Reportase
Webinar Finance for Non Finance (FINON):
Memahami dan Menguasai Konsep Dasar Keuangan Rumah Sakit
Jumat, 30 Januari 2025

Aspek keuangan merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam operasional, efisiensi layanan, hingga kualitas pelayanan yang diberikan Rumah Sakit (RS) terhadap pasien. Namun, istilah – istilah keuangan seperti laporan keuangan, analisis biaya, hingga penganggaran masih terdengar asing di kalangan tenaga kesehatan tanpa latar belakang keuangan. Webinar Finance for Non Finance (FINON) diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada tenaga kesehatan yang tidak memiliki latar belakang keuangan untuk dapat memahami konsep keuangan dasar yang sangat berdampak untuk kinerja RS secara keseluruhan.

Webinar dibuka oleh Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM., M.Kes dalam pengantarnya menegaskan bahwa sistem keuangan digambarkan sebagai “sistem sirkulasi” yang vital bagi RS, sementara laporan keuangan berperan sebagai “tanda vital” yang harus dapat dipahami setiap pemimpin untuk memastikan pelayanan klinis yang bermutu dan berkelanjutan.

Berikutnya, Dr. Anastasia Susty A., M.Si., Akt., CA., CRP., AMA memaparkan pentingnya literasi keuangan bagi manajer non keuangan, dimana pemahaman keuangan adalah kompetensi kunci untuk pengelolaan rumah sakit yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Aktivitas manajerial mulai dari perencanaan, pengendalian, hingga pengambilan keputusan tidak terlepas dari informasi keuangan. Manajer perlu menguasai komponen dasar keuangan seperti pendapatan (dari BPJS, asuransi, pasien mandiri), biaya (langsung dan tidak langsung), investasi, hutang, dan ekuitas. Selain itu, kemampuan menganalisis laporan keuangan, baik secara horizontal (perbandingan antar-tahun) maupun vertikal (rasio dalam satu periode), sangat penting untuk menilai kesehatan finansial rumah sakit. Rasio-rasio seperti likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan struktur modal menjadi alat diagnostik yang krusial.
Selain itu, dalam konsep product costing, menghitung unit cost diperlukan tidak hanya untuk memenuhi regulasi penetapan tarif, tetapi juga untuk mengetahui margin setiap layanan, yang menjadi dasar untuk strategi perbaikan berkelanjutan dan efisiensi, seperti penerapan lean hospital. Prinsip “different cost for different purpose” ditekankan, dimana metode penghitungan biaya berbeda sesuai tujuannya, misalnya untuk penentuan tarif membutuhkan full costing, sementara untuk keputusan taktis cukup dengan variable costing. Dalam pengambilan keputusan, manajer perlu membedakan analisis untuk keputusan jangka pendek, seperti analisis biaya-volume-laba (BEP) dan analisis biaya relevan untuk opsi make or buy, dengan keputusan jangka panjang atau investasi. Untuk investasi, diperlukan evaluasi mendalam melalui capital budgeting dengan metode seperti Payback Period, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Sebagai langkah akhir, penilaian kinerja tidak boleh hanya dari aspek keuangan, tetapi perlu menggunakan pendekatan komprehensif seperti Balanced Scorecard, yang mempertimbangkan perspektif keuangan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan inovasi.

Sebagai implementasi dari konsep keuangan, dr. Stephani Maria Nainggolan, M.Kes, memaparkan bagaimana menggunakan informasi keuangan dalam manajemen. Saat ini, RS menghadapi realita tantangan operasional di tengah dominansi pembayaran BPJS dengan sistem paket INA-CBGs (yang akan bertransisi menjadi Indonesian Diagnosis Related Groups/INA-DRGs) serta masalah klaim pending yang mengganggu arus kas. Keuangan rumah sakit dianalogikan seperti tubuh manusia, dimana arus kas adalah jantung yang menjaga kelangsungan hidup, laporan laba rugi adalah otak yang mendiagnosis kesehatan struktural, neraca adalah rangka penopang jangka panjang, piutang adalah darah yang tertahan, dan utang adalah obat yang bisa menolong atau merusak. Direktur dalam hal ini berperan sebagai interpreter yang menerjemahkan angka menjadi kebijakan, sebagai integrator yang menghubungkan keuangan dengan mutu layanan, serta sebagai decision maker yang memilih prioritas di tengah tarik-menarik idealisme pelayanan dan realitas finansial.
Dalam praktiknya, informasi keuangan kunci yang wajib dipantau pimpinan meliputi laporan laba rugi untuk melihat margin per layanan dan kontribusi BPJS versus non-BPJS, neraca untuk mengukur kekuatan dan risiko, serta laporan arus kas untuk memastikan kecukupan likuiditas dalam menghadapi keterlambatan klaim. Efisiensi pelayanan dalam hal ini bukan berarti memotong pelayanan, melainkan mengurangi variasi yang tidak perlu melalui penegakan clinical pathway, audit penggunaaan obat, dan edukasi berkelanjutan kepada tenaga kesehatan. Dalam konteks investasi, keputusan tidak boleh hanya berdasarkan proyeksi pendapatan atau arus kas saja, tetapi harus mempertimbangkan multidimensi seperti EBITDA margin, Return on Investment (ROI), payback period, dan analisis risiko regulasi. RS yang hebat bukan yang terbesar, tetapi yang paling mampu mengambil keputusan tepat berdasarkan data, termasuk data keuangan, untuk memastikan keberlangsungannya.
Reporter : Bestian Ovilia Andini







