| Tujuan | |
| Pengguna |
|
| Isi |
|
| References |
|
Wow, Ternyata Penderita AIDS Tertinggi Di Jakarta
Jakarta: DKI Jakarta menjadi provinsi dengan jumlah kasus penularan HIV/AIDS tertinggi, hal tersebut terungkap pada Seksi Surveilans Epidemiologi HIV/AIDS Dinas Kesehatan DKI Jakarta, hal tersebut terungkap pada saat jumpa pers peringatan Hari/AIDS Sedunia yang digelar di Sarinah, Jakarta Pusat, Jumat (07/12).
Data terakhir Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyuluhan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per Juni 2012, secara kumulatif jumlah kasus AIDS berdasarkan provinsi, DKI Jakarta menempati posisi pertama, disusul Papua, dan Jawa Timur. Sementara berdasarkan prevalens kasus AIDS per 100.000 penduduk di tingkat provinsi, DKI Jakarta menempati posisi ketiga setelah Papua (pertama) dan Bali (kedua).
Sedangkan untuk Angka kumulatif orang dengan AIDS di DKI sejak virus ini ditemukan hingga September 2012 tercatat 6.299 jiwa.
Dan jumlah kasus AIDS baru di DKI Jakarta sejak Januari 2012 hingga 21 Septermber 2012 adalah 649 kasus dengan angka kematian mencapai 168 jiwa.
Namun demikian, angka tersebut adalah angka kumulatif yang berhasil terdata dari mereka yang memiliki kesadaran untuk melakukan konseling dan tes HIV sukarela atau voluntary counselling and HIV testing (VCT) sehingga diketahui status HIV-nya.
“Dengan kata lain, fenomena gunung es masih terlihat dengan masih banyaknya kasus HIV dan Aids yang belum terungkap. Inilah tantangan semua pihak, khususnya yang aktif menanggulangi HIV Aids di Jakarta,” kata Dicky Alsadik, Penanggungjawab Program HIV/ AIDS Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Selain itu dalam rangka merayakan hari Aids Sedunia yang jatuh 1 Deseber kemarin, KPAP DKI akan menggelar berbagai macam kegiatan berupa bakti sosial yaitu pemeriksaan kekebalan tubuh (CD4).
Acara tersebut akan berlangsung disilang monas.
Sumber: indonesiarayanews.com
Pemerintah berupaya tekan angka kematian ibu
Medan – Pemerintah terus berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi serta gizi buruk mengingat hingga saat ini ketiga hal tersebut masih cukup tinggi terjadi terutama di daerah-daerah.
“Pemerintah memproyeksikan tiga program prioritas pada tahun 2015, yakni menekan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan gizi buruk,” kata Direktur Jenderal Bina Gizi Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI, Slamet Riyadi Yuwono di Medan, Kamis.
Sebelumnya telah ada kesepakatan global, yakni tahun 2015 Indonesia harus bisa menekan angka gizi buruk dari 17,9 persen menjadi sekitar 15 persen. Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2007 dari 34/1000 menjadi 23/1000.
“Sedangkan Angka Kematian Ibu (AKI) dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup tahun 2015. Maka perlu upaya ekstra keras, untuk mencapai itu,” katanya.
Penyebab banyak ibu meninggal saat melahirkan, kata dia, terjadi akibat perdarahan, infeksi, eklamsi (tekanan darah meningkat), yang lebih disebabkan karena saat hamil tidak pernah memeriksakan kehamilannya.
“Kenapa tidak memeriksakan kehamilannya, karena tidak punya uang,” ujar Slamet.
Maka, lanjut dia, negara menjamin ibu hamil, baik miskin ataupun kaya harus mau berobat di tempat pelayanan kesehatan dan diatur tenaga kesehatan lalu diatur untuk KB-nya setelah melahirkan.
“Karena umumnya kematian melahirkan terjadi pada kehamilan ketiga dan empat. Sekarang tidak ada batasan kehamilan berapapun ditanggung oleh negara ketika tidak punya uang sepanjang dia menggunakan KB. Kita lakukan roadshow ini untuk melihat pelaksanaan jampersal dan menyerap saran-saran yang ada,” katanya.
Ia mengatakan melalui program Jampersal (jaminan persalinan) menjamin ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan sebanyak 4 kali yaitu 3 bulan kehamilan pertama sebanyak 1 kali, 3 bulan kehamilan kedua sebanyak 1 kali dan 3 bulan kehamilan terakhir sebanyak dua kali pada waktu mau melahirkan.
“Bila ada pengutipan biaya beritahu infonya dan data yang konkrit. Ada sanksinya,” katanya.
Sumber: antaranews.com
Lipstik Bisa Sebabkan Gangguan Mental
Dibalik kegunaanya untuk mempercantik penampilan, ternyata lipstik mengandung bahaya. Dari hasil penelitian terhadap 22 merk lipstik disimpulkan bahwa 55% merk lipstik yang ada di pasaran ternyata berbahaya bagi kesehatan.
Seperti dikutip Daily Mail, laboratorium Underwriters di Amerika Serikat mengungkapkan, 12 produk lipstik yang diujicobakan terbukti mengandung timbal yang merupakan senyawa beracun.
Meskipun timbal yang digunakan dalam kadar rendah, namun zat kimia ini tetap meningkatkan risiko kesehatan serius, bahkan mempengerahui mental, ujar Direktur medis dari Boston Lead Poisoning Prevention Program, Sean Palfrey.
“Apa yang kami ketahui adalah meskipun timbal digunakan dalam kadar yang sangat rendah, tetap dapat membahayakan daya intelejensia seseorang, perilaku, bahkan kemampuan berpikir seseorang,” kata Palfrey.
Sementara itu, ketua penelitian dari Personal Care Products Council, Halyna Breslawec mengatakan, sebaiknya hidari lipstik bagi seseorang yang mencemaskan kesehatan publik.
Hingga saat ini, di Amerika sendiri belum menerapkan standar ambang batas lipstik. Badan Administrasi Makanan dan Obat AS masih menyerahkan kepada produsen untuk menentukan lewat uji keamanan.
Senyawa beracun timbal memang tidak secara langsung dimasukkan ke dalam lipstik, namun banyak prudk pewarna menggunkan senayaw mineral yang ternyata mengandung timbal. Secara alami, timbal dapat ditemukan terkandung dalam tanah, air dan udara.
Sumber: indonesiarayanews.com
LIPUTAN KHUSUS DARI BANGKOK
Hari Kedua:
Sesi Pleno pertama pada hari II membahas mengenai analisis antar Negara.Ada 4 pembicara di sesi ini. Pembicara pertama adalah Prof Pisake Lumbiganon, Dean Khon Kaen Medical School, yang menjabat sebagai Co-Coordinator Asia-Pacific Network on Health Professional Education Reforms (ANHER).
Prof. Pisake membahas mengenai Sejarah Medical Education di berbagai negara dan kebutuhan untuk melakukan reformasi pada awal abad ke 21 ini. Sebagai co-chair dari sebuah Jaringan ANHER, pembicara mengajak para peserta untuk memahami tantangan pendidikan kedokteran, antara lain:
(1) Perubahan pola penyakit yang tidak hannya communicable disease tapi juga NCD;
(2) Tantangan social demografi, perubahan struktur social ekonomi;
(3) Health System Challenge, antara lain kerjasama tim yang buruk, kepemimpinan yang lemah, kecenderungan konflik antar profesi, pengembangan health system yang semakin kompleks dan mahal, kekurangan SDM, Universal Coverage dan Health Equity;
(4) Medical Education Challenges, misal adanya lulusan yang kurang bermutu. Oleh karena itu dirasakan perlu Reform Global untuk pendidikan kedokteran dan kesehatan. Reform ini diluncurkan di Harvard pada tahun 2010. Pelaksanaan di Asia: ANHER dibahas di AAAH meeting in Bali 2010, (Catatan: Indonesia kemudian tidak ikut). Bulan April 2001, pertemuan di Hanoi dimana China and India bergabung, tapi Indonesia belum. Kelima negara kemudian bergabung dan melakukan penelitian bersama mengenai reformasi dalam pendidikan kesehatan dan kedokteran.
Pembicara 2 adalah Prof. Barbara McPake, Director of the Institute for International Health and Development Queen Margaret University, Edinburg.
The Challenges for Human Resources for of Reducing Health Financing. Presentasi ini membahas implikasi penghapusan user-fee untuk pelayanan kesehatan ibu dan anak. Menjadi pertanyaan besar: Apa bukti penggratisan ini terhadap system pelayanan kesehatan? Berbasis pada desk-top research dan dua studi lapangan di Sierra Leone dan Zimbabwe ditemukan berbagai bukti bahwa penggratisan ini menunjukkan adanya impact positif dalam penggunaan pelayanan kesehatan. Masyarakat miskin lebih mendapat manfaat untuk dibanding yang kaya. Akan tetapi masalah di sisi supply memberikan negative impact. Contohnya: peningkatan beban kerja, declining moral. Di beberapa negara ada dana kompensasi berupa incentive untuk tenaga kesehatan seperti yang dilakukan di Nepal dan Niger. Lebih jauh ditemukan bahwa ada kemungkinan memperburuk ketimpangan rural dan urban . Dalam kesimpulan memang susah mengukur impact perubahan kebijakan pembiayaan (penghapusan user-fee/penggratisan) terhadap system kesehatan dan SDM di dalamnya. Banyak hal yang masih harus dibahas.
Pembicara 3. Ms Taina Nakari, Global Health Workforce Alliance (GHWA), Geneva membahas mengenai Jaringan GHWA dan jaringan local. GHWA di Geneve mendukung pengembangan jaringan-jaringan regional.Sebagai gambaran adalah AAAH di Afrika dan di Asia Pacific. Ada beberapa kegiatan, misal: HRH Observatories di Latin America, Africa, Easter Mediteranean, dan berbagai tempat lainnya. Ms Nakari memaparkan mengenai keuntungan menjadi anggota Jaringan HRH di region. Ada banyak kegiatan termasuk: Kepemimpinan, migrasi, penempatan di daerah terpencil, MDGs dan adanya Konsultasi Regional.
Pembicara 4. Prof Tim Evans, Dean of BRAC University’s James P Grant School of Public Health lebih berperan sebagai pembahas. Dalam kesempatan tersebut Prof Tim Evans mengingatkan mengenai manfaat kegiatan kolaborasi. Kembali k eth 2001.Mengapa harus ada jaringan?Jawabannya untuk meningkatken efisiensi.Ada public goods aspect di dalam kegiatan ini. DI dalam proses jaringan ini ada satu hal: penguatan kapasitas. Misalnya dalam konteks medical education yang merupakan hal sangat penting. Di Africa terlihat ada efisiensi dan penajaman dalam peningkatan kemampuan kapasitas. Peningkatan ini berada dalam konteks: individu, institusi, dan informasi.
Catatan dari Prof Laksono untuk Indonesia (tidak dibahas di Sidang, namun untuk dibawa pulang).
Dalam sesi ini ada beberapa catatan untuk Indonesia, yaitu:
1. Isu medical education reform
2. Dampak perubahan system pembiayaan untuk SDM
1. Isu medical education reform.
Indonesia memang tidak menjadi anggota dari ANHER, walaupun pada tahun 2010 diselenggarkan di Bali. Akan tetapi isu reformasi pendidikan kedokteran ini dikembangkan dalam penyusunan RUU Pendidikan Kedokteran. Dalam RUU Pendidikan Kedokteran (yang masih tertahan di DPR karena pemerintah/cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan masih belum ingin mengesahkan), dilakukan berbagai usaha untuk mereformasi system pendidikan kedokteran. Referensi yang digunakan dalam naskah akademik RUU Pendidikan Kedokteran sama dengan apa yang dibahas di ANHER. Dalam konteks pengembangan reformasi medical education ini, ada baiknya RUU Pendidikan Kedokteran ditelaah kembali.
2. Dampak perubahan system pembiayaan untuk SDM.
Apa yang dibahas oleh Barbara McPake terjadi di Indonesia dalam kasus Jampersal dan Jaminan Kesehatan Aceh. Perubahan system pembiayaan dengan cara membebaskan biaya ternyata berdampak langsung pada sumber daya manusia. Terjadi penurunan pendapatan. Respon langsung SDM sangat menarik. Dalam kasus Jampersal di tahun 2011 terjadi peningkatan rujukan ke RS. Sementara itu di Aceh, para spesialis di daerah sulit menjadi tidak nyaman karena berkurang pendapatannya. Terjadi migrasi ke urban, atau tidak full bekerja di daerah sulit. Isu ini perlu diteliti lebih lanjut.
Sesi paralel di Hari II yang menarik adalah masalah kebijakan agar para tenaga kesehatan tetap berada di daerah terpencil (isu retensi). Ada 3 pembicara yang berasal dari China, Vietnam, dan Thailand.
Pembicara 1; Dr. Xu Ji, Pimpinan Center for Health Human Resources Development , China Ministry of Health. Bagaimana kebijakan untuk retensi di daerah sulit di China?
Di tahun 2009 ada reformasi kesehatan. Ada dana sebenar 135 biliun dollar untuk reformasi pada tahun 2009 sampai dengan 2011. Salahsatu hal penting adalah membentuk jaringan pelayanan kesehatan dasar di China. Situasi yang terjadi di HRH China adalah sebagai berikut. Pelayanan kesehatan primer diperbaiki pada tahun 2011. Ada 2200 RS kabupaten dan 33 ribu puskesmas yang direnovasi. Dibutuhkan banyak SDM yang berkualifikasi tinggi di daerah pedalaman China.
Situasi HRH: Jumlah: 8.21 juta HRH, 5.88 juta health professionals, 1.09 juta dokter desa. Dokter dibanding perawat= 1:18. Lebih banyak lulusan yang tinggi di kota di banding di daerah, 3-4 kali lebih tinggi. Jabatan masih banyak yang rendah. Ada berbagai kebijakan Retensi tenaga kesehatan di China:
- Kebijakan Pertama: berupa pemberian bimbingan teknis dari pelayanan kesehatan diperkotaan ke desa. Yang diuntungkan adalah RS kabupaten. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan mutu, dan kemampuan manajemen.
- Kebijakan kedua: adalah rekrutmen di daerah untuk di tempatkan di pedesaan. Lembaga yang diuntungkan adalah puskesmas di rural.
- Kebijakan ketiga: adalah peningkatan kapasitas untuk pelayanan kesehatan di daerah pedesaan.
- Kebijakan keempat: adalah mengkontrak mahasiswa kedokteran dengan berbagai paket manfaat.
Pertanyaan mendasar adalah: Apakah kebijakan tersebut berhasil? Masih belum banyak bukti yang dapat dipakai.
Pembicara kedua adalah Khuong Anh Tuan dengan judul Policy Mapping and Analysis on Rural Retention in Vietnam. Tuan adalah Head, Department of Health Service Management Research.Health Strategy and policy Institute Vietnam.Pembicara menyatakan bahwa cakupan SDM di Vietnam sudah mulai membaik. Tapi tetap banyak masalah seperti kekurangan jumlah, mutu yang rendah di lapangan, kurang ada dana di daerah sulit, dan adanya brain drain dari rural ke urban.
Tujuan penyajian:
1. Membahas secara kronologis seluruh kebijakan pemerintah yang meningkatkan retensi tenaga kesehatan di daerah rural.
2. Melakukan analisis terhadap kebijakan publik untuk retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil; dan
3. Memberikan usulan opsi kebijakan.
Kesimpulan yang didapat dari analisis ini sebagai berikut.
Pertama: Kebijakan untuk retensi tenaga kesehatan di daerah rural Vietnam belum membahas isu-isu penting seperti kurikulum yang merefleksikan isu kesehatan rural, compulsory service, support untuk pelayanan jauh, kondisi kehidupan yang lebih baik, jaringan professional, dan penghargaan publik.
Kedua, ada gap besar antara isi dokumen kebijakan nasional dengan peraturan untuk pelaksanaan kebijakan. Dalam pelaksanaannya perlu ada kebijakan lain.
Pembicara terakhir dari sesi ini mengenai Analisis Kebijakan Retensi di Thailand yang disampaikan oleh Passaroen Wanhaijiraboon.
Di Thailand ada sekitar 700 district hospitals ( 100 TT), 9 % berada di daerah sangat terpencil, 16% terpencil. Kebijakan yang dijalankan adalah mengatur supply tenaga kesehatan, mengembangkan distribusi dan penggunaan yang baik, serta memberikan insentif berupa non-keuangan dan keuangan.
Kebijakan tersebut mencoba mengatur dinamika perpindahan dokter dari rural ke urban.Sejak tahun 1972 ada wajib kerja.Kemudian pada tahun 1980 ada kebijakan investasi di RS Swasta.Jumlah RS Swasta meningkat menjadi 25% (dari 10%).Ada brain drain dari RS rural ke RS swasta yang berada di kota-kota besar.Jumlah dokter tidak tambah banyak.Di mid 1997 ada krisis ekonomi.Sebagian RS Swasta turun kinerjanya.Ada pengembangan balik, dimana dokter migrasi dari swasta ke pemerintah.Namun sejak tahun 2002 terjadi economic recovery dan kembali ada migrasi dari rural dan pemerintah ke swasta.
Untuk meredam dinamika ini, kebijakan yang dilakukan adalah menambah jumlah mahasiswa kedokteran dan menambah jumlah rural dokter karena selama ini semakin banyak dokter spesialis, dan GP menurun.Kebijkan insentif terus dikembangkan. Akan tetapi kebijakan insentif keuangan belum memberikan hasil maksimal. Dalam menjalankan kebijakan retensi dokter ini prinsipnya adalah: Plan Long-Act Short-Update Open.
Kesimpulan dari diskusi ini:
Kebijakan retensi dokter merupakan hal yang penting dalam Human Resources for Health.Berbagai kebijakan telah dilakukan di tiga negara. Hasil memang belum menggembirakan, akan tetapi usaha sudah mulai dilakukan. Pelajaran penting dari Thailand adalan perubahan system pembiayaan akan merubah dinamika dan migrasi dari dari urban ke rural dan sebaliknya. Insentif keuangan memang penting, tapi bukan satu-satunya insentif seperti yang dilakukan di Vietnam dan Thailand.Promosi jabatan juga menjadi isu penting.
Catatan dari Prof Laksono untuk Indonesia (tidak dibahas di Sidang, namun untuk dibawa pulang).
Dalam sesi ini ada beberapa catatan untuk Indonesia, yaitu:
1. Bagaimana kebijakan retensi ini di Indonesia?
2. Apakah perlu ada suatu kebijakan baru?
1. Kebijakan untuk retensi tenaga kesehatan di daerah terpencil.
Di Indonesia, sampai saat ini belum ada kebijakan yang jelas mengenai retensi tenaga dokter dan tenaga kesehatan lainnya.Memang ada kebijakan dokter atau bidan kontrak, insentif daerah terpencil atau pengembangan daerah tertinggal. Akan tetapi belum jelas, juga dalam hubungannya dengan proses produksi.
2. Apakah perlu ada kebijakan baru?
Ya…dan hal ini menjadi perhatian Dr. Untung Suseno, MKes, Kepala Badan PPSDM Kemenkes yang baru dilantik, dan hadir aktif mengikuti kegiatan di Bangkok ini. Dalam konteks ini Universitas Gadjah Mada akan menyelenggarakan pertemuan usulan Kebijakan SDM Kesehatan Di daerah terpencil di bulan Maret 2013. Selama 5 tahun terakhir ini FK UGM melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung pengembangan SDM di daerah terpencil, antara lain:
a. Memberikan affirmative selection untuk calon mahasiswa baru di daerah terpencil. Dengan memberikan tempat yang hanya diperebutkan oleh lulusan SMA setempat, ada jaminan lulusan SMA dapat masuk ke FK UGM.
b. Mengembangkan Sister Hospital yang berusaha untuk mendidik residen dari daerah terpencil di pedalaman NTT dan sambil menunggu kedatangan kembali, mengisi dengan tenaga kontrak untuk mengurangi kematian ibu dan bayi.
c. Mengembangkan studi persiapan untuk mendukung dokter di daerah terpencil, termasuk pengembangan perhimpunan dokter di daerah sulit.
Pengantar Minggu Ini: 9-15 Desember 2012
Bank Jerman Bantu Pembangunan Lima RSUD di Aceh
Jakarta – Kreditanstalt für Wiederaufbau atau Reconstruction Credit Institute, Bank Pembangunan milik Pemerintah Jerman siap mendukung pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi Aceh.
“Kami mendapat komitmen Jerman dalam pembangunan lima RSUD di sejumlah kabupaten dan kota, di antaranya di Aceh Tamiang, Bireuen, Takengon (Aceh Tengah) dan Meulaboh (Aceh Barat),”kata gubernur Aceh.
Jerman sebelumnya telah membantu membangun kembali Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin di Banda Aceh yang memberikan pertolongan kepada para korban tsunami 2004 lalu. Kerjasama dengan Jerman ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan pelayanan kesehatan.
“Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kesehatan adalah penting, khususnya di desa-desa terpencil, “jelas Zaini.
Pemerintah Aceh juga berkomitmen penduduk Aceh, khususnya masyarakat miskin akan memperoleh layanan kesehatan gratis dan asuransi kesehatan melalui Program Asuransi Kesehatan Aceh.
“Kami juga akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan dengan menyediakan beasiswa dan bantuan keuangan siswa medis terbaik Aceh agar dapat mengejar pendidikan lebih lanjut di universitas dalam dan luar negeri, “kata Gubernur.
Program lainnya, insentif untuk staf medis, perawat dan dokter untuk memacu produktivitas mereka dalam melayani masyarakat.
Sumber: pdpersi.co.id
Cegah Pasien Repot, RSUD Mamuju Ajukan Anggaran Obat Rp 1,6 Miliar
Jakarta – Dibutuhkan sedkitnya Rp1,6 miliar pada 2013 untuk pengadaan obat-obatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. “Dana ini dibutuhkan untuk mengatasi masyarakat yang mengeluhkan kurangnya pasokan obat-obatan di RSUD sehingga kebanyakan terpaksa membeli di apotek,”kata Direktur RSUD Mamuju dr.Titien Hariyati.
Anggaran pengadaan obat-obatan ini telah diajukan untuk dimasukkan dalam rancangan APBD tahun anggaran 2013. Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari pihak legislatif.
“Kami berharap, estimasi alokasi anggaran yang diajukan ini tidak mengalami perubahan,” ungkapnya.
Selain itu kata dia, pihaknya juga mengajukan anggaran pengadaan Bahan Habis Pakai (BHP) dengan kisaran dana sebesar Rp3,3 miliar.”Kadang kala masyarakat menyamakan antara BHP dan obat. Padahal, sangat jauh berbeda karena sifatnya tidak bisa saling menggantikan. Misalnya, cairan infus dan paracetamol, tidak bisa saling menggantikan sehingga harus digunakan keduanya,”ungkapnya.
Titien menyampaikan, usulan anggaran pengadaan obat-obatan ini naik dibandingkan 2012. Tahun lalu, Rp1 miliar dialokasikan untuk pengadaan obat dan BHP. Sedangkan untuk alat-alat kesehatan (alkes), nilai pengajuan anggaran tidak terlampau naik.
“Kita hanya mengajukan untuk alkes skala kecil seperti regulator, nebulizer atau pengencer dahak dan tensi. Alokasi anggarannya sangat kecil sekitar Rp100 juta,”ungkap Titien.
Sumber: pdpersi.co.id
Manajemen Pemasaran
Pengantar rubrik
| Penanggung Jawab |
|
|
| Tujuan
|
|
| Pengguna |
|
| Isi
|
|
| References |
Dyah Dewi.,ST.,MKesLatar belakang keilmuan, S1 mengambil jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNS Solo dan
S2 di Magister Management Rumah Sakit Fak Kedokteran UGM.
Sehari hari menjadi konsultan manajemen fisik rumah sakit di PMPK FK UGM dan Staf Pengajar di MMR FK UGM.
1. Post doctoral position on Global Health (2011 – still in hiring process)
2. Doctoral Program in Public Health, Gadjah Mada University (1999 – 2004). (Cumlaude Predicate).
3. Master in Public Health (Hospital) Management, Gadjah Mada University (1995 – 1998). The best graduate (Cumlaude Predicate).
Medical Faculty of Airlangga University (1988 – 1994). One of the best fives graduates.








