FK UGM, 30 Juli 2013
Continuing Medical Education: Creating Educational Programme for Physicians & Other Health Professionals
oleh David dan Jane Rosenman, MD dari Mayo Clinic, USA
FK UGM, 30 Juli 2013
Continuing Medical Education: Creating Educational Programme for Physicians & Other Health Professionals
oleh David dan Jane Rosenman, MD dari Mayo Clinic, USA
New Delhi, (IANS) India’s Hepatitis burden is rising due to the use of infected injections and unsterilised medical equipment as well as unsafe blood transfusions.
In India, nearly two-thirds of the injections being used are unsafe, posing health hazards for the recipients. Unhygienic use of needles in acupuncture and tattooing also has a significant role in spreading hepatitis, according to experts.
There are five main Hepatitis viruses, referred to as types A, B, C, D and E. Hepatitis A and E are typically caused by ingestion of contaminated food or water. Hepatitis B, C and D usually occurs as a result of parenteral contact with infected body fluids. Hepatitis B is also transmitted by sexual contact.
“Hepatitis B (HBV) and Hepatitis C (HCV) infections are silent diseases that remain asymptomatic for decades. Due to lower awareness, more than 80 percent HCV patients and over 60 percent patients with HBV are diagnosed at a stage when the disease is irreversible,” Anil Arora, chairman and head of the Department of Gastroenterology and Hepatology, Sir Ganga Ram Hospital, New Delhi said.
Ajay Kumar, senior consultant gasteroenterology Indraprastha Apollo Hospitals told IANS: “Transmission of Hepatitis through infected syringes and blood is a significant problem in India.”
“Most patients in India get the Hepatitis B and C forms in childhood either through mother to child transmission or contact with other siblings,” he said adding, many times after being infected the problem becomes chronic and they become permanent carriers of the virus.
He added that there was much need to organize a countrywide education campaign among health workers, patients and the community, especially in the rural areas.
Anupam Sibal group medical director and senior gasteroenterologist at Apollo, who specialises in paediatric Hepatitis, said immunisation against the disease is an effective prevention method.
Under the Universal Immunization Programme (UIP), the government provides Hepatitis B vaccine and the operational cost of vaccination to states and union territories for preventing Hepatitis B infection.
Since April 2005, the government has also introduced auto-disabled (AD) syringes for all vaccinations under UIP in all states. AD syringes are single use, self-locking syringes that cannot be used more than once.
This prevents misuse and contamination and cross- infection through repeated use of unsterile injection or equipment. Routine screening of blood units for Hepatitis B and C has been made mandatory for all blood banks to detect and discard contaminated blood units, a senior health ministry official said.
Hepatitis viruses are estimated to be among the top 10 causes of death in India. According to the World Health Organization, 240 million people globally are chronically infected with Hepatitis B and around 150 million are chronically infected with Hepatitis C.
Approximately 500 million people worldwide are living with either hepatitis B or hepatitis C. This means 1 in 12 people suffer from this deadly disease.
As for Hepatitis C, one out of every 100 in India may be chronically infected by the virus and most among these 12 million people do not know they are infected.
According to government figures, prevalence of Hepatitis C has been observed to be relatively higher in Punjab, Andhra Pradesh, Puducherry, Arunachal Pradesh and Mizoram.
Interestingly, several studies conducted in these states have highlighted different risk factors which are believed to have led to the relatively higher prevalence of the condition.
“Hepatitis C usually affects people in the age group of 20 to 60 years while Hepatitis B is most common in the age groups 10 to 60 years,” Kaushal Madan, senior consultant Hepatologist and Gastroenterologist, Medanta – The Medicity Hospital, Gurgaon said.
Source: morungexpress.com

RSUD Lubuk Basung Kabupaten Agam
LUBUK BASUNG, AGAM, SO — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Sumatera Barat berupaya meningkatkan pelayanan terhadap pasien dan memastikan ketersedian obat jelang lebaran Idul Fitri..
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Bahkrizal kepada wartawan, Sabtu (28/7), mengatakan, RSUD Lubuk Basung terus meningkatkan kualitas layanan selama Ramadhan dan saat Lebaran.
“Ini merupakan target pihak rumah sakit agar pasien tidak kecewa,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak dua bulan menjadi Direktur RSUD Lubuk Basung, ia sudah merumuskan dan mendudukan konsep pelayanan service exelent.
“Kita terus memantau dan mengontrol realisasi jalannya konsep pelayanan rumah sakit yang baik, sehingga tidak ada keluhan dari masyarakat,” jelasnya.
Jadi untuk merubah layanan yang dulu belum optimal, menjadi pelayanan lebih baik tentu tidak mudah. Hal ini akan menjadi pekerjaan cukup berat yang harus diselesaikan
Ia berjanji akan meningkatkan pelayanan pasien yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Basung
Lebih lanjut dia menambahkan, untuk persediaan obat maupun darah di rumah sakit diperkirakan mencukupi. Saat ini ada sekitar belasan kantong darah dan 200 orang pendonor aktif yang bersedia setiap dibutuhkan.
“Stok darah kita memang tidak terlalu banyak namun mencukupi. Jika stok darah teralu banyak juga tidak terlalu bagus karena umur elitrosit darah hanya 120 hari,” imbuhnya
Diharapkan, semoga upaya peningkatan kualitas rumah sakit bisa berjalan seperti apa yang di harapakan.
LUBUK BASUNG, AGAM, SO — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Sumatera Barat berupaya meningkatkan pelayanan terhadap pasien dan memastikan ketersedian obat jelang lebaran Idul Fitri..
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lubuk Basung, Bahkrizal kepada wartawan, Sabtu (28/7), mengatakan, RSUD Lubuk Basung terus meningkatkan kualitas layanan selama Ramadhan dan saat Lebaran.
“Ini merupakan target pihak rumah sakit agar pasien tidak kecewa,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak dua bulan menjadi Direktur RSUD Lubuk Basung, ia sudah merumuskan dan mendudukan konsep pelayanan service exelent.
“Kita terus memantau dan mengontrol realisasi jalannya konsep pelayanan rumah sakit yang baik, sehingga tidak ada keluhan dari masyarakat,” jelasnya.
Jadi untuk merubah layanan yang dulu belum optimal, menjadi pelayanan lebih baik tentu tidak mudah. Hal ini akan menjadi pekerjaan cukup berat yang harus diselesaikan
Ia berjanji akan meningkatkan pelayanan pasien yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah Lubuk Basung
Lebih lanjut dia menambahkan, untuk persediaan obat maupun darah di rumah sakit diperkirakan mencukupi. Saat ini ada sekitar belasan kantong darah dan 200 orang pendonor aktif yang bersedia setiap dibutuhkan.
“Stok darah kita memang tidak terlalu banyak namun mencukupi. Jika stok darah teralu banyak juga tidak terlalu bagus karena umur elitrosit darah hanya 120 hari,” imbuhnya
Diharapkan, semoga upaya peningkatan kualitas rumah sakit bisa berjalan seperti apa yang di harapakan. – See more at: http://www.sumbaronline.com/berita-16210-rsud-lubuk-basung-terus-tingkatkan-kualitas-layanan.html#sthash.Ipic90DO.dpuf

Puskesmas Tebet
BERITAJAKARTA.COM — 28-07-2013 12:57
Warga Jakarta tidak perlu khawatir akan pelayanan kesehatan selama Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah nanti. Sebab, Pemerintah Provinsi (Pemprov) memastikan, pelayanan kesehatan di ibu kota selama Lebaran tetap berjalan seperti biasa. Selain itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menyiapkan sebanyak 53 posko kesehatan untuk membantu pelayanan kesehatan selama arus mudik dan arus balik Lebaran.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati mengatakan, meski Pegawai Negeri Sipil (PNS) di beberapa instansi lainnya libur saat Idul Fitri, namun hal itu tidak berlaku bagi pegawai kesehatan. Pelayanan kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit akan tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, untuk pelayanan kesehatan di puskesmas kelurahan akan libur dua hari yakni pada 8-9 Agustus 2013.
“Pelayanan kesehatan di puskesmas kecamatan maupun RSUD di Jakarta akan tetap buka 24 jam. Tapi untuk puskesmas kelurahan libur dua hari yakni tanggal 8-9 Agustus pas hari Lebarannya,” ujar Dien, Ahad (28/7).
Dikatakan Dien, untuk tenaga medis yang berjaga, disesuaikan dengan keadaan. Namun, ada pengaturan, untuk tenaga medis muslim dan non muslim. Untuk yang muslim diberi kelonggaran saat Idul Fitri nanti. Begitupun dengan non muslim yang akan diberi kelonggaran saat merayakan hari besar keagamaanya. “Yang muslim akan diatur jam masuknya, namun lebih banyak non muslim yang masuk saat hari Lebaran. Karena kita juga memberikan kesempatan untuk merayakan Idul Fitri,” ucapnya.
Selain itu, kata Dien, pelayanan kesehatan juga ditunjang dengan adanya rumah sakit milik pemerintah pusat dan swasta. Sebagian besar rumah sakit tetap buka dan melayani masyarakat. “Untuk rumah sakit swasta dan yang milik pemerintah sebagian juga akan tetap buka,” katanya.
Jumlah puskesmas di Jakarta saat ini sudah sangat memadai, yakni 295 puskesmas dan 44 puskesmas kecamatan. Bahkan untuk puskesmas kecamatan sudah beroperasi selama 24 jam. Selain itu, ada 7 RSUD yang juga siap melayani warga Jakarta. “Untuk RSUD dan poliklinik saat tanggal merah libur. Tetapi, untuk IGD akan tetap buka melayani yang membutuhkan,” ungkapnya.
Sumber: beritajakarta.com

Joann McGrath, lead breast care nurse specialist, Emily Heard, health campaigns officer Valerie Clarke, breast care nurse specialist at the Norfolk and Norwich University Hospital
A new information booklet was launched yesterday by officials at the Norfolk and Norwich University Hospital as a result of a partnership with charity Breakthrough Breast Cancer. A new programme dedicated to improving services follows a survey of patients who have used the trust’s breast cancer service – from diagnosis through to final treatment – over the last six to 12 months.
Officials from the NNUH said the results of the survey showed a number of areas where the breast cancer service was good, but also identified areas where further improvements could be made.
Patient feedback led to a new information booklet for patients who have been diagnosed with breast cancer, detailing the hospital trust’s commitment to the pledge, and setting out exactly what patients can expect from their breast cancer treatment.
Through the initiative, Breakthrough Breast Cancer, which is working towards a future free from the fear of breast cancer, supports individual hospitals to develop their very own pledges tailored to the needs of local patients.
Joanne McGrath, NNUH lead breast care nurse specialist, said: “We will constantly strive to improve the breast service, ensuring that we offer optimal patient-centred care. We pride ourselves on the compassionate attitude of our staff and providing the best possible care of our patients is always our priority.”
Emily Heard, from Breakthrough Breast Cancer, added: “It’s the little things like bringing a friend to an appointment that can make a huge difference to breast cancer patients. The service pledge helps patients to speak up about what matters most to them about their local service and helps the hospital to improve these things.”
Gay Kencroft, who was diagnosed with breast cancer in November, said: “The staff who’ve dealt with me have all been excellent, very caring and professional. I hope that with the NNUH signing this pledge it will ensure that all staff who have contact with patients meet these high standards at all times.”
Source: www.edp24.co.uk

Royal Darwin Hospital
Northern Territory Health Minister Robyn Lambley says she has been assured that “double-bunking” in the emergency department at Royal Darwin Hospital (RDH) is not affecting patient care.
Figures released yesterday showed waiting times in emergency were getting longer and the hospital was not meeting key performance benchmarks.
Mrs Lambley says that is partly due to increased demand.
She says that she is aware that two patients are occasionally placed in each treatment cubicle.
“It’s a really bad situation but I have to say that I have been absolutely assured that care is not compromised,” she said.
A $22 million dollar upgrade at RDH begins next month.
Mrs Lambley says the improvements will include more beds in the emergency department and two more operating theatres.
“This is well overdue,” she said.
“Work will start in August, at the beginning off August, and it will go for approximately 18 months.”
The Australian Medical Association NT says a lack of beds, as well as strain from the number of asylum seekers needing care while being held in immigration detention, are two of the main reasons emergency waiting times are so high.
Spokesman Dr Peter Beaumont says there needs to be long-term investment in Territory hospitals.
“The main problem that can be addressed in the long term is more inpatient beds,” he said.
“It’s so-called ‘bed blockage’, when the emergency department is unable to discharge people when they need to be admitted to [other areas of the] hospital.
Mrs Lambley says nine extra beds will be placed in the emergency department in the upgrade project.
“An extra nine beds will substantially alleviate the pressure on the emergency department,” she said.
“It may not be the full answer; I mean, health is a bottomless pit.”
Mrs Lambley says the Territory Government is trying to get a commitment of more money from the Federal Government or the Coalition for a planned hospital at Palmerston.
She says the Government is still committed to building a hospital at Palmerston.
“We will be honouring our commitment of $40 million from the NT Government, the Feds have put their $70 million on the table, and we’re hoping to get a bigger [federal] commitment,” she said.
Source: au.news.yahoo.com

RSUD Teluk Kuantan.google
TELUK KUANTAN – Fraksi PPP DPRD Kuansing tampaknya geram dengan berlarut-larutnya penuntasan rehab sejumlah sarana dan prasarana di RSUD Teluk Kuantan seperti gedung rawat inap.
Hal tersebut disampaikan juru bicara Fraksi PPP, Naswan saat menyampaikan pendapat fraksi mereka terhadap laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kuansing 2012, Senin ( 22/7 ) yang lalu di gedung DPRD Kuansing.
Menurut Naswan, piminan RSUD seharusnya memprioritaskan kegiatan rehabilitasi bangunan RSUD tersebut. ” Kalau tidak memungkinkan lagi silahkan pimpinan RSUD untuk memberikan kesempatan kepada yang lain untuk memimpin RSUD, karena Kami yakin rekan-rekan yang lain masih ada yang mampu untuk menyelesaikan permasalahan pada RSUD tersebut,”ujar Naswan.
Masalahnya ujar Naswan, anggaran yang telah dialokasikan untuk kegiatan pembangunan terutama pada RSUD terjadi permasalahan. Rehab RSUD yang telah dimulai tahun anggaran 2011 yang lalu masih menyisahkan kesengsaraan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
” Karena RSUD yang seharusnya lebih bisa menerima lebih banyak pasien rawat inap, kenyataan tidak dapat terlayani akibat belum rampungnya rehab tersebut,”pungkas Naswan.
Sumber: kuansingterkini.com

RSUD Banyu Asih Purwakarta.Google
(PURWAKARTA)-Para Pasien cuci darah di Purwakarta boleh bernapas lega setelah rumahsakit daerah Bayu Asih mengefektifkan pelayanan cuci darah (Haemodialisa-red) sejak 4 bulan terakhir ini. Yang lebih menggembirakan dari pelayanan ini, si Pasien tidak dibebankan biaya sepeserpun alias pelayanan gratis. Ini merupakan salahsatu program pemkab dalam melayani kesehatan warganya.

Ketua Komisi D DPRD Manado, dr. Richard Sualang
MANADO, OKE – Komisi D DPRD Manado melalui Ketua Komisi Richard Sualang menyoroti program pembangunan RSUD dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Kota (Pemkot) Manado.
Dikatakannya, program tersebut adalah program paling penting yang harusnya direalisasikan. Pasalnya, hal ini menyangkut layanan kesehatan bagi masyarakat.
“Artinya, kami berpatokan pada rencana program yang akan dijalankan pemerintah. Lagipula, hal ini sudah digaung-gaungkan oleh pemerintah kota bahwa kita akan membangun RSUD,” kata Sualang.
Dijelaskannya, pentingnya pembangunan ini, bisa meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat secara lebih efektif. Pasalnya, dengan jumlah masyarakat yang terus bertambah, jumlah rumah sakit pun harusnya bertambah. Mengingat, kapasitas daya tampung rumah sakit kerap menjadi kendala. Layanan kesehatan bagi masyarakat secara intensif, terhalang.
“Kondisi kita sekarang, menuntut demikian,” ucap Ketua DPC PDIP ini.
Meski kondisi ini tergolong ‘urgent’ (mendesak-red), namun kenyataan berbicara lain. Pasalnya, dalam rapat kerja komisi yang dilakukan komisi D dengan Dinas Kesehatan, terungkap bahwa program ini belum berjalan.
“Ketika penyerapan anggaran, terlihat di sini, di tahun 2012 tidak dilakukan apa-apa. Anggarannya tidak digunakan. Sayang sekali,” beber Sualang.
Dilanjutkannya, di tahun 2012 lalu, salah satu bentuk merealisasikan program ini yakni melalui pengajuan proposal.
“Yang jadi tanda tanya, ada proposal tapi pembiayaan perencanaan ini tidak terpakai, tidak terserap,” tuturnya.
Memang, lanjutnya, pengajuan proposal tidaklah menjadi soal. Sebab tergantung dari strategi pemerintah dalam menyerap anggaran. Namun, sangat disayangkan bila strategi ini tidak disertai realisasi nyata.
Lagipula, realisasi program ini, memiliki koherensi (hubungan-red) dengan program pemerintah lainnya.
“Layanan kesehatan gratis atau Universal Coverage (UC) dari pemerintah kota. bisa terwujud dengan lebih baik lagi,” tandas putera tercinta Freddy Sualang ini.
Sumber: okemanado.com

Direktur RS Puri Husada Tembilahan, dr.H.Irianto, SpPD
TEMBILAHAN (RP) – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Puri Husada (PH) Tembilahan akan bangun apotek instalasi farmasi.
Keberadaan Apotek Instalasi Farmasi RSUD tersebut memang sangat diperlukan untuk memaksimalkan pelayanan terutama memberikan kemudahan di bidang farmasi kepada masyarakat.
‘’Dengan status BLUD yang telah kita sandang pada awal Januari lalu tentu kita akan berbenah diri menjadi lebih baik,’’ kata Direkturt RSUD PH Tembilahan, Irianto belum lama ini di Tembilahan.
Langkah positif yang akan diambil RSUD merupakan tujuan dari lahirnya BLUD. Di mana salah satu tujuannya selain melakukan pengelolaan keuangan, RSUD juga wajib meningkatkan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Negeri Seribu Parit yang memerlukannya.
‘’Secara otomatis harapan kita, masyarakat akan dapat lebih mudah dalam mendapatkan pelayanan,’’ tuturnya.
Selama ini RSUD hanya memiliki dua apotek, yang salah satunaya dinamakan apotek pelengkap. Terkadang, ketersediaan obat di sana juga terbatas sehingga banyak keluarga pasien yang mencari obat ke luar apotek RSUD. Dengan demikian setelah berdirinya apotek tersebut hal itu tidak akan terjadi lagi.
Keterbatasan pelayanan selama ini menjadi sebuah pembelajaran bagi pihak RSUD sehingga tidak ada cara lain selain memperbaiki bentuk pelayanan kesehatan. Jika pelayanan meningkat maka sudah bisa dipastikan pendapatan RSUD juga akan meningkat.
Masih perlu adanya sebuah apotek yang benar-benar lengkap dari ketersediaan beragam obat, baik itu obat generik maupun obat-obat paten. ‘’Kita yakin jika semua ini terwujud berbagai bentuk keluhan yang mungkin selama ini sering terdengar ke depan tidak akan terjadi lagi,’’ imbuhnya.
Sumber: riaupos.co