manajemenrumahsakit.net ::
RSUD Klarifikasi Terkait Pemberitaan Gaji Direktur Mencapai Rp75 Juta Perbulan
manajemenrumahsakit.net :: BERITA BEKASI
Komisi B Evaluasi Keberadaan RS Siloam Di Lippo Mall
manajemenrumahsakit.net :: Medan-andalas. Keberadaan Rumah Sakit (RS) Siloam Dirga Surya di gedung Lippo Mall, Jalan Imam Bonjol Medan, disinyalir ilegal. Pasalnya, operasional rumah sakit yang ada di bangunan eks Hotel Dirga Surya itu tidak diketahui sejumlah kalangan legislator.
Sekretaris Komisi C DPRD Medan HT Bachrunsyah, misalnya, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya, mengaku belum mengetahui keberadaan rumah sakit tersebut.
“Saya belum tau, sepengetahuan kita usaha di sana hanya Lippo Mall. Namun, apakah keberadaan Rumah Sakit Siloam Dirga Surya itu termaksud dalam izin Lippo Mall, nanti akan kita pelajari dokumen perizinannya,” terang Bachrumsyah.
Karenanya, pada medio Februari ini, Komisi B DPRD Medan akan melakukan kunjungan ke manajemen Lippo Mall. Hal itu dilakukan untuk mempelajari dan melihat kondisi terkait perizinan serta operasional rumah sakit di gedung tersebut.
“Sudah dijadwalkan, bulan ini kita akan melakukan kunjungan ke sana,” beber politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Disinggung mengenai keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Bachrumsyah
menjelaskan bahwa setiap opera-sional rumah sakit harus memiliki IPAL tersendiri. IPAL itu tidak
dapat digabungkan dengan pengelolaan IPAL yang berasal dari mall, kampus maupun hotel.
“IPAL rumah sakit tidak bisa disamakan dengan IPAL usaha lainnya. Penanganan terhadap IPAL rumah sakit yang berasal dari zat B3 dari kegiatan medis membutuhkan penanganan khusus.
Ada alat khusus yang digunakan untuk mengurai zat-zat medis terkandung dalam limbah medis
tersebut,” urainya.
Bachrumsyah menambahkan, sesuai dengan UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengolahan Lingkungan Hidup, setiap kegiatan usaha harus memiliki pencegahan, pengelolaan dan pemanfaatan limbah B3 yang dihasilkan.
“Upaya pencegahan harus tertera dalam rencana tata ruang bangunan tersebut. Lalu, dokumen yang dipersyaratkan harus lengkap. Kemudian perizinannya yang kita lihat,” tegas Bachrum.
Apabila izin dan pengelolaan limbah B3-nya tidak dimiliki rumah sakit tersebut, kata Bachrum, akan ada sanksi yang dapat diterapkan pada pengelola perusahaan tersebut.
“Sejauh ini, hanya ada beberapa rumah sakit yang memiliki alat pengelolaan khusus limbah B3 yang berasal dari kegiatan medis.
Izin IPAL merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki rumah sakit, dan apabila RS Siloam Dirga Surya tidak memilikinya, keberadaan rumah sakit tersebut akan kita evaluasi,” tukasnya.
Sebelumnya, kegiatan sejumlah usaha yang dilakoni Agung Podomoro Group di Lippo Mall di bangunan eks Hotel Dirga Surya itu, diduga tidak memikiki izin perubahan peruntukan. Padahal,
di bangunan tersebut sudah berjalan operasional RS Siloam Dirga Surya, UPI, Lippo Mall dan
hotel. Hingga berita ini diturunkan, tidak ada tindakan tegas dari Pemerintah Kota Medan untuk menutup operasional yang berjalan di gedung tersebut.
Sedangkan Wakil Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi meminta Perusahaan Daerah (PD) Perhotelan Provsu segera memperbaiki isi perjanjian atas Memorandum of Understanding
(MoU) dari bangunan bekas Hotel Dirga Surya kepada pihak pengembang. Karena dari perkembangan yang ada, peruntukan yang tadinya diketahui untuk rumah sakit, telah berubah menjadi sarana pendidikan, olahraga, dan juga pusat perbelanjaan.
Gubernur Sumut Diminta Sinergikan Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Medan- Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho diharapkan mengoordinasikan fungsi rumah sakit di daerah itu agar mampu bersinergi dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Anggota Komisi E DPRD Sumut Rinawati Sianturi mengatakan, pelayanan rumah sakit (RS) di Sumut selama ini sudah cukup baik, terutama RSU Pusat Adam Malik Medan. “Namun ada kesan kuat koordinasi antar RS di Sumut cukup lemah sehingga belum memberikan hasil maksimal dalam pelayanan kesehatan masyarakat,” kata Rinawati, di Medan, Minggu (1/2).
Menurut dia, salah satu indikasi kurangnya koordinasi terlihat dari proses rujukan yang ditujukan ke RSU Pusat Adam Malik Medan. “Akibatnya, RSU Pusat Adam Malik sering
RS Bersalin Meledak, Bagaimana Para ibu dan Bayinya?
manajemenrumahsakit.net :: MEXICO CITY – Sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak di Cuajimalpa, Mexico City, Meksiko, meledak hingga hancur menjadi puing-puing, Kamis (29/1).
Penyebab insiden maut itu adalah kebocoran pipa gas di depan rumah sakit. Dua per tiga bangunan rumah sakit tersebut jadi puing. Tujuh orang dilaporkan tewas.
Mereka terdiri atas empat bayi dan tiga orang dewasa, termasuk di antaranya seorang suster. Lebih dari 73 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Diyakini masih ada belasan bayi dan orang dewasa yang terperangkap di balik reruntuhan.
Kepala Dinas Kesehatan Mexico City Armando Ahued menjelaskan bahwa seorang bayi dan seorang perawat tewas di lokasi kejadian. Korban lainnya meninggal saat berada di rumah sakit. Saat ini ada sembilan bayi yang kondisinya lemah.
Belum diketahui apakah mereka bisa bertahan atau tidak. Seluruh korban yang terluka dilarikan ke rumah sakit lain dengan helikopter. Korban yang lukanya tidak terlalu parah dirawat di lokasi kejadian di dalam beberapa ambulans yang telah disediakan.
Ledakan maut tersebut terjadi pukul 07.00 waktu setempat. Saat itu ada truk milik Gas Express Nieto yang menyuplai gas di rumah sakit. Sejak 2007, perusahaan itu telah melayani 31 rumah sakit di Mexico City. Memang tidak semua area Mexico City yang bisa mengakses layanan gas utama.
Jadi, mereka bergantung pada gas yang dikirim via truk tersebut. Entah apa yang terjadi, pipa yang dipakai mengalirkan gas mengalami kebocoran. Petugas tidak bisa mengendalikannya sehingga ledakan hebat akhirnya terjadi.
“Mereka mencoba mengendalikan kebocoran, tapi tidak bisa. Tiga operator truk tersebut telah ditahan dan dua petugas lainnya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka,” ujar Wali Kota Mexico City Miguel Angel Mancera.
Ledakan tersebut bukan kali pertama terjadi di Meksiko. Pada Februari 2013, 37 orang tewas di perusahaan energi Pemex, Mexico City. Terjadi penumpukan gas di ruang basement sehingga mengakibatkan ledakan hebat. Lantas, Mei 2013 ada 25 orang tewas ketika tanker minyak hilang kendali di utara Mexico City sehingga membuat mobil dan rumah di area sekitarnya ikut terbakar.
Beberapa saksi mata menyatakan, sebelum terjadi ledakan di rumah sakit bersalin tersebut, tercium bau gas yang sangat kuat. Beberapa saat kemudian, mereka mendengar ledakan yang sangat hebat sehingga kaca-kaca jendela pecah dan pintu terbanting.
“Saya pikir ada gempa. Tiba-tiba saja, saya mendengar suara yang sangat keras dan pintu rumah terbuka seperti ditendang,” terang Ivan Rodriguez, 28 yang bertempat tinggal di samping rumah sakit.
Di sisi lain, Kepala Badan Perlindungan Sipil Meksiko Luis Felipe Puente mengungkapkan bahwa ratusan tim penyelamat diterjunkan ke lokasi ledakan. Mereka membawa beberapa anjing pelacak. Saat ledakan itu terjadi, diperkirakan ada seratus orang di dalam rumah sakit.
“Tim penyelamat sedang memeriksa puing-puing beton dan baja untuk mencari korban selamat,” tuturnya. Beberapa bayi akhirnya ditemukan di balik reruntuhan dalam kondisi selamat.
Banyak bayi yang selamat karena dilindungi langsung oleh ibu masing-masing. Ketika ledakan tersebut terjadi dan gedung mulai runtuh, para ibu langsung mendekap bayinya masing-masing agar tidak terkena reruntuhan.
“Istri saya memeluk bayinya dan membungkuk sehingga atap mengenainya. Untungnya, atap tersebut tidak melukainya,” ungkap Jose Eduardo Manriquez, 22, yang melihat kondisi istrinya di Rumah Sakit Enrique Cabrera.
Mayoritas korban yang terluka ringan memang dirawat di rumah sakit tersebut. Istrinya lantas diselamatkan pihak kepolisian dan keluar dari rumah sakit dengan bertelanjang kaki. Cerita serupa diungkapkan banyak pasien lainnya.
Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto mengucapkan bela sungkawa melalui akun Twitter miliknya. Begitu juga Paus Fansiskus. Dia mendesak agar follower akun Twitter-nya berdoa bagi para korban ledakan dan keluarga yang ditinggalkan.
“Kami berdoa untuk para korban dan keluarga ledakan di Rumah Sakit Cuajimalpa, Meksiko. Semoga Tuhan memberikan mereka kedamaian dan kekuatan,” kicau Fransiskus di akunnya.(Reuters/AFP/CNN/sha/c20/ami)
Sumber: jpnn.com
Pemprov Sulbar Tunggu DPRD Bangun Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: Mamuju (ANTARA Sulbar) – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menunggu keputusan DPRD Sulbar untuk membangun rumah sakit dengan menggunakan pinjaman dari pusat investasi pemerintah (PIP) Kementrian Keuangan.
“Pemerintah akan menunggu keputusan DPRD Sulbar untuk mewujudkan RSUD Sulbar tipe B,” kata Gubernur Sulbar, Anwar Adnan Saleh, di Mamuju, Sabtu.
Ia mengatakan, DPRD Sulbar belum menetapkan persetujuan mengenai rencana pemerintah untuk membangun rumah sakit Sulbar tipe B yang akan memanfaatkan pinjaman dari PIP sebesar Rp239 miliar.
“Sebagian anggota DPRD Sulbar menolak pembangunan RSUD Sulbar melalui pinjaman PIP sehingga pemerintah akan berupaya menggalang persetujuan DPRD yang merupakan tahapan untuk memperoleh pinjaman PIP yang digagas pemerintah di Sulbar sejak 2013,” katanya.
Menurut dia, Sulbar butuh peningkatan pelayanan kesehatan karena kondisi pelayanan kesehatan di Sulbar memprihatinkan selama ini, banyak warga tidak bisa terselamatkan karena tidak memadainya pelayanan rumah sakit, sehingga RSUD yang akan lebih memadai dan menjadi rumah sakit rujukan di Sulbar dibangun melalui bantuan PIP,” katanya.
“Pembangunan RSUD tersebut telah melalui kajian analilis dan pertimbangan dan pemerintah yakin akan mampu menyelesaikan pinjaman pembangunan RSUD tersebut, yang membutuhkan jangka waktu tujuh tahun dengan bunga 9,75 persen pertahun untuk melunasi pinjaman tersebut kemudian,” katanya.
Ia mengatakan, dari pinjaman sekitar Rp239 miliar tersebut sekitar Rp201 miliar digunakan untuk membangun kebutuhan fisik rumah sakit dan sekitar Rp38 miliar untuk pengadaan alat kesehatannya.
“Pemerintah bisa melunasi pinjaman ini karena APBD Sulbar yang terus mengalami peningkatan yang akan digunakan membayarnya, dan pengelolaan rumah sakit yang lebih baik kedepan untuk meningkatkan pendapatan daerah,” ujarnya. FC kuen
Sumber: antarasulsel.com
Kamar rumah sakit penuh, pasien kanker dirawat di rumah
manajemenrumahsakit.net :: Dengan alasan kamar rumah sakit penuh, Nasrudin (57) warga Jalan Nusa Indah E1, RT 6 RW 8, Kebon Jeruk, Jakarta Barat terpaksa menjalani pengobatan di rumah. Nasrudin diketahui memiliki penyakit tumor di kepala.
Istri Nasrudin, Kusmawati (52), mengatakan bila sebelum sakit suaminya merupakan seorang satpam. Dia pernah dirawat dan menjalani operasi di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Pusat pada April 2013. Namun karena tidak dapat menangani secara khusus, RS merujuk Nasrudin ke RS Dharmais.
“Karena keterbatasan alat, operasi di RS Tarakan tidak sampai total hingga oleh pihak RS Tarakan dirujuk ke RS Dharmais untuk menjalani operasi selanjutnya,” ujar Kusmawati kepada wartawan, Rabu (12/6) malam.
Pihak keluarga, lanjut wanita yang bekerja sebagai penjahit itu menuturkan, pihak RS Dharmais mengatakan kamar tidak ada yang kosong. “Anak saya sudah emapat kali ke rumah sakit, tapi petugas sana bilang, kamar belum ada yang kosong,” ujar dia.
Kini, Nasrudin hanya bisa berbaring lemas di rumahnya. Tubuhnya yang kurus, makin diperparah dengan kondisi penglihatan sudah memudar. Pihak keluarga hanya dapat memberikan obat yang didapat dari klinik. [mtf]
Sumber: merdeka.com
Jumlah Pasien Meningkat, RSUD Ini Rawat Pasien di Lorong Rumah Sakit
manajemenrumahsakit.net :: GUNUNG KIDUL — Jumlah pasien rawat inap terutama anak di RSUD Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meningkat dalam sebulan terakhir sehingga sebagian harus dirawat di lorong rumah sakit itu menggunakan tempat tidur tambahan.
Kepala Bidang Pelayanan dan Keperawatan RSUD Wonosari Triyani Heni Astuti di Gunung Kidul, Selasa, menyebutkan sebagian dari mereka adalah pasien yang menderita demam berdarah dengue (DBD). “Jumlah penderita DBD meningkat sehingga kami terpaksa menyediakan tempat tidur tambahan di lorong Ruang Dahlia atau bangsal anak,” kata Triyani, Selasa (27/1).
Ia mengatakan ruangan anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari itu hanya memiliki kapasitas untuk 16 pasien. Meskipun ada pasien yang dirawat di lorong, tiga dokter spesialis anak yang ada akan tetap melakukan pemantauan intensif kepada pasien. “Kami jamin mereka tidak mendapat perlakuan berbeda,” kata dia.
Ia mengatakan penderita DBD yang dirawat di RSUD Wonosari sejak awal Januari 2015 hingga saat ini mencapai 46 orang. Desember dan Januari merupakan waktu terbanyak pasien dengan penyakit DBD.
“Untuk saat ini, dari 18 pasien anak yang menjalani rawat inap, lima diantaranya dilakukan observasi untuk penyakit DBD,” katanya.
Triyani mengatakan untuk mengatasi masalah kekurangan ruangan, RSUD Wonosari sedang membangun gedung baru. Rencananya akan dioperasikan pada Februari 2015. “Awal Februari, pasien dengan penyakit syaraf akan menempati ruangan sendiri sehingga diharapkan tidak kekurangan,” katanya.
Sementara itu salah satu orang tua pasien yang dirawat di lorong, Suyanto (38) mengaku tidak bisa berbuat banyak meski anaknya Anisa Ahmad Dzakia (7) harus dirawat di lorong, meski seharusnya sebagai seorang PNS mendapat kamar di kelas II. “Mau bagaimana lagi keadaannya memang seperti ini,” katanya.
Ia mengatakan sebelum masuk ke rumah sakit, anaknya sempat dirawat di Puskesmas Karangrejek. Namun karena diduga menderita DBD lalu dirujuk ke rumah sakit. “Yang penting mendapat perawatan,” katanya.
Sumber: republika.co.id







