
Lebih dari 20 tahun sejak sebuah studi penting mendokumentasikan bahwa pasien rawat inap lebih berisiko meninggal jika perawat yang merawat mereka menangani terlalu banyak pasien sekaligus, ratusan studi yang dilakukan secara ketat di lebih dari 30 negara telah mendokumentasikan hubungan antara kekurangan tenaga perawat dan hasil perawatan yang lebih buruk dalam berbagai aspek, termasuk kematian pasien yang dapat dicegah dan kelelahan perawat yang dapat dihindari. Meskipun ada bukti empiris tersebut, kekurangan tenaga perawat di rumah sakit secara kronis tetap berlanjut. Mengapa bukti penelitian tersebut belum secara substansial mengubah praktik penempatan tenaga kerja di rumah sakit?
Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa manfaat dari menghilangkan kekurangan tenaga perawat dirasakan oleh pasien dan perawat, sementara biaya untuk mempekerjakan lebih banyak perawat ditanggung oleh rumah sakit. Rumah sakit merupakan fasilitas layanan kesehatan yang paling mahal, terutama karena perawatan keperawatan intensif yang dibutuhkan oleh pasien rawat inap. Memang, jika pasien dapat menjalani prosedur dan perawatan di luar rumah sakit (misalnya, di klinik rawat jalan atau melalui layanan perawatan di rumah), mereka akan melakukannya, karena biaya perawatan yang diberikan di fasilitas rawat jalan jauh lebih murah. Dengan demikian, pasien yang dirawat di rumah sakit membutuhkan tingkat perawatan kesehatan yang paling intensif—perawatan yang sebagian besar diberikan oleh perawat.







