Reportase
Webinar Pre-APHaH Congress:
Peluang dan Tantangan Implementasi
Hospital at Home (HaH) di Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026
PKMK-Yogyakarta. PKMK menggelar webinar awal terkait implementasi layanan Hospital at Home pada Rabu (20/5/2026). Narasumber dalam webinar tersebut berasal dari rumah sakit baik milik pemerintah maupun swasta dan Kementerian Kesehatan RI serta tanggapan dari PKMK FK-KMK UGM. Kegiatan ini mengambil judul Webinar Pre-APHaH Congress: Peluang dan Tantangan Implementasi Hospital at Home (HaH) di Indonesia. Moderator menegaskan bahwa HaH berbeda dengan layanan homecare konvensional. HaH merupakan inovasi extension ruang rawat inap ke rumah pasien, lengkap dengan standar pemantauan medis, peralatan tingkat lanjut, serta pengawasan klinis berkelanjutan baik melalui kunjungan langsung maupun intervensi telemedicine yang setara dengan perawatan akut di bangsal rumah sakit. Peningkatan demand masyarakat akan pelayanan mutakhir ini pasca pandemi perlu segera direspon, meskipun dari sisi ketersediaan (supply) institusi kesehatan masih dihadapkan pada tantangan operasional dan kejelasan regulasi di Indonesia.

Memasuki sesi pemaparan praktek lapangan, dr. Sholahuddin Rhatomy, Direktur Utama RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro membagikan pengalaman operasional dalam menangani pasien dengan inovasi pelayanan “ICU at Home”. Beranjak dari permintaan keluarga pasien pasca koma yang membutuhkan ventilator jangka panjang, pihak rumah sakit menyusun langkah mitigasi risiko yang sangat ketat, termasuk skenario penanganan saat pemadaman listrik dan edukasi penggunaan alat bagi keluarga (family empowerment). Jika dilihat dari aspek pembiayaan, model perawatan ini terbukti menekan beban biaya pasien secara signifikan dibandingkan dengan perawatan ICU konvensional di rumah sakit.

Selanjutnya, dr. Ngurah Buana dan dr. Ni Luh Putu Wulan Budyawati dari RS Kasih Ibu Group Bali menyoroti strategi rumah sakit swasta dalam memanfaatkan inovasi layanan ini. Layanan tersebut berkembang pesat sejak pandemi COVID-19. Saat ini layanan prehospital dan Home care di RS Kasih Ibu Group Bali didominasi oleh populasi geriatri, pasien penyakit kronis, dan perawatan paliatif. Layanan ini didukung oleh integrasi teknologi tingkat tinggi, mulai dari penggunaan alat medis portabel seperti EKG di rumah, Command Center untuk pemantauan ambulans, integrasi Rekam Medis Elektronik (EDR), hingga skema kerja sama pembiayaan dengan berbagai asuransi swasta.

Menanggapi implementasi yang mendahului regulasi tersebut, dr. Ockti Palupi Rahayuningtyas, MPH, MH.Kes selaku Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI memaparkan bahwa pemerintah tengah mengkaji rancangan payung hukum terkait HaH. Salah satu opsi strategis yang sedang dipertimbangkan adalah menambahkan layanan ini ke dalam substansi “Pelayanan Terpadu”. Opsi aturan ini diharapkan dapat menegaskan bahwa layanan HaH tidak boleh terlepas dari fasilitas pelayanan kesehatan inti dan wajib terintegrasi dengan Rekam Medis Elektronik rumah sakit serta platform SatuSehat. Regulasi ini nantinya diharapkan dapat merinci aspek medikolegal, pembagian tanggung jawab keselamatan pasien, batasan indikasi dan kontraindikasi klinis, standar informed consent khusus, hingga perlindungan data (cyber security) dari pemantauan digital.

Pada sesi diskusi dan penutup, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D. bersama Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, S.KM., M.Kes. memberikan konteks global dengan mencontohkan keberhasilan implementasi HaH yang sudah ter-cover asuransi di institusi luar negeri seperti Mount Sinai. PKMK FK-KMK UGM berkomitmen menjadi katalisator percepatan ekosistem ini dengan mengajak jajaran manajemen rumah sakit untuk menjadi pelaksana percontohan (pilot) melalui keikutsertaan dalam Delegasi Eksekutif ke 1st Asia Pacific Hospital at Home Congress di Taipei pada Juni 2026 sebagai langkah awal membangun Community of Practice di Indonesia.
Reporter : Renaldi







