скачать gta san andreas торрент

HOSPITAL AT HOME INDONESIA

 

 


1. Bagian pembuka

Hospital at Home merupakan pendekatan pelayanan yang memungkinkan pasien terpilih memperoleh perawatan yang terstruktur di rumah, dengan tanggung jawab klinis, pemantauan, dukungan caregiver, dan jalur eskalasi yang tetap jelas.

  • Apa itu Hospital at Home?
  • Apa bedanya dengan homecare dan telemedicine?
  • Siapa yang mungkin memperoleh manfaat?
  • Apa peran pasien dan caregiver?
  • Mengapa keselamatan dan jalur eskalasi penting?
  • Mengapa Indonesia perlu membuka jalan secara bertahap?

Baca booklet | Unduh booklet PDF

2. Pengetahuan dan Pembelajaran

3. Referensi

Hospital at home for patients with acute exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease: Systematic review of evidence

Tinjauan sistematis dari 7 uji klinis teracak (melibatkan 754 pasien) yang menunjukkan bahwa skema Hospital at Home aman digunakan untuk merawat pasien eksaserbasi akut PPOK. Hasil analisis mencatat tidak ada perbedaan signifikan pada tingkat rawat inap ulang (relative risk 0,89) maupun mortalitas (relative risk 0,61) dibandingkan rawat inap konvensional, namun terbukti menghemat biaya kesehatan secara signifikan dan membebaskan kapasitas tempat tidur rumah sakit.


Efficacy and Safety of Hospital-at-Home versus Traditional Hospital Care in Older Patients: A Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials

Tinjauan sistematis dan meta-analisis dari 11 uji klinis teracak (melibatkan 3.301 pasien lansia) yang membuktikan bahwa model HaH secara signifikan memperpendek lama rawat inap (length of stay), menekan total biaya perawatan, dan menurunkan risiko rawat inap ulang pada pemantauan 1, 3, hingga 9 bulan. Selain itu, HaH membantu pemulihan fungsi harian (skor IADL) tanpa meningkatkan angka kematian maupun kejadian tidak diharapkan (adverse events).


Perceptions of Hospital-at-Home Among Stakeholders: a Meta-synthesis

Meta-sintesis kualitatif dari 16 studi yang merangkum pandangan pemangku kepentingan (pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan). Studi ini menekankan bahwa keberhasilan dan kualitas HaH sangat ditentukan oleh kesinambungan pelayanan (continuity of care), keterlibatan serta dukungan emosional bagi caregiver keluarga untuk mencegah burnout, serta kolaborasi tim medis yang ditopang oleh pelatihan dan teknologi pemantauan pasien jarak jauh.


How nurses support family caregivers in the complex context of end-of-life home care: a qualitative study

Studi kualitatif pada perawat organisasi perawatan rumah di Belanda yang menelaah bagaimana perawat mendampingi caregiver keluarga. Penelitian ini menemukan bahwa dukungan perawat masih sering bergantung pada pengalaman intuitif daripada pendekatan sistematis, sehingga merekomendasikan penggunaan instrumen asesmen terstruktur (evidence-based needs assessment tools) agar perawat dapat mengidentifikasi kebutuhan, edukasi praktis, dan dukungan emosional caregiver secara lebih tepat.


Remote vs In-home Physician Visits for Hospital-Level Care at Home: A Randomized Clinical Trial

Uji klinis teracak pada 172 pasien yang membandingkan kunjungan dokter secara remote (layanan telemedis harian setelah kunjungan fisik awal) versus kunjungan fisik harian langsung. Hasil studi membuktikan bahwa kunjungan dokter secara remote tidak lebih buruk (noninferior) dibanding kunjungan fisik langsung dalam hal tingkat kejadian tidak diharapkan dan pengalaman pasien, meskipun kunjungan fisik lanjutan tetap diperlukan pada 19% pasien sesuai indikasi medis.


Overcoming barriers to implementation: mapping implementation strategies in four hospital in home programs within the Veterans Health Administration

Studi kualitatif yang mengidentifikasi 11 hambatan implementasi HaH pada jaringan rumah sakit Veterans Affairs (VA) dan memetakan strateginya menggunakan kerangka CFIR-ERIC. Penelitian ini merekomendasikan tiga strategi utama yang paling efektif: mengidentifikasi dan menyiapkan champions (tokoh penggerak internal), menyelenggarakan pertemuan edukatif berkala, serta mendokumentasikan dan membagikan pengetahuan lokal untuk meningkatkan kesiapan organisasi.

4. Kebijakan dan Regulasi

Undang-Undang

  1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan 
    Menjadi dasar utama penyelenggaraan pelayanan kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga medis dan tenaga kesehatan, teknologi kesehatan, sistem informasi kesehatan, serta tanggung jawab pemerintah.
  2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
    Relevan karena pelayanan HaH melibatkan pertukaran data kesehatan dari rumah pasien, perangkat digital, caregiver, tenaga kesehatan, dan rumah sakit.
  3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU Informasi dan Transaksi Elektronik 
    Menjadi regulasi pendukung untuk penggunaan sistem elektronik, komunikasi digital, serta dokumen elektronik.

Peraturan Pemerintah

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan
    Menjadi aturan pelaksanaan utama UU Kesehatan, termasuk penyelenggaraan upaya kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, teknologi kesehatan, dan sistem informasi kesehatan.
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
    Relevan untuk keamanan, keandalan, dan tanggung jawab penyelenggara sistem elektronik yang digunakan dalam pelayanan.

Peraturan Presiden

Bagian ini berkaitan dengan pembiayaan dan integrasi JKN:

  1. Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan, beserta perubahannya, terakhir Perpres Nomor 59 Tahun 2024.
    Relevan sebagai konteks pengembangan skema pembiayaan HaH, meskipun saat ini HaH belum menjadi manfaat atau paket pembiayaan tersendiri dalam JKN.

Peraturan Menteri Kesehatan

  1. Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit
    Dasar penyelenggaraan, perizinan, tata kelola, mutu, pendanaan, pencatatan, dan pelaporan rumah sakit.
  2. Permenkes Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
    Terkait dengan clinical governance, manajemen risiko, pelaporan insiden, serta keselamatan pasien ketika pelayanan berlangsung di luar gedung rumah sakit.
  3. Permenkes Nomor 20 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Telemedicine Antar Fasilitas Pelayanan Kesehatan
    Catatan: ruang lingkup regulasi ini adalah telemedicine antar-fasilitas pelayanan kesehatan, bukan regulasi khusus telemedicine langsung dari rumah sakit kepada pasien di rumah. Status: masih tercantum berlaku.
  4. Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis 
    Relevan untuk pencatatan pelayanan HaH, rekam medis elektronik, pertukaran data, keamanan, kerahasiaan, dan kesinambungan informasi pasien. Statusnya berlaku dan telah mencabut Permenkes 269/2008.
  5. Permenkes Nomor 30 Tahun 2022 tentang Indikator Nasional Mutu Pelayanan Kesehatan
    Menjadi salah satu rujukan dalam menyusun indikator mutu dan evaluasi pelayanan.
  6. Permenkes Nomor 34 Tahun 2022 tentang Akreditasi Puskesmas, Klinik, Laboratorium Kesehatan, Unit Transfusi Darah, Tempat Praktik Mandiri Dokter, dan Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi
    Relevan bila HaH melibatkan klinik atau fasilitas kesehatan lain dalam jejaring pelayanan.
  7. Permenkes Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
    Relevan untuk pengelolaan obat, rekonsiliasi, dispensing, distribusi, edukasi, dan monitoring terapi pasien di rumah.
  8. Permenkes Nomor 290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran
    Relevan untuk informed consent dan pemberian informasi kepada pasien serta keluarga.
  9. Permenkes Nomor 36 Tahun 2012 tentang Rahasia Kedokteran
    Relevan karena pelayanan di rumah melibatkan caregiver, komunikasi jarak jauh, dokumentasi digital, dan kemungkinan keterlibatan pihak ketiga.

Keputusan Menteri, surat edaran, dan regulasi teknis

 

5. Workshop Teknis Hospital at Home 2027

Workshop 1–4 diselenggarakan secara daring dan dapat diikuti secara satuan sesuai kebutuhan rumah sakit. Namun, setiap workshop menghasilkan keluaran yang saling berhubungan. Rumah sakit yang tidak mengikuti workshop sebelumnya perlu menyiapkan sendiri bahan awal yang dipersyaratkan.

Workshop 5 diselenggarakan secara luring sebagai satu rangkaian terpadu. Tiga topik di dalamnya tidak dapat diikuti secara terpisah karena seluruh proses menggunakan satu use case dan menghasilkan rancangan implementasi yang utuh.

Menemukan Layanan Unggulan Berbasis Rumah / Find Your Winning Service

Deskripsi

Tidak semua pelayanan cocok dikembangkan sebagai layanan berbasis rumah. Rumah sakit perlu memilih use case yang menjawab kebutuhan pasien, sesuai dengan kekuatan klinis dan operasional RS, memiliki potensi pasar, serta dapat dikembangkan secara aman.

Workshop ini membantu tim RS menilai posisi awalnya dan menentukan layanan prioritas yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengikuti workshop berikutnya. Rumah sakit yang telah mampu menghasilkan seluruh output Workshop 1 secara mandiri dapat menggunakannya sebagai pre-work untuk mengikuti Workshop 2. 

Tujuan pelatihan

Membantu rumah sakit:

  • mengenali kebutuhan pasien dan caregiver yang belum terpenuhi;
  • memetakan layanan, sumber daya, data, dan jejaring yang sudah tersedia;
  • menilai kesiapan awal rumah sakit;
  • membandingkan beberapa peluang layanan berbasis rumah; dan
  • memilih satu use case prioritas untuk dikembangkan lebih lanjut. 

Metode

  • paparan singkat dan bedah contoh kasus;
  • self-assessment kesiapan rumah sakit;
  • telaah data dan layanan yang telah dimiliki;
  • opportunity mapping;
  • diskusi kelompok lintas profesi; dan
  • presentasi serta umpan balik fasilitator. 

Output pelatihan

  • hasil readiness assessment awal;
  • baseline dan data awal rumah sakit;
  • peta kebutuhan pasien dan caregiver;
  • opportunity map layanan berbasis rumah;
  • rumusan use case atau layanan prioritas;
  • alasan pemilihan layanan; dan
  • terbentuknya tim lintas profesi yang akan mengembangkan layanan. 

Peserta yang diharapkan

Rumah sakit sebaiknya mengirimkan tim yang terdiri atas:

  • pimpinan atau pengambil keputusan;
  • clinical lead sesuai layanan yang akan dikembangkan;
  • manajemen pelayanan atau pengembangan bisnis;
  • perencanaan, pemasaran, atau pengelola data;
  • keuangan; dan
  • pengelola homecare, telemedicine, rehabilitasi, atau layanan terkait bila telah tersedia.

Deskripsi singkat

Pelayanan di rumah tidak cukup dirancang sebagai tambahan kunjungan setelah pasien pulang. Rumah sakit perlu melihat perjalanan pasien secara utuh, mulai dari persiapan sebelum pulang, pelayanan di rumah, pemantauan, hingga pasien kembali ke layanan reguler.

Workshop ini membantu tim menerjemahkan use case prioritas menjadi rancangan pelayanan yang jelas bagi pasien, caregiver, rumah sakit, dan mitra yang terlibat. 

Tujuan pelatihan

Membantu rumah sakit:

  • memahami pengalaman dan kebutuhan pasien serta caregiver;
  • mengidentifikasi titik putus pelayanan setelah pasien pulang;
  • merancang perjalanan pasien dari rumah sakit menuju rumah;
  • menetapkan aktivitas dan pembagian peran setiap pihak; dan
  • menyusun gambaran awal paket pelayanan berbasis rumah. 

Metode

  • bedah kasus;
  • patient journey mapping;
  • identifikasi kebutuhan dan pain points pasien serta caregiver;
  • penyusunan service blueprint;
  • diskusi peran rumah sakit, caregiver, FKTP, dan mitra;
  • kerja kelompok berbasis use case; dan
  • review rancangan oleh fasilitator. 

Output pelatihan

  • patient journey;
  • peta kebutuhan dan pain points;
  • service blueprint;
  • rancangan paket pelayanan;
  • pembagian peran antarprofesi dan antarorganisasi;
  • titik kontak pasien dengan tim pelayanan; dan
  • daftar masalah yang perlu diselesaikan sebelum layanan dijalankan. 

Peserta yang diharapkan

  • clinical lead;
  • dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain sesuai use case;
  • case manager atau discharge planner;
  • pengelola homecare atau telemedicine;
  • manajemen pelayanan;
  • patient experience atau komunikasi pasien; dan
  • pengelola jejaring pelayanan bila melibatkan fasilitas lain.

Deskripsi singkat

Rumah berbeda dengan rumah sakit. Karena itu, pelayanan di rumah memerlukan kriteria pasien, batas klinis, sistem pemantauan, dukungan caregiver, serta jalur eskalasi yang dirancang secara khusus.

Workshop ini membantu tim klinis dan manajemen mutu menerjemahkan rancangan layanan menjadi sistem pelayanan yang aman dan tetap berada dalam clinical governance rumah sakit. 

Tujuan pelatihan

Membantu rumah sakit:

  • menetapkan pasien yang sesuai dan tidak sesuai untuk dilayani di rumah;
  • menentukan batas klinis pelayanan;
  • menyusun proses asesmen rumah dan caregiver;
  • menetapkan parameter pemantauan dan red flags;
  • merancang jalur komunikasi serta eskalasi; dan
  • memperjelas tanggung jawab klinis selama pasien berada di rumah. 

Metode

  • paparan prinsip keselamatan pelayanan di rumah;
  • bedah kasus klinis;
  • penyusunan kriteria inklusi dan eksklusi;
  • clinical pathway mapping;
  • analisis risiko;
  • tabletop exercise untuk kondisi normal dan perburukan pasien; dan
  • review lintas profesi. 

Output pelatihan

  • kriteria inklusi dan eksklusi pasien;
  • clinical pathway awal;
  • asesmen kesiapan rumah dan caregiver;
  • rencana monitoring;
  • daftar red flags;
  • escalation pathway;
  • pembagian tanggung jawab klinis; dan
  • daftar kebutuhan SOP serta dokumen keselamatan. 

Peserta yang diharapkan

Unsur klinis wajib terlibat. Tim sebaiknya terdiri atas:

  • clinical lead;
  • dokter dan perawat sesuai use case;
  • tenaga kesehatan lain yang terlibat;
  • komite mutu dan keselamatan pasien;
  • farmasi;
  • case manager atau pengelola homecare;
  • unit gawat darurat atau tim yang menerima eskalasi; dan
  • pengelola rekam medis atau sistem informasi bila diperlukan.

Deskripsi singkat

Rancangan klinis yang baik belum tentu dapat berjalan jika tidak didukung SDM, workflow, logistik, dokumentasi, teknologi, dan jejaring pelayanan yang memadai. Setiap komponen perlu diatur sebagai satu sistem, bukan disiapkan secara terpisah.

Workshop ini membantu tim menyusun operating model agar layanan dapat dijalankan secara konsisten dalam kegiatan rumah sakit sehari-hari. 

Tujuan pelatihan

Membantu rumah sakit:

  • menerjemahkan clinical pathway menjadi alur kerja operasional;
  • menetapkan kebutuhan dan penugasan SDM;
  • mengatur logistik, obat, alat, dan transportasi;
  • menentukan kebutuhan dokumentasi dan rekam medis;
  • merumuskan kebutuhan teknologi minimum;
  • menata hubungan dengan mitra atau jejaring pelayanan; dan
  • mengidentifikasi gap yang harus diselesaikan sebelum uji coba. 

Metode

  • process mapping;
  • analisis peran dan tanggung jawab;
  • penyusunan workflow;
  • bedah skenario operasional;
  • pemetaan kebutuhan logistik dan teknologi;
  • diskusi pengelolaan jejaring;
  • gap analysis; dan
  • review rancangan operating model. 

Output pelatihan

  • workflow pelayanan;
  • operating model awal;
  • matriks peran dan tanggung jawab;
  • rencana kebutuhan SDM;
  • rancangan logistik, obat, alat, dan transportasi;
  • kebutuhan dokumentasi dan integrasi rekam medis;
  • technology requirements minimum;
  • peta mitra dan jejaring pelayanan; dan
  • daftar gap serta rencana tindak lanjut. 

Peserta yang diharapkan

  • clinical lead;
  • manajemen pelayanan;
  • SDM;
  • keperawatan;
  • farmasi dan logistik;
  • rekam medis;
  • IT atau digital health;
  • keuangan;
  • mutu dan keselamatan pasien;
  • pengelola homecare; dan
  • pengelola kerja sama atau jejaring pelayanan.

Workshop 5 merupakan pertemuan luring terpadu. Seluruh peserta mengikuti tiga topik dengan menggunakan satu use case yang sama. Workshop ini tidak dapat diikuti hanya untuk salah satu topik karena keputusan tentang kesiapan operasional, kelayakan finansial, dan pembiayaan dampak sosial saling memengaruhi. 

Topik 1

Dari Konsep Menuju Pasien Pertama / From Concept to First Patient

Tim menguji apakah rancangan layanan telah cukup aman dan siap digunakan untuk pasien pertama. Pengujian dilakukan melalui simulasi alur normal, kondisi darurat, komunikasi antartim, serta kesiapan dokumen dan sumber daya. 

Topik 2

Menguji Kelayakan Finansial Layanan / Make It Viable

Tim menghitung biaya pelayanan, menyusun paket dan harga, mengidentifikasi calon pembayar, serta menguji volume minimum dan beberapa skenario kelayakan bisnis. 

Topik 3

Membiayai Dampak Sosial / Fund the Impact

Tim merancang pilihan pembiayaan agar layanan tidak hanya menjangkau pasien yang mampu membayar. Pilihan dapat mencakup subsidi silang, CSR, filantropi, kerja sama pembayar, atau blended financing. 

Tujuan pelatihan

Membantu rumah sakit:

  • menguji kesiapan layanan sebelum digunakan pada pasien pertama;
  • menemukan kelemahan dalam alur klinis dan operasional;
  • memperbaiki koordinasi lintas profesi;
  • menghitung biaya serta kelayakan finansial;
  • merancang paket layanan dan alternatif pembayar;
  • menyusun pilihan pembiayaan bagi pasien yang belum mampu membayar; dan
  • menetapkan langkah menuju uji coba atau peluncuran terbatas. 

Metode

  • design sprint;
  • tabletop exercise;
  • simulasi dan role play;
  • uji skenario normal dan kondisi gawat;
  • costing lab;
  • analisis volume, harga, dan payer;
  • penyusunan skenario pembiayaan dampak sosial;
  • peer review; dan
  • coaching langsung dari fasilitator. 

Output pelatihan

  • protokol uji layanan;
  • hasil simulasi dan daftar perbaikan;
  • checklist kesiapan peluncuran;
  • rencana evaluasi pasien pertama;
  • estimasi biaya pelayanan;
  • rancangan paket dan harga;
  • alternatif payer;
  • proyeksi volume minimum;
  • skenario kelayakan finansial;
  • rancangan subsidi silang, CSR, filantropi, atau blended financing;
  • keputusan kesiapan layanan; dan
  • action plan menuju uji coba atau implementasi terbatas. 

Peserta yang diharapkan

Rumah sakit perlu mengirimkan satu tim lintas fungsi yang menggunakan use case yang sama, terdiri atas:

  • pimpinan atau pengambil keputusan;
  • clinical lead;
  • dokter, perawat, dan tenaga kesehatan terkait;
  • manajemen pelayanan dan operasional;
  • mutu dan keselamatan pasien;
  • keuangan;
  • pengembangan bisnis atau pemasaran;
  • IT atau digital health;
  • pengelola homecare dan jejaring; serta
  • staf lain yang memiliki kewenangan atas sumber daya atau proses yang akan diuji.

Peserta diharapkan telah membawa rancangan layanan, clinical pathway, workflow, dan data dasar yang diperlukan. Bahan tersebut dapat diperoleh melalui Workshop 1–4 atau disiapkan secara mandiri oleh rumah sakit.