
Sampah rumah sakit kotori Pantai Laehari
Ambon-Puluhan kantong berisi ratusan botol plastik dan kain berdarah yang diduga limbah buangan dari satu rumah sakit mengotori tiga lokasi berbeda di Pantai Desa Laehari, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon, Maluku, pada beberapa hari ini.
“Kantong-kantong itu diduga berasal dari sampah pencucian darah yang dilakukan salah satu rumah sakit di sini,” kata Wenly Thenu, anggota DPRD Kota Ambon dalam rapat dengar pendapat antara Komisi I DPRD dengan sejumlah staf eksekutif setempat, Selasa.
Ia menyatakan khawatir, limbah rumah sakit itu membahayakan kesehatan orang di sekitarnya.
Karenanya, Wenly minta perhatian Pemerintah Kota Ambon untuk melihat dan menegur pembuang sampah tersebut.
“Paling tidak ada teguran, sebab kalau tidak, pembuangan sampah seperti itu akan dilakukan terus,” ujar Wenly yang berdomisili di Desa Hutumury yang bertetangga dengan Desa Leahari.
Sekretaris Kota Ambon Antony Latuheru berjanji pada hari itu juga meninjau lokasi untuk memastikan sampah apa saja yang dibuang di sana.
“Kalau memang sampah itu berasal dari sisa-sisa kotoran pencucian darah seperti yang disampaikan, kita akan melihat lagi sebab RS yang melakukan pencucian darah hanya satu di Ambon,” ujarnya.
Sumber: antaranews.com
RS Nur Hidayah Adakan Operasi Cacat Bawaan Gratis
Jakarta – Rumah Sakit (RS) Nur Hidayah di Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta DIY), akan mengadakan operasi bibir sumbing dan cacat bawaan lahir secara gratis bagi anak-anak kurang mampu pada Maret 2013.
“Ini program kerja sama kami dengan kegiatan corporate social responsibility (CSR) dari PT Tempo Scan Pacific Tbk yang bernama Program Sosial Indonesia Tersenyum. Program ini sudah berjalan sejak 2008 dan tahun ini kami adakan lagi Maret nanti,” kata Direktur RS Nur Hidayah Arrus Ferry.
Sepanjang 2008 hingga 2012 ada 157 pasien penderita cacat bawaan yang telah dioperasi melalui program tersebut. “Respons masyarakat cukup bagus, bukan Cuma dari Bantul yang datang tetapi juga dari seluruh wilayah DIY bahkan Jawa Tengah,” kata Arrus.
Syarat penerima program ini, masyarakat tidak mampu dengan umur maksimal 14 tahun dengan cacat bawaan lahir seperti bibir sumbing, kelebihan jumlah jari, jari dempet, tidak memiliki anus, alat kelamin tidak sempurna, dan lainnya.
“Bagi yang ingin mengikuti operasi gratis bisa langsung mendaftar ke RS atau bisa juga menelepon dulu untuk menjelaskan keluhannya. Selanjutnya kami akan memeriksa pasien apakah layak untuk dioperasi atau tidak,” kata Arrus.
Tak ada batasan jumlah pasien yang ingin mendapatkan layanan operasi gratis. Pihak RS justru berharap bisa mengoperasi penderita cacat bawaan lahir sebanyak-banyaknya. “Agar mereka tidak rendah diri dan bisa tersenyum menatap hidup yang lebih indah,” kata Arrus.
Sumber: pdpersi.co.id
Tak Mampu Beli Obat , Pasien RS Jafar Harun Pulang Paksa
Lasusua, Mengaku tidak mampu menebus harga obat yang diberikan petugas Rumah Sakit Jafar Harun Lasusua, seorang pasien di rumah sakit plat merah tersebut memilih pulang paksa, meskipun masa perawatan yang ditentukan dokter belum selesai.
Sementara ditempat terpisah, anggota DPRD komisi I Kolut, Imanuddin menyangkan jika benar hal tersebut dilakukan oleh pihak RS Jafar Harun.
“Rumah sakit itu pelayanan, artinya pasien dirawat dulu baru pasien mengurus administrasinya jika akan keluar, tentang mahalnya biaya itu memang terkadang ada obat tertentu yang harganya lumayan mahal, tapi petugas yang memberi resep pun harus memberi rinciannya secara detail,” bebernya.
Anggota komisi I lainnya, Tasrim mengungkapkan rumah sakit sudah memiliki aturan biaya ruangan inap tergatung kelasnya dan obat-obatan rumah sakit ada biayanya dari daerah dalam setahun.
“yang salah jika memang terjadi pemaksaan terhadap pasien untuk membeli, yang seharusnya pasien diberikan pengetian karena pada prinsipnya obat yang diberikan dokter tujuannya juga untuk membantu penyembuhan pasien, hanya proses penjelasannya yang harus dilakukan dengan baik, tapi kalau itu benar kita akan minta keterangan dari pihak rumah sakit,” tegas politisi PAN ini.
Sumber: kendarinews.com
Pemkab Berau Berencana Bangun Rumah Sakit Baru
Tanjung Redeb-Pemerintah Kabupaten Berau merencanakan membangun rumah sakit baru sebagai pengganti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai di Jl Pulau Panjang Tanjung Redeb yang tidak mungkin lagi diperluas.
“Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pemkab Berau pada tahun 2013 telah mengalokasikan anggaran perencanaan sekitar Rp5 miliar,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Berau Ir H Taupan Majid di Tanjung Redeh, Selasa.
Rencana pelelangan perencanaan tersebut juga telah ditindaklanjuti melalui unit layanan pengadaan (ULP) untuk segera diumumkan melalui layanan pengadaan secara elektronik (LPSE), katanya.
Dijelaskan Taupan, kalau proses perencanaan dipastikan tidak ada masalah. Perencanaan akan dilakukan sesuai dengan tiga lokasi alternatif yang diwacanakan Pemkab Berau, salah satunya berada di kawasan Ringroad Kelurahan Sei Bedungun Tanjung Redeb, yang akan menjadi akses utama keluar dan masuk Kota Tanjung Redeb.
Setiap perencanaan juga disesuaikan dengan luasan lahan rumah sakit baru yang diperkirakan sekitar 10 hektare.
“Kami masih koordinasikan lagi soal ketetapan lokasi. Kalau perencanaan sudah siap diawal tahun ini,” ungkapnya.
Proses perencanaan ditarget bisa selesai dalam waktu singkat. Sehingga bisa segera ditindaklanjuti dengan pembangunan fisik yang juga diharapkan bisa dikerjakan pada tahun 2013.
“Begitu perencanaan selesai, kita langsung usulkan fisiknya dan kita harapkan bisa segera,” tandasnya.
Mendesaknya pembangunan rumah sakit baru di Berau, diakui Kepala Dinas Kesehatan Berau drg. Totoh Hermanto yang menyebutkan kalau kondisi rumah sakit yang ada saat ini sudah tidak layak.
Pasalnya, kondisi RSUD Abdul Rivai sudah berada di tengah pemukiman masyarakat, yang sulit untuk dikembangkan. Selain itu, aktivitas rumah sakit juga akan berpengaruh dan terpengaruh dari aktivitas masyarakat di sekitarnya.
“Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal, ya memang harus segera direalisasikan pembangunan rumah sakit baru ini,” katanya.
Sumber: kaltim.antaranews.com
Mayat Membusuk karena RS Tidak Punya Freezer Pengawet
SOE – Jenazah Jeni Tahuni (27) yang ditemukan tewas di rumah Dominggus Benu (49) di Mnelalete, Kabupaten TTS, sejak Sabtu (2/2/2013), belum diambil pihak keluarga.
Mayat warga Desa Kalali, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, dibiarkan di kamar mayat tanpa pengawetan, sehingga mengeluarkan bau tak sedap.
Pantauan Pos Kupang (Tribunnews.com Network), Senin (4/2/2013), para pasien dan pengunjung rumah sakit sangat terganggu ketika berada di dalam kompleks RSUD SoE.
Servince Selan dan Albert Nomleni, ketika ditemui di RSUD setempat, mengatakan, mereka dan pasien yang dikunjungi sangat terganggu ketika mencium bau tak sedap di sekitar kamar mayat.
“Kami dengar ada mayat di dalam kamar mayat yang belum diambil keluarga. Kenapa sampai bau hingga mengganggu lingkungan sekitar. Kami tidak tahu kenapa mayat itu sampai membusuk,” ujar Selan.
Direktur RSUD SoE dr Musa Salurante ketika ditemui di kantor Bupati TTS, mengakui ada mayat yang belum diambil pihak keluarga.
“Mayat diletakkan saja di atas meja mayat. Kami tidak punya freezer pengawet mayat. Sudah ada dua kasus yang sama, sehingga akan kami usulkan pengadaan freezer dalam perubahan anggaran 2013 nanti. Mumpung pembahasan ABPD 2013 belum final, apakah pemda besedia menganggarkan dalam tahun ini,” paparnya.
Ketua Komisi D DPRD TTS Yoksan Benu, menanggapi kasus tersebut menuturkan, pemerintah daerah wajib menyediakan freezer untuk pengawetan mayat di RSUD SoE.
Mengingat kondisi mayat Tahuni mulai membusuk, pihak Polres dan RSUD SoE berkoordinasi dengan Pemda TTS menguburkannya, Senin (4/2/2013).
“Pihak Polres sudah berupaya mencari tahu keluarga korban di Desa Kalali, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, namun tidak ditemukan. Bahkan, kepala desa juga tidak mengenal korban. Hari ini (kemarin) atas kerja sama dengan Polres TTS, pemda siap menguburkannya di Pekuburan Umum Nunumeu,” beber Sekretaris Dinas Sosial Welem Wadu.
Sumber: id.berita.yahoo.com
Dokter Terlambat, Pasien RSUD Terlantar
SUKOHARJO – Sejumlah pasien Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sukoharjo terlantar selama berjam-jam dan belum mendapatkan layanan, Senin (4/2/2013). Para pasien penyakit dalam itu mengantri sejak pagi dan baru dilayani sekitar pukul 11.00 WIB.
Pantauan Solopos.com di depan poliklinik penyakit dalam RSUD Sukoharjo, para pasien sudah berada di depan poliklinik tersebut sejak pagi. Setelah mendaftar dan mengambil nomor antrian, mereka duduk-duduk di depan poliklinik. Sedangkan beberapa pasien lain yang tak kebagian tempat duduk terpaksa harus berdiri di depan poliklinik itu.
Salah satu warga Dukuh Cebukan, Desa Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo, Warjono, mengaku sejak pukul 08.00 WIB tiba di RSUD. Ia mengantarkan istrinya yang sakit nyeri pada kaki.
“Sudah tiga jam lebih saya menunggu, tapi istri saya tidak dipanggil-panggil untuk pemeriksaan,” ujar Warjono saat ditemui wartawan di RSUD, Senin.
Hal serupa juga diungkapkan pasien lain, Harto. Ia juga sudah berjam-jam menunggu untuk diperiksa namun hingga pukul 11.30 WIB dia belum juga dilayani. Harto mengalami sakit maag dan baru kali ini dia periksa ke RSUD. “Seharusnya tidak begini pelayanannya. Kami sebagai pasien tidak perlu menunggu terlalu lama bahkan sampai tiga jam lebih belum juga dilayani,” papar Harto.
Sementara itu, saat dimintai konfirmasi, Direktur RSUD Sukoharjo, Gunadi, mengakui bahwa selama sebulan ini pasien penyakit dalam overload. Sebetulnya poliklinik tersebut akan dibagi menjadi dua agar memudahkan pelayanan. Namun hingga kini palayanan itu belum terwujud karena pihaknya masih kekurangan dokter penyakit dalam.
Gunadi mengatakan, saat ini pihaknya hanya memiliki tiga orang dokter ahli penyakit dalam. Sedangkan idealnya RSUD Sukoharjo memiliki empat orang dokter penyakit dalam. Tiga orang dokter itu pun, sambungnya, tidak bisa full melayani pasien karena satu dokter ada yang menempuh pendidikan lagi dan satu dokter lagi sedang menjalani pelatihan penanganan penyakit dalam di RSUD Moewardi, Solo.
“Satu orang dokter yang masuk itu pun tidak hanya melayani pasien di poliklinik penyakti dalam, tapi sebelumnya juga harus visit ke bangsal pasien yang mengalami penyakit dalam,” papar Gunadi.
Sumber: solopos.com
Workshop Penyusunan Laporan Keuangan Rumah Sakit BLUD
|
——-Kupang-PKMK. Dalam rangka peningkatan kapasitas SDM di lingkungan rumah sakit terutama pada bagian Akuntansi, PMPK FK UGM bekerjasama dengan AIPMNH mengadakan workshop “Penyusunan laporan keuangan rumah sakit BLUD”. Workshop ini diadakan di Hotel T-More, Kupang, Nusa Tenggara Timur selama tiga hari di mulai 28 Januari 2013 sampai dengan 30 Januari 2013. Workshop ini dihadiri oleh 12 peserta dari enam rumah sakit daerah di provinsi Nusa Tenggara Timur, antara lain RSUD Soe, RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, RSUD Eka Pata Waikabubak, RSUD Kefamenanu, RSUD Atambua dan RSUD Lewoleba Lembata. Workshop ini menghadirkan narasumber yang sama dengan narasumber untuk pelatihan jarak jauh yang sudah dilaksanakan pada akhir tahun 2012 yang lalu, yakni Dr. Anastasia Susty Ambarriani M.Si., Akt. , Yos Hendra SE, MM, Akt. dan Barkah Prasetyo SE, Akt.
——-Kegiatan workshop untuk mendukung kegiatan yang diharapkan dari luaran PML yaitu mempersiapkan 11 RSUD di NTT menjadi BLUD. Sesuai amanah Undang-Undang No 44 tahun 2009, tentang Rumah Sakit pasal 7 dan pasal 20, maka seluruh rumah sakit pemerintah harus dijalankan dengan menggunakan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Sebagai BLUD, maka RSUD diharuskan menyusun laporan keuangan berbasiskan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Sesuai dengan amanat peraturan Permendagri No. 61 Tahun 2007, Pasal 116 dan Pasal 117 yang menjelaskan Akuntansi dan pertanggungjawaban BLUD untuk keuangan. ——-BLUD sebagai sebuah badan usaha dapat dikatakan telah dikelola secara baik bila telah memenuhi prinsip-prinsip independen, responsibel, transparan dan akuntabel. Guna diperolehnya laporan pertanggungjawaban yang memenuhi standar akuntansi keuangan yang lazim tersebut, diperlukan adanya suatu penelaahan (review) terhadap sistem informasi akuntansi yang ada agar selaras dengan tujuan dan pelaporan keuangan organisasi.
——-Pada workshop kali ini, antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang aktif, baik antar peserta maupun dengan narasumber. Workshop diisi dengan konsep-konsep dasar disertai latihan penyusunan laporan keuangan yang memberikan pada peserta kesempatan untuk memahami secara praktek. Dikarenakan sudah terbiasa menggunakan standar akuntansi pemerintahan (SAP) dalam kegiatan rutinitas kerjanya, peserta sedikit mengalami kesulitan dalam latihan penyusunan laporan keuangan berbasis SAK, meskipun demikian mereka tampak bersemangat dalam berusaha memahami standar penyusunan laporan keuangan berbasis SAK. ——-Dalam workshop ini, peserta diminta untuk menyusun chart of account (COA) atau Kode Rekening masing-masing rumah sakit, dan latihan penyusunan laporan keuangan, yaitu neraca, laporan operasional dan laporan arus kas. Format workshop yang berbentuk diskusi dan pemaparan hasil latihan, diharapkan mampu memberikan kesan mendalam untuk peserta sehingga dapat selalu mengingat hal-hal yang tidak tepat dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dalam workshop kali ini, sehingga tidak terulang pada saat ketika benar-benar menjalankannya nanti.
——-Harapan dari workshop ini, antara lain agar peserta dapat memahami sistem informasi akuntansi rumah sakit, peserta dapat memahami dan mampu untuk menyusun laporan keuangan berbasis SAK sesuai amanah Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Badan Layanan Umum Daerah. Workshop dengan materi yang sama selanjutnya akan diadakan pada 7-9 Januari 2013 di Maumere untuk lima rumah sakit daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur khususnya yang berlokasi di Pulau Flores. Workshop tersebut akan diikuti dari RSUD Ruteng, RSUD Bajawa, RSUD Larantuka, RSUD Ende dan RSUD TC Hillers Maumere.
|
———————————————– ———————————————– > Penyusunan Rencana Strategis untuk RS > Pelatihan Sistem Akuntansi Rumah Sakit berbasis SAK > Aplikasi Sistem Billing dan Rekam Medis Berbasis Open System
|
| Laporan Kegiatan Sebelumnya: ——————– Sharing hasil kegiatan AIPMNH di Kupang ————————————————————– Liputan Seminar Harapan Direktur terhadap Perilaku Dokter Spesialis dan Dokter di RS Puri Indah dalam Konteks Sistem Kontrak Kerja Transferworkshop Beijing-Bericht Liputan Seminar Tahunan VI Pateint Safety Kongres XII PERSI |
|
| Aktivitas Mutu Klinis —– Aktivitas Mutu Keperawatan —- Manajemen SDM —– Manajemen Keuangan —- Manajemen Fisik —– Hukum Kesehatan
Manajemen Teknologi Informasi —– Asuransi Kesehatan —– Manajemen Pemasaran —– Strategi, Struktur & Budaya Organisasi |
|
Beban Kerja Tinggi, Dokter Bahayakan Pasien

Beban kerja yang tinggi dan banyaknya pasien yang harus ditangani dokter bisa membahayakan pasien. Keterbatasan waktu juga membuat dokter tidak bisa leluasa berdiskusi dengan pasiennya.
Demikian menurut survei yang dilakukan di Amerika, meliputi 500 rumah sakit dan dokter yang menangani pasien. Hampir 40 persen responden mengatakan setidaknya sebulan sekali mereka menangani pasien lebih banyak dari yang bisa ditangani.
Hampir seperempat dokter mengatakan beban kerja yang tinggi membuat mereka tidak bisa berdiskusi dengan pasiennya mengenai terapi yang harus diambil. Bahkan 22 persen menngatakan mereka terpaksa meminta pasiennya melakukan tes yang tidak perlu karena tidak punya waktu lama untuk memeriksa.
“Jika dokter hanya punya waktu pendek dan pasien mengeluh nyeri dada, misalnya, maka dokter akan menyuruh pasien melakukan tes tambahan, meresepkan aspirin dan menelepon dokter spesialis jantung. Semua karena tidak ada cukup waktu untuk mengevaluasi pasien secara penuh,” kata Dr.Henry Michtalik dari Johns Hopkins University School of Medicine.
Sejumlah kecil dokter (sekitar 5 persen) mengakui beban kerja yang tinggi itu menyebabkan efek samping berbahaya, seperti pasien harus ditransfer ke unit gawat darurat atau bahkan kematian.
Pihak rumah sakit disarankan untuk mengevaluasi jam kerja dokter dan menciptakan standar keamanan.
Sumber: health.kompas.com














