dimana pada bulan ke-12 atau ke-24 ada hasil yang bisa dicapai sesuai harapan. Tanpa adanya kemenangan jangka pendek, orang-orang akan segera menyerah atau bergeser ke kubu yang menolak perubahan. Misalnya di RS terdapatnya jenis layanan baru, meningkatnya market share, meningkatnya rating kepuasan pengguna, menurunnya angka infeksi nosocomial dan sebagainya. Apapun kasusnya, hasil ini tidak boleh bersifat ambigu, bukan hanya sebuah judgement yang secara subyektif dapat dinafikan oleh pihak-pihak di kubu seberang.
Menciptakan kemenangan jangka pendek (aktif) berbeda dengan mengharapkan kemenangan jangka pendek (pasif). Para manajer tingkat menengah sering merasa tertekan dengan keharusan mencari cara untuk menciptakan kemenangan jangka pendek, namun tekanan tersebut justru penting pada upaya perubahan. Jika orang-orang mengetahui bahwa transformasi ini membutuhkan waktu yang sangat lama, maka sense of urgency bisa hilang dan motivasi menurun. Komitmen untuk menciptakan kemenangan jangka pendek (yang hasilnya bisa dinikmati bersama) akan bisa mencegah terjadinya hal tersebut.
Error #7: Terlalu cepat mengumumkan kemenangan
Selama 20 tahun pengamatan yang dilakukan oleh Kotter, ada beberapa persamaan yang terjadi pada proyek-proyek peningkatan mutu, peningkatan organisasi dan sebagainya. Biasanya masalah sudah dimulai sejak awal: tingkat urgency yang tidak cukup intens, tim pengarah tidak cukup kuat, visi tidak cukup jelas. Namun perayaan kemenangan yang prematur lah yang membunuh momentum perubahan. Ironisnya, keadaan ini juga sering dimanfaatkan oleh golongan anti perubahan, dengan cara ikut merayakan bersama-sama dan kemudian menghembuskan isu bahwa “perang sudah dimenangkan” dan proses sudah selesai. Hasil sudah ada. Kemudian proses perubahan pun berhenti sebelum waktunya dan semua orang kembali ke kondisinya masing-masing seperti sebelum proses perubahan berlangsung.
Manajer yang sudah sukses, pada tahap ketujuh ini biasanya akan memanfaatkan kredibilitas yang diperoleh dari keberhasilan jangka pendek tersebut untuk menghadapi tantangan yang lebih besar. Jadi keberhasilan jangka pendek bukan akhir dari proses perubahan, melainkan satu tahap pencapaian yang harus segera diikuti dengan pencapaian berikutnya. Manajer seperti ini akan menaruh perhatian lebih besar pada siapa yang dipromosikan, siapa yang direkrut dan bagaimana orang-orang dibangun. Jumlah orang yang dilibatkan lebih banyak, scope pekerjaan lebih besar dan luas dibandingkan pada tahap sebelumnya. Mereka sangat memahami bahwa perubahan ini bukan dalam hitungan bulan melainkan tahun.
Error #8: Tidak menanamkan perubahan pada budaya organisasi
Perubahan yang telah dibuat harus tertanam dan mengalir di urat nadi organisasi, yang dapat dinyatakan dengan “the way we do things around here”. Ada dua faktor penting menurut Kotter untuk menginstitusionalisasi perubahan dalam budaya organisasi.
Pertama, pimpinan harus membantu menunjukkan hubungan antara pendekatan, perilaku dan sikap terhadap pencapaian yang meningkat. Jika staf dibiarkan menafsirkan sendiri hubungan tersebut, bisa jadi akan muncul kesimpulan yang keliru. Misalnya jika ada figur pemimpin yang kuat saat memimpin perubahan, maka orang cenderung akan menafsirkan bahwa figur itulah yang membuat perubahan tersebut berhasil, bukan karena upaya bersama. Jadi saat figur tersebut hilang (pindah jabatan, pensiun) maka seakan-akan efek perubahan (peningkatan performance) ikut hilang. Membantu staf untuk memahami hubungan yang benar antara pendekatan, perilaku dan sikap terhadap kinerja organisasi membutuhkan komunikasi.
Kedua, meluangkan waktu yang cukup untuk memastikan bahwa para calon pimpinan puncak berikutnya benar-benar memahami esensi dan mewujudkan pendekatan baru tersebut. Jadi suksesi kepemimpinan baru juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pendekatan baru yang telah dirancang selama tahunan. Suatu suksesi yang buruk bisa menafikan hasil satu dekade kerja keras. Keputusan suksesi yang buruk bisa terjadi karena board (atau pemilik, atau pengambil keputusan tertinggi) bukan merupakan bagian yang integral dari upaya perubahan tersebut.
Masih ada banyak kesalahan lain yang dilakukan, namun Kotter berpendapat bahwa delapan kesalahan diatas adalah yang terbesar. Di atas kertas berbagai hal tersebut terlihat lebih sederhana. Namun di dunia nyata, transformasi yang sukses pun dalam prosesnya bisa kacau dan penuh kejutan. Visi yang jelas dan terkomunikasi dengan baik yang akan menyelamatkan dan memberikan arahan pada semua orang untuk melalui perubahan yang besar tersebut dan mengurang angka kesalahan.
Tulisan terkait:
Kadar Amoniak Limbah RS di Temanggung Mebihi Ambang Batas
TEMANGGUNG – Monitoring terakhir Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Temanggung, menunjukkan sedikitnya sebanyak tiga rumah sakit di wilayah ini diketahui kadar amoniak dari limbah yang dihasilkan telah melebihi standar baku mutu 0,1 part per million (ppm).
Tiga rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Gunung Sawo, Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, dan RSK Ngesti Waluyo Parakan. Hasil itu merupakan monitoring terakhir BLH Kabupaten Temanggung pada instalasi pengolahan air limbah pada semua rumah sakit di Temanggung tahun 2012.
Dari hasil monitoring diketahui kadar amoniak limbah Rumah Sakit Gunung Sawo sebesar 1,72 ppm, Rumah Sakit PKU Muhammadiyah 1,63 ppm, dan RSK Ngesti Waluyo 0,21 ppm. Kadar amoniak berlebih itu berasal dari detergen dan kurangnya aerasi.
“Tiap enam bulan sekali kita lakukan evaluasi dan monitoring kadar pencemaran di air dan udara, dari limbah padat dan limbah cair menggunakan pemeriksaan laboratorium. Ini karena aerasinya tidak sempurna maka amoniaknya jadi menimbulkan bau menyengat,” kata Kepala BLH Kabupaten Temanggung, Andristi, Rabu (20/3).
Menurutnya aerasi yang tidak sempurna hanya berdampak pada bau menyengat, dan tidak menimbulkan kematian pada mahluk hidup.
Aerasi adalah proses membawa air dan udara dalam kontak yang dekat untuk menghilangkan gas-gas terlarut, seperti karbon dioksida, dan untuk mengoksidasi logam terlarut seperti besi.
“Idealnya aerasi dilakukan selama 24 jam non stop, akan tetapi karena rumah sakit juga berpikir profit oriented, maka aerasi hanya dilakukan pada jam-jam tertentu saja untuk menghemat listrik. Bahkan aerasi dihidupkan saat kita lakukan monitoring saja. Padahal kalau areasinya sempurna tidak akan menimbulkan bau,” imbuhnya.
Mengenai tiga rumah sakit tersebut ujar Andristi, pihaknya terus mengawasi dan akan diberikan teguran serta peringatan. Setiap pengusaha sendiri seharusnya mempunyai kewajiban melaporkan hasil uji labnya setiap enam bulan sekali terkait dokumen lingkungan.
Sumber: suaramerdeka.com
Bayi Tertukar di Rumah Sakit Pamekasan
PAMEKASAN — Bayi laki-laki anak dari pasangan suami istri Irsyad (33) dan Busana (25), warga Dusun Gunung, Desa Kaduara Timur, Kecamatan Peragaan, Sumenep, Jawa Timur, tertukar dengan bayi lainnya di RS dr Slamet Martodirjo Pamekasan. Tertukarnya bayi tersebut diketahui setelah bayi dibawa pulang dari rumah sakit, Selasa (19/3/2013) kemarin.
Muhammad Amin, kerabat Irsyad, saat dihubungiKompas.com, Rabu (20/03/2013), menjelaskan, ibu si bayi melahirkan pada Jumat (15/3/2013) melalui operasi caesar karena bidan setempat tidak mampu menanganinya. Bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki. Karena kondisinya masih lemah, bayi dirawat di dalam inkubator.
“Hari Senin ibu bayi pulang dari rumah sakit karena dokter sudah mengizinkan. Sementara si bayi masih dirawat di rumah sakit karena kondisinya masih lemah,” ungkap Amin.
Sehari berikutnya, kondisi bayi sudah bisa dibawa pulang. Tanpa banyak bertanya, Irsyad didampingi kerabat lainnya langsung membawa pulang bayi yang disodorkan perawat.
Tiga jam kemudian, ketika saat hendak membersihkan bayi itu, sang ibu kaget bukan main karena bayinya berjenis kelamin perempuan.
“Semuanya heran karena selama tiga hari dirawat di rumah sakit, jenis kelaminnya laki-laki. Ini pasti tertukar dengan bayi orang lain,” imbuh Amin.
Hari itu juga si bayi dikembalikan ke rumah sakit untuk ditukar kembali dengan bayi yang dilahirkan Busana. Amin menceritakan, Irsyad sempat dimarahi perawat karena tidak memeriksa bayinya sebelum membawanya pulang.
“Orangtuanya kan tidak tahu si bayi ditempatkan di sebelah mana. Selain itu, yang menyerahkan si bayi adalah perawatnya. Justru yang disalahkan adalah orangtuanya sendiri,” ungkap Amin.
Ternyata bayi itu tertukar dengan bayi warga Desa Camplong, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Keluarga itu juga mengakui bahwa bayinya tertukar dengan bayi lain. Kedua keluarga itu pun saling mengembalikan bayi yang sempat mereka bawa pulang.
Tukar-menukar bayi itu berlangsung lama. Pasalnya, yang di Sampang juga mengaku tidak tahu kalau anaknya tertukar dan sudah dibawa pulang dari rumah sakit.
Kelalaian
Seorang petugas Ruang Neonatal RS dr Slamet Martodirjo, Pamekasan, yang dimintai konfirmasiKompas.com menolak memberi jawaban. “Mohon maaf, kepala ruangannya sekarang sedang sakit. Selain dia, tidak boleh ada yang boleh berkomentar, termasuk humas dan direktur rumah sakit,” kata perawat yang namanya tertutup kerudung merah yang dikenakannya.
Saat dikonfirmasi tentang kejadian itu, Direktur RS dr Slamet Martodirjo, Pamekasan, dr Iri Agus Subaidi, menyatakan tidak menerima laporan tentang adanya bayi yang tertukar. “Saya tidak diberi laporan oleh kepala bagian keperawatan. Justru saya tahu dari wartawan ini,” kata dia dengan nada heran.
Karena itu, pihaknya akan memanggil dan meminta laporan terkait tertukarnya bayi tersebut. Bahkan, pihaknya menilai kasus tersebut merupakan bentuk kelalaian dari perawat. “Nanti akan kita panggil dan jika memang ada kesalahan yang fatal, perawat yang bersangkutan akan ditegur dan akan diberi sanksi,” pungkas dr Iri.
Sumber: regional.kompas.com
Kelas Kursus Aplikasi Sistem Billing & Rekam Medis Berbasis Open System
Silakan login untuk mengakses laman berikut









